Menjadi Simpanan CEO

Menjadi Simpanan CEO
MIC (Masih Mau Anu-anu)


__ADS_3

Shaka segera menarik tangan Beby untuk keluar dari restoran tersebut. Gadis satu ini benar-benar tidak bisa ditantang, sekalinya Shaka mengambil tindakan, Beby pasti langsung menanggapinya.


Mereka meninggalkan begitu saja beberapa makanan yang masih belum tersentuh itu.


Setelah membayar di kasir, Shaka mengajak Beby kembali ke perusahaan. Shaka tidak mungkin menunggu lebih lama lagi dengan pulang ke apartemen. Hasratnya sudah benar-benar membara, apalagi sedikitpun Beby tak mau diam.


Di dalam mobil, gadis ini senantiasa menempel padanya. Dia dicium-cium, bahkan Tyrexnya kembali dijamah. Dimainkan sesuka hati, seperti sebuah benda yang lucu di mata Beby.


"By, sabar dong. Sebentar lagi ini," ucap Shaka, menegur sang istri yang tengah cekikikan sendiri.


Untung saja Tyrexnya tak sampai dikeluarkan oleh gadis ini, kalau iya, bisa-bisa Shaka tidak akan fokus mengemudi.


Mendengar teguran Shaka, seketika Beby yang terlihat semakin manja, mencebikkan bibirnya. "Abisnya lucu, Abang. Beby gemes, bisa kecil bisa gede gitu. Eh engga deh, gede terus nggak pernah kecil." Ujarnya yang membuat Shaka menelan ludahnya.


"Iya tapi nanti bangun terus lho, Sayang. Nanti keliatan orang, emang By mau Tyrex Abang jadi pusat perhatian?" tanya Shaka, mencoba menghentikan kegilaan istrinya.


Beby bergeming, dia nampak berpikir sejenak. Padahal otaknya kosong. "Nggak mau, kan Tyrex cuma punya Beby, Bang." Ucapnya setengah merengek, lalu unyel-unyel ke lengan Shaka.


Shaka mengulum senyum, lalu menyempatkan diri mengecup kepala Beby.


"Nah, makanya By diem dulu. Nanti sampai di kantor baru kita main yah," ujar Shaka yang langsung mendapat anggukan dari Beby.


Kini, gadis itu terlihat anteng, dia menyenderkan kepala di lengan Shaka, mencoba mengikuti apapun ucapan suaminya.


Hingga tak berapa lama kemudian, akhirnya mereka sampai di gedung Antarakna grup. Beby langsung bersemangat, dia bangkit dan membuka sabuk pengamannya, lalu turun dari mobil.


Membuat Shaka yang melihat tingkahnya hanya bisa geleng-geleng kepala. Dia terkekeh lalu menyusul Beby.


Begitu dia keluar, tangannya langsung ditarik oleh gadis itu. "Ayo, Bang, cepat!" Ujarnya sambil melangkah.


Patuh, Shaka mengekor pada istrinya. Dia melepaskan tangan Beby yang memegang lengannya, membuat gadis itu mengernyit. Detik selanjutnya, Beby mengulum senyum, karena Shaka hanya menggantinya dengan genggaman yang terasa erat.

__ADS_1


"Hehe, Abang manis banget sih. Kaya di film Korea-Korea gitu, Beby berasa jadi Noona, terus Abang Oppanya," ucap gadis itu disela-sela langkah mereka.


"Emang muka Abang mirip orang Korea?" tanya Shaka sambil mengulum senyum manis.


Beby menggelengkan kepala. "Abang itu nggak mirip orang Korea, tapi ORANG YANG AKU CINTA."


Jiahhh!!!


Pipi si abang langsung merah merona mendengar gombalan istrinya. Shaka terkekeh, dan tak sanggup lagi membalas ucapan Beby. Hingga mereka masuk ke perusahaan dan bertemu orang-orang.


Beby tiba-tiba merasakan aneh, dia merasa tak nyaman saat dia berpapasan dengan banyak orang seperti ini, padahal di restoran tadi dia baik-baik saja.


Namun, rasanya bau parfum yang menyengat, pun dengan hawa kulu-kilir ini membuatnya merasa tak betah.


"Abang, perut Beby nggak enak," ucap Beby, pada saat mereka hendak masuk ke dalam lift.


Shaka langsung melepas pegangan tangan mereka dan menangkup kedua sisi wajah Beby. "Kenapa, By? Kamu mau pup?"


Shaka patuh, dia langsung memencet tombol lift dan masuk ke dalam sana. Shaka memeluk tubuh Beby, dan mengusap perut gadis itu. "Kamu kebanyakan kali makannya?" Tebak Shaka.


"Ini beda, Abang. Beby kayak mau muntah deh," jawabnya yang membuat Shaka semakin cemas.


"Abang panggilin dokter aja yah?"


"Tapi masih mau anu-anu, Bang." Beby merengek, memegang dada bidang Shaka.


"Katanya perut kamu sakit?"


"Yang sakit perut, apemnya nggak."


Jawaban yang lagi-lagi membuat Shaka tak habis pikir. Dia menghela nafas. "Ya udah kita main dulu, abis itu Abang panggil dokter yah."

__ADS_1


Beby mendongak, lalu menganggukkan kepala. Dan tak berapa lama kemudian akhirnya mereka sampai di ruangan Shaka. Ada Robby di sana.


Namun, lelaki itu diam saja saat Shaka membawa Beby ke dalam kamar yang ada di ruangan itu. Shaka langsung merebahkan tubuh Beby, memberikan sentuhan yang nyaman untuk istrinya.


Hingga tubuh mereka mulai memanas, dengan kabut yang menyelimuti gairah masing-masing. Shaka siap untuk mengoyak batas nirwana istrinya. Namun, pada saat itu Beby justru mendorong dada Shaka, dan berlari ke arah kamar mandi.


"Huwek!"


Dia memuntahkan makanan yang baru saja masuk ke dalam lambungnya. Shaka dibuat kalang kabut, dengan tubuh yang masih polos dia menghampiri istrinya.


"By, nggak usah kita lanjutin yah, Abang panggil dokter. Kayaknya kamu nggak sehat deh."


Shaka memijat tengkuk Beby terlebih dahulu. Setelah itu dia baru menelpon salah satu dokter keluarganya. Yakni dokter Maya.


Tak berapa lama kemudian, dokter wanita itu datang dan langsung memeriksa keadaan Beby.


"Kapan terakhir datang bulan?" tanya dokter Maya sambil mengemasi peralatannya.


Beby mencoba mengingat-ingat. "Sudah telat satu bulan, Dok." Jawab gadis itu apa adanya. Membuat dokter Maya tersenyum.


"Coba periksakan Nyonya Beby ke dokter kandungan, ada kemungkinan Nyonya Beby hamil, Tuan."


"Apa, Dok? Hamil?" Kompak kedua orang itu dengan saling pandang.


*


*


*


Cie Tyleknya Abang Chaka udah menyatu cama apem dan jadi Ceby🤣🤣🤣

__ADS_1


__ADS_2