Menjadi Simpanan CEO

Menjadi Simpanan CEO
Dimabuk cinta


__ADS_3

Kedua sejoli keluar dari kamar dengan wajah sumringah dan rambut yang sama-sama basah. Berjalan beriringan menuruni anak tangga dengan saling bergandengan dan melempar senyuman.


Di bawah sana, Juna dan Rani sudah berdiri menyambut kedatangan sang majikan. Begitu Alva dan Chilla sampai, kedua orang itu kompak menundukkan kepala memberi salam. Namun, hanya Chilla yang tersenyum menanggapi, sedangkan lelaki itu langsung memasang wajah datar, dan tampak acuh.


"Tuan, sarapan sudah siap." Ucap Rani dengan antusias, tersenyum tipis ke arah Alva, yang berdiri di samping istrinya. Tidak peduli pada lirikan mata Juna.


Tak menjawab, lelaki itu justru menarik pinggang Chilla, lalu melingkarkan tangannya. "Sayang apa kau lapar?" Tanyanya pada sang istri, seraya memberi banyak kecupan.


Dengan cepat Chilla mengangguk. "Iya, babymu kelaparan Sayang." Menyentuh lengan Alva lalu mengusap-usap, mulai tidak peduli pada yang lain.


"Kau terlalu bersemangat, Sayang. Makanya tenagamu habis, kalau begitu ayo kita sarapan dulu." Sengaja mengeraskan suara, menggiring sang istri ke meja makan, tanpa melepas rengkuhan.


Tetapi langkah mereka terhenti, begitu Juna berdehem keras. "Maaf, Tuan. Tapi jadwal rapat sudah mundur hampir satu jam." Ucapnya jujur, menunjuk jam yang melingkar di pergelangan tangannya, mengingatkan bahwa tidak ada lagi waktu untuk sarapan.


"Kalau begitu biar saya bungkus saja makanannya ya Tuan. Supaya Nona bisa makan di jalan." Timpal Rani lagi memberi ide. Chilla melirik ke arah sang suami yang bergeming bersandar di bahunya. Chilla mencolek dagu itu, hingga Alva melengoskan wajah menghadap ke arahnya.


"Kita makan di jalan saja yah, aku takut Kakak terlambat."

__ADS_1


"Kau yang membuatku terlambat." Ucap Alva memberenggut, membuat gadis itu terkekeh, lalu mengangkat kedua jarinya membentuk huruf v seraya meminta maaf.


Tak ingin hanya mendapat kata maaf, Alva memajukan bibirnya, bergerak manja meminta disambut oleh Chilla.


Sedangkan Juna sudah geleng-geleng kepala. Menyerah pada sejoli yang setiap hari semakin mengumbar mesra.


*****


Ruang rapat.


Gadis itu merengek ikut, berjanji tidak akan mengganggu acara rapat bulanan yang sedang berlangsung, tapi apalah daya, Alva yang sudah kelewat cinta pada sang istri, justru tak memperhatikan orang yang tengah memberikan laporan.


Matanya tak lepas dari Chilla, pikiran-pikiran liar menguasai otaknya, hingga tiba-tiba ia tergelak sambil mengetuk-ngetuk meja, membuat semua orang menatap ke arahnya.


Ada apa? Mereka bertanya-tanya.


Sadar menjadi pusat perhatian, gelak itu menyurut. Mengedarkan pandangan ke seisi ruangan. "Kenapa kalian melihatku seperti itu? Cepat lanjutkan!" Cetus Alva seperti seseorang yang tidak habis melakukan apa-apa.

__ADS_1


Sedangkan di belakang sana, Juna memijit pelipisnya. Sakit kepala mulai menyerangnya tiba-tiba. Tuan benar-benar sudah tidak waras, bisa-bisanya tertawa di saat orang sedang membacakan laporan.


Dan rapat kembali berjalan. Tidak ada yang membantah sedikitpun ucapan Alva. Malah ada yang senyum-senyum, tahu kalau sang Tuan tengah dimabuk cinta, pada gadis yang tengah memotret dirinya di ujung sana.


"Tuan." Panggil Juna sudah yang kesekian kali, tetapi laki-laki tampan itu masih asyik dengan fantasinya sendiri.


Akhirnya, Juna yang sudah cukup kesal memegang pundak Alva, hingga lelaki itu menoleh. "Apa?" Tanyanya tanpa suara.


"Mereka semua sudah selesai membacakan laporan, Tuan." Terang Juna sedikit menekan suaranya, supaya lelaki gila ini mengerti. Bahwa sekarang adalah waktunya ia untuk bicara.


"Oh." Balas Alva singkat, seperti orang bodoh.


"Hanya oh?" Juna menatap tak percaya, sepertinya rapat kali benar-benar kacau, dari keterlambatan waktu, hingga sang Tuan yang tidak fokus memperhatikan.


"Apalagi? Sudah selesaikan?"


Astaga. Bolehkah aku memakinya?

__ADS_1


__ADS_2