Menjadi Simpanan CEO

Menjadi Simpanan CEO
Satu syarat


__ADS_3

Juna berputar-putar tanpa arah tujuan, yang ada didalam otaknya saat ini hanyalah membawa gadis manis disampingnya pergi, dan kembali saat Mona sudah tidak ada lagi.


Sampai ia melupakan, bahwa gadis itu belum sarapan sama sekali, Chilla memang menahannya, karena merasa tak enakan pada Juna.


Tetapi perutnya tidak bisa diajak bohong, hingga usus dan segala macam isinya berteriak, berdemo meminta pada sang Tuan untuk segera mengisinya.


Kruyuk...


Seketika Chilla menggigit bibir bawahnya, menahan malu, pastilah Juna mendengarnya. Tetapi, seolah tak memiliki keberanian, Chilla hanya menunduk.


Astaga, apa Nona lapar? Kenapa aku bisa sampai melupakannya?


"Nona," panggil Juna segan untuk melirik.


Pelan, Chilla mengangkat kepala.


"Maaf," terdengar lirih lalu menunduk lagi, dalam benaknya, pastilah Juna merasa di repotkan. Karena sejak tadi, lelaki itu susah sekali untuk di ajak bicara, pastilah Juna sedang kesal sekarang karena harus mengurus dirinya.


Mendengar itu, mau tidak mau Juna melirik sekilas, dilihatnya Chilla tertunduk dengan bibir yang mengerucut imut, sumpah demi apapun, Chilla terlihat menggemaskan sekali di mata Juna. Dengan wajah tanpa polesan apapun, tapi tetap cantik dan mempesona. Tanpa sadar, Juna menyunggingkan senyum.


Hingga di detik selanjutnya, ia merutuk sendiri kebodohannya.


Sial, apa yang aku pikirkan, bos gila itu bisa mencekikku kalau dia tahu.


"Eu... Untuk apa meminta maaf? Nona tidak bersalah, saya yang salah karena melupakan sarapan anda," ucap Juna akhirnya, menangkis segala pemikiran yang bersarang.


"Nona mau makan apa?" Tanya Juna lagi, benar-benar merasa lucu dengan tingkah Chilla yang terlihat malu-malu padanya.


Pantas saja, bos gila itu jatuh cinta pada Nona Chilla.


"Chilla mau junk food, bolehkah?"


Entah kenapa, ia sedang ingin memakan makanan itu, sedari tadi pikirannya sudah melayang dan membayangkan, mungkin karena dia terlalu lapar.


"Hem, tentu saja,"


"Apa Chilla akan berpakaian seperti ini terus? Chilla mau makan di tempat," terdengar seperti rengekan seorang bocah, yang membuat siapa saja pasti gemas mendengarnya.


Sadar kalau gadis di sampingnya sudah merasa tak nyaman, Juna memutuskan untuk membeli pakaian terlebih dahulu. Ia segera membawa kijang besi itu ke arah pusat perbelanjaan terdekat.


"Baiklah, saya belikan Nona pakaian dulu sebentar, Nona jangan kemana-mana yah," titah Juna seraya membuka pintu mobil, siap untuk keluar.


"Tapi kak," menahan dengan gerakan malu-malu, dan di yakini oleh Juna pastilah gadis itu tengah merasa tidak enakan pada dirinya.


"Ada apa? Tidak perlu sungkan begitu, ini memang sudah tugasku,"


Chilla kembali menggigit bibir bawahnya hingga terlihat memerah, memainkan jari, dan bergeming.


"Nona?"


Chilla mendongak, hingga tatapan keduanya bertemu, ah aku malu mengatakannya.


"Kak Juna, belinya yang agak besar yah," cicitnya seraya membuang muka. Pastilah pipinya memerah sekarang, dan Juna tidak boleh melihatnya.


"Baiklah,"


Lelaki itu keluar dari dalam mobil, namun sebelum menutup pintu ia kembali berpikir.


Eh, agak besar apa maksudnya?

__ADS_1


Juna kembali dan menatap Chilla, mencoba meminta penjelasan, tetapi sampai akhir, gadis manis itu tak berkata-kata sedikitpun.


Puk, Juna lupa. Kalau ia membelikan pakaian untuk Chilla, sudah pasti ia juga harus membeli pakaian dalam gadis itu, lalu apa dia tidak salah dengar? Yang agak besar? Berarti dulu dia membelikannya terlalu kecil?


Sepertinya Tuan berhasil membuatnya mengembang. Gumam Juna, seraya melirik dua gundukan yang terlihat menggunung, dibalik kain kimono tersebut.


Chilla yang merasa sedang di pandangi jadi merasa risih. Tidak, Kak Juna tidak mungkin macam-macamkan. Reflek Chilla menggenggam erat kain yang menutup dadanya.


Melihat itu, Juna buru-buru menyadarkan dirinya.


"Ah, ya. Saya pergi dulu Nona," pamit Juna menutup pintu. Menyisakan Chilla yang terlihat bingut dengan tingkah lelaki tersebut.


Yang agak besar yah? Benarkah buah semangka Nona besar?


Juna menatap tangannya, mengingat benda kenyal yang pernah ia genggam, membuat gerakan mengukur, kira-kira seberapa besar milik Chilla.


Haish, Juna kau sudah gila.


************


Pukul 2 siang, Juna di minta kembali untuk membawa Chilla ke apartemen Alva. Karena Mona sudah pergi setengah jam yang lalu.


Tanpa mengulur waktu, lelaki itu membawa gadis manis yang terlelap didalam mobil, merasa bosan akhirnya Chilla ketiduran setelah perutnya terasa kenyang.


Juna langsung menelpon Alva saat ia sudah berada di baseman, memberitahu kalau pacar lelaki itu tertidur, dan ia tidak mungkin membangunkannya sendiri, bisa di semprot kalau itu terjadi.


Dengan langkah lebar, Alva berjalan menuju tempat parkir asistennya tersebut. Saat membuka mobil, ia langsung menyunggingkan senyum, melihat gadisnya tertidur dengan nyaman, tanpa beban.


Cup


"Kau bekerja keras hari ini,"


Alva menggendong tubuh mungil Chilla, di setiap langkahnya terukir senyum tak habis-habis, entah kenapa ia sebahagia ini melihat Chilla kembali.


Begitu sampai Alva buru-buru membaringkan tubuh itu diatas ranjang king size miliknya. Menarik selimut, dan diakhiri kecupan manis di seluruh wajah gadis itu.


"Aku pergi dulu,"


*******


Juna dan Alva sudah berada di ruangan yang diyakini sebagai ruang belajar lelaki itu, ruangan yang Alva gunakan jika sedang banyak pekerjaan.


Semalam, lelaki yang lebih tua dua tahun dari Alva itu bilang, ingin membahas sesuatu mengenai Yola. Dan sebab itulah pagi-pagi Juna sudah berada di apartemen Alva.


"Baiklah, kau boleh memulainya," ucap Alva mempersilahkan sang asisten untuk menjelaskan.


Juna mengangguk patuh, ia memberikan lembaran foto yang ia ambil dari saku jasnya. Membeber satu persatu diatas meja, agar Alva leluasa melihatnya.


"Ini adalah mobil yang kerap datang ketika Nona Yola sengaja pergi, disini anda bisa lihat nomor plat dan orang yang mengendarainya," terang Juna seraya menyerahkan foto seorang lelaki yang tengah membuka pintu mobil tersebut.


Alva menelisik gambar-gambar berwarna itu dengan seksama. Terutama wajah lelaki yang menjadi kekasih gelap tunangannya.


"Ada lagi?"


"Terkahir kali, saat ia hampir sampai di apartemen Nona Yola, ia sempat di sapa oleh seorang lelaki, sepertinya ia adalah tetangga Nona Yola. Dan samar terdengar dari orang kita, bahwa lelaki yang akan masuk ke apartemen tunangan—"


"Cukup sebut namanya, tidak perlu pakai statusnya segala," tukas Alva tidak suka. Memutar bola mata jengah, mendengar Juna akan menyebutkan Yola sebagai tunangannya.


"Ah ya, maksud saya apartemen Nona Yola, lelaki itu bernama, Da—niel,"

__ADS_1


"Daniel?" Beo Alva, mencoba mencari daftar nama Daniel dalam otaknya, tetapi ia rasa, nama itu begitu asing.


"Apa kau sudah menyelidiki identitas nomor plat ini?"


Juna mengangguk. Setelah mendapat laporan tentang nomor plat itu, ia sudah mengecek siapa pemiliknya. Dari situ ia bisa melihat keterkaitan satu sama lain.


"Pemilik nomor plat mobil ini adalah, David Laurent, Presdir L Group," terang Juna lugas, mobil itu memang bukan atas nama Daniel, sepertinya itu dilakukan agar orang-orang tidak mencurigai lelaki tersebut.


"Apa mereka memiliki hubungan?"


"Benar, Daniel adalah putra kedua dari Dave Laurent, ia menjabat sebagai wakil Presdir di L Group Tuan, hanya saja, ia tidak terlalu aktif di perusahaan, maka dari itu, Tuan Dave tidak terlalu mempercayakan bisnisnya pada putra keduanya,"


"Menarik," Alva memangku dagunya dengan kedua tangan.


"Ada lagi?"


"Daniel Laurent terkenal sebagai seorang Casanova, dia memiliki banyak teman kencan wanita, dan sepertinya Nona Yola adalah salah satunya,"


Mendengar itu, Alva tercengang. Itu artinya, lelaki itu bebas dan tak terikat status apapun dengan Yola. Dan mereka melakukannya hanya sebatas untuk memuaskan hasrat saja.


"Darimana berita itu?"


"Ini seputar kehidupannya di luar negeri, ia kembali ke negara kita dengan tabiat yang sama yaitu menjadi seorang Casanova, malam setelah ia pulang dari apartemen Nona Yola, ia kembali menjamah seorang wanita di klub malam, dan itu berdasarkan foto ini,"


Juna kembali memberikan selembar foto ke depan wajah Alva, lelaki itu menarik satu sisi bibirnya keatas. Dalam otaknya mencari cara, bagaimana menjerat Daniel dalam permainannya.


"Besok, serahkan berkas kerja sama L Group padaku, aku akan menandatanganinya, tapi dengan satu syarat..." Alva melirik ke arah Juna.


"Kau tahukan apa maksudku?"


Juna mengangguk, seolah tahu akan pemikiran sang Tuan yang sudah terhubung kedalam otaknya. Pastilah Alva tengah menyiapkan rencana dibalik ini semua.


...****************...


Setelah selesai dengan Juna, Alva kembali ke kamarnya, kamar yang di tempati sang gadis, yang samar-samar sudah merasuki hatinya.


Bohong, kalau ia tidak cinta. Bohong kalau ia tidak berkata sayang. Nyatanya, segala tindak tanduknya telah mengatakan semuanya.


Lelaki itu memandangi wajah Chilla yang terlelap, di bawah gulungan selimut yang mendekap memberi kenyamanan.


Dengan tingkah usil bin jahil, Alva melucuti apa saja yang melekat sempurna di tubuh gadisnya, tapi anehnya Chilla tidak terganggu sedikitpun, hingga saat Alva mencecap irisan di antara gua lembab milik Chilla, barulah gadis itu menggeliat-geliat.


Alva menyeringai, jurus yang ia gunakan memang benar-benar ampuh.


Lelaki itu mengangkat kaki Chilla hingga naik keatas pundaknya, membukanya lebar-lebar dan kembali melancarkan serangan dengan menjilat dan menyesap area sensitif itu, hingga membuat si empunya tiba-tiba melenguh.


"Ahhh, I want more of this," lirihnya dengan mengangkat pinggul.


Alva yang sudah kembali bergairah, memberikan apa yang Chilla mau, ia melesakan lidahnya kedalam sana, berputar sesuka hati, membuat gadis itu mendesaah karena basah.


Dan saat itu juga, barulah Chilla mengerjap dan tersentak begitu satu jari Alva telah memasuki dirinya.


"Ahhh Kakak," desisnya antara kaget dan ingin mendesaah.


Menyadari Chilla sudah bangun, dengan tersenyum Alva menarik kembali jarinya, memberikan benda yang lebih besar dan pastinya mampu membuat Chilla bertekuk lutut dibawah kungkungannya.


"Let's have fun honey,"


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


...****************...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2