Menjadi Simpanan CEO

Menjadi Simpanan CEO
Tidak pernah berubah


__ADS_3

Esok harinya Chilla dan baby Shaka sudah diperbolehkan untuk pulang ke rumah, mereka semua dijemput oleh asisten Juna.


Seluruh barang-barang Chilla dimasukkan ke dalam mobil, tak terkecuali hadiah-hadiah pemberian para sahabat serta rekan kerja Alva yang menjenguk istri dan putranya di rumah sakit.


Alva tak mengizinkan Chilla untuk berjalan, dia memilih menggendong istrinya itu sampai di mobil, sementara Shaka sudah lebih dulu dibawa oleh Daniah.


Kejadian dramatis itu langsung diabadikan oleh para pemburu berita yang masih setia berada di halaman rumah sakit tempat Chilla bersalin.


Mereka berbondong-bondong berlari ke arah Alva, dengan mikrofon serta kamera yang tak berhenti menyala. Membidik dengan sasaran paling sempurna.


Awalnya Alva enggan untuk menanggapi mereka, tetapi melihat Chilla yang tersenyum dan seolah memberi izin, akhirnya lelaki dingin itu buka suara.


Tak banyak kata yang Alva ucapkan, hanya sekedar ucapan terimakasih yang begitu banyak untuk semua orang yang sudah ikut memberikan doa demi kelancaran persalinan istrinya itu. Serta buncahan rasa syukur yang tak terkira.


Semua itu Alva lakukan, karena dia ingin memberitahukan pada seluruh dunia, bahwa dia begitu bahagia atas kelahiran putranya, dan memiliki istri seperti Chilla.


Alva juga mengumumkan di awak media, nama putra pertama mereka, pewaris kerajaan Antarakna group selanjutnya, yaitu Arshaka Dastan Antarakna.


Setelah itu, Alva benar-benar membawa Chilla ke dalam mobil, dia tidak memperdulikan pertanyaan-pertanyaan para wartawan yang terus terlontar dan bersahut-sahutan.


Dia takut istrinya merasa tidak nyaman.


Secepat kilat, para pemburu berita itu ditertibkan oleh penjaga yang diutus Jonathan. Sementara mobil yang dikendarai Juna, sudah melenggang ke jalan raya.

__ADS_1


Alva dan Chilla duduk berdua di kursi belakang, sedangkan Daniah duduk di samping Juna sambil memangku baby Shaka yang begitu betah dengan lelapnya.


"Mbak, sini biar aku yang gendong," ucap Chilla sambil mengulurkan tangannya meminta Shaka dari Daniah.


Daniah menoleh, dia mengangguk dan memindahkan Shaka ke gendongan Chilla dengan sangat hati-hati. Ibu muda itu terlihat tersenyum, tadi pagi dia sudah diajarkan banyak hal tentang Shaka. Meski ada Daniah, dia pun ingin ikut andil dalam mengurus Shaka, apalagi dia hanya seorang ibu rumah tangga.


Dalam gendongan Chilla, tiba-tiba Shaka membuka matanya, meski belum bisa melihat, hal itu membuat Alva kegirangan, merasa lucu dengan geliat kecil yang Shaka lakukan.


Alva mengulurkan jari telunjuknya dan langsung digenggam oleh Shaka. Lelaki itu terkekeh. "Sayang, Shaka pintar sekali. Dia sudah bisa menggenggam jariku." Ucap Alva bangga, dan mendapat anggukan kepala dari istrinya.


Hal-hal kecil itu, selalu menjadi hal luar biasa untuk Alva.


"Iya, Sayang. Shaka kan pintar seperti Daddy, sudah pintar, tampan lagi." Chilla menciumi pipi Shaka yang terasa begitu lembut dan wangi, lagi-lagi bayi itu merespon, dia menggeliat dengan mengedipkan matanya.


Membuat Alva dan Chilla saling pandang lalu mengulum senyum. Kebahagiaan mereka terasa lengkap, bahkan tak dapat didefinisikan dengan kata-kata.


"Dari siapa, Jun?" tanya Alva, sementara dia terus mengayunkan jarinya untuk bermain dengan Shaka.


"Dari para karyawan dan kolega-kolega anda, Tuan, mereka semua juga memberikan doa dan ucapan selamat untuk kelahiran Tuan muda," balas Juna apa adanya.


Karena setelah mendengar istri dari bos mereka melahirkan, para karyawan berbondong-bondong mencari kado terbaik untuk tuan muda Antarakna.


Dan semua itu serentak Juna kumpulkan di ruang kosong, yang ada di gedung perusahaan tersebut, karena hadiah-hadiah itu tak bisa dihitung sedikit, mungkin butuh satu mobil truk untuk membawanya pulang ke rumah.

__ADS_1


"Baiklah, bawa pulang saja ke rumah papa, akhir bulan nanti, beri mereka bonus setara dengan gaji yang mereka peroleh selama ini," ucap Alva tanpa beban.


Sementara Juna dan Daniah kompak menelan ludah mereka masing-masing. Bos mereka ini memang tidak pernah main-main.


"Wah senangnya, Shaka banyak sayang ya, Nak," ucap Chilla dengan mengulum senyum, begitu bersyukur banyak yang mendoakan malaikat kecilnya.


Alva mengelus puncak kepala Chilla, hingga ibu muda itu menoleh. "Ini semua berkat, Mommy-nya. Sini, biar Mommy, Daddy saja yang kasih hadiah."


Lelaki itu mencondongkan wajahnya ke arah Chilla, tak bisa menolak karena ada Shaka dalam gendongannya, Chilla tak memberontak saat benda kenyal itu menempel di bibirnya. Dia hanya membulatkan kedua netranya.


Tak pernah berubah, suaminya itu memang tak pernah pandang bulu, tak peduli ada di mana? dan dengan siapa?


Juna sedikit melirik melalui kaca spion tengah, dan saat Daniah ingin ikut melihatnya, lelaki itu buru-buru memutar spion agar mengarah padanya.


Daniah melirik aneh ke arah Juna, lelaki itu hanya tersenyum kikuk lalu kembali fokus menyetir. Sebenarnya Daniah penasaran tetapi dia tidak memiliki keberanian sebesar itu, akhirnya dia hanya bisa menghela nafas panjang dan menyandarkan kembali tubuhnya di punggung kursi.


Hingga suara decapan terdengar riuh, dan hal itu sukses membuat Daniah tahu, apa yang sedang terjadi di kursi belakang, pipinya merona, merasa malu sendiri karena terlalu penasaran.


Sementara Juna berdecih dalam hati, dan terus merutuki ayah muda itu.


Tidak dulu, tidak sekarang. Kelakuannya sama saja. Untung Ruben sudah punya pawang di rumah.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


Getok aja Jun🤣🤣🤣



__ADS_2