Menjadi Simpanan CEO

Menjadi Simpanan CEO
Lamaran (NAJU)


__ADS_3

"Pokoknya nggak mau!" Kekeuh Nana, tidak mau melanjutkan acara lamaran, padahal satu jam lagi, acara tersebut akan dimulai.


"Sayang, kamu nggak kasian sama Juna? Nggak kasian juga sama saudara kamu, yang jauh-jauh dateng cuma pengen lihat hari bahagia kamu?" Bujuk sang ibu, terus mengelus bahu yang naik turun itu. Nafas Nana memburu.


"Mama tapi aku malu, muka aku lagi jerawatan, aku nggak bisa ketemu Kak Juna dalam keadaan kaya gini!" Sudah menangis, dia merasa frustasi sendiri dengan jerawat yang muncul di awal masa datang bulannya.


Apalagi terlihat jelas, di pipi yang biasanya mulus itu.


"Na, dengerin Mama. Satu jerawat di muka kamu, nggak bakal bikin Juna illfeel, apalagi berpaling. Kita bisa tutupin, Sayang." Wanita paruh baya itu meyakinkan sang anak.


"Tapi aku jadi jelek." Memegang jerawatnya yang masih terasa sangat sakit. Ia merasa menjadi gadis si buruk rupa sekarang.


"Kamu tetep cantik Nana. Di mata lelaki yang mencintai kamu, kamu itu selalu cantik, ayo sekarang biar Mama dandanin, pake foundation biar ketutup itu jerawat rindunya."


"Mamaaaa..."


"Ayo..."


"Beneran nggak keliatan nanti?"


"Nggak bakal, Mama jamin. Ayo!" Dan akhirnya Nana menurut, ia menghentikan tangisnya dan mengikuti langkah sang ibu. Siap didandani, karena dia akan menjadi ratunya malam ini.


********


Pukul Delapan malam, Juna beserta rombongan sampai di kediaman Nana. Tempat yang sudah ramai, karena banyaknya sanak serta saudara yang datang.


Lelaki muda itu turun dari mobilnya, setelah beberapa kali menarik nafas akibat nervous. Ia melangkah dengan diapit oleh sang ibu menuju pintu rumah pujaan hatinya.


Sedangkan dua adik kembarnya mengekor di belakang, membawa beberapa bingkisan bersama yang lain.


Dan jangan lupakan, dua bucin kita yang berjalan di urutan terakhir. Lihat, mereka malah asyik peluk-pelukan, sedang mendefinisikan dunia milik berdua pada semua orang.


Dengan ramah, keluarga besar Nana menyambut kedatangan Juna. Calon anggota baru, di keluarga tersebut.


Senyum terus mengembang di kedua sudut bibir lelaki itu, walaupun tak dipungkiri, tubuhnya gemetaran, dan kakinya sedikit terasa lemas.


Ia terus masuk ke dalam, hingga kedua netranya dapat melihat, bidadari tak bersayapnya sudah duduk di depan sana.


Cantik, sangat cantik.


Makin berdebarlah jantung Juna. Keringat dingin bermunculan, sama seperti dulu waktu Alva menikah.


Lagi, lagi ternyata begini rasanya. Batin Juna, setelah merasakan apa yang dirasakan Bosnya.

__ADS_1


Pipi Nana merah merona, jerawat yang ia khawatirkan sudah tertutup rapat, malah terlihat semakin mulus, karena tambahan make up yang ia pakai.


Semua orang duduk, siap mengikuti prosesi lamaran yang akan segera di mulai.


Tak terkecuali Chilla dan Alva, mereka duduk di tempat paling belakang. Sama seperti sebelumnya, lelaki itu sama sekali tidak melepaskan istrinya.


"Kakak tidak malu dengan yang lain?" Tanya Chilla saat ia merasakan pelukan Alva semakin erat. Bahkan wajah lelaki itu sudah menempel pada tengkuknya.


"Aku tidak peduli." Balas Alva singkat, padat dan tidak bisa dibantah.


Jonathan dan Pram saling melempar pandangan, kompak geleng-geleng kepala melihat kelakuan putra-putri mereka. Tidak di rumah, tidak di luar, tidak di mana-mana, berdua saja kerjaannya.


Dan tak berapa lama kemudian, acara pun benar-benar di mulai.


Karena ayah Juna sudah tidak ada. Jonathan yang mengambil alih profesi menjadi juru bicara dari pihak keluarga Juna, menjelaskan kedatangan mereka semua ke rumah ini, yaitu ingin meminang gadis cantik bernama Meliana Soraya. Untuk Almas Juna Adhitama.


Ia memberi tahu pada keluarga tersebut, mengingat usia Juna yang cukup matang, mereka menginginkan pernikahan secepatnya dilaksanakan.


Namun, bila masih perlu pertimbangan. Pihak keluarga Juna tidak akan memaksa, sekiranya Nana sudah siap, maka Juna akan langsung menikahi gadis pujaannya.


Setelah Jonathan selesai bicara. Kini giliran Ayah Nana sendiri yang menjawabnya. Ia berkata jujur, bahwa ia sangat senang dengan kesungguhan Juna untuk meminang putri sulungnya.


Ia tidak mempersalahkan apapun, termasuk perbedaan usia antara Juna dan Nana yang terpaut 9 tahun. Namun, ia hanya minta, setidaknya sampai Nana masuk ke universitas, barulah Juna boleh menikahi putrinya.


Kalau saja mereka sedang berdua, ia pastikan sudah menyergap Nana. Membuai gadis itu dengan decapan asmara dan bisikan penuh cinta.


Hingga sebuah suara memanggil mereka untuk tukar cincin, putuslah pandangan mata mereka.


"Kak." Panggil Chilla, saat Alva bangkit dan malah menyeret tangannya untuk keluar.


Namun, lelaki itu hanya bergeming. Padahal puncak acara itu yang Chilla tunggu-tunggu, melihat sahabatnya dipinang oleh seseorang yang ia cintai dan mencintainya. Sumpah demi apapun Chilla ikut bahagia.


Mereka berdua ke halaman rumah, tempat dimana mobil Alva terparkir. Chilla tak bisa membantah apapun ucapan Alva. Ia hanya menurut saat lelaki itu memintanya untuk masuk.


"Kemari." Pintanya dingin seraya menepuk paha beberapa kali. Chilla tidak mengerti dengan ini semua, kenapa Alva tiba-tiba berubah. Batinnya bertanya-tanya.


Dengan patuh, gadis itu duduk dipangkuan suaminya. Alva menurunkan sandaran kursi, lalu menatap netra jernih itu dengan binar yang semakin meredup.


Lama semakin lama, rasa itu semakin mengganjal, membuatnya tak bisa bernafas dengan leluasa.


Alva memejamkan mata, seiring ia menarik tengkuk Chilla dan melabuhkan ciuamannya disana. Ciuman yang terasa begitu lembut, tak terasa begitu menuntut.


Bukan tanpa alasan ia membawa istrinya keluar.

__ADS_1


Ini hanya tentang rasa bersalahnya. Ini hanya sebuah penyesalan, karena ia pernah menjadi seorang pengecut. Seorang pecundang yang tak memiliki keberanian.


Ia tak bisa seberani Juna yang langsung meminang gadis yang ia cinta. Ia tak seberani Juna yang dengan lugas mengungkapkan perasaannya.


Sekali lagi, Alva kecewa pada dirinya sendiri. Ia tahu Chilla tidak pernah mempermasalahkan itu semua. Tapi malam ini, rasa bersalah itu sukses menyerang hatinya.


Ia takut Chilla merasa iri dengan Nana. Ia takut Chilla membeda-bedakan nasib percintaan mereka dengan hubungan mereka yang lebih sempurna.


Terdengar sedikit isak, di dalam ciuman itu. Dan itu keluar dari bibir Alva. Tetapi ia tak berhenti, ia terus memagut Chilla, ia ingin meluluhkan kegundahannya.


"Maaf." Hanya kata itu yang terucap.


Chilla merasa serba salah, ia ingin bertanya, tetapi mulutnya terkunci, sedangkan rasa penasaran akan sesuatu yang terjadi, terus menghinggapi.


Lenguhan terdengar, saat bibir itu turun ke leher jenjangnya. Mengecup perlahan, semakin ke bawah. Entah kapan Alva membuka resleting dressnya.


Yang jelas, wajah lelaki itu kini sudah terbenam diantara bulatan besar miliknya.


"Aaarrhh..." Desah itu semakin terdengar, saat Alva menyesap kuat dua pucuk itu bergantian. Dada Chilla semakin membusung, seiring denyutan di bawah sana.


Birahi itu semakin menggelora. Menggila bersamaan dengan sesuatu yang siap melandas ke medan pertempuran.


Dan entah di detik ke berapa. Tubuh itu sudah menyatu dan mengayuh.


Sedangkan di dalam sana, dua keluarga itu sedang menikmati hidangan makan malam bersama.


Tak hanya satu di antara mereka, semua orang bertanya-tanya kemana perginya Chilla dan Alva.


Saking fokusnya pada acara lamaran, mereka sampai tidak melihat, kedua sejoli itu keluar.


Suara decitan mobil bergoyang terdengar cukup nyaring, seiring pompaan di dalam sana yang semakin terasa kuat.


Hingga membuat satpam rumah Nana yang kebetulan lewat, bergerak penasaran. Lelaki berperut buncit itu melangkah pelan-pelan ke arah sumber suara.


Dan suara decitan itu semakin terasa. Ia mengitari seluruh penjuru arah. Dan matanya tertuju pada mobil yang berguncang.


Namun, lelaki itu langsung berpikir kalau itu adalah maling.


Ia melangkah tanpa menimbulkan suara. Lalu menyembunyikan tubuhnya dekat dengan mobil milik Jonathan, yang terparkir di samping mobil Alva.


Sesekali ia mengintip, tetapi tidak ada tanda-tanda seseorang di sana. Akhirnya dengan tekad yang bulat, sang satpam mendekat ke arah mobil bergoyang tersebut.


Mungkin malingnya ada di dalam.

__ADS_1


Menempelkan matanya di kaca mobil. Lalu. "Astaghfirullah."


__ADS_2