
Malam itu bendera kecil terayun, diiringi teriakan seseorang, tanda balap liar tersebut dimulai. Semua orang yang ada di sana bersorak-sorai, memberi tepuk tangan sebagai dukungan.
Dua motor besar melandas, saling ingin mendahului, dan terlihat salah satu dari mereka adalah gadis yang masih belia.
Dia terus menarik gas motornya, dengan penuh sambil fokus ke jalanan. Berusaha memenangkan balapan kali ini, acara yang baru saja diselenggarakan setelah lama mati suri.
Sementara di sisi lain, tepatnya di sebuah mobil. Shaka duduk dengan tenang, malam ini dia terpaksa lembur dan meminta izin pada istri kecilnya.
Ada banyak pekerjaan yang tiba-tiba menumpuk, hingga dia tak bisa meninggalkan perusahaan begitu saja.
Awalnya Robby memberi saran agar mereka tidur di kantor saja, tetapi mengingat Beby yang takkan bisa tidur tanpa menggenggam Tyrexnya, membuat Shaka urung.
Dia bukan bujangan lagi yang hanya memikirkan diri sendiri, dia sudah memiliki seorang istri. Apapun harus ada pertimbangan baik buruknya.
Robby melihat jam di pergelangan tangannya. Kini hampir pukul setengah satu dini hari, dan begitu dia melihat ke samping, ada dua motor yang terlihat melaju sangat kencang.
Keningnya mengeryit, sedikit tahu motor siapa itu.
"Tuan," panggil Robby pada Shaka yang tengah menyadarkan tubuhnya di punggung kursi.
"Ada apa, Rob?" Shaka balik bertanya, tanpa mengubah posisinya.
Sambil mengejar dua motor tersebut, Robby melihat reaksi Shaka. Dia sangat yakin, salah satu motor itu adalah milik istri dari tuannya.
"Tuan, apa Nona Beby ada di apartemen?" tanya Robby hati-hati.
Dan pertanyaan itu sukses membuat Shaka duduk dengan tegak. Matanya menyipit ke arah Robby. "Maksudmu apa, Rob? Dia memang di apartemen sejak tadi sore."
Mendengar itu, Robby sedikit gelagapan. "Ah maaf, Tuan. Tapi tadi saya lihat, ada motor yang mirip dengan milik Nona Beby."
Kening Shaka mengernyit. "Tidak mungkin lah, Rob. Namanya motor pasti banyak yang sama kan?"
"Tapi modifikasi motor Nona Beby berbeda, Tuan. Tadi yang mengendarainya juga seorang wanita. Apa Tuan tidak melihatnya?"
Shaka semakin terperangah, lantas dia segera meraih ponselnya. Namun, ternyata dia lupa kalo daya ponsel itu habis. "Oh my God. Kamu tahu tadi mereka ke mana?"
__ADS_1
Robby mengangguk samar. "Tahu, Tuan. Sepertinya mengikuti jalan ini."
"Kalau begitu cepat ikuti jalan ini, aku akan memastikan dia atau bukan!"
"Baik, Tuan."
Robby sedikit menambah kecepatan, dia menyusuri jalan raya yang dia yakini sebagai jalur balapan liar yang sedang berlangsung.
Suasana kota Jakarta sedikit nampak lengang pada jam-jam seperti ini, membuatnya mudah untuk menancap gas sesuka hati.
Di belakang sana, Shaka terlihat cemas. Bagaimana kalau sampai itu benar Beby? Ya Tuhan... Dadanya sedikit terasa sesak sekarang, merasa tak begitu dianggap sebagai suami karena Beby pergi tanpa izin, disertai pula rasa khawatir.
"Beby, Sayang. Jangan buat Abang khawatir." Shaka menggenggam jari-jarinya, hingga Robby sampai di sebuah sekumpulan anak muda yang tengah bersorak-sorai.
Mata Shaka langsung melebar melihat dua kendaraan yang melaju kencang menuju garis finish, tanpa ba bi bu Shaka langsung menendang pintu mobil dengan sekuat tenaga.
Membuat Robby terkejut dan reflek memegang dada.
Shaka berlari ke arah sana. Dia sangat hafal dengan motor milik istrinya yang diberi nama Jordy itu, perasaan Kalut menyelimuti seiring langkah Shaka yang tengah berusaha menuju sang istri.
Teriakan itu menggelegar, membuat semua orang langsung berhenti bersorak-sorai dan berganti melayangkan tatapan mata mereka pada lelaki tampan yang ada di ujung sana.
Cittttttt!
Suara decitan ban motor beradu dengan aspal, tak hanya para penonton yang kaget, dua orang yang tengah balapan ikut terkejut dan reflek mengerem, gadis yang ada di balik kemudi itu terperangah.
Shaka tak memperdulikan tatapan mata semua orang, dia langsung berlari menuju seseorang yang dia anggap Beby.
"By..." panggilnya lirih.
"Abang..."
Bukan, bukan seorang gadis yang ada di atas motor yang menjawab. Melainkan gadis cantik di belakang sana yang memanggil Shaka.
Shaka tertegun, dia begitu hafal dengan suara ini, tetapi kenapa ada di belakang tubuhnya. Karena penasaran, Shaka berbalik dan mendapati Beby yang tersenyum paksa, merasa bersalah.
__ADS_1
"By...."
Dan Shaka langsung menghambur memeluk tubuh gadis kecilnya. Perasaan khawatir yang mendarah daging, luntur seketika saat melihat gadis ini tersenyum.
Tak hanya sebuah dekapan yang Beby dapat dari suaminya. Tetapi juga kecupan yang begitu banyak. "Abang khawatir, By..."
Shaka kembali memeluk, sementara bibirnya tak berhenti menciumi seluruh wajah Beby.
Mulut semua orang menganga, tak terkecuali gadis yang ada di belakang sana. Yang ternyata adalah Yosi, gadis itu meminjam motor Beby untuk balapan, karena Beby memutuskan untuk menonton saja.
Dibalik kerumunan itu pula, ada seseorang yang berusaha kabur. Siapa lagi pelakunya kalau bukan orang yang mengajak Beby ke sini, Gattan mengendap-endap, tetapi begitu dia ingin lari, kerah bajunya sudah ditarik oleh Robby.
"Mau ke mana kamu, Tuan muda?" tanya Robby dengan senyum meledek.
Gattan menghela nafas lengkap dengan wajah memelas. "Yah kenapa ada lu juga sih? Lepasin gue, gue mau balik."
"Bohong!"
"Sumpah, suwer takewer-kewer deh, gue balik malem ini." Gattan mengangkat kedua jarinya membentuk huruf v.
"Baiklah, apa jaminan tutup mulut saya?" tanya Robby ingin mengerjai bocah ingusan ini.
"Ntar gue traktir ke bar, kita makan semangka di sana. Gue pilihin yang gede buat lu, udah deh jangan meres-meres gue, gue nggak suka diperes, gue sukanya meres apalagi meres semangka." Jawab Gattan nyeleneh.
Robby hanya bisa geleng-geleng kepala kalau sudah berhadapan dengan tuan muda satu ini. Dari pada nanti dia dibuat sakit kepala lebih baik dia lepaskan saja.
"Nah gitu dong. Gue kirim nanti alamatnya. Gue jamin pisang lu muncrat semuncrat-muncratnya." Gattan melangkah menjauh sambil terkekeh sebelum diketahui oleh sang kakak.
Sementara Robby menyaksikan itu semua dengan gelengan di kepala. "Dasar bocah gila!"
*
*
*
__ADS_1
Kasih Tyrex nggak yah pulangnya?🙈🙈🙈