
Jantung Beby seperti mau melompat dari sarangnya, saat dia mendengar suara Shaka. Dia reflek merutuki kebodohannya, yang berniat untuk kabur dan memilih tidak bertemu dengan lelaki itu.
Perasaan otak gue aman, kagak gue gadein, apalagi sampe dijual, tapi kenapa kayak nggak ada isinya yah?
"By..." panggil Shaka, terasa sangat mendayu di telinga Beby.
Gadis itu sampai merinding sendiri, saking kotornya pikiran dia pada Shaka. Padahal Shaka biasa-biasa saja, tapi Beby selalu membayangkan yang aneh-aneh tentang lelaki itu.
Apalagi jika sudah melihat sembulan Tyrex dari balik celana Shaka. Terasa sesak, dan Beby ingin meremassnya.
Ck, sialan!
Beby akhirnya berbalik, menatap Shaka yang sudah berdiri tepat di belakangnya. Bukan wajah yang pertama dia lihat, melainkan benda yang menggantung dan terbungkus di bawah sana.
Glek!
Lagi-lagi Beby menelan ludahnya susah payah. Apem kukusnya berkedut tidak menentu, sementara tubuhnya merasakan geleyar aneh secara tiba-tiba.
"Bener-bener bahaya," gumam Beby sambil menggelengkan kepala. Mulai oleng.
Shaka mengernyit heran, ada apa dengan Beby? Kok seperti baru melihat hantu saja.
"Apa yang bahaya, By?" tanya Shaka dengan berkedip pelan, tidak mengerti dengan gumaman Beby, yang terdengar di telinganya.
Mendengar suara Shaka, Beby mengangkat kepalanya. "Hah?" tanyanya dengan wajah planga-plongo.
"Apa yang bahaya? Terus kenapa kamu malah mau balik lagi?"
"Oh itu? Nggak ada, Bang. Nggak ada apa-apa, tadi perasaan ada yang ketinggalan. Tapi ternyata nggak ada," jawab Beby dengan suara terbata-bata. Mencari alasan.
Shaka tersenyum tipis, merasa lucu dengan wajah Beby. Dia mengusak rambut gadis itu, membuat Beby merasa tersengat dan reflek menepis tangan besar Shaka.
Senyum di bibir Shaka langsung memudar, mendapat tanggapan seperti itu. Dia tidak tahu saja, Beby sedang mati-matian menghindarinya karena takut terjadi sesuatu yang bukan-bukan.
__ADS_1
Namun, Shaka tak mau ambil hati, karena Beby memang seperti itu kan? Kadang ketus, kadang lembut, kadang-kadang pokoknya.
"Ya udah ayo kita langsung ke mobil. Kita makan siang dulu ya, By?"
"Nggak, nggak! Mending kita langsung ke rumah aja, Bang. Makan di rumah aja maksud aku."
"Hhmm ya sudah kalau mau kamu begitu."
Akhirnya kedua orang itu masuk ke dalam mobil Shaka. Lelaki itu sengaja tak membawa sang asisten, karena dia ingin berduaan dengan Beby.
Beby yang gugup merasa kesulitan untuk memasang sabuk pengamannya. Sedari tadi dia hanya mengotak-atik, tetapi belum juga berhasil.
Dan hal itu berhasil mengundang perhatian Shaka, dia menggelengkan kepalanya lalu mencondongkan tubuhnya untuk memasang sabuk pengaman di tubuh Beby.
Beby kembali terlonjak kaget, jantungnya seperti berhenti berdetak, dia menahan nafas demi tidak mencium aroma tubuh Shaka.
Dari jarak sedekat ini, Beby bisa melihat bibir yang sudah pernah beradu dengan bibirnya. Bahkan menyesap jambu kristalnya pula. Sumpah demi apapun, kalau Beby sudah kehilangan kendalinya, dia ingin segera meraup bibir Shaka.
Tapi untungnya dia masih memiliki rasa malu, untuk melakukan hal gila itu.
Kedua jantung mereka kembali berdebar kencang secara bersamaan, kalau saja Shaka menghimpit Beby, mungkin mereka akan saling mendengarkan debaran itu satu sama lain.
Lama kelamaan Shaka mulai mengikis jarak, sementara Beby bergeming dan perlahan menutup matanya saat tiba-tiba benda kenyal itu sudah menyatu dengan bibirnya.
Seluruh urat syarafnya terasa lemas, Beby jatuh dalam permainan Shaka yang kini tengah melumaat bibirnya dengan penuh kelembutan.
Perlahan tapi pasti, lelaki itu menggigit bibir Beby dengan gigitan kecil hingga gadis itu memberikan lidah Shaka ruang agar masuk ke dalam mulutnya.
Keduanya nyaris gila dengan permainan ini, apalagi dengan nalurinya Beby melingkarkan tangannya di leher Shaka, dan mengusap tengkuk itu dengan gerakan naik turun.
Membuat Shaka menunjukkan kebuasannya. Shaka menyesap semakin kuat, sama halnya dengan Beby Shaka juga menangkup kedua sisi pipi istrinya itu, hingga ciuman itu terasa semakin dalam dan menuntut.
Hingga pasokan oksigen dalam tubuh mereka habis, Shaka baru melepaskan pertautan mereka. Namun, masih dalam posisi yang sama.
__ADS_1
Wajah Beby nampak memerah dengan netra yang sayu, sorot yang membuat Shaka langsung merasa sesak.
Entah sadar atau tidak, Beby dengan berani menatap Shaka, dan kedua netra mereka kembali bertemu.
"Bang..."
"Hemmm..."
Beby menarik nafas, dan membuangnya secara kasar sebelum dia kembali bersuara. "Adek siap, Bang. Jadiin Adek istri yang sempurna buat Abang sekarang juga."
Deg, deg, deg...
*
*
*
Tok Tok Tok...
Tiba-tiba ada yang mengetuk kaca mobil Shaka. Membuat fokus kedua orang yang ada di dalamnya jadi teralihkan.
"Mas, tolong jangan ngehalangin jalan, kita jadi susah lewatnya."
Eh, lupa depan rumah orang 🤣
Udah bacanya? Yuk dilike, dikomen, dikasih hadiah Dede othornya, biar makin semangat, anu dan menganukan anu🤣🤣🤣
HARI SENIN VOTE DAN KOMEN BANYAK-BANYAK OYYYYYYY!!!!
SALAM ANU👑
Abang Shaka udah pusing ini, dah kepengen eksekusi 🤣🤣🤣
__ADS_1