
Sinar mentari sudah membias, namun kehangatannya tak mampu mengalahkan dekapan Alva yang terasa sangat nyaman di tubuh Chilla. Seperti tak ingin bangun, tubuh mungil itu justru semakin mengusak, masuk dalam rengkuhan suaminya.
Aroma candu, harum yang selalu menjadi obat, dan meredakan rasa mualnya. Lihat saja, karena ada Alva, calon ibu muda itu justru baik-baik saja. Tidak mengalami morning sick seperti biasanya.
Lelaki itu mulai mengerjap, saat suara bel terdengar nyaring di luar sana. Dengan malas ia melirik jam dinding. Dilihatnya sudah jam 10 pagi, dan mereka masih nyaman dalam posisi seperti ini.
Lengkungan senyum terukir, saat lelaki itu menatap wajah cantik istrinya, Alva mengecup kepala Chilla yang masih terlelap di bawah ketiaknya. Ia bangun dengan perlahan, berniat mengecek seseorang yang ada di luar.
"Sayang, mau kemana?" Bergumam, tetapi matanya masih setia terpejam, lelah di tubuhnya membuat ia enggan untuk terbangun hari ini.
"Sepertinya ada orang diluar, aku mau melihatnya," Kembali mendekat ke arah istrinya seraya memasang kimono yang tersedia.
"Jangan lama-lama," Chilla menarik guling, dan kembali memeluknya dengan nyaman.
Alva menarik bibirnya. "Hemmm." Lalu mengecupi seluruh wajah dan terakhir di bibir yang sedikit terbuka. Melumaatnya pelan, untuk memulai pagi.
Lelaki itu bergegas setelah mendapat izin dari gadisnya. Membuka pintu, dan yang ia dapati adalah seorang pelayan lelaki yang membawa troli makanan serta Mona, ibunya.
"Ada apa, Ma?" Tanya Alva setelah menguap. Dadanya sedikit terbuka, bekas kissmark itu ada dimana-mana, tetapi ia tidak peduli, malah terkesan bangga.
Tak menjawab, Mona justru melongok masuk, melihat menantunya yang masih tertidur pulas diatas ranjang. Ia mulai geleng-geleng kepala, lalu beralih menatap putranya.
"Jangan macam-macam kamu Alva, Chilla sedang hamil muda, jangan terlalu banyak melakukannya." Ujar Mona, yakin sang menantu kini tengah kelelahan setelah meladeni putranya tersebut.
"Aku hanya melakukannya beberapa kali, lagipula anakku itu kuat, dia senang di jenguk oleh daddynya. Apalagi menantu Mama juga menyukainya." Balas Alva dengan senyum jenaka, menepuk dada bangga.
Buk!
"Kalo ngomong suka nggak pake otak, dia itu masih lemah, awas kamu kalau sampai terjadi apa-apa pada kandungan Chilla. Lagi pula Mama tahu, itu semua pasti kerjaanmu, Chilla nurut karena kamu paksa." Sungut Mona, menyedikepkan tangan di dada.
Alva segera memeluk tubuh ibunya, tubuh yang terlihat sudah wangi dan rapih.
"Iya, Mama. Mama tenang saja, aku akan menjaga cucu dan menantu Mama." Mengecup pipi kanan Mona dan bersikap semanis mungkin. "Sekarang lebih baik Mama pulang, dan jangan ganggu pengantin baru yang akan melakukan banyak ritual." Melepaskan pelukannya, yang langsung di balas jeweran oleh Mona.
"Aw!" Alva memekik memegangi telinga, sedangkan pelayan lelaki itu hanya mematung di tempatnya sambil menahan senyum.
"Mau Mama kutuk kamu?" Semakin kencang menarik telinga putranya hingga telinga itu terlihat memerah.
"Iya-iya, Ampun. Tenanglah, Alva juga tahu. Alva tidak akan melakukannya terlalu sering (Tapi boong)." Merengek minta di lepaskan.
__ADS_1
Mendengar itu, Mona menarik tangannya kasar. "Yasudah cepat ajak istrimu sarapan, dan kembalilah istirahat." Titahnya.
"Iya, Mama,"
Setelah mengucapkan itu, Mona berbalik, melengang ke arah kamarnya untuk segera pulang. Sedangkan pelayan lelaki itu meminta izin untuk membawa makanan itu masuk.
Alva menahan troli, lalu memicing ke arah pelayan itu. "Apa yang akan kau lakukan? Kau berniat melihat istriku didalam? Jangan mimpi, biar aku saja." Cetus Alva, pelayan lelaki itu mengangguk setelah menelan ludahnya dengan berat.
"Tunggu apalagi? Kenapa kau masih disini?" Pekik Alva melihat lelaki itu hanya mematung.
"Sayang, kenapa berisik sekali?" Chilla bersuara didalam sana.
"Ah iya, aku minta maaf." Berujar lembut. "Ada sedikit pengganggu disini." Memicing dengan kata-kata penuh penekanan.
"Baik Tuan, saya permisi." Tanpa di pinta lagi, pelayan lelaki itu langsung pergi setelah membungkuk hormat, sedangkan Mona yang belum terlalu jauh, hanya bisa geleng-geleng kepala, melihat secara langsung keposesifan putranya.
********
Sebelum sarapan, Alva mengajak istrinya untuk membersihkan diri terlebih dahulu, Chilla berendam didalam bathtub, sedangkan dirinya berdiri di bawah kucuran shower yang menyala.
Awalnya Chilla ingin meminta sendiri-sendiri, tapi Alva memaksa, lelaki itu masuk begitu saja, dan pastinya ia punya niat yang berbeda. Alva menyabuni seluruh tubuh polosnya, seketika ide licik muncul, ia menghadap ke arah Chilla yang diam-diam juga melirik ke arahnya.
"Tidak Kak, aku hanya sedang melemaskan otot-otot yang terasa kaku dengan berendam air hangat." Memalingkan wajah, wajah yang kembali terasa panas dan pastinya sudah memerah bak kepiting rebus.
"Kenapa kau tidak mau melihat ke arahku? Kau bosan?" Mulai memancing, perlahan Chilla kembali menatap ke arah Alva, lelaki itu terlihat tengah membawa sabun itu dengan tangannya turun hingga ke bawah, ke bawah dan terus ke bawah. Bergerak pelan, bak seorang model tengah membuat iklan.
Mulut Chilla sedikit menganga, tak hanya mulut atas, tapi juga yang dibawah sana.
Apa yang dia lakukan? Dia sengaja?
"Kalau begitu, aku yang ingin meminta bantuanmu. Bolehkan?"
Pelan, Chilla mengangguk ragu. Semoga tidak ada apapun selain itu.
"Bantu sabuni punggungku, tanganku tidak sampai." Ujarnya dengan tatapan, ah entahlah.
Gadis itu hanya bisa patuh, Chilla bangkit dari bathtub, berjalan ke arah sang suami, yang tingkat kemesumannya sudah semakin tinggi. Alva berbalik, perlahan Chilla menyabuni punggung lebar itu, ia meneguk ludahnya dengan susah payah, ia lelah, tetapi kenapa hasratnya malah terpancing hanya karena melihat tubuh atletis suaminya.
Tak ingin terjebak, Chilla menyadarkan kembali otak mesumnya, bergegas dan bergerak cepat. Ia hendak menyalakan shower untuk membasuh tubuh tegap itu, tetapi tangan besar Alva lebih dulu mengambil alih tangan mungilnya.
__ADS_1
"Yang disinikan belum?" Ujarnya dengan wajah tanpa dosa. Menyentuh area yang belum sempat ia sabuni.
"Sayang, Sayang bilang hanya punggung." Terbata Chilla menjawabnya.
"Kau tidak ikhlas melakukannya?" Menatap lemah, membangkitkan rasa bersalah Chilla. "Baiklah aku akan melakukannya sendiri." Melengos.
"Ah tidak-tidak, iya aku mau sayang, aku mau." Mengambil alih kembali spons itu dari tangan suaminya.
Membuat Alva menyeringai penuh kemenangan, lalu mengecup wajah itu. "Lakukan dengan sebaik mungkin."
Lagi, gadis yang tengah di kerjai itu mengangguk, mulai menggerakkan tangannya menyabuni tubuh bagian depan suaminya. Dari perut menuju, ah. Alva memejamkan mata, merasai jemari itu merambat lembut, geli bercampur nikmat, seketika kelelakiannya menegang.
Dan Chilla menyadari itu, mata gadis itu membola, sedangkan lelaki bermata elang itu menatap dengan seringai licik.
"Tahu artinya?" Menyentuh pipi Chilla, menyusur hingga ke dagu runcing gadis itu.
"Kak." Merengek dengan bibir mengerucut lucu, membuat iman Alva yang hanya sebesar upik abu itu goyah.
"Aku janji, ini yang terakhir untuk hari ini, Sayang." Merapatkan tubuh hingga menempel di dinding. Dada mereka saling berhimpitan. Tak tahan, Alva langsung menyatukan kembali bibirnya.
Tak siap dengan serangan Alva, gadis itu mengerjap beberapa kali, namun ciuman yang Alva berikan benar-benar membuatnya selalu melayang, tak bisa di bohongi, akhirnya Chilla jatuh lagi kedalam permainan.
Peringatan sang ibu yang beberapa saat lalu terlontar, hilang dalam ingatan, magnet itu seolah menarik Alva untuk terus masuk, menikmati nirwana bersama istrinya.
"Kenapa kau selalu menggoda, hem? Aku sampai tidak bisa berhenti untuk melakukannya, Honey. Kau manis seperti madu. Ah tidak, apa tubuhmu mengandung jenis sabu, yang membuatku candu?"
Pertanyaan yang tak menginginkan jawaban, Alva kembali menyerang dengan senjata laras panjang, dari semalam lelaki itu memang tidak bermain kasar, karena sadar ada buah hati mereka yang tengah berkembang.
Namun, seolah kata 'Sah' kemarin, menjadi pembebas baginya untuk melakukan apa saja, dimana saja, dan kapan saja bersama gadisnya.
Iya si bang, cuma kan nggak tiap waktu juga.
...****************...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...****************...
Pelakunya
__ADS_1