
Pukul 2 siang Alva mengantarkan Chilla pulang, ia tak menghentikan mobilnya sampai ke depan gerbang, karena takut kalau sampai ada yang curiga, dan bertanya yang tidak-tidak. Akhirnya dengan berat hati, ia menurunkan Chilla di ujung gang rumah mereka.
Jaraknya tidak terlalu jauh, namun cukup untuk membuat alasan kalau ia naik taksi dan berhenti didepan.
"Chilla keluar yah, Chilla nggak betah pake yang sempit-sempit begini," pamit Chilla sekaligus mengeluh, sepertinya Juna memilih ukuran yang terlalu kecil, hingga membuat Chilla merasa tak nyaman.
Namun bukannya menjawab Alva justru mengetuk pipi kirinya, minta cium ceritanya. Hanya terlalu gengsi untuk bicara.
Chilla mengulum senyum, mengerti akan permintaan Alva, lalu dengan cepat bibir itu melesat, namun bukan pipi yang ia dapat, melainkan bibir sang pacar.
Alva menahan tengkuk Chilla, dan menyesap sedikit bibir itu, seolah tak ikhlas, jika perpisahan ini menghampiri keduanya.
Chilla tak tinggal diam, ia membalas ciuman Alva tak kalah dalam. Menyiratkan perasaannya untuk seseorang yang kini tengah menggenggam erat jemarinya.
Hingga saat keduanya kehabisan oksigen, ciuman itu terpaksa terputus, keduanya saling pandang, lalu mengulum senyum.
"Pulanglah, aku tunggu disini sampai kau masuk," ucap Alva dengan tatapan teduhnya.
Dan Chilla mengangguk, tanpa apapun lagi ia beranjak untuk keluar.
Chilla berjalan dengan lamban, sesekali ia menengok ke belakang, meskipun wajah Alva tidak terlihat, ia yakin lelaki itu tengah melihat kearahnya.
Ketika sampai didepan rumah, sang Mama sudah menunggunya, ia disambut begitu girang oleh Sarah.
"Sayang... Akhirnya kamu pulang," ucap Sarah seraya merentangkan kedua tangannya ingin memeluk putri semata wayangnya.
Chilla menghambur ke pelukan Sarah.
"Chilla capek Ma," keluh Chilla, dan dapat Sarah lihat bahwa wajah Chilla memang terlihat kelelahan.
"Kamu main sama Nana sampai lupa waktu yah?" Tanya Sarah, keduanya kini masuk kedalam rumah.
Pelan, Chilla mengangguk, ia sedikit merasa bersalah telah membohongi orang tuanya. Karena nyatanya, ia lelah bermain dengan Alva.
"Oh yah, tadi pagi pacarmu kesini, memangnya kamu tidak bilang kalau sedang bersama Nana?" ucap Sarah memberitahu.
"Pacar?" Chilla mengulang, dengan kerutan di dahinya.
"Iya, pacar kamu sayang, yang kamu bilang tampan dan kaya itu lho?"
Dahi Chilla semakin mengkerut, bingung sebenarnya siapa yang ke rumahnya dan mengaku sebagai pacarnya?
"Memangnya dia bilang apa pada Mama?"
"Dia bilang sih masih calon, mungkin malu kali yah, hehe. Padahalkan Chilla udah ngenalin dia ke Mama sama Papa,"
Siapa sih?
"Terus dia bilang apalagi?"
"Dia nggak bilang apa-apa, tapi Mama yang nyerocos, kalo kamu suka cerita tentang dia sama Mama, terus pas mau masuk, eh Papa kamu yang resek malah ngusir dia. Katanya kalau pipismu belum lurus jangan dekati anak saya,"
"Hah?"
"Kamu kenapa sayang?"
Kepala Chilla mendadak terasa pusing, ia butuh istirahat. Dan lagi, sebenarnya siapa orang yang mengaku-ngaku itu.
********
Waktu berlalu begitu cepat, hari ini hari terakhir Chilla dan kelas XII lainnya mengerjakan soal ujian kelulusan.
Dengan bibir penuh senyuman Chilla yakin seyakin-yakinnya, kalau ia bisa menyelesaikan ujian itu dengan baik, sebagai pembalasan setimpal, ia tidak bertemu dengan Alva beberapa hari ini.
Disamping karena Chilla ujian, faktor lain tidak bisa bertemu adalah, karena Alva juga sedang melakukan perjalanan bisnis dengan sang asisten di luar kota.
Esok adalah hari kepulangannya.
2 jam berlalu, para siswa mulai berhamburan berebut ingin keluar dari ruang ujian.
Tak terkecuali Chilla dan juga Nana, Nana yang sedang buru-buru karena sudah mendapat jemputan pamit terlebih dahulu pada Chilla.
Padahal gadis itu sudah mengajak sahabatnya untuk pulang bersama, namun Chilla menolak.
"Dah Nana." Chilla melambaikan tangannya ke arah gadis yang tengah berjalan menuju mobilnya.
__ADS_1
"Dah, ati-ati lo Chill," sahut Nana, dan Chilla tersenyum sambil mengangguk.
Akhirnya mobil itu landas, menerjang keramaian jalanan ibu kota yang padat tidak pernah ada sepinya.
Chilla berjalan sendirian, karena pak Zul telat menjemput, lelaki paruh baya itu mungkin sedang terjebak macet, jadi Chilla hanya bisa sabar menunggu.
Di tengah kegelisahannya menunggu pak Zul, Bryan dengan motor sportnya menghampiri Chilla. Gadis yang belum berhasil ia dapatkan hatinya.
"Chil pulang bareng yuk," ajak Bryan.
Namun Chilla menggeleng, enggan untuk ikut. Jujur, sebenarnya ia tidak nyaman didekati Bryan, karena hal itu hanya bisa memicu kemarahan Yoona, dan berimbas pada ketenangannya di sekolah.
"Chilla di jemput kok,"
"Ya nggak apa-apa, kan biar aku sekalian main, Tante Sarah udah kenal aku kok," ujar Bryan dengan senyum jumawanya.
Chilla menautkan kedua alisnya. Darimana Mamanya bisa kenal Bryan? Pikirnya.
"Emang Bryan kenal Mama aku?" Tanya Chilla penasaran.
Bryan mengangguk semangat, hari itu Sarah benar-benar menganggapnya sebagai pacar Chilla. Dan itu merupakan kesempatan baik untuknya.
"Waktu itu aku ke rumah kamu, tapi kamunya nggak ada,"
Mendengar itu, Chilla mulai mengerti, ternyata Bryan adalah orang yang telah dianggap sebagai pacarnya oleh sang Mama.
Namun, sepertinya itu tidak terlalu buruk, dengan begitu. Keluarganya tidak mungkin curiga, kalau sebenarnya ia memiliki hubungan dengan Alva. Yang penting, yang lain tidak mengetahuinya, cukup Mama dan Papanya saja.
"Oh, Chilla waktu itu pergi sama Nana," balas Chilla.
Dan sejurus dengan itu, keduanya di kagetkan oleh suara klakson motor sport yang lainnya, yang tak lain dan tak bukan pengendaranya adalah Satria.
"Bang Sat," sapa Chilla setelah Satria melepas helm full facenya.
"Udah pulang?" Tanya Satria.
"Udah, kok Bang Sat bisa disini?" Balas Chilla sekaligus bertanya.
"Kebetulan lagi lewat, terus nggak sengaja liat kamu. Pulang bareng yuk, nanti kita makan siang dulu," ajak Satria seraya menyerahkan satu helm yang ia simpan dibelakang.
Namun Chilla tak langsung mengiyakan, karena bersamaan dengan itu ponselnya bergetar. Saat dibuka ternyata ada pesan masuk dari pak Zul, memberitahu kalau ia tidak bisa menjemput, karena ditengah jalan tiba-tiba ban mobilnya meletus.
Hingga membuat pemuda itu hanya mendesah pasrah.
"Bryan, Chilla pulang bareng Bang Sat yah," pamit Chilla.
Dengan wajah muram, Bryan mengangguk.
Chilla dan Satria membelah jalan raya dengan motor sport itu, keduanya mampir di restoran mie untuk menikmati makan siang terlebih dahulu, sesuai ajakan lelaki itu.
Sedangkan di ujung sana, dibelahan bumi yang lainnya. Alva tengah duduk di restoran hotel yang ia sewa bersama Juna.
Di kedua jarinya ia mengapit satu batang bernikotin, menghisap dan menghembuskannya sesuka hati seperti biasa.
Lama tidak berjumpa, nyatanya mampu membuat sudut hati Alva terusik. Ada rindu yang menggebu untuk gadis kecilnya, Chilla.
Hingga akhirnya, rasa rindu itu meruntuhkan dinding egonya yang tak kasat mata.
Alva memutuskan menghubungi Chilla.
Message to Bochill :
Dimana? Sedang apa?
Tulisnya dengan singkat, padat dan jelas.
Di tempatnya, Chilla tersenyum mendapati pesan dari sang kekasih, tidak biasanya Alva seperti ini.
Message from My Sugar Daddy :
Chilla lagi di restoran mie, makan siang sama Bang Sat, kalo sayang?
Tring!
Bunyi pesan masuk, dengan menyunggingkan senyum, Alva langsung menyambar ponselnya, ia yakin itu balasan dari Chilla. Namun, seketika senyum itu tertanggal, bukannya senang, Alva justru terlihat meremat ponselnya, marah.
__ADS_1
"Bang Sat?" Geramnya tak segan memukul meja.
Mendengar itu, Juna langsung menoleh ke arah sang Tuan, ia bertanya-tanya ada apa gerangan, Alva sampai berkata-kata kasar?
Padahal Alva hanya mengulang panggilan Chilla pada Satria dengan nada tidak suka.
"Ada apa Tuan?" Tanya Juna.
Tanpa menjawab Alva meninggalkan Juna dengan tatapan menyalang, ia berniat kembali ke kamar hotelnya, dan begitu sampai.
Brak!
Ia membanting pintu dengan kasar, dan melempar ponsel itu keatas ranjang.
"Bejatt, beraninya dia menemui lelaki lain di belakangku," makinya dengan nafas yang memburu.
Hatinya terasa panas, bahkan tanpa melihatpun gejolak itu seolah berkobar-kobar.
Juna yang khawatir dengan tingkah bosnya langsung menyusul ke kamar Alva.
Dilihatnya mata Alva memerah, rahangnya mengeras memancarkan murka. Karena ada rasa yang mengusik, ia tidak terima.
"Tuan, tenangkan dirimu, karena satu jam lagi kita akan menemui klien. Katakan pada saya, ada apa sebenarnya?" Terang Juna, takut sang bos malah berbuat yang aneh-aneh.
"Bagaimana aku bisa tenang Juna," pekik Alva.
"Sedangkan dia sedang enak-enakan makan dengan lelaki lain selain aku? Apa dia tidak bisa mengingat statusnya? Aku bahkan tidak bisa melakukan itu, tapi kenapa dia bisa?"
Glek!
Mati aku, kalau urusannya tentang gadis cilik bernama Chilla, sudah dipastikan akan sulit menenangkan hati bosnya.
"Ap—a, apa Tuan sedang cemburu?" Tanya Juna hati-hati.
"Cemburu? Kau bilang aku cemburu? Hah, omong kosong Juna. Aku hanya tidak suka dia bertindak sesuka hatinya tanpa mengingat aku, apa kau pernah melihat aku pergi dengan wanita lain? Atau bahkan hanya berdua dengan Yola? Waktu itu aku justru mengajakmu, tapi kenapa dia malah memilih berdua dengan Satria, hah? Apa dia waras?" Suaranya semakin meninggi, memaki dengan jari yang terus menunjuk-nunjuk Juna.
Juna semakin menelan ludahnya susah payah. Sebenarnya, yang salah disini itu siapa? Chilla? Satria? Alva? Atau justru dirinya.
"Lagi pula Tuan Satria kan teman anda Tuan,"
"Justru karena dia temanku, kalau dia ternyata menyukai Chilla bagaimana? Lalu dia mendekatinya, kau ini coba berpikir sampai kesana,"
Dengan emosi yang meluap Alva menyambar ponselnya dan hendak berlalu dari kamar itu, namun Juna lebih dulu mencegah langkah bosnya.
"Tuan, anda mau kemana?"
"Aku tidak bisa tinggal diam, dia pasti sedang tersenyum dan tertawa dengan Satria, aku harus menjemputnya."
"Tuan, kalau anda pergi, lalu bagaimana dengan klien kita? Lagi pula, kalau anda menjemputnya sekarang, Nona Chilla pasti sudah tidak ada disana, bahkan mungkin dia sudah makan malam,"
Hah!
Alva mendesah frustasi.
"Sialan! Bangsatt!" Umpat Alva tak habis-habis, emosinya sudah sampai di puncak ubun-ubun. Karena ia tahu bagaimana manjanya Chilla, dengan lelaki bernama Satria.
Malam itu, malam itu adalah buktinya.
"Tuan lebih baik anda tenang, percaya saja pada Nona Chilla, bahwa dia hanya mencintai anda, dan dia bisa menjaga semuanya. Karena suatu hubungan tanpa kepercayaan itu tidak akan ada apa-apanya Tuan," jelas Juna, karena seringnya membaca novel romansa di waktu senggangnya, membuat Juna sedikit demi sedikit mengerti tentang hubungan, meski dirinya termasuk dalam jomblo akut di usianya yang cukup matang.
Alva menelan salivanya dengan nafas yang terengah-engah, hingga menciptakan keheningan diantara keduanya, sepertinya Alva mulai mempertimbangkan ucapan Juna.
"Benarkah? Kau tidak sedang membohongi ku kan?" Cetus Alva.
"Itu benar Tuan, lihat saja, karena anda tidak memberi kepercayaan pada Nona Chilla, makanya anda mudah curiga. Dan kalau anda menuduh Nona Chilla dengan tuduhan yang tidak-tidak, padahal dia tidak melakukannya, itu justru akan memperkeruh hubungan kalian berdua,"
Alva tercenung, ucapan Juna cukup meresap kedalam otaknya. Dan itu semua sukses membuat pikirannya sedikit terbuka, ada benarnya juga yang Juna katakan, batinnya berbicara.
"Baiklah, kali ini aku percaya, tapi kalau sampai kau bohong," Alva melirik tajam "Ku patahkan lehermu,"
Glek!
...****************...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
...****************...