Menjadi Simpanan CEO

Menjadi Simpanan CEO
Juna merana


__ADS_3

Hari ini, Juna mulai masuk kerja seperti biasa. Tetapi seperti tak memiliki semangat hidup, wajah lelaki itu sama sekali tak bergairah.


Karena sejak hari itu, Nana benar-benar memegang ucapannya, dan sampai sekarang, lelaki itu belum mendapatkan kembali jatahnya.


Sama halnya dengan Juna, Nana pun sudah bisa masuk kuliah. Dengan diantar sang suami, Nana sampai di tempat dimana dia menimba ilmu.


Wajah Nana terlihat sumringah, berbeda jauh dengan aura suaminya, aura suram seperti tak memiliki masa depan.


Sebelum turun, Nana meraih tangan Juna lalu menyaliminya dengan takdzim. "Kak, aku keluar yah, Kakak nggak usah khawatir, nanti aku minta Pak Jono yang jemput aku." Ucap Nana dengan senyum mengembang.


Juna mengangguk sekilas, dan Nana yang super duper tidak peka hanya mencubit gemas pipi Juna, lalu mengecupnya sekilas. "Semangat bekerja suamiku."


Kemudian tanpa apapun lagi, Nana keluar dari mobil suaminya, melangkah dengan riang menuju gerbang kampus, sambil sesekali menoleh ke arah belakang.


"Cih, bagaimana aku mau semangat kerja kalau tidak dapat jatah." Gerutu Juna, lalu menyalakan kembali mesin mobilnya.


Meninggalkan halaman kampus Nana, menuju Antarakna group. Tempat dimana dia mengais nafkah.




__ADS_1


Sesampainya di perusahaan, dia langsung naik ke atas, tempat dimana ruangan Alva berada. Dia sama sekali tidak memperdulikan sapaan para karyawan pagi ini, karena moodnya benar-benar sedang berantakan.


Dan hal itu membuat semua orang memiliki tanda tanya besar. Otak mereka terus menerka-nerka, apa yang sebenarnya terjadi dengan asisten Juna yang baru saja resmi menikah.


Wajah mereka seketika sumringah. Memikirkan banyak sekali jawaban yang ada di kepala. Dan satu jawaban, sepertinya paling bisa mewakili semuanya.


Wah, pasti istrinya palang merah, dan mereka gagal malam pertama. Kompak semua orang dengan cekikikan.


Juna sampai di ruangan tertinggi yang ada di gedung tersebut. Tanpa ba bi bu dia lekas mengetuk pintu, dan tidak butuh waktu lama, dirinya sudah diizinkan masuk.


"Selamat pagi, Tuan." Sapa Juna datar, menunduk memberi hormat, lalu mengambil posisinya berdiri di sudut ruangan, tepat di belakang Alva.


Alva melirik sekilas, sama halnya dengan yang lain, lelaki tampan itu pun merasa ada yang aneh dengan Juna. Bukankah, biasanya lelaki itu akan bersikap konyol jika menyangkut tentang istrinya?


Bahkan Alva hampir gila saat meladeni Juna yang jatuh cinta. Tapi sekarang, Juna justru terlihat lain, dia seperti mayat hidup, dengan wajah pucat dan lingkaran hitam di kedua kelopak matanya.


Tapi baguslah, dia jadi tidak berisik. Gumam Alva sambil manggut-manggut.


Alva tak ambil pusing, dia melanjutkan kembali pekerjaannya, menandatangani beberapa kontrak kerja, serta mengecek laporan pengembangan anak perusahaan Antarakna group yang ada di luar kota.


Hingga waktu makan siang tiba, Juna masih memasang raut wajah yang sama. Benar-benar tidak bergairah. Dan terlihat sangat merana.


Dan hal itu, sukses membuat Alva jadi merasa kasihan sekaligus penasaran.

__ADS_1


Sebenarnya cobaan hidup sebesar apa yang tengah Juna dapatkan?


Sebelum keluar untuk makan siang, Alva lebih dulu meminta Juna untuk duduk. Dan Juna menurut, keduanya saling berhadapan sebagai sesama pria, bukan lagi bawahan dan atasan.


"Ada apa dengan wajahmu? Kau seperti ada masalah, kau sedang ribut dengan istrimu?" Tanya Alva, tangannya berlipat di depan dada.


Sedangkan matanya setia melihat perubahan raut wajah Juna.


Mendengar pertanyaan itu, sontak saja Juna mengangkat kepala, lalu mengangguk cepat sebagai jawaban dengan bibir yang mencebik.


Alva lebih dulu menelan salivanya, sebelum dia melontarkan kembali sebuah pertanyaan, dia harus hati-hati, atau dia akan terjebak dengan pertanyaannya sendiri.


Juna kan gila.


Kau lebih gila, Tuan Alva!


Hei, suara siapa itu?


"Memangnya kalian ada masalah apa?" Tanya Alva lagi.


Dan Juna langsung menatap Alva, lalu tiba-tiba. "Huaaaa... Tuan, dari kemarin aku tidak dapat jatah, sepertinya aku kwalat, karena sering mengataimu gila."


Pletak!

__ADS_1


__ADS_2