
Chilla mengoles-oles sosis bakar jumbonya menggunakan mentega. Lalu meminta sang ayah memanggangnya.
Dia terus mengulum senyum disela-sela kegiatannya. Karena moodnya benar-benar sedang sangat bagus sekarang.
Tapi tahu tidak apa yang dilakukan Alva? Ada yang bisa menebak?
Lihat, Lelaki itu malah terus menempel di punggung sang istri. Dari tadi dia hanya mengekor kemana pun Chilla pergi.
Berjalan kesana-kemari. Alva benar-benar tidak mau lepas dari istrinya.
Mona tidak bisa berkomentar apa-apa. Dia hanya bisa menghela nafas panjang dan geleng-geleng kepala. Rasanya lelah, letih, lesu memberi tahu putra semata wayangnya itu.
Selama Chilla tidak keberatan, yasudah lah biarkan saja. Toh gadis itu tidak mengeluh apa-apa, dan malah tertawa-tawa.
"Sayang jangan terlalu bersemangat. Kalau lelah, duduk dulu sambil menunggu sosismu matang." Ujar Sarah memperingati sang anak.
Dia bisa melihat betapa semangatnya Chilla malam hari ini, itu terbukti dari peluh yang sudah membanjiri pelipis gadis itu.
__ADS_1
Sedari tadi, Chilla memang bergerak sangat aktif. Sudah diperingati beberapa kali oleh Alva, namun tetap saja. Gadis itu tidak mau diam.
"Iya, Ma." Balas Chilla patuh. Lalu duduk di karpet yang tersedia. Secara otomatis, Alva pun mengikuti gerakan istrinya.
Dengan cepat, Alva mengambil tisu di atas meja, lalu pelan-pelan menyeka keringat yang membasahi wajah Chilla.
Sedangkan di ujung sana, dengan bibir manyun, dua bapak-bapak itu membolak-balikkan daging, dan yang lainnya.
Karena sedari tadi si bucin akut itu tidak membantu apa-apa.
Benar-benar tidak berguna. Gumam Jonathan dan Pram kompak.
Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya semua makanan yang dipanggang itu matang. Chilla bertepuk tangan riang, saat sang ayah menyajikannya dengan spesial di atas meja.
"Makanlah, Nak. Dari tadi sepertinya cucu Papa sudah tidak sabar menunggu sosis ini matang. Ingat, ini buatan Opah ya, bukan dari Daddymu." Sindir Pram pada sang menantu, yang masih mengusal-usal di belakang punggung Chilla.
Mendengar itu, Alva mendongak, menyembul dari bahu Chilla. "Tapikan aku yang membuatnya ada Papa mertua." Ucap Alva.
Jonathan menaruh jagung itu ke atas nampan dengan kasar.
__ADS_1
"Iya kamu yang buat, tapi tidak mau tanggung jawab." Jonathan yang kesal, ikut mencibir.
"Tidak tanggung jawab apasih Pa? Sejak dia ada di dalam perut Chilla, aku sudah memanjakannya, bahkan aku rela tidak tidur, demi menjenguknya setiap malam, kurang tanggung jawab apa aku?" Sanggah Alva.
Sanggahan yang membuat mulut semua orang menganga. Sedangkan Chilla hanya tersenyum malu-malu dengan pipinya yang merona.
Ah, ketahuan kan jadinya.
"Bukan kurang tanggung jawab, yang ada kamu tuh kurang waras." Cetus Mona. Dan langsung mendapat senggolan dari Sarah.
"Sayang..." Alva yang merasa tidak terima karena terus dipojokan, mulai merengek ke Chilla, meminta pembelaan.
"Iya Sayang, Mama Papa sudah ya, aku tidak apa-apa kok, lagi pula aku senang apapun yang Kakak lakukan. Semuanya aku suka." Chilla mengusap-usap lengan Alva yang setia melingkar di perutnya.
Membuat lelaki itu tersenyum bangga, dan menatap ke arah ibu dan ayahnya. Seperti menunjukkan bahwa semua yang ia lakukan tidaklah salah. Toh, buktinya Chilla juga suka.
Keempat orang paruh baya itu melengoskan wajah, menghempaskan karbon dioksida yang menghimpit dada.
"Sepertinya anakmu perlu di ruqyah." Bisik Pram.
__ADS_1
Dan langsung dijawab anggukan oleh Jonathan. Dia pun membenarkan ucapan besannya tersebut. "Benar, Pram."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...