Menjadi Simpanan CEO

Menjadi Simpanan CEO
Jahat, kasar!


__ADS_3

Happy reading guys❤️❤️❤️ Jangan lupa untuk senantiasa like, komen yah biar Dede othor semangat lanjutin ceritanya 🤗🤗🤗


Oh ya, judulnya Dede ganti yah, cuma di tambahin CEO aja "Menjadi Simpanan CEO."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Alva duduk menjauh dari Chilla, karena ia sedang menghisap dan menghembuskan benda bernikotin yang terapit di jari tengah dan telunjuknya. Ia masih bertelanjang dada, setelah beberapa kali menuai puncak nirwana dengan gadisnya.


"Masih sakit?" Tanya Alva yang mendengar Chilla mendesis diatas ranjang king size miliknya.


Kini keduanya ada didalam kamar Alva. Karena gadis itu sudah mengirimi pesan pada sang Mama, bahwa ia akan menginap di rumah Mira, beralasan kalau pesta selesai larut malam, dan ia diminta bermalam disana.


Mendengar pertanyaan Alva, Chilla mencebik, lalu mengerucutkan bibirnya, "Jahat, kasar!" Rengeknya.


Bukannya iba, Alva justru terkekeh, di permainan kedua, ketiga dan seterusnya, Alva memang bermain dengan brutal, padahal ia sendiri tahu malam ini Chilla hanyalah miliknya. Tapi seakan ingin merasakan sensasi yang lain, Alva mencobanya, sampai membuat gadisnya merintih kesakitan saat ia tusuk tubuhnya dari arah belakang.


"Kau terlalu menggoda, jadi aku tidak bisa menahannya," ucap Alva setelah mengembuskan asap rokok terakhirnya.


Kemudian ia berbaring menghadap Chilla, yang ia yakini masih menggerutu dalam hatinya. Lampu kamar memang telah di matikan, tapi Alva masih bisa melihat wajah cantik gadisnya yang tengah kesal.


"Jangan marah-marah, kalau kau terus begini, nanti aku bisa tergoda lagi,"


BUGH!


Reflek Chilla memukul dada Alva dengan keras, lalu membalikkan tubuhnya, memunggungi lelaki tersebut.


"Oh jadi maunya di peluk dari belakang." Seloroh Alva seraya merengkuh pinggang ramping itu.


"Kakak!" Pekik Chilla.


Dan Alva kembali terkekeh, "Iya aku minta maaf sayang," ucap Alva manja, seraya mengibaskan wajahnya di punggung polos Chilla.


Gadis itu menggeliat geli, tetapi Alva tak menghentikan sesuatu yang telah di mulainya, hingga akhirnya Chilla berbalik menghadap Alva lagi.


"Ck, menyebalkan!" Mulutnya mungkin bilang seperti itu, tapi ia justru menarik diri untuk memeluk Alva, dan membenamkan wajahnya di dada bidang lelaki itu.


"Tapi tetap sayangkan?"


"Tentu saja," balas Chilla cepat.


"Kalau begitu belilah dalaman yang warna merah, karena aku suka melihat kau memakainya,"


"KAKAK ihhh!"


"Haha iya iya aku bercanda, kenapa kau jadi suka sekali marah-marah," ucap Alva seraya mengecup puncak kepala Chilla.


"Sebaiknya kita tidur, kalau tidak, yang ada belalai kesukaanmu akan kembali bangun," sambung Alva.


Chilla hendak memprotes, namun secepat kilat Alva menarik selimut untuk menutupi tubuh polos mereka seraya mendekap erat tubuh Chilla. Dan di akhiri kecupan manis di kepala gadis itu, sebagai ucapan selamat malam, sebelum keduanya benar-benar terlelap dalam buaian.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


Suntikan vitamin yang telah diberikan Chilla pada Alva memang selalu manjur, lihat saja, pagi ini mood lelaki itu sudah kembali baik seperti semula. Padahal semalam ia bertengkar hebat dengan gadisnya.


Saat Alva sedang memeriksa dokumen yang telah di berikan oleh sekertarisnya, ia menangkap pergerakan Juna yang terlihat aneh pagi ini.


Lelaki itu berjalan maju mundur, nggak nggenah di tempatnya, atau mungkin Juna memang sengaja, karena sedang senam pagi begitu ceritanya?


"Kau kenapa?" Tanya Alva risih, melihat Juna tak mau diam, ditambah raut wajah yang begitu gelisah.


Mendengar pertanyaan Alva yang ditunjukkan pada dirinya, Juna reflek berhenti, lalu memandang ke arah bosnya.


Bagaimana ini?


"Hei, aku sedang bertanya, kau sedang apa?" Lelaki tempramental itu kembali bersuara. Sedikit meninggi, mengusik gendang telinga.


Juna, tolong! Kalau kamu tidak ingin Alva mengamuk lagi, segeralah bicara, mumpung pengaruh suntikan vitamin dari Chilla masih ada.


Juna menelan salivanya dengan berat, tenggorokannya terasa tercekat untuk menjelaskan tentang kejadian semalam, antara dirinya dan tunangan sang Tuan.


"Anu Tuan," aish malah anu yang keluar.


"Anu apa maksudmu?" Cetus Alva dengan tatapan menyelidik.


Alisnya bertaut mencari kejujuran dari lelaki tersebut, "Kau sedang menyembunyikan sesuatu dariku?"


Juna langsung mendongak, ternyata ia mudah sekali untuk di tebak.


Tanpa ba bi bu lagi, akhirnya Juna menyerahkan flashdisk ke arah Alva, membuat kadar kebingungan lelaki itu bertambah.


Juna tak bisa menjelaskan apapun, ia hanya minta Alva membuka file yang ada didalam flashdisk tersebut, dan kembali berdiri disamping Tuannya.


Alva semakin merasa heran dan menganggap Juna sedang bercanda, karena ia disuruh melihat rekaman CCTV yang ada didalam mobilnya.


Namun, karena di tambah rasa penasaran juga, akhirnya Alva membuka file tersebut. Disana, dengan jelas ia bisa melihat, Juna dan Yola tengah duduk berdampingan.


Namun di menit selanjutnya, mata Alva dibuat membulat, kala melihat Yola mulai menggoda Juna. Kini, Alva mulai mengerti, ia tersenyum girang hingga menunjukkan deret gigi putihnya yang terlihat rapih.


Ternyata semuarahan itu kau dibelakangku?


"Wow," Alva berteriak, saat melihat adegan selanjutnya. Ia melirik Juna yang wajahnya nampak memerah, menahan malu adegan intimnya dengan seorang wanita dilihat oleh Alva.


"Jadi, kalian berciuman didalam mobilku?" Tanya Alva dengan bibir berkedut.


"Tuan bukan seperti itu," balas Juna dengan menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


"Lalu apa? Kau mau pamer didepanku, karena berhasil di cium oleh seorang wanita?"


Ya Tuhan...


"Tuan,"


"Apa Jun?"

__ADS_1


"Itu—"


Alva bergeming, pura-pura menunggu penjelasan Juna.


Melihat wajah gugup asistennya itu, membuat Alva semakin gencar menggoda, tetapi karena tidak bisa menahannya, tiba-tiba Alva tergelak dengan memegangi perutnya.


Juna reflek mundur selangkah karena saking kagetnya.


Kenapa dia malah tertawa? Bukankah seharusnya dia marah, karena Nona Yola sudah berselingkuh di belakangnya.


"Jun, apa kalian?" Alva membuat gerakan kedua tangannya saling mematuk. Lalu ia kembali tertawa dengan pikirannya.


"Tuan saya tidak—"


"Ah sudahlah kau jujur saja," potong Alva cepat.


"Tapi Tuan saya—"


"Aku tidak percaya," Alva menggelengkan kepalanya, menolak penjelasan Juna.


"Tuan tolong dengar—"


"Tidak,"


"TUAN SAYA TIDAK MELAKUKANNYA," pekik Juna akhirnya, kesal? Tentu saja, karena kalian tahu sendiri, ia tidak melakukan apa-apa selain hanya mengerjai Yola.


Bahkan ia melakukan ini semua bukan untuk dirinya, melainkan untuk lelaki yang tengah duduk dan menatapnya dengan tatapan tak percaya.


Detik selanjutnya Alva tergelak lebih keras, merasa sudah berhasil mengerjai Juna.


Sudut matanya berair, karena saking lamanya menertawai ekspresi kesal Juna, yang terlihat lucu di mata Alva.


"Gajimu bulan ini aku tambah," ucap Alva di sisa-sisa tawanya, ia mematikan video CCTV tersebut. Dan menyuruh Juna untuk duduk.


Lelaki itu berterimakasih pada sang asisten karena telah membantunya, ini akan menjadi salah satu bukti yang akan ia berikan pada Jonathan dan Mona, bukti bahwa Yola memang bukanlah wanita yang pantas untuk mendampinginya.


Namun, bukan berarti Juna harus berhenti untuk menyelidiki tunangannya tersebut, ia ingin bukti lain, yang lebih kuat dari pada ini.


"Eh, tapi karena kau sudah membentakku, uang tambahanmu dipotong 20 persen,"


Apa?


Juna melongo, dengan hati yang memaki.


Alva kembali terkekeh, "Hei aku bercanda, kenapa kau seserius ini,"


...****************...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...****************...

__ADS_1


__ADS_2