
Mario membanting pintu kamar Yolanda dengan sangat keras. Begitu tubuhnya sukses keluar dari ruangan itu, ia langsung disambut oleh istri dan anak bungsunya, Yoona.
Amarahnya sama sekali belum meredam, apalagi saat mengingat Yoona juga ikut terlibat dalam masalah yang dibuat oleh Yolanda.
Dengan mata memerah Mario mendekat. Keduanya terlihat gugup dan merasa takut dengan tatapan tajam lelaki paruh baya di depan mereka.
Seketika Mario menuding wajah Yoona dengan telunjuknya. "Papa juga akan memblokir semua fasilitasmu. Dan ingat, sekali lagi kau mengikuti jejak Kakakmu, kau akan bernasib sama seperti dia. Camkan itu!" Ancam Mario dengan penuh penekanan, berharap Yoona bisa mempertimbangkan apa yang akan dilakukannya dengan baik mulai sekarang.
Setelah mengatakan itu, Mario langsung berlalu begitu saja, dan disusul oleh sang istri.
Sedangkan Yoona tertegun, tangannya berkeringat dingin, benarkan ayahnya juga tahu kalau dia terlibat dalam masalah ini.
Dengan langkah cepat, ia memasuki kamar sang Kakak. Dilihatnya Yola tengah meringis kesakitan, wajahnya masih basah oleh air mata, ditambah tubuhnya lebam sana-sini, membuat wajah Yoona pias.
Pelan, Yoona menghampiri sang Kakak. Terduduk di lantai dengan netra menatap nanar.
"Kak, Papa benar-benar melakukan ini?" Tanya Yoona gemetar. Rasa takut mulai menelusup, perbuatannya pada Chilla waktu itu seketika berputar-putar.
Tak ada satupun yang tahu perbuatannya itu, kecuali teman-teman satu kelasnya.
Kalau sampai Alva memberitahu pada sang ayah. Maka ia yakin, hari itu juga habislah riwayatnya.
Yolanda tak menjawab, ia berusaha bangkit, Yoona sigap membantu wanita muda itu, lalu mendudukkannya di sisi ranjang.
Yolanda mendesis pelan. "Jangan gegabah, Papa benar-benar sudah berbeda, Yoona." Ucap Yolanda, mengingat betapa kasarnya Mario saat memecutnya dengan sabuk pinggang tanpa belas kasih.
Tangan Yolanda kembali terkepal kuat, semuanya gara-gara Alva, kalau saja dari awal hubungannya dengan lelaki itu baik-baik saja, maka semua ini pasti tidak akan terjadi.
"Aku akan buat Alva membayar semuanya." Ucap Yolanda membatin. Ancaman Mario bagai angin lalu, sama sekali tak membuatnya gentar untuk membalas dendam.
"Kak." Yoona memanggil dengan mata melebar, Yola melirik sang adik yang tampak menggelengkan kepala. Sumpah demi apapun, Yoona takut Mario akan melakukan itu juga padanya.
"Kau harus membantuku."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Kedua sejoli itu nampak saling melempar senyum. Setelah beberapa hari tidak berjumpa, akhirnya malam ini mereka bisa menghabiskan waktu berdua.
__ADS_1
Juna yang terlalu sibuk mengurus perusahaan karena Alva tidak ada, membuatnya terpaksa tak bisa menemui sang kekasih, Nana.
Setelah makan malam, Juna mengajak gadis cantik dengan rambut panjang itu duduk di kursi taman. Menikmati malam yang hangat, dengan segelas cup coklat panas di tangannya.
"Kakak tidak mau mencobanya?" Tanya Nana, menawarkan berondong jagung ke depan tubuh Juna.
Pelan, lelaki itu menggeleng. "Untukmu saja." Menyesap coklat panas itu, lalu meletakkannya di samping tubuhnya.
Nana manggut-manggut, lalu kembali menatap ke arah orang-orang yang tengah berlalu lalang. Juna menatap dari samping, wajah cantik yang senantiasa mengisi hatinya itu dengan tatapan sendu.
Tak dapat dipungkiri, ada sesuatu yang mengganjal dalam benak Juna. Ia mengerti, bahwa hubungan mereka terlalu cepat terjadi, apalagi kesan pertemuan mereka yang tidak terlalu baik.
Mungkin itu semua, menjadi faktor yang membuat Nana tampak tidak peduli padanya. Bahkan iapun sadar, Nana adalah tipe gadis yang cuek, ditambah ia adalah lelaki pertama yang membuat gadis itu mau memulai sebuah komitmen.
"Maaf yah, kemarin aku terlalu sibuk. Jadi tidak sempat menghubungimu." Ucap Juna, tanpa melepas pandangannya dari wajah Nana.
Gadis itu hanya terkekeh di sela-sela kunyahannya. "Santai aja kali Kak, aku juga nggak masalah kok. Kakak kan kerja." Balasnya, lalu menyuap kembali berondong jagung itu.
"Iya aku sibuk sekali, bahkan kadang aku lupa makan siang. Setiap pulang badanku juga lelah, saking lelahnya sampai kamar aku langsung tidur." Tutur Juna, ia ingin melihat reaksi Nana.
Ia merasa, ia jatuh cinta secara sepihak, ia merasa Nana tak merasakan apa yang ia rasakan saat mereka berjauhan.
Gadis itu seolah tidak mau tahu, ia sedang apa, ada dimana, bersama siapa.
Mendengar itu, Nana berbalik lalu menatap netra Juna dengan mengembangkan senyum. "Aku ngerti, kan kerjaan Kakak banyak, apalagi Kak Alva kan kemarin baru ngambil cuti. It's okey no problem. I am fine." Ucapnya meyakinkan. Nana berusaha mengerti akan posisi kekasihnya.
Dan jawaban itu kembali membuat hati seorang Juna mencelos, bukan ini yang ingin ia dengar, bukan ini yang ia harapkan keluar dari mulut Nana. Ia ingin sedikit saja, merasakan gadis itu bermanja-manja pada dirinya. Namun, semuanya seperti mustahil.
"Hei, lihat itu?" Tunjuk Juna ke sembarang arah.
"Apa?"
Secepat kilat kepala lelaki itu bersandar di bahu Nana, lalu melingkarkan tangannya di perut gadis itu. Tidak peduli ada dimana, Juna hanya mengikuti nalurinya.
Deg!
Nana tersentak kaget dengan tindakan Juna. Tubuhnya membeku, dengan jantung yang berdetak kencang. Ditambah mereka sedang di tempat umum, bagaimana kalau ada yang melihat mereka dan berkomentar tidak senang?
__ADS_1
Namun, seolah tak punya kekuatan, Nana hanya bisa bergeming di tempatnya.
"Aku juga ingin dimanja, Na. Aku mengeluh seperti itu karena aku ingin kamu peduli dengan keseharianku. Aku ingin kamu bilang rindu padaku karena kita jarang bertemu. Aku ingin kamu bertanya, apa aku sudah makan atau belum? Aku ada dimana? Aku sedang apa? Aku ingin merasakan ditanya seperti itu, Sayang..."
"Aku selalu menahan diriku untuk bicara seperti ini padamu. Karena aku selalu berharap, suatu saat kamu juga bisa memulai lebih dulu. Aku ingin inisiatifmu, Na. Tapi, semakin aku berharap, rasanya semakin besar pula kekecewaan yang aku dapat. Mungkin karena kamu malu, mungkin karena kamu tidak terbiasa, dan banyak kemungkinan yang lain yang kamu rasakan..."
"Tapi aku minta, mulai detik ini. Jangan pernah sungkan lagi padaku. Kamu tahu? Saat kamu pernah mengirim pesan agar aku jangan lupa makan siang? Aku bahagia sekali, Na. Walaupun hanya satu kali kamu bertanya seperti itu padaku. Apa kamu merasakannya?" Juna mengusak-ngusak, lalu mengeratkan pelukannya.
Tiba-tiba ada setetes air jatuh ke lengan lelaki itu, detik selanjutnya isak tangis Nana tidak bisa lagi terbendung. Berondong jagung itu jatuh ke tanah, karena tangannya yang bergetar seolah tak bertenaga.
Menyadari itu, Juna langsung melepaskan pelukannya dan kembali duduk dengan tegak. Sepertinya ia terlalu banyak bicara malam ini.
"Hei, apa ucapanku menyakitimu?" Tanya Juna gugup. Untuk yang kedua kalinya, ia menyaksikan gadis yang kerap mengomel itu menangis.
"Katakan, apa aku menyakitimu? Jika iya, aku minta maaf. Aku, aku hanya..."
Tak menjawab dengan kata-kata, Nana justru memeluk tubuh Juna dengan gerakan cepat, ia membenamkan wajahnya di dada bidang lelaki itu dengan terisak-isak.
"Maaf... Maafin Nana Kak." Ucapnya sesenggukan.
"Maaf, Nana nggak bisa bersikap kaya Chilla ke Kak Alva. Maaf, Nana nggak bisa nunjukin sikap kekanakan Nana ke Kak Juna, Nana terbiasa bersikap kaya gini, karena sebelumnya Nana nggak pernah ngerasain apa yang namanya jatuh cinta. Nana terlalu malu, Nana gengsi, Nana takut di bilang lebay sama Kakak, terus Kakak malah illfeel sama Nana. Nana takut Kakak berpikir kaya gitu terus ninggalin Nana, Nana nggak mau itu terjadi, percaya deh Nana sayang kok sama Kakak, Nana cuma takut kalo Kakak nganggep Nana terlalu cerewet. Maafin..."
Cup
Nana merasakan kecupan yang dalam di puncak kepalanya, membuat ia berhenti mengoceh dan membeku dalam dekapan Juna.
Dekapan yang selalu menenangkan, dan membuatnya merasa aman.
Setelah kecupan itu berakhir, dua sisi wajahnya di tangkup, netranya yang berair bersitatap dengan netra pekat milik Juna. Lelaki itu mengulum senyum, membuatnya mengernyit bingung.
"Terimakasih. Terimakasih sudah jujur untuk hal ini. Kedepannya, aku mau kamu melakukan apapun yang ingin kamu lakukan, dan tanyakan apa yang ingin kamu tanyakan. Aku tidak akan menjadi Juna yang kamu pikirkan saat ini. Aku menyukaimu apa adanya, Nana yang galak, yang cerewet, yang ngeselin, yang cantik, yang aku cinta, yang aku..."
Cup!
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sini Ama Dede othor aja deh Kak Juna 😌
__ADS_1