Menjadi Simpanan CEO

Menjadi Simpanan CEO
Nana and Juna's wedding


__ADS_3

Nana and Juna's wedding.


Setelah berita duka tentang kematian tragis wanita cantik bernama Yolanda. Kita geser sejenak dengan kabar bahagia kedua calon pengantin, Nana dan Juna.


Seperti permintaan sang calon mertua. Setelah Nana berhasil masuk ke universitas, untuk melanjutkan pendidikannya.


Dua keluarga langsung menentukan tanggal pernikahan untuk Juna dan Nana. Hingga tanggal itu jatuh tepat pada hari ini.


Jum'at, 29 Oktober 2021.


Hari dimana ikrar janji suci Juna akan diucapkan dihadapan Tuhan, dan disaksikan oleh semua orang.


Di halaman rumah yang cukup mewah itu, sudah terhias dengan aneka pernak-pernik pernikahan.


Tenda dengan tiang-tiang berjajar kokoh, dibalut kain perpaduan warna putih dan kuning gading, lengkap dengan rumbai-rumbai yang menjuntai.


Meja-meja bundar dengan empat buah kursi yang dihiasi pita, sudah tersedia, sesuai dengan nomor undangan yang tertera.


Para pelayan dan penjaga yang diutus Jonathan mewakili keluarga Juna, terlihat ikut kulu kilir, membantu melancarkan acara tersebut.


Itulah suasana di luar sana.


Sedangkan di dalam rumah, sebuah karpet tebal telah digelar, lengkap dengan meja kecil yang dihiasi bunga-bunga, tempat dimana acara sakral yang menghalalkan Juna dan Nana.


Tamu mulai memadati lokasi. Sang calon pengantin pria bahkan sudah datang dengan iring-iringan, menuju tempat yang telah disediakan.


Disana, Juna yang berbalut jas putih, rambut klimis, sudah berjalan dengan gagah, wajahnya nampak sangat sumringah.


Disambut begitu ramah, Juna beserta keluarga, duduk diatas karpet tebal itu, menunggu acara ijab qobul yang sebentar lagi akan dimulai.


"Jun, ingat jurus!" Bisik Alva yang kebetulan duduk di belakangnya, menggoda sang calon pengantin pria, biar saja, akan dia balas perbuatan Juna kala itu. Mumpung ada kesempatan.


Juna yang mendengar itu, lantas tersenyum tertahan, meski dia tengah diselimuti kecemasan dengan dada yang berdebar-debar tidak karuan.


Ternyata benar, beginilah rasanya saat kita sendiri yang berada di posisi seperti ini.

__ADS_1


Cemas, takut, bercampur aduk menjadi satu. Tetapi ada buncahan bahagia tersendiri, saat dia melihat sang calon pengantin wanita berjalan dengan anggun dari atas tangga.


Pandangan mata Juna terkunci, pada sosok bidadari tak bersayap berbalut gaun berwarna putih, senyum menawan dengan binar menggoda itu benar-benar meluluhkan kesadaran Juna.


Lelaki itu meneguk ludahnya, melihat Nana yang tampil tidak seperti biasanya. Polesan make up natural, dengan rona kemerahan memenuhi pipinya.


Keringat mengucur deras, dari pelipis menuju tulang selangka, namun kotak tissue justru disembunyikan oleh lelaki tak berperasaan itu. Ya, sambil bersandar di bahu sang istri, Alva memeluk kotak tissu itu sambil tersenyum.


"Kak, apa yang kamu lakukan, Kasian Kak Juna." Tegur sang istri dengan suaranya yang lembut, menghadapi lelaki satu ini memang harus ekstra sabar dan hati-hati kan?


"Cium dulu." Rengek Alva dengan memonyongkan bibirnya, minta cium.


"Sayang, disini banyak orang." Keluh Chilla, melirik kesana-kemari, bahkan kini keduanya jadi pusat perhatian, karena sekotak tisu yang Alva peluk.


"Tidak peduli, mau cium." Lagi, lelaki tidak tahu malu itu justru menggerak-gerakkan bibirnya, hingga 'tuk' Chilla terpaksa mematuk bibir tipis itu sekilas. Kalau tidak, lelaki ini pasti akan terus mengganggunya.


Lantas, setelah itu, Alva baru mau menaruh sekotak tissu di hadapan Juna, lelaki yang sudah banjir, basah karena keringat mengucur deras dari dalam tubuhnya.


"Jun, pastikan keringatmu tidak habis, karena nanti malam akan lebih mendebarkan dari ini." Bisik Alva lagi, membuat pikiran Juna sudah melayang jauh entah kemana.


Lelaki itu meneguk ludahnya, seraya menggelengkan kepala, dan Alva terkekeh puas, ia kembali duduk di samping sang istri, memeluk pinggang ramping itu, sambil mengelus-ngelus perut Chilla yang mulai membuncit.


"Jangan tiru Daddy ya, Nak." Gurau Chilla yang melihat itu semua. Gadis itu hanya bisa geleng-geleng kepala dengan senyum kecil, melihat tingkah usil lelakinya.


"Ah kenapa?" Mulai beraksi lagi, menggerak-gerakkan jarinya di leher jenjang Chilla, yang ditutupi riapan rambut panjang gadis itu.


Seperti tidak ada bosannya. Alva mengusak-ngusak wajah disana, membuat gadis itu beringsut kegelian. "Sayang, jangan nakal."


Kini bibir lelaki itu sudah memenuhi tengkuknya.


"Kau yang memulai, Honey." Muah, muah, muah, mencium tidak sadar lokasi sedang ada dimana. Selalu sesuka hatinya.


Kan sudah sah! Iya-iya Kakak iya.


Hingga saat suara MC menggema ke seluruh penjuru ruangan, Alva baru bisa duduk dengan tenang.

__ADS_1


Memberitahu pada semua tamu undangan, bahwa acara akan segera dimulai.


Juna dan Nana saling melirik sekilas, lalu keduanya tersenyum malu-malu, membuat semua mata yang memandang terkekeh, merasa lucu.


Acara itu diawali dengan muqodimah, sambutan dari kedua keluarga besar. Lalu disambung kembali dengan pembacaan ayat-ayat suci Al-Qur'an.


Dan terakhir, khutbah nikah yang disampaikan oleh seorang pemuka agama, sebagai bekal pertama, untuk keduanya membina rumah tangga. Sehidup sesurga.


Lantas, saat tangan ayah Nana menjabat tangan Juna. Tubuh lelaki itu kembali gemetaran, ia berkali-kali menarik nafas, dan menghembuskannya panjang.


"Nak Juna sudah siap?" Tanya pak penghulu, dan langsung dijawab anggukan mantap dari lelaki muda itu.


Cih, kenapa hanya ditanya seperti itu, waktu aku yang menikah sepertinya lama sekali sesi tanya-jawabnya. Batin Alva.


Tangan ayah Nana menghentak, seiring mulutnya mengucapkan lafadz akad dengan lantang.


Dan Juna mengulang kalimat itu dengan satu kali tarikan nafas, hingga semua orang berteriak 'SAH'


Alhamdulillah...


Ungkapan rasa syukur itu langsung bergema memenuhi ruangan, tempat dimana acara akad itu dilaksanakan.


Nana menitikan air mata bahagianya, menengadahkan tangan saat sang penghulu membacakan doa-doa. Hari ini, ia sukses berganti status menjadi seorang istri.


Istri dari lelaki bernama Almas Juna Adhitama.


Setelah untaian doa itu selesai dan diakhiri kata 'Aamiin' dengan penuh cinta Juna memasangkan cincin kawin di jari manis Nana.


Dan setelahnya kecupan dalam Juna berikan di kening sempit itu, kening yang sudah halal ia jamah sesuka hati.


Mulai hari ini, Juna sudah bisa melepaskan perjaka yang selama ini ia jaga, untuk gadis yang begitu cinta, Meliana Soraya. Istrinya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Nggak usah minta malam pertama segala yah🤣🤣🤣

__ADS_1


Dah mana, Ayang Juna minta hadiah dari kalian semua🙈🙈🙈 Auto maksa, kalo nggak ada, harus ada!


__ADS_2