
Hari ini, Alva bersiap-siap dengan sedikit tergesa, untuk pertama kalinya ia kesiangan. Karena semalam, ia begadang dengan sang pacar. Bertelepon ria sampai subuh menjelang.
Lelaki itu memasang dasi sambil berjalan ke arah baseman, diikuti oleh Juna yang setia berada di belakangnya.
"Jun, maaf aku terlambat bangun. Semalam gadisku benar-benar tidak mengizinkanku untuk tidur," ucapnya tiba-tiba, entah ingin pamer atau apa, yang jelas ia terus tersenyum saat mengatakannya.
Juna hanya mengangguk sekilas, lalu membukakan pintu mobil untuk sang Tuan. Secepat kilat, mobil itu melesat, menyusuri jalan raya.
"Tuan," panggil Juna seraya melirik kaca spion.
Di lihat dari sisi manapun, wajah lelaki dengan mata elang itu terlihat sangat sumringah, sudah bisa Juna duga, alasannya pasti adalah Chilla, gadis manis yang mampu meluluhkan dinding es yang ada di hati bos gilanya.
"Ada apa Jun?" Alva memasang jas ke tubuhnya. Menyisir rambut dengan tangan secara asal-asalan, tetapi justru membuat kadar ketampanannya semakin bertambah.
"Ada yang mau saya laporkan, ini mengenai Nona Yola," terang Juna dengan mulut yang gatal, ia sudah benar-benar tidak tahan, ingin membongkar kedok wanita medusa itu.
"Bicaralah," pinta Alva seraya membenarkan letak duduknya. Siap mendengarkan laporan asistennya.
"Semalam tetangga Nona Yola masuk ke apartemen dengan membawa minuman, cukup lama orang suruhan saya menunggu, lelaki yang sempat menyapa Tuan Daniel itu keluar dengan tersenyum misterius, entah apa yang telah dia lakukan, yang jelas dia langsung meninggalkan apartemen begitu saja, tanpa masuk ke kamarnya terlebih dahulu dan tanpa membawa apapun," jelas Juna sesuai dengan laporan yang di berikan bawahannya.
"Lalu?" Mata lelaki itu menyipit, dan bergerak lebih antusias.
"Anak buah saya mengikutinya, tetapi..." Ucapan Juna menggantung di udara, sepertinya apa yang akan di sampaikannya dapat membuat sang Tuan kesal.
"Sampai pada persimpangan jalan, mereka ketinggalan jejak,"
"Oh my God, apa dia kekasih Yola yang lain?" Sentak Alva dengan mata yang terbuka lebar.
"Saya juga tidak tahu Tuan, tapi anak buah saya berhasil menghafal plat mobilnya," Juna menyerahkan ponselnya ke arah Alva, sekilas Alva melihatnya lalu menyerahkan kembali pada Juna.
"Selidiki lagi pemilik nomor plat itu," pinta Alva dengan lugas.
"Baik, Tuan,"
Ternyata ada fakta baru lagi dari wanita jalangg itu.
Seberapa banyak lelaki yang kau sembunyikan, hah?
Alva memekik dalam hati, ia meremat tangannya geram, lalu memukul kursi yang di duduki Juna sambil mengumpat.
"Oh ya Tuan, Silvia juga tadi memberi kabar, kalau Tuan Daniel sudah datang, saya sudah menyuruhnya untuk menemani tamu spesial anda terlebih dahulu," ucap Juna lagi, berharap apa yang di sampaikannya bisa membuat wajah yang tertekuk itu kembali normal.
"Apa maksudmu tamu spesial?" Cetus Alva.
"Bukankah Tuan Daniel yang akan membantu anda untuk bisa bersatu dengan Nona Chilla?" Juna sedikit melirik ekspresi wajah Alva.
Mendengar itu, Alva menarik dua sudut bibirnya keatas, membenarkan perkataan Juna.
Cih, kalau sudah menyangkut Nona Chilla, langsung berbeda sekali raut wajahnya.
******
Sesampainya di perusahaan, Alva langsung di sambut oleh para karyawan, terlebih kaum wanita muda, yang hatinya mudah sekali untuk ambyar, ketika melihat lelaki tampan.
"Pagi Tuan," sapa mereka berbarengan, sedikit membungkuk memberi hormat.
"Hm,"
Berjalan melewati deretan karyawan yang menyambut kedatangannya, jangan lupakan, senyum yang menghiasi wajahnya, bukan, bukan karena sapaan mereka. Tetapi dalam ingatannya Chilla terus berputar-putar disana.
"Hm nya aja menggoda banget, gimana desaahannya yah," celetuk salah satu karyawan sambil berbisik-bisik pada rekannya, setelah tubuh Alva tak terjangkau lagi. Jiwa mesumable ketika melihat lelaki tampan, membuat ia tak bisa mengerem perkataannya.
__ADS_1
"Please jangan fiktor," timpal yang satu mengingatkan.
"Dih, nggak usah muna deh lo, lo juga pasti mikir gitukan?" Sungutnya dengan bibir mencebik, tak ingin di sebut fiktor sendirian, yakin kalau semua wanita yang bertemu dengan Tuanya, pasti akan berpikir seperti dirinya.
"Walaupun gue fiktor, tapi gue tahu tempat, nggak asal jeplak kaya lo yah," menoyor kepala rekan kerjanya.
"Ada apa ini Nona?" Tiba-tiba Juna menyambar,
sedikit mengusik telinga, mendengar pertengkaran dua resepsionis, membuat langkah kakinya ingin mendekat. Ia memang tidak langsung keatas bersama Alva tadi.
Keduanya langsung menunduk, takut. Tahu bagaimana ketegasan Juna yang lebih mendominasi untuk menertibkan para karyawan, mereka berdua sudah tahu dari cerita para seniornya, ketika mereka berkumpul untuk makan siang bersama, lebih tepatnya saat mengghibah.
"Maafkan kami asisten Juna, kami hanya sedikit mengobrol tadi," ucap resepsionis satu memberanikan diri, padahal kakinya gemetar walaupun hanya sekedar ditanya seperti itu.
Juna mengamati dua wanita cantik itu, sedikit tahu kalau keduanya tengah ketakutan, ia mendengus, "Baiklah, setelah ini gunakan mulut kalian untuk bekerja, bukan untuk berbicara omong kosong, mengerti?"
"Mengerti Tuan," balas keduanya kompak.
************
Silvia, wanita cantik yang menjabat sebagai sekretaris Alva, keluar dari ruangan lelaki itu, karena tugasnya menemani tamu sang Tuan, telah usai. Sebelum benar-benar menjauh, Silvia meminta berbicara sebentar dengan Alva.
"Ada apa?" Tanya lelaki itu tanpa berniat melirik sedikitpun. Memasukan kedua tangannya kedalam kantong celana.
Silvia berbicara pelan, karena kalau ia meminta untuk berbisik-bisik, rasanya Alva tidak mungkin menyetujui idenya. Dan ia cukup tahu diri. Sejauh ini, Silvia memang lebih dekat dengan Juna, karena lelaki itu lebih bisa diajak kompromi, dari pada lelaki yang ada didepannya.
Alva sedikit menyeringai mendengar ucapan sekertarisnya, lalu ia membiarkan wanita itu masuk kedalam ruangannya yang berada tepat didepan ruangan Alva.
"Pagi Tuan Daniel, maaf membuatmu menunggu," sapa Alva pada lelaki berparas kebule-bulean yang tengah duduk di sofa.
Lelaki itu langsung bangkit, begitu mendapati sang pemilik ruangan telah datang. Daniel mengulum senyum.
"Pagi Tuan Alva, tidak apa-apa, lagipula saya belum lama duduk disini," balas Daniel ramah, keduanya saling berjabat tangan.
Tak mau membuang waktu, pembahasan tentang proyek yang akan mereka kerjakan pun berlangsung, Alva bisa melihat, bagaimana potensi Daniel yang masih begitu dangkal dalam dunia perusahaan, itu terbukti dari kurangnya Daniel menangkap tentang apa yang ia jelaskan, hingga cukup lama mereka berbincang, akhirnya kesepakatan dapat mereka raih. 65% keuntungan untuk L group dan 35% untuk Antarakna group. Tentunya dengan sebuah perjanjian.
***********
Berendam dalam air hangat setelah beraktivitas, karena lelahnya bekerja, menjadi sesuatu yang menyegarkan bagi lelaki bujang yang sudah tidak perjaka itu.
Setiap ia pulang ke apartemen, entah kenapa, dirinya ingin selalu tersenyum, saat mengingat semua kenangannya dengan sang gadis didalam ruangan tersebut.
"Cih, kau benar-benar membuatku gila," gumam Alva pada pikirannya.
Selesai dengan ritual mandinya, Alva keluar memakai kimononya, seraya mengibas rambutnya yang basah.
Dan alangkah terkejutnya, saat ia mendapati wanita cantik yang telah menjadi tunangannya itu, tengah bersantai diatas ranjang miliknya. Wanita yang tak pernah ia tunggu kedatangannya.
"Sedang apa kau disini?" Sentak Alva dengan wajah marah.
Bagaimana bisa Yola masuk ke apartemennya? Siapa yang memberikan password pada wanita itu?
Mendengar sentakan itu, bukannya takut, Yola justru menyunggingkan senyum, ia bangkit dan berjalan ke arah Alva yang masih berdiri didepan kamar mandi, lengkap dengan tatapannya yang mengintimidasi.
"Sayang, jelas saja aku kesini karena aku rindu, aku inikan tunanganmu, yang sebentar lagi akan jadi istrimu," ucap Yola tanpa beban sedikitpun. Bahkan terdengar seperti seorang wanita yang tengah ingin di manja oleh kekasihnya.
"Cih, jangan mimpi bisa menikah denganku, karena sebentar lagi, aku akan menendangmu dari sisiku," Cetus Alva.
"Uh, sayang membuatku takut. Apa itu semua karena gadis manismu yang bernama Chilla?" Pancing Yola dengan wajahnya yang menyebalkan.
"Itu tidak ada hubungannya dengan dia," Alva bertolak pinggang, semakin geram menghadapi wanita, yang begitu tebal muka didepannya.
__ADS_1
"Baiklah, kalau bukan karena dia. Berarti aku masih punya kesempatan untuk mendapatkan hatimu bukan?" Jari-jemari lentik itu sukses mendarat di dada Alva, tetapi secepat kilat Alva mencekalnya sebelum Yola bergerak dan bermain disana.
"Jangan berani menyentuhku sembarangan, atau tanganmu akan hilang," Yola meringis, saat tekanan yang Alva berikan benar-benar terasa menyakitkan.
Sepertinya lelaki itu memang tidak main-main dengan ucapannya, ia segera menarik diri hingga cekalan itu terlepas.
Namun hal itu tidak semata-mata membuatnya mundur, dengan seringai Yola memajukan dirinya, untuk meraih bibir tunangannya tersebut.
Yakin, bahwa sentuhannya akan mampu meruntuhkan benteng pertahanan Alva.
Lelaki itu membelalakkan matanya, saat bibir itu tiba-tiba menyapa bibirnya, bahkan wanita itu menahan kepalanya kuat. Namun, bukannya terlena Alva justru menggigit bibir Yola, hingga bibir itu terlihat sedikit mengeluarkan darah.
Dan dengan sendirinya wanita itu melepas pagutannya.
"Beraninya kau?" Bentak Alva dengan mencengkram kuat leher Yola. Dan membawa tubuh wanita itu mundur, hingga merapat ke tembok.
Seringai tipis muncul di bibir wanita muda itu, apa yang Alva lakukan seolah tak membuatnya takut sedikitpun.
"Jangan munafik Alva, aku tahu kau sering melakukannya," ucap Yola dengan sedikit kesusahan, karena cengkraman tangan lelaki itu benar-benar membuatnya kesulitan.
Heks... Alva semakin menaikkan tekanan, membuat nafas wanita muda itu tersengal, wajahnya nampak memucat, seperti tak dialiri darah.
Sedangkan kabut amarah sudah memenuhi diri Alva, ia mengeratkan gigi gerahamnya menahan geram.
Yola memukul-mukul tangan Alva dengan sisa tenaganya, membuat lelaki muda itu sedikit demi sedikit sadar. Ia menghempaskan cengkramannya kasar, dan Yola terbatuk-batuk.
"Cepat pergi dari sini, karena kalau tidak, kau benar-benar akan mati," ancam Alva dengan mata melotot.
Cih, Yola mengembuskan nafasnya kasar lalu melirik sinis, "Kau boleh bersikap seperti ini sekarang Alva, tetapi tidak untuk lain kali," ucap Yola melenggang keluar dengan memegangi lehernya. Membawa kemarahan yang menggunung, siap untuk dimintai pembalasan.
Setelah Yola pergi, Alva memegangi bibirnya yang telah di cium oleh wanita tersebut. Ada rasa jijik disertai rasa bersalah yang tiba-tiba menyelinap.
"Cih, bekas orang ternyata rasanya gatal," cibir Alva, lalu meraih benda pipihnya untuk menghubungi Juna.
"Halo Tuan," di panggilan pertama Juna sudah mengangkatnya, padahal ia sedang didalam kamar mandi sekarang, jangan tanya kenapa bisa? Karena ternyata, ia sedang menuntaskan rasa yang mengganjal dalam perutnya, sambil membaca novel favoritnya.
"Cepat kirimkan bunga tujuh rupa ke apartemenku," titah Alva to the point.
"Bunga tujuh rupa? Untuk apa Tuan? Apa anda ingin main guna-guna?" Tebak Juna.
"Hei, apa maksudmu? Kau kira aku tidak laku, begitu?" Suaranya meninggi, tidak terima.
"Eh, eh tidak Tuan," segera meralat perkataannya.
Namun tiba-tiba.
Hmmptt pretttt...
"Hei, suara apa itu Jun?" Tanya Alva saat mendengar suara aneh di seberang sana. Sedangkan Juna merasa lega dan gugup secara bersamaan, lagipula kenapa juga, Tuannya menelpon di saat yang tidak tepat begini.
"Ah itu, itu bukan suara apa-apa Tuan, mungkin anda salah dengar, ya sudah saya tutup, dan bunga tujuh rupa yang anda inginkan, akan segera anda dapatkan," putus Juna segera mengakhiri.
Tak mau ambil pusing, Alva berkata, "Baiklah," seraya mematikan panggilannya.
Setelahnya, lelaki itu menggeleng-gelengkan kepala."Juna aneh."
...****************...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...****************...
__ADS_1
Juna👻