Menjadi Simpanan CEO

Menjadi Simpanan CEO
MIC (Mertua)


__ADS_3

Akhirnya hari itu Beby mendapatkan apa yang dia mau. Kini dia tinggal menunggu pembayaran, berdiri di belakang meja kasir bersama Yosi.


Dia baru saja bergabung, melihat antrian panjang sudah membuat kepalanya pusing. Namun, fokusnya teralihkan pada sosok lelaki yang berdiri hanya berjarak satu orang di depannya.


Dia menelisik penampilan lelaki itu dari bawah sampai ke atas. Pakaian rapih dengan kemeja digulung sampai ke siku, sementara tangan kekarnya tengah memegang troli belanja.


Dari samping, bahkan belakang. Beby langsung bisa mengenali siapa dia.


Tidak salah lagi, lelaki tampan itu adalah sang mertua. Alva.


Bibir tipis gadis itu tersenyum lebar, tiba-tiba matanya kembali dipenuhi lope-lope saat menatap mertuanya. Ah, dia lupa pada Tyrex Shaka.


Beby mengambil satu langkah ke depan, hingga dia berdiri beriringan dengan lelaki yang dia yakini adalah Alva.


"Daddy," panggil gadis itu lembut, membuat lelaki itu menoleh ke samping.


Ternyata benar dia adalah sang mertua. Lelaki yang dia puja-puja dan berharap akan menjadi suaminya. Dan kini justru menjadi mertuanya.


"Kau? Sedang apa?" tanya Alva, sekedar berbasa-basi, karena gadis itu adalah Beby. Kalau bukan, mungkin dia tidak sudi untuk meladeni.


Kebetulan dia sedang disuruh belanja bulanan oleh sang istri, ini hukuman akibat Alva telah membuat Chilla tak berdaya hingga tak bisa berdiri.


Mendengar itu, senyum Beby langsung mengembang. Bahkan dengan mendengar suara Alva langsung bisa membuat hatinya cenat-cenut tidak karuan.


"Aku? Aku beli ini," ujarnya sambil menunjukkan benda yang ada di tangannya, si lembut sutra. Bahkan suara Beby ikut halus, dan dia tunjukkan hanya pada Alva.


Alva melongo melihat benda yang ada di tangan menantunya. Gadis ini apa mengerti fungsi dari benda yang akan dibelinya.


"Beby, kau beli itu untuk apa?" tanyanya.


Bukannya menjawab Beby malah fokus pada jakun Alva yang menonjol, pun dengan bibir tipis lelaki itu.

__ADS_1


Bibirnya komat-kamit, menjilat sana-sini seperti Alva adalah sesuatu yang begitu menggiurkan.


Ya Allah... Kenapa bisa mirip banget sama Mas Tae gue sih, kan gue jadi tambah demen.


"Beby," panggil Alva sambil mengibaskan tangannya di depan wajah gadis itu.


Membuat Beby seketika tersadar dan gelagapan. "Ah iya, Dad. Kamu tanya apa?"


"Daddy tanya untuk apa kamu membeli benda itu?" tunjuk Alva dengan matanya.


Beby nyengir. "Buat dipake Tyrexnya Abang Shaka, tapi kalo Daddy mau, nanti Beby beliin juga."


Haish!


Hawa tidak enak tiba-tiba menyapa tengkuknya. Apalagi seseorang yang di belakang tubuhnya terus memperhatikan interaksi mereka.


Dengan cepat Alva menggeleng. "Tidak, Daddy tidak mau. Untuk Shaka saja, lebih baik kamu baris lagi di belakang, atau antrian akan semakin panjang." ujarnya sambil menunjuk ke arah belakang, di mana orang-orang semakin bertambah banyak.


"Ihhhh Yosiiiiiii....."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sepulang berbelanja, Beby langsung dijemput oleh suaminya. Karena setelah menyelesaikan meeting, Shaka langsung menghubungi Beby dan mengatakan akan menjemputnya.


Shaka tak mengajak Beby untuk pulang ke rumah Juna. Melainkan ke apartemen yang akan menjadi tempat tinggal baru mereka.


"Abang kita nggak pulang ke rumah Papi?" Tanya Beby saat mereka sudah sampai di basemen apartemen.


Shaka menghentikan mesin mobilnya. Lalu membuka sabuk pengaman. "Tidak, Sayang. Hari ini juga, kita langsung tinggal di sini, berdua." ujarnya.


Lalu Shaka membantu Beby membuka sabuk pengamannya pula.

__ADS_1


"Cuma berdua, Bang?" Tanya Beby.


"Iya, Sayang. Nggak apa-apa kan? Biar kita mandiri." Shaka menatap Beby dan membenahi rambut Beby yang hampir menutup mata indah gadis itu.


Beby tersenyum bahkan sangat lebar. "Ya bolehlah, Bang. Boleh banget malah. Nah, sekarang, ayo cobain si Kokom."


Tiba-tiba gadis itu melompat dan duduk di pangkuan Shaka, menindih Tyrex yang sedang bersembunyi.


"Auch, Sayang hati-hati. Asetku bisa rusak nanti," keluh Shaka sedikit merasa ngilu.


"Aset apa, Bang?" tanya Beby dengan kening yang mengernyit.


Shaka menunjuk ke arah bawah, di mana Tyrexnya berada. Dan Beby langsung paham apa yang dimaksud suaminya.


"Aahhh maaf. Nanti kalo Tyrex rusak, Beby nggak bisa rasain lagi dong."


Mendengar itu, Shaka langsung tergelak kencang. "Makanya hati-hati, sekarang mana. Benda apa yang harus aku coba?" Shaka menengadahkan tangannya.


Dan Beby langsung mengambil si Kokom yang dia simpan di dalam tas, menyerahkannya pada Shaka.


"Ayo keluar di dalem," ucapnya sumringah.


Sementara Shaka melongo tak percaya.


*


*


*


Neng Beby ya Allah, lu pada bosen nggak sih liat tingkah dia?🤧🤧🤧🤧

__ADS_1


__ADS_2