Menjadi Simpanan CEO

Menjadi Simpanan CEO
MIC (Pakai Kokom)


__ADS_3

Shaka menatap tak percaya benda yang ada di tangan Beby. Dia sedikit menggeleng, bisa-bisanya gadis dalam pangkuannya ini berani membeli benda itu sendiri.


"By, kamu ke supermarket cuma beli ini?" tanya Shaka.


Dan Beby langsung mengangguk sambil tersenyum. "Iya, Bang. Mau beli jajan takut kurang, kartu Beby kan masih sama Papi, ini Beby beli pake uang jajan yang Abang kasih, nanti balikin yah." ujar gadis itu.


Membuat Shaka terkekeh, sementara Tyrex mulai bereaksi. Shaka melingkarkan tangannya di seluruh pinggang ramping gadis itu.


"Nanti Abang ganti 10 kali lipat, tapi beneran mau di sini? Nggak mau di atas aja?" tanya Shaka meyakinkan.


Beby mengangguk cepat. "Di atas udah biasa, Beby mau nyoba yang di mobil."


Shaka menyeringai tipis, tanpa ba bi bu lagi lelaki itu langsung menyerang bibir ranum Beby. Jangan salahkan Shaka jika habis ini Beby tidak dapat berjalan, karena gadis itu sendiri yang menawarkan apem kukus pada Tyrex yang sedang doyan makan.


Tangan Shaka tak tinggal diam, tanpa ragu dia merayap pada kancing kemeja Beby. Membukanya satu persatu, menampilkan bulatan kecil yang masih terbungkus rapih dalam penutupnya.


Braaa warna hitam setengah dada, membuat daging tanpa tulang itu menyembulkan isinya sedikit.


Kemeja putih itu sudah jatuh, karena Shaka membuangnya ke kursi belakang. Tangan Beby yang semula hanya memegang bungkus Kokom, kini Shaka pindah untuk membantunya membuka jas dan kemeja kerjanya.


Mereka terus berpaut. Hingga keduanya memoloskan tubuh bagian atas mereka, braa hitam itu sudah menyangkut di atas dashboard.


Shaka mengambil jeda sejenak, memandangi wajah Beby yang sudah memerah. Gadis itu bisa merasakan senjata suaminya mulai mengeras dan menghujam intinya yang ikut berkedut.


"Jambunya Abang makan ya, By," ujar Shaka.


Gadis itu mengangguk malu-malu. "Abisin, Bang, kalo bisa." balasnya yang membuat Shaka terkekeh.

__ADS_1


Setiap ucapan Beby benar-benar mengundang tawa. Tanpa menunggu waktu lebih lama, mulut Shaka sudah bermuara di pucuk merah jambu yang sangat imut itu, bagai buah seri yang manis, Shaka menyesapnya tak habis-habis.


"Uh, Abang, geli." Beby melenguh, sambil mengeratkan pelukan tangannya di leher Shaka, membuat kepala itu semakin terbenam, dan jambu kristal terlahap semakin dalam.


Beby bergerak tak karuan, belum apa-apa dia sudah ingin dirasuki dan disentak oleh Tyrex milik Shaka.


Namun, Shaka masih ingin bermain-main di jambu kristal itu, mulutnya menyesap yang sebelah kiri, sementara satu tangannya bermain di yang sebelah kanan.


"Ah, Abang buruan, pake kokomnya."


Kepala Beby menggelegak, sementara tubuhnya meliuk-liuk, saat Shaka menilin-nilin pucuk itu dengan jarinya.


Dimainkan sesuka hati, membuat si empunya merinding asoy geboy.


Gadis itu mulai merasa tak sabar, dan Shaka menikmati itu semua, dia melepaskan Beby dan memberi jarak pada mereka, agar Shaka mudah memasang si Kokom pada Tyrexnya.


Tyrex ikut bergerak seiring tawa Shaka yang pecah. Dia menciumi wajah Beby dan menggigit dagu itu karena gemas.


Kini giliran Beby yang siap sedia untuk menunjukkan apem kukusnya. Benda berbentuk segitiga itu Shaka lempar kembali, secara sembarangan, menyisakan rok abu-abu yang akan menutupi inti mereka yang sebentar lagi menyatu.


"Ayo naik," ucap Shaka menitah Beby agar naik kembali ke pangkuannya, dia sedikit menurunkan sandaran kursi, agar dia dan sang istri merasa nyaman saat penyatuan.


Beby melirik Shaka dan Tyrex bergantian, lalu blashh!!!


Mereka membiarkan Tyrex bersarung bantal, menembus apem kukus Beby. Beby sedikit meringis, saat liangnya kembali terasa penuh.


Detik selanjutnya kedua orang itu mulai bergerak seirama, menciptakan gelombang dahsyat di dalam mobil, hingga getarannya sampai keluar.

__ADS_1


Mobil itu sedikit berdecit, sementara Beby dan Shaka melenguh di dalam sana. Selagi kedua anggota tubuh itu menyatu, Shaka kembali menyerang jambu kristal yang ada di depan matanya.


Dan hal itu membuat Beby semakin bergerak lincah, ini benar-benar rasa yang gila.


Hingga tak berapa lama kemudian, Shaka dan Beby serentak mendapat pelepasan. Shaka menekan miliknya, kali ini dia benar-benar mengeluarkan semuanya di dalam sana.


Melesak semakin dalam. Menyentuh titik denyut Beby yang terasa memabukkan.


Nafas keduanya ngos-ngosan, tetapi ada senyum kecil yang tersemat di bibir masing-masing.


"Bagaimana rasanya, Sayang?" tanya Shaka sambil mengelap dahi Beby yang basah.


"Enak, Bang," jawabnya jujur.


"Mau lagi?"


"Boleh."


Dan Shaka langsung menyeringai.


*


*


*


Nafas dulu orang mah😌😌😌😌

__ADS_1



__ADS_2