Menjadi Simpanan CEO

Menjadi Simpanan CEO
Anniversary Sam dan Mira


__ADS_3

Di klub Ocean, Alva, Sam dan juga Satria memutuskan untuk bertemu. Karena tempat inilah, yang dari dulu menjadi favorit mereka.


Dan tempat ini juga yang menjadi saksi bisu, terjadinya huru-hara antara Sam dan Mira, saat bertengkar hebat gara-gara salah paham, yah memang cemburu adalah hal yang paling menyeramkan.


Ketiganya melakukan tos dan menepuk bahu sebagai salam pertemuan. Lalu duduk di ruangan VVIP yang biasa mereka pesan.


"Sob kalian mau vodka?" Tanya Satria lebih dulu menawarkan.


"Terserah kau sajalah, aku sedang tidak ingin keluar uang," timpal Sam seraya menyenderkan kepalanya.


Satria berdecak keras, sedangkan Alva hanya memperhatikan sahabatnya itu lalu terkekeh. Sepertinya ia senang sekali jika Satria tersiksa disini.


Akhirnya tanpa bertanya pada siapapun Satria memanggil pelayan, meminta untuk membawakan mereka beberapa camilan dan minuman.


"Oh ya, lusa aku dan Mira akan merayakan satu tahun pernikahan kami, datanglah dengan pasangan kalian," ucap Sam memberitahu.


"Kau meledekku Sam?"


"Apa?"


Satria hanya mengangkat sikut, lalu menggerakkan seperti ingin memukul.


Lagi-lagi Alva terkekeh dengan tingkah kedua sahabatnya, akhirnya tanpa perdebatan lagi ketiganya mulai menikmati minuman yang tersedia di gelas masing-masing.


"Hei brengsekk, sebenarnya apa yang ingin kau katakan?" Tanya Sam seraya memandang ke arah Satria, lelaki yang tengah menyesap vodkanya.


Mendengar itu, Satria langsung menghentikan aktivitasnya. Ia ingin menceritakan semua rencananya untuk mengejar wanita yang kini sukses mencuri hatinya.


Ia baru saja menyadari perasaannya saat jarak memisahkan keduanya, ya disana ia hanya merindukan gadis itu. Bahkan setiap hari, ia setia mengecek sosial media gadis yang ia cinta, demi melihat perkembangannya. Ternyata dugaannya benar, gadis itu tumbuh dengan sangat cantik sekarang.


"Kau tahu Sam kalau Chilla sudah memiliki kekasih?" Satria balik bertanya, dan pertanyaan itu sukses membuat Alva terbatuk karena tersedak ludahnya sendiri.


"Ah, kalau Alva sudah mengetahuinya,"


Sam menggelengkan kepala, "Aku tidak tahu,"


Satria menjentikkan jarinya, "Aku ingin merebut Chilla dari kekasihnya,"


"Ck, kau gila?" Pekik Alva dengan suara lepas.


"Benar, kau sungguh gila Sat? Kau belajar ke luar negeri hanya untuk jadi seorang pebinor?" Timpal Sam tak habis pikir.


"Hah, ayolah. Chilla dan kekasihnya belum menikah, jadi mana mungkin aku disebut sebagai pebinor?"


"Itu sama saja, kau merebutnya dari seseorang,"


Kali ini, Alva hanya diam memperhatikan dengan dada yang bergemuruh, ternyata ketakutannya benar. Satria memang menyukai Chilla sampai berani ingin merebutnya.


"Haish, kalian tidak ingat dengan sebuah pepatah yang mengatakan, sebelum janur kuning melengkung, jomblo bebas menikung, dan aku akan menikungnya,"


"Kau tidak takut dengan Om Pram?" Sam kembali mengingatkan, tidak sembarang orang bisa meluluhkan hati lelaki tua itu.


"Sebagai calon suami yang baik, aku akan dekati calon mertuaku, menyatakan kesungguhanku untuk menikahi putrinya, aku yakin Om Pram akan menerimaku, bahkan jika Chilla ingin mengejar cita-citanya lebih dulu, aku akan mengizinkannya, dan setelah itu kita akan menikah," jawab Satria panjang lebar.


Semuanya telah ia siapkan, rencana demi rencana sudah ia susun untuk mendekatkan diri pada Chilla dan keluarganya.


Mendengar bahwa Alva telah mengizinkan gadis itu berpacaran, membuat tekadnya semakin kuat untuk menyatakan perasaannya. Terlebih kini Alva sudah memiliki tunangan, itu berarti dia sudah merubah keposesifannya terhadap Chilla.


Ia tidak tahu saja, kalau ternyata lelaki yang duduk di sebelahnya, sudah menahan kekesalannya dengan tangan terkepal dibawah sana.


"Bagaimana menurutmu Al? Aku cocokkan dengan Chilla?" Satria kembali buka suara meminta pendapat Alva dengan senyum mengembang di kedua sudut bibirnya.


Namun, sesaat Alva bergeming, lalu tiba-tiba dirinya bangkit. Entah kenapa, perasaan aneh itu kembali muncul dalam hatinya, saat tahu ada lelaki lain yang menyukai gadisnya. Ia tak suka, ia tidak terima.


"Aku lupa kalau aku ada urusan, aku pergi dulu," pamit Alva tanpa menjawab pertanyaan Satria, lalu melangkah dengan kaki lebar meninggalkan dua sahabatnya.


Menyisakan tanda tanya.


"Dia kenapa?" Tanya Satria dengan raut wajah kebingungan.


Sam hanya menggedikan bahu, tak tahu.

__ADS_1


******


Lusa telah datang, itu artinya hari anniversary antara Sam dan juga Mira tiba. Semua orang mempersiapkan diri, tak terkecuali juga Yolanda.


Wanita itu kembali membuat penampilannya terlihat memukau, ingin semua orang menatap kagum pada dirinya, terlebih ia adalah calon istri penerus Antarakna.


Mona bilang, Alva akan menjemputnya. Dengan senyum yang terus mengembang ia mematut diri didepan cermin, cukup tahu kini, bahwa sang tunangan hanya tunduk pada ibunya, maka dari itu ia akan menggunakan Mona untuk menguasai Alva.


Ponsel milik Yola berbunyi, saat ia membaca siapa si penghubung ternyata orang yang sama yang ada dalam pikirannya, Alva.


"Hallo sayang?" Sapa Mona dengan suara selembut mungkin.


"Cepat turun," singkat Alva, dan langsung memutus panggilan. Padahal Yola sudah mangap-mangap ingin bicara.


Dengan sedikit mendesah kesal, Yola segera bersiap, dan turun kebawah. Dimana mobil sang tunangan berada.


Begitu sampai, ia tersenyum sumringah ke arah Alva, tetapi saat ia masuk kedalam mobil, Alva justru keluar dan duduk disamping kursi kemudi. Sedangkan dirinya duduk sendiri di kursi penumpang.


"Sayang kenapa begini?" Protes Yola tak terima, ia berharap bisa bermanja-manja dengan Alva saat di perjalanan, malah seperti ini yang ia dapat.


"Kalau kau tidak suka, kau bisa turun," balas Alva tanpa melirik sedikitpun, ke arah wanita yang telah menjadi tunangannya.


Akhirnya Yola hanya bisa berdecak, dan memberengutkan wajahnya.


"Jun,"


Juna langsung menginjak pedal gas, lalu memutar arah menuju kediaman Sam dan Mira, karena acaranya memang diadakan di halaman rumah.


*******


Sebagian tamu undangan telah datang, dan itu semua adalah sahabat, rekan kerja, dan beberapa kolega Samuel dan juga Mira.


Wanita yang tengah hamil muda itu terus tersenyum di acara peringatan satu tahun pernikahannya dengan sang suami, lelaki yang sangat ia cintai.


Yola, Alva dan Juna tampak menghampiri si empunya acara, memberikan selamat dan beberapa doa.


"Aku doakan kalian cepat menyusul," ucap Mira tulus. Dan di aamiinkan oleh Yola, sedangkan Alva hanya bergeming, tak peduli sama sekali.


Namun, ketika sudut bibirnya ingin mengukir senyum, ada sosok yang tiba-tiba saja datang dan mengapit lengan gadisnya, ya dialah sahabatnya, Satria.


"Kamu cantik sekali Chilla," puji Satria, tangan kirinya sukses menggenggam tangan Chilla untuk mengajak bersalaman dengan Sam dan juga Mira.


Mendengar pujian itu, Chilla tersenyum tipis dengan pipi sedikit merona. Membuat mata yang tengah menatap ke arahnya semakin memerah. Alva membuang wajahnya.


Dengan melangkah bersama, Satria dan juga Chilla ikut bergabung. Saat sampai di hadapan semuanya, Alva memperhatikan Chilla.


Tahu kalau Alva melihat dengan sorot mata tak ramah, Chilla buru-buru melepaskan pegangan tangan Satria. Hingga lelaki itu menatap ke arahnya.


"Ada apa?" Tanya Satria.


"Hmmm... Chilla kan mau kasih selamat sama Kak Sam dan juga Kak Mira," kilah Chilla, lalu segera menghambur ke pelukan wanita yang telah ia anggap sebagai kakaknya.


Dengan wajah tak kalah riang, Mira menyambut Chilla. Setidaknya dengan begini, Alva masih bisa menahan letupan-letupan amarah di dadanya.


******


Di puncak acara, Sam dan juga Mira mengadakan pesta dansa, alunan musik mulai mendayu, dan semua yang memiliki pasangan turun untuk memeriahkan.


Tak terkecuali Alva, sedari tadi Yola terus memaksanya untuk ikut dalam kerumunan massa yang tengah asyik berdansa.


Mau tidak mau, akhirnya Alva bergerak seirama dengan Yola, tetapi entahlah matanya justru terus melihat ke arah gadisnya, ia ingin tahu bagaimana reaksi Chilla.


Dan ternyata disana, Satria kembali memanfaatkan kesempatan. Ia mendekat ke arah Chilla yang tengah duduk sendirian di kursi dekat kolam renang.


"Mau berdansa?" Tanya Satria seraya mengulurkan tangannya.


Chilla sedikit terkejut melihat Satria sudah ada didepannya, tetapi bukannya cepat-cepat menyambut uluran tangan itu, Chilla justru melirik ke arah Alva yang tengah menatap ke arahnya dengan tatapan yang entahlah, ia tidak bisa mengartikannya.


Melihat Alva yang tengah berdansa dengan Yola, akhirnya Chilla pun memutuskan untuk menerima uluran tangan Satria, ia harap keputusannya tidak akan menimbulkan masalah.


Dan ternyata pemikirannya itu salah. Dari arah sana seorang lelaki berjalan dengan langkah marah. Merampas tangan mungil yang baru saja bersentuhan dengan telapak tangan Satria.

__ADS_1


"Dia akan berdansa denganku," ucap Alva dengan datar.


Chilla langsung melongo, tak percaya jika Alva berani bersikap seperti ini.


Sedangkan Yola kembali berdecak kesal, karena Alva tiba-tiba meninggalkannya begitu saja, demi gadis bernama Chilla.


"Kau ini apa-apaan sih Al?" Sungut Satria tak terima. Ini adalah bagian dari pendekatannya, tetapi Alva justru menghalanginya.


"Aku bilang, dia berdansa denganku," ucap Alva tegas.


"Kau kan sedang berdansa dengan Yola, kenapa mesti mengajak Chilla juga?"


"Itu urusanku, kalau kau tidak terima, aku akan mengajaknya pulang,"


Satria mendengus kesal, lalu menatap Chilla yang tengah menunduk takut. Dengan cepat Satria meraih lengan gadis itu, tetapi Alva tak diam begitu saja.


Dengan cukup kuat ia memukul mundur.


Lalu meraih kerah baju Satria dan menatap lelaki itu dengan tajam. Sehingga membuat perhatian semua orang teralihkan.


"Al, berhentilah bersikap seperti ini, Chilla sudah besar dan kau pun sudah memiliki tunangan," pekik Satria membalas tatapan Alva tak kalah tajamnya.


Kali ini ia tak ingin mengalah, sudah cukup Alva telah menguasai Chilla selama ini, gadis itu harus terbebas, dan dia yang akan membebaskannya.


"Lalu apa masalahnya denganmu?" Tanya Alva dengan rahang yang mengeras.


"Al," pekik Satria.


"Cukup!" Kini Sam menengahi keduanya, ia menepis tangan Alva yang sedari tadi menarik kerah kemeja Satria.


"Kau harusnya sadar Al, kita ini bukan anak-anak lagi, kali ini aku tidak akan kalah darimu,"


Dan ucapan itu sukses membuat Alva kembali melangkah ke arah Satria, tangannya mengepal kuat, siap untuk memberikan pukulan.


Dan Hap!


"Jangan," Chilla menahan, ia memeluk erat lengan Alva. Ia yakin, ini adalah salahnya, Alva seperti ini pasti karena melihat Satria menyentuhnya.


Alva langsung mematung, lalu menatap ke arah Satria yang memandangnya dengan tatapan tak habis pikir. Kalau saja Chilla tidak menahannya, pukulan itu pasti sudah melandas di wajah Satria.


"Kita pulang," pungkas Alva pada gadis kecilnya.


"Tidak," Satria menolak.


Membuat kedua orang yang ingin melangkah itu mendadak berhenti.


"Chilla akan bersama kami, kalau kau ingin pergi, pergilah," sambungnya.


Alva tersenyum remeh, "Kau tanyakan saja, dia mau ikut denganku, atau denganmu?"


Mendengar itu, Satria memandang ke arah Chilla. Gadis yang masih setia menunduk dan memeluk erat lengan Alva.


Sedangkan semua orang hanya menonton, seolah tahu dalam pertarungan ini siapa yang akan menjadi pemenangnya.


"Chilla kemarilah, karena kamu tidak bisa terus di kekang olehnya," ucap Satri dengan lembut, ia mengulurkan tangannya kembali, berharap gadis itu menggapainya.


Karena ia beranggapan bahwa sebenarnya Chilla juga tak suka, semuanya serba di atur oleh Alva.


Chilla bergeming, bibirnya seolah kelu. Ia tidak bisa berkata apapun saat ini. Ia membatu di tempatnya.


Hingga akhirnya Alva menyentak lengannya, dan pelukan erat gadis itu terlepas, menyadari itu Chilla kembali melingkarkan tangannya di lengan Alva.


"Kita pulang," ucapnya yakin.


Heuh, Alva langsung menatap ke arah Satria dengan tatapan remeh, seakan menunjukkan pada lelaki itu, sebuah kenyataan.


Dengan cepat Alva menggenggam tangan Chilla, membawa gadisnya untuk pergi dari tempat itu, hanya berdua.


...****************...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


...****************...


__ADS_2