Menjadi Simpanan CEO

Menjadi Simpanan CEO
Bukan mandi biasa


__ADS_3

Satu pelepasan baru saja mereka dapatkan. Nafas keduanya tersengal-sengal, menetralkan debaran dahsyat yang membuncang hebat.


Dada Nana naik turun, dia masih merasakan getaran nikmat itu, Juna telah berhasil membawanya ke atas puncak nirwana tertinggi.


Meluluhkan semua urat syarafnya, hingga ia benar-benar merasa melayang ke atas awan. Dan tak menapak lagi di bumi.


Keduanya saling menatap, dengan tatapan yang masih saling menginginkan, dan kembali mengulum senyum. Hingga dirasa sudah cukup tenang, Juna mengangkat tubuhnya serta tubuh Nana.


Lelaki itu sama sekali tak melepaskan penyatuan. Juna menggendong Nana, sedangkan gadis itu melingkarkan kakinya di pinggang Juna.


Juna berjalan ke arah kamar mandi, membuat Nana bertanya-tanya.


"Kak, kenapa kita ke kamar mandi, emangnya udah gitu-gituannya?" Tanya Nana dengan binar mata polos dan bibir yang sedikit mengerucut. Tanda tak suka.


"Kita mau mandi, Sayang." Balas Juna, mengecupi wajah Nana sesuka hati, hingga mereka sampai di kamar mandi.


Dan jawaban itu semakin membuat Nana mencebik, tidak mau kegiatan mereka berakhir hanya sesaat saja.


Kan baru satu kali, masa udahan gitu aja.


"Cepet banget, Kak. Kenapa nggak main lagi?" Protes Nana, yang membuat Juna terkekeh. Baru satu kali bermain, ternyata gadis kecil ini sudah ketagihan dengan pusaka miliknya.


Oh jelas saja, pusaka Juna kan perjaka.


"Kenapa ketawa?" Nana semakin dibuat kesal, karena Juna tak menanggapi ucapannya, dan lebih memilih tertawa.


Lalu detik selanjutnya, Juna membawa tubuh mungil itu merapat ke tembok. Nana masih merasakan milik suaminya yang masih menegang, tetapi tak sehebat tadi.

__ADS_1


"Kita akan mandi, tapi bukan mandi biasa, Sayang." Bisik Juna lalu mengulum gemas daun telinga istrinya.


Tubuh Nana seperti tersengat, desiran nikmat itu kembali ia dapatkan, lengan langsing itu memeluk leher Juna erat, sedangkan benda tak bertulang itu semakin bermain dengan lihai, memanjakan tempat-tempat sensitifnya.


Tangan Juna meraba-raba, ia melirik ke arah shower lalu menyalakan airnya dengan suhu hangat.


Tubuh keduanya basah, bermandikan gelora cinta yang membara, mengalir deras semena-mena.


Bibir Juna turun, memutar dan menjelajahi leher jenjang Nana. Membuat beberapa tanda kepemilikan, hingga si empunya beberapa kali menggelinjang.


"Keluarkan suaramu, Sayang." Pinta Juna, dan lelaki itu kembali dengan aksinya.


Kepala lelaki itu menunduk, mencoba menggapai pucuk indah yang tengah menegang hebat itu. Nana menjerit. "Argh."


Dan hal itu semakin membuat Juna bersemangat. Dia terus memberikan sentuhan-sentuhan yang membuat istri kecilnya melayang.


Meski tak sebesar milik Yolanda, namun nyatanya bulatan kecil itu mampu membuat gairahnya membuncang dahsyat.


Pucuk itu bagai makanan manis yang terasa begitu candu, hingga Juna membabat habis, tak ingin melepaskannya barang sedikitpun.


Nana mencengkram kuat bahu Juna, ia melenguh terus melenguh, hingga dia tak mampu lagi untuk bertahan dengan rasa sesak ini. "Sayang, ayolah." Pintanya dengan wajah yang benar-benar membuat Juna bernafsuu.


Ia mengangkat wajah Nana dengan satu jarinya, hingga tatapan keduanya bertemu. Nafas keduanya memburu.


"Sebut namaku." Pinta Juna, banyak sekali yang ingin ia lakukan malam ini, termasuk Nana menyebutkan namanya saat mereka bercinta.


"Ju, Juna." Sebut Nana patuh, lelaki itu mengulum senyum, lalu mengusap bibir istrinya dengan jari jempol miliknya.

__ADS_1


Dan detik selanjutnya, ia mulai bergerak perlahan, mengatur tempo agar kenikmatan itu bertahan lama di dalam sana.


Tak sampai disana, agar kenikmatan itu semakin sempurna, Juna kembali mengulum biji salak istrinya.


Nana menggigit-gigit kecil bibir bawahnya. Desaah itu sedikit tertahan, dan Juna tidak suka itu.


"Lepaskan, Sayang." Ucap Juna mengecup bibir Nana. Membuat gadis itu membuka mata. Mendesaah, adalah hal yang dilakukannya.


Juna kembali mengulum senyum, suka kalau Nana menurut dengan perintahnya. Lelaki semakin menghentak-hentak kuat, dan Nana menjerit-jerit menyebut nama suaminya.


Diraihnya kepala Juna, hingga kedua hidung itu bertemu, dan bibir keduanya kembali bersatu.


Air shower tak berhenti mengalir, bersamaan kegiatan mereka yang belum juga berakhir.


Denyutan nikmat itu semakin terasa, seiring Juna membawa senjata itu menyentuh titik terdalam miliknya.


"Jun, aku." Nana merasakan gelombang itu nyaris datang, gadis itu kembali memeluk erat leher suaminya dengan mendesaah-desaah.


Dan Juna mulai mengerti itu, ia mempercepat permainan, hentakan-hentakan itu membrutal hingga Nana mengerang panjang seraya memejamkan matanya kuat-kuat.


Sedangkan Juna belum berhenti, ia masih di ambang kenikmatannya. Berpacu pelan dan cepat hingga tak berapa lama kemudian dia pun sukses menyemburkan cairan hangat itu ke dalam rahim istrinya.


"Aku mencintaimu, Na."


"Aku juga mencintaimu, Juna."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


Udah, nafas dulu, jangan anu terus 🙈🙈🙈


Bukan mandi biasa tuh kaya gini yah🤣🤣🤣 bagi yang baca Kalisa, tolong dipahami, bukan kaya si kucing mandi pake tanah, oh tidak🤣🤣🤣


__ADS_2