
Happy reading guys❤️❤️❤️ Jangan lupa untuk senantiasa like, komen yah biar Dede othor semangat lanjutin ceritanya 🤗🤗🤗
...****************...
Matahari menggantung tepat ditengah ubun-ubun, waktunya bagi para anak sekolah berhambur, keluar untuk pulang ke rumah mereka masing-masing.
Termasuk Chilla dan juga Nana, keduanya sudah sepakat untuk makan siang lebih dulu, di mall tempat biasa mereka menghabiskan waktu.
Namun, tidak ada informasi apapun, tiba-tiba seorang lelaki sudah berdiri di depan mereka, dengan tegap dan wajah yang terlihat datar nyaris tanpa senyum.
"Siang Nona, Tuan sudah menunggu didalam mobil," ucap Juna, kembali menundukkan kepala, tidak berani menatap lama-lama pacar bosnya.
Chilla memajukan wajahnya dengan tatapan tak percaya, Alva sudah menunggunya? Mau apa? Apa dia mau mengajak makan siang juga?
Sama halnya dengan Chilla, Nana pun terkejut dengan apa yang dilihatnya, ia tidak salahkan, ini adalah lelaki yang dua kali hampir membuatnya celaka, dan sekarang lelaki itu sedang berdiri tepat didepan mereka berdua.
"Hei, kau pria sialan itukan?" Pekik Nana dengan tatapan sinis.
Juna langsung mengangkat kepalanya. Roman-romannya ia kenal siapa pemilik suara ini, dan benar saja, saat kepala itu sukses menegak, gadis galak yang dua kali di temuinya ini tengah menatap marah, dengan tangan yang bertolak pinggang.
"Untuk apa kau mendekati Chilla hah?"
"Jangan bilang kau mau menjadikan sahabatku sebagai mangsamu?" Tuduh Nana dengan mata yang menyipit dan jari yang menunjuk tepat di wajah Juna.
Mangsa?
Juna melihat sekitar, orang-orang yang berjalan bahkan rela berhenti, demi melihat adegan selanjutnya.
Sial! Jadi gadis ini sahabat Nona Chilla.
"Apa maksud anda Nona?" Juna pura-pura bodoh saja, dan tidak mengenali Nana.
"Sudah kau mengaku saja, aku tahu siapa kau sebenarnya, kau ini hmpt!"
Buru-buru Juna menutup mulut Nana dengan satu tangan besarnya, hingga gadis itu kesulitan bicara. Gadis didepannya ini benar-benar bahaya. Sudah galak, bar-bar pula.
Chilla hanya bisa menatap bingung pada kedua orang yang tengah adu mulut di depannya. Mau melerai? Bahkan ia tidak tahu, apa duduk masalahnya. Dan apa mereka sudah saling kenal? Sepertinya iya, tapi kenapa ia tidak tahu?
"Tutup mulutmu!" Cetus Juna setelah bekapan itu terlepas. Sesuatu yang baru pernah Chilla lihat, sisi judes Juna.
"Tidak akan! Chilla harus tahu siapa kau sebenarnya, kau adalah—"
Lagi-lagi Juna membekap mulut mungil Nana yang pandai mengomel itu, bahkan ia sampai memeluk gadis itu agar tidak berontak.
"Aw!" Tangan Juna tergigit, ia melepas diri menahan sakit.
Shittt!
"Chil, kita pergi aja. Nanti gue ceritain," Nana sudah ingin menarik tangan Chilla, tetapi gadis itu justru menghentikan langkah sahabatnya.
"Na, Chilla udah di tunggu Kakak pacar, kita makan bareng dia juga yah,"
__ADS_1
"Maksud lo?"
Chilla melirik Juna, "Itu Kak Juna, asistennya Kakak pacar,"
Mata Nana membola, lalu menatap Juna yang masih mengibaskan tangannya yang terasa sakit, Nana sepertinya bukan gadis keturunan biasa, mungkin ada sejenis darah vampir dalam tubuhnya. Lihat! Tangan Juna bahkan hampir saja berdarah.
Dan Nana baru mengingat, bahwa lelaki didepannya ini, ternyata pernah ia lihat waktu ia habis menonton dengan Chilla, pantas saja wajahnya tidak terasa asing.
"Hei! Kenapa lama sekali?" Teriak seorang lelaki yang sedari tadi menunggu didalam mobil, ia hanya menurunkan sedikit kaca, berteriak dengan nada kesal.
Ketiga orang tersebut langsung melayangkan tatapan mereka masing-masing ke arah sumber suara. Rasanya sudah terintimidasi oleh tatapan tajam, dan suara bass yang terdengar murka.
Entah kenapa, Nana yang tadinya tidak mengerti apa-apa, malah mengikuti langkah Chilla. Hingga kini mereka semua sukses berada dalam mobil tersebut.
Juna di belakang kemudi, dan tiga orang lainnya duduk di kursi penumpang dengan Chilla yang berada di tengah-tengah.
"Kak, maaf yah Chilla bawa temen. Nih, kenalin ini Nana." Ucap Chilla dengan wajah di buat ceria, meskipun ia tahu Alva tidak tertarik sama sekali dengan apa yang dilakukannya.
Melihat wajah seram Alva, dengan gemetar dan sedikit mengulas senyum Nana mengulurkan tangannya ke hadapan lelaki itu, tetapi bukan Alva namanya kalau ia tiba-tiba bersikap ramah pada seseorang yang baru saja dikenalnya.
"Hemmm,"
Hanya hemm?
Dengan perasaan kecewa Nana menarik cepat tangannya, sedangkan lelaki itu hanya memasang wajah datar tanpa dosa seperti biasa.
"Aku tanya kenapa lama?" Alva masih menggunakan nada bicaranya yang terdengar kesal.
"Apa karena mereka? Hem?" Lelaki itu melirik tajam dua orang itu secara bergantian.
Chilla menggigit bibir bawahnya, Juna bungkam, apalagi Nana, bahkan gadis yang biasanya galak itu tidak bisa bernafas dengan normal sekarang.
"Sayang bukan seperti itu," rengek Chilla mulai bergelayut.
"Jun," panggil Alva.
Tahu apa yang diinginkan Tuannya, Juna langsung meminta Nana untuk duduk disampingnya.
"Nona duduklah didepan,"
Nana melirik tajam kearah Juna, ia tidak mengerti sama sekali dengan kedua lelaki di depannya ini. Kenapa bahkan tanpa bicara pun, mereka sudah seperti sedang berkomunikasi.
Setelah Nana berhasil duduk disamping Juna, barulah mobil melaju ke jalan raya. Chilla duduk sedikit menjauh dari Alva, ia tidak ingin lelaki itu berbuat macam-macam ketika ada sahabatnya.
Mungkin Nana adalah orang yang paling tahu apa rahasianya, tetapi untuk masalah ia sering bercinta dengan Alva, gadis itu sama sekali tidak mengetahuinya.
Bisa di ceramahi tujuh hari tujuh malam kalau sampai itu terjadi.
"Mendekatlah," ucap Alva yang menyadari gadisnya menjauh. Ia sedikit kesal dengan keberadaan Nana yang membuat Chilla seolah memberi jarak.
Chilla hanya bergeser sedikit, begitu seterusnya hingga akhirnya Alva geram.
__ADS_1
"Mendekat atau ku suruh mereka turun!" Cetus Alva yang membuat Nana menelan salivanya berat.
Kenapa Chilla bisa jatuh cinta sama makhluk begini sih?
Tak mau terjadi apapun akhirnya Chilla mendekat, dengan cepat Alva merengkuh pinggang itu dan menyenderkan kepalanya di bahu Chilla.
"Beri aku ciuman," ucapnya melunak, bahkan sedikit lebih manja. Tidak peduli pada makhluk-makhluk yang ada di sekelilingnya.
Cih, bisa langsung berubah begitu. Gadis disamping Juna lagi-lagi membatin.
"Kak, disini ada Nana sama kak Juna," bisik Chilla tak enakan, meski ia tahu itu tidak berpengaruh apapun pada keputusan Alva. Tetap saja, ia harus berusaha menolaknya.
"Ini semua gara-gara Juna, aku jadi ingin di cium," masih dalam mode yang sama. Mengusak-ngusak kepala didada Chilla.
Mendengar itu, Nana kembali memicingkan mata pada lelaki yang duduk di sebelahnya. Semakin yakin, Juna memanglah tipe buaya darat yang suka gonta-ganti wanita.
Huh! Pasti banyak yang memuja juniornya.
"Kenapa gara-gara Kak Juna?" Tanya Chilla dengan tatapan polos yang terlihat menggemaskan di mata Alva.
"Dia menyuruhku menonton video dirinya sedang berciuman dengan seorang wanita," ucap Alva menyeringai, sedikit melirik ke arah Juna dari balik spion.
Glek!
Kedua gadis itu langsung menatap Juna secara bersamaan, tatapan tak percaya Juna telah melakukan itu semua. Bahkan rasanya Nana ingin memaki saja.
Benar-benar ini orang, bahkan bosnya disuruh menonton kelakuan bejatnya.
Nana geleng-geleng kepala.
Sedangkan Juna merutuk Alva dalam hati, kenapa mesti di ungkit lagi sih, kalau saja Alva bukan bosnya, mungkin sudah ia sumpal mulut lemesnya.
Melihat Chilla yang tak bereaksi apapun, akhirnya Alva bertindak sendiri, ia mengecup leher Chilla dengan kecupan manis, membuat gadis itu tersentak, dan tak sengaja melenguh.
Mendengar itu, Nana hampir saja melirik ke belakang, namun secepat kilat perkataan Juna menghentikannya.
"Duduklah dengan tenang di tempatmu,"
Apasih, gue kan cuma mau liat.
Tahu kalau tangan Chilla menganggur, Alva segera menarik dan mengapitnya di kedua paha. Chilla langsung bergidik ngeri, begitu tangannya merasakan benda keras dibawah sana, kenapa cepat sekali bereaksi sih? Batinnya.
"Kakak jangan," pekik Chilla saat Alva menggodanya dengan serangan-serangan mematikan. Membuat keadaan di kursi penumpang jadi gaduh oleh tingkah keduanya.
Nana yang kembali penasaran mencoba melihat dari kaca spion depan, tetapi lagi-lagi Juna menghentikan niatannya. Lelaki itu membelokan kaca spion itu ke arahnya.
"Kalau kau mau mati jangan disini," cetus Juna sedikit melirik Nana.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...****************...
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...