
Pagi, tepat hari Minggu. Waktunya bagi semua orang untuk bermalas-malasan. Begitu pun dengan Alva dan Chilla.
Setelah sarapan, mereka kembali ke dalam kamar. Si bumil yang selalu dimanja itu, kini tengah berbaring, sedangkan Alva sedang memijat-mijat kakinya.
"Sayang kalau kita pindah kamar saja bagaimana?" Tutur Alva, menyuarakan rencananya, membuat Chilla yang sedang merem melek itu, reflek membuka mata.
Dia melihat ke arah sang suami, dengan dahi yang sedikit mengernyit ia bertanya. "Untuk apa, Kak?"
"Aku takut, Sayang. Kalau tidak ada aku di rumah, siapa yang menggendongmu turun ke bawah? Tidak ada kan? Nanti kalau ada apa-apa denganmu dan baby kita bagaimana? Aku tidak mau yah. Lebih baik kita pindah kamar saja, supaya tidak naik turun tangga." Jelas Alva, tiba-tiba calon ayah satu ini berubah cerewet sekali.
Alva ingin setidaknya saat Chilla tidak ada dalam pengawasannya, ibu hamil itu harus tetap terjaga. Bisa runtuh rumah Jonathan, kalau sampai terjadi sesuatu pada Chilla.
"Kenapa nggak bikin lift aja, Kak?" Cetus Chilla enteng.
Alva langsung menghentikan gerakan tangannya, dan beralih menatap Chilla dengan wajah serius. "Kau mau?"
Melihat itu, Chilla justru tergelak. Apa sih? Dia kan hanya bercanda, kenapa Alva menanggapinya seserius ini.
"Hei, kenapa malah tertawa?"
"Haha. Abisnya Kakak lucu banget deh, aku kan cuma bercanda."
"Tapi kau pun harus ingat, apapun yang menjadi keinginanmu, pasti aku turuti. Kalau memang benar-benar mau, aku akan membuatkannya untukmu. Diam disini, aku ingin bilang pada Papa." Alva mulai beranjak dari atas ranjang, hendak melangkah keluar.
"Kakak ihhh. Apaan sih, enggak mau, aku enggak mau lift. Sini, aku mau Daddy aja," ucap Chilla menghentikan laju kaki suaminya, tentunya dengan sedikit menggoda.
"Benar?" Tanya Alva dengan menaikan satu alisnya.
Dan Chilla segera mengangguk. Dia merentangkan tangannya, lantas Alva langsung masuk ke dalam rengkuhan gadis itu. Membawanya berbaring di atas ranjang.
"Kenapa? Apa kau sedang ingin dimanja?" Alva mengelus-elus perut buncit Chilla. Sedangkan kepalanya berada diantara dua gundukan yang menggunung itu.
Ditanya seperti itu, Chilla mengangguk cepat. Rasa-rasanya dia selalu ingin berdekatan dengan lelaki satu ini.
"Baik, aku adalah ahlinya memanjakanmu, honey." jemari-jemari itu meremas rambut Alva, saat tangan lelaki itu dengan nakal, menelusup masuk ke dalam dress rumahannya.
Berganti mengelus punggung polos itu dengan gerakan memutar dan penuh kelembutan.
"Daddy!" Pekik Chilla, lama kelamaan tangan itu mulai tidak bisa dikondisikan, hingga Chilla melenguh, dan berganti memeluk kepala Alva.
Lelaki itu terkekeh, meski paru-paru dalam tubuhnya kehabisan udara. Dia menyembulkan kepala.
"Ada apa, Sayang." Tanyanya dengan memajukan bibirnya.
__ADS_1
"Daddy please, don't be naughty!" Rengek Chilla, tidak habis-habis lelakinya ini membuat tubuhnya selalu basah.
"Aku tidak nakal Sayang, hanya saja tubuhmu yang selalu membuatku tidak bisa berhenti bergerak, dan pastinya sesak."
Alva tak berhenti untuk menggoda ibu hamil itu, dia suka sekali jika Chilla sudah menunjukkan wajah sensualnya.
Tangan lelaki itu semakin turun, merayap menemui lembah lembab di bawah sana. Tak disangka, ternyata milik istrinya sudah basah.
Alva mengulum senyum, dan mulai memasuki liang itu dengan satu jarinya.
"Kakak, ihhhh. Nggak abis-abis jengukin dedeknya." Cebik Chilla, tetapi seorang Alva akan selalu memanfaatkan situasi yang ada.
"Hehe, aku tidak akan memintanya sekarang, Sayang. Tapi kau harusnya melakukan timbal balik."
Lelaki menarik tengkuk istrinya, dan melabuhkan ciuman di bibir ranum itu. Menghisapnya atas bawah, dengan penuh kelembutan dan jejeran n*fsu.
Puas dengan yang atas, benda kenyal itu turun ke bawah, menyusuri leher putih Chilla. Sedangkan tangannya kembali merayap ke tempat-tempat kesukaannya.
"Timbal balik apa sih, Kak?" Chilla merintih, merasakan dirinya meremang-remang oleh kelakuan suaminya, yang terus menusuk-nusuk tubuhnya itu.
"Mana tanganmu," pinta Alva. Tanpa memprotes Chilla memberikan satu tangannya.
Mulutnya menganga, dengan mata yang membola. Sudah bisa dia tebak, Alva akan membawanya kemana. Belalai lelaki itu sudah penuh dalam genggamannya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Seperti keinginan calon ibu muda itu, sore ini, di halaman rumah besar Jonathan sudah berdiri sebuah tenda ala-ala ibu hamil.
Siang tadi, ia dan Alva sendiri yang menghiasnya. Padahal Alva sudah melarang, karena takut istrinya itu kelelahan.
Namun seperti punya tenaga lebih, gadis itu meyakinkan suaminya, bahwa dia baik-baik saja, dan ini semua adalah keinginan anak mereka.
Di sebelah sana ada area barbeque, serta tak lupa meja yang memanjang, tempat pesta kecil-kecilan itu akan diadakan.
Chilla keluar dan bertepuk tangan girang. Apa yang menjadi keinginannya ternyata tercapai, semuanya nampak sempurna, malam ini keluarga mereka akan berkumpul di sini.
Semua orang setuju, siapa yang bisa menolak rengekan calon ibu muda itu? Bahkan Alva yang biasanya selalu menang, kini berganti bertekuk lutut di bawah kuasa istri kecilnya.
__ADS_1
Bi Asmi terlihat mondar-mandir bersama Pak Yanto, memindahkan semua makanan, yang sudah siap dibakar itu keluar menuju halaman.
Jonathan dan Pram memanaskan panggangan, sambil berbincang, sedangkan Mona dan Sarah menata hidangan itu di atas meja.
"Sayang, Alva mana?" Tanya Mona saat melihat menantunya itu keluar hanya seorang diri.
Chilla mengulum senyum, lalu melangkah riang ke arah dua ibunya itu.
"Kakak lagi mandi, Ma. Chilla mau nunggu, tapi nggak sabar pengen keluar." balas Chilla apa adanya, dia mendudukkan dirinya diantara dua wanita paruh baya itu, lalu ikut menata hidangan.
"Tumben, nggak ngamuk itu bocah?"
"Hehe, aku_"
"CHILLA!!! SAYANG KAMU DIMANA?" Teriak Alva dari dalam sana, dia masih mengenakan handuk sekarang, dan bertelanjang dada.
Tidak mendapati istrinya di dalam kamar, membuat lelaki satu ini kelimpungan. Pasalnya, Chilla tidak izin untuk keluar duluan.
"Nah lho, baru juga diomong si kampret udah teriak-teriak kaya Tarzan." Celetuk Mona sambil terkekeh. "Nih, pawang kamu disini, Nak." Teriak Mona.
Mendengar itu, Alva langsung berlari ke arah halaman, tanpa peduli dengan penampilannya. Dan saat dia melihat Chilla berada di sana, wajahnya langsung berubah menggemaskan, dia memeluk istrinya.
"Sayang, kenapa keluar tidak memberitahuku, harusnya kita keluar bersama." Rengek Alva, dia membenamkan wajahnya diantara ceruk leher Chilla dan menciuminya bertubi-tubi.
Semua orang berpaling muka dengan menahan senyum, tak terkecuali Chilla. Bukan, bukan karena mendengar rengekan Alva. Tapi... "Kak, handuk kamu kemana?" Lirih Chilla.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Aku nemu ini eh🤣🤣🤣 boleh nggak sih ketawa, padahal nggak direncanain pakai anu-anu, eh kok ada tulisan anu🤣🤣🤣
Bagi yang udah follow othor pasti udah tahu yah🤣 Yuk temenan sama aku yang menggemaskan.
FB : Nita Amelia
Ig : nitamelia05
Ini ada dua karya Kakakku, bila berkenan mampir juga yah🙏🙏🙏
__ADS_1