
Yolanda terbanting di atas sofa, tubuh semampainya langsung terkungkung oleh tubuh tegap Daniel. Dengan tidak sabar, lelaki itu melucuti mini dress rumahan sang kekasih hingga tertanggal di atas lantai.
Hari ini mereka akan merayakan keberhasilan, yakin seyakin-yakinnya Jonathan lebih percaya pada Yolanda ketimbang putranya.
Keduanya saling mencecap dan terkekeh, merasa di atas awan, karena hubungan mereka masih rapih tersimpan.
Daniel mendorong tubuhnya, melesakan benda tumpul itu ke dalam sarang milik Yolanda. Membuat wanita itu menggeram nikmat.
"Kita nikmati hari ini, Baby." Ucap Daniel tepat di telinga wanitanya. Dengan seringai, tubuh itu mulai bergoyang.
Tak hanya Daniel, tubuh Yolanda ikut berekspresi, ia menggelinjang kesana-kemari, saat Daniel mencumbunya dengan hebat.
"Teruskan, Baby." Mereka bergerak seirama, suara lenguhan menjadi alunan ternikmat untuk indera pendengaran keduanya.
Yolanda semakin mencengkram kuat ujung sofa, saat hentakan demi hentakan terasa semakin mantap. Mereka sama-sama berjuang meraih puncak, hingga tak memperdulikan alam sekitar, bahkan suara decitan pintu terbuka sekalipun.
"Oh My Niel, terus sayang," rancau Yola dengan terus bergerak seirama.
Daniel menyentak lebih dalam, merasakan bisanya itu akan segera keluar, mata Yola yang semula terpejam, kini pelan-pelan mulai mengerjap, sengatan itu benar-benar mematikan syarafnya.
Detik selanjutnya, ia dibuat terkejut. Saat di belakang sana, ada lelaki paruh baya yang tengah menatapnya tajam, dengan wajah yang memerah, marah. Menyaksikan kelakuan bejatnya.
Yola langsung mendorong tubuh Daniel kuat, namun lelaki itu sama sekali tak berpindah tempat.
"Niel, turunlah." Pinta Yola dengan geram, ia sudah menutupi kedua dadanya dengan tangan.
"Ada apa Baby? Kenapa wajahmu jadi kelihatan takut begitu?" Daniel tak peduli, mereka baru main satu permainan, dan itu bukanlah apa-apa.
Mendorong lebih kuat. "Niel ku bilang turun."
"Hah, aku tahu, kamu mau menari di atas tubuhku?"
"Siapa yang akan menari di atas tubuhmu?" Daniel terhenyak, langsung menatap ke arah sumber suara, yang ternyata telah berdiri lelaki paruh baya, yang ia kenal sebagai ayah dari kekasihnya.
Tak ingin ikut campur dalam perdebatan, Daniel langsung memunguti pakaiannya dan berlalu begitu saja. Menyisakan Yolanda yang sedang memakai pakaiannya yang sempat tergeletak di bawah sofa.
Wanita muda itu mendekat ke arah sang ayah. "Pa,"
PLAK!
Pipinya yang mulus itu langsung mendapat tamparan keras dari sang ayah, hingga ia tersungkur keatas lantai. "BODOH!!!" Makinya.
Sorot matanya menajam dengan rahang yang mengeras. Niat hati ingin membicarakan pertunangan Yola dan Alva yang terancam gagal. Ia malah di suguhkan pemandangan yang amat sangat menakjubkan. Sang purti, yang sedang bermain api.
"Jadi ini, alasan Jonathan membatalkan pertunangan kalian? Kau mengkhianati Alva? Demi badjingan itu, dimana otakmu Yolanda?" Teriaknya marah. Tangannya terkepal kuat, suara itu memecah, menusuk dan membuat Yolanda terperangah, menatap tidak percaya.
Jonathan membatalkan pertunangannya dengan Alva?
"Pa, apa maksud Papa bilang seperti itu?" Tanya Yola, memegangi erat tangan ayahnya.
__ADS_1
Lelaki paruh baya itu menepis cekalan Yola, hingga wanita muda itu kembali tersungkur. "Kau pikir aku bercanda? Karena kelakuan bodohmu semuanya hancur!" Pekiknya histeris.
Nafasnya memburu, tak bisa membayangkan. Kenapa dengan bodohnya Yola menghancurkan semuanya. Ia sudah cukup senang, bisa berbesan dengan keluarga Jonathan, salah satu pembisnis terkenal. Tetapi, Yola justru membuatnya tak punya muka.
Yola sudah menangis, ia tidak menyangka kalau akhirnya Jonathan malah lebih percaya pada Alva. Bukankah, kemarin lelaki itu sangat marah pada putranya.
"Pa, tapi bukan aku saja yang selingkuh, Alva juga memiliki perempuan lain di belakangku." Belanya tak terima. Bukankah, tak hanya dia yang bersalah, Alva pun sama. Keduanya sama-sama selingkuh dan memiliki pasangan gelap.
PLAK!
Satu tamparan lagi Yola terima, bukan apa. Perkataan putrinya sungguh membuat ia merasa gagal sebagai seorang ayah, bukannya merasa bersalah Yola justru mencari alibi agar ia tidak marah.
"Kenapa Papa terus menamparku?" Selanya meringis.
Lelaki itu mencengkram kuat dagu Yola. "Kau tanya kenapa? Karena kau sudah menginjak harga diriku sebagai seorang ayah, aku sudah mencoba menjagamu, tetapi ternyata kau yang tidak bisa menjaga dirimu sendiri Yolanda." Lalu menghentak kasar.
"Pa!"
"Apa? Apa perkataanku salah? Kau mau menyanggahnya?"
"Maafkan Yola Pa, tapi aku melakukan ini karena Alva selalu mengacuhkanku." Ujarnya dengan berderai air mata.
"Itu berarti kau yang salah." Menuding tepat di depan wajah putri sulungnya. "Harusnya kau ambil hatinya bukan malah bermain kotor seperti ini. Entah iblis apa yang sudah merasukimu Yola. Tak hanya Papa, mungkin Mama juga akan kecewa jika mendengarnya, persiapkan dirimu, dua hari konferensi pers akan di adakan, tentang pembatalan pertunangan kalian." Ucapnya kemudian berlalu.
Meninggalkan Yola yang menatap nanar pintu apartemennya yang di tutup dengan keras. Ia terisak-isak, kebenciannya pada Alva semakin menggunung, akan ia pastikan lelaki itu akan mendapatkan balasannya.
"Jangan kamu pikir, hidupmu akan tenang Alva, aku akan membalasmu, aku akan membalasmu." Pekiknya histeris lalu tertawa, tawa yang memilukan sekaligus menakutkan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Mira dan Sam sedang menikmati buah segar, duduk di gazebo belakang rumah mereka. Namun, tiba-tiba Sam mendapat telepon bertubi-tubi, padahal sedari tadi ia tidak peduli pada ponselnya, tetapi sepertinya ada sesuatu yang penting, hingga si penelepon tak berhenti untuk menghubunginya.
Sam berlalu sebentar. Mengangkat telepon yang ternyata dari asisten sang sahabat, yaitu Juna.
Setelah panggilan itu berakhir, Sam segera membuka pesan grup, membacanya dengan teliti, sesuatu yang menjadi kekacauan hari ini.
Raut wajah Sam menegang, Mira yang merasa ada sesuatu yang berbeda, lantas bertanya. "Sayang ada apa?"
Sam menoleh, menatap istrinya dengan gamang. "Alva dan Satria berkelahi, Mir. Aku harus segera kesana."
Kening Mira berkerut. "Berkelahi? Memangnya mereka punya masalah apa, Sam?"
"Mir, aku harus segera pergi."
Wanita hamil mencegat, ia tidak akan memberi izin sebelum Sam memberitahunya. "Sam, tolong jelaskan dulu."
Mendengar itu, Sam menghela nafas panjang, mengusap surai hitam istrinya. "Chilla hamil."
Netra Mira langsung membulat sempurna, hingga ia menepis tangan Sam, ia terperangah dengan berita yang di dengarnya. "Apa Satria yang menghamili Chilla, sampai akhirnya Alva marah?" Tebak Mira.
__ADS_1
Sam menggeleng, ia pun merasa tidak percaya. "Alva yang menghamili Chilla, aku baru membaca pesannya, dua Minggu lagi mereka akan menikah. Mungkin Satria tidak terima, jadi aku harus kesana untuk memisahkan mereka."
Wanita itu menutup mulutnya dengan kedua tangan, lalu cepat-cepat, Mira mengangguk. Melepas kepergian sang suami hingga di ambang pintu.
Ya Tuhan, jadi benar, Alva dan Chilla memiliki hubungan?
•
•
•
Nafas keduanya memburu, sedari tadi Satria tidak berhenti untuk menyerang Alva, ia sudah seperti orang kesetanan, hatinya seperti diiris sembilu mendengar berita kehamilan gadis yang di cintainya, terlebih gadis itu di hamili oleh sahabatnya sendiri.
"Bangun kau brengsek! Jangan kau pikir aku tidak berani untuk menghajarmu, bangun! bangun kau badjingannn!" Pekik Satria, sedangkan Alva yang sedari tadi tidak melawan, sudah tak berdaya di atas tanah. Wajahnya lebam sana-sini, bahkan tubuhnya sudah kotor karena berkali-kali tersungkur.
Juna ingin melerai, tetapi Alva menyuruhnya untuk tetap diam. Biarkan saja, biar sahabatnya itu meluapkan amarahnya. Karena ia sadar, ia salah, ia yang menyulut api itu, hingga kini berkobar, dan menjalar semakin besar.
"Selama ini kau menentangku, jadi alasannya ini? Hah? Ternyata kau—" Satria tak tahan, sebagai seorang lelaki ia pun bisa menangis, ia merasa di khianati oleh Alva. Orang yang sudah ia anggap sebagai saudara. Tetapi ternyata, lelaki ini pula yang membuat luka di hatinya.
"Aku memang pengecut Satria, aku membohongi semua orang, termasuk membohongi diriku sendiri, bahwa sebenarnya, hanya dia yang aku inginkan." Ucap Alva lemah, tetapi seakan sudah dirasuki iblis, Satria kembali menghantam tubuh itu, sambil memaki ia terus membabi-buta, hingga Alva benar-benar terlihat sangat mengenaskan.
Satria menarik kerah kemeja Alva kuat, hingga lelaki itu bangkit, tangannya terkepal kuat siap melayangkan tinjunya. Namun sebelum itu, ada satu tangan besar yang menjegal, dan membuatnya urung.
"Cukup Sat." Pintanya lembut.
"Kita bisa bicarakan ini baik-baik, aku tahu kau pasti sangat sakit hati. Tapi kau juga tidak lupa, kalau kita bertiga itu sahabat. Bahkan semenjak kita kecil." Sambungnya, membuat cengkraman itu tiba-tiba terlepas, dengan lemah, Alva kembali jatuh keatas tanah.
Satria berbalik, menghadap Sam yang baru saja datang, tatapannya mengiba. "Kau bisa bicara seperti itu, karena kau tidak merasakannya, berkali-kali aku meminta pendapat, aku berjuang. Tapi dia?" Menunjuk ke arah Alva. "DIA TIDAK PERNAH JUJUR PADAKU, SAM. Dia membohongiku!" Memekik dengan perasaan kecewa.
"Pantas saja, bahkan semuanya terlihat jelas, kenapa aku tidak boleh dekat-dekat dengan gadis yang aku cintai, ternyata dia..." Lagi, Satria menunjuk-nunjuk. "Dia bermain dengan gadisku, Sam. Dia menghamilinya." Satria tergugu di tempatnya. Kenyataan pahit ini, membuatnya tak bisa berpikir dengan jernih.
Sam bisa merasakan kekecewaan Satria, tetapi ia pun tidak bisa menyalahkan Alva begitu saja. Karena sepertinya, Chilla memang mencintai Alva.
Akhirnya Sam meraih pundak sahabatnya itu. Ia mengusapnya beberapa kali. "Kau harus ikhlas, Sat. Semuanya sudah terjadi." Ucap Sam menenangkan.
Tetapi lain bagi Satria, ia merasa, semua orang tidak ada yang mengerti perasaannya, semua orang lebih membela Alva yang jelas-jelas bersalah. Dengan perasaan marah, Satria menepis kasar tangan Sam yang berada di pundaknya.
Lelaki itu menatap tajam dengan rahang yang mengeras. "Kau dan dia sama saja, kalian badjingan, kalian brengsek, dan aku anggap. Aku tidak pernah mengenal kalian!" Tunjuknya pada Sam dan Alva bergantian.
"Sat, Satria!"
Tak peduli dengan panggilan Sam, Satria berbalik, dan berlari ke arah motor sportnya, langsung melajukanya dengan kecepatan tinggi, berharap kekecewaannya terbawa angin, hingga ia tidak perlu merasa sakit hati.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Siapkan hadiah, besok kita kondangan yah 😂😂😂
For all reader 😍😍😍
__ADS_1