Menjadi Simpanan CEO

Menjadi Simpanan CEO
MIC (Pergi dari rumah)


__ADS_3

Setelah menyerahkan seluruh barang-barang miliknya pada sang ayah, Beby keluar hanya dengan menggendong tas ransel di punggungnya. Bahkan Nana dilarang untuk mencegah keputusan putrinya, pergi dari rumah.


Juna ingin melihat sebesar apa nyali Beby bertahan di luar sana tanpa bantuan teman-temannya, karena setelah kepergian Beby, Juna langsung menghubungi semua teman putrinya itu, agar tidak berani membantu Beby.


"Kak, kamu nggak bener-bener ngusir Beby kan? Bagaimana kalau ada yang jahat sama dia luar sana? Kamu nggak mikirin nasib Beby?" tanya Nana khawatir, sebagai seorang ibu pastilah dia takut Beby kenapa-kenapa.


Karena walau bagaimanapun Beby hanyalah seorang gadis belia, dia bisa saja terluka, jika ada yang menjahatinya, apalagi putrinya itu pergi tanpa berbekal apapun.


Nana benar-benar pusing sekarang.


Juna meraih tangan Nana, dan mengajak istrinya itu untuk duduk, sementara tangan yang lain ia gunakan untuk memasukkan ponselnya kembali ke dalam saku celana.


"Sayang, percaya lah. Beby tidak akan kenapa-kenapa, aku sudah mengirimkan dua bodyguard untuknya, mereka akan mengawasi putri kita. Aku hanya ingin melihat bagaimana kesungguhannya, jika dia tidak pulang dalam waktu dekat ini, aku akan yang akan menjemputnya kembali. Kita sudahi perjodohan ini," jelas Juna dengan mengusap surai hitam istrinya.


Sungguh dia pun tidak akan tega membiarkan Beby terlalu lama di luar sana, dia hanya ingin melihat kesungguhan gadis itu, seberapa besar dia menolak perjodohannya dengan Shaka.


Akhirnya Nana mengangguk setuju. Dia yakin Juna tak serta-merta melakukan ini jika tidak memiliki sebuah tujuan. "Baiklah, aku percaya padamu, Kak. Kamu pasti sudah memikirkan ini semua."


Wanita itu memeluk Juna, mencoba menenangkan hatinya, agar tidak terlalu cemas dengan keadaan Beby.

__ADS_1


Di sisi lain, Beby belum juga keluar dari gerbang rumahnya, dia masih mengelus-elus motor kesayangannya, merasa tak rela jika harus berpisah.


"Jor, lu baik-baik ya di sini. Tenang aja, nanti gue jemput. Gue mau pergi dulu, kalo udah saatnya gue pasti dateng," ujar Beby sedih, sebelum benar-benar pergi dia memeluk badan motor Jordy dan menempelkan pipinya di sana.


"Gue bakal kangen banget sama lu, Jor."


Dan akhirnya dia mulai melangkah menjauh, sesekali dia melirik ke belakang, Beby melambaikan tangan seolah Jordy pun tengah menatapnya sedih. Hingga dia sampai di pos satpam, dia melihat mang Uus yang sedang menikmati kopi hitam.


"Mang Uus, Beby pamit yah," ucapnya membuat mang Uus langsung mengernyit heran.


"Pamit kemana, Non? Jordy kok nggak diajak?" tanyanya beruntun sambil menunjuk motor sport yang terparkir.


Beby menghela nafas, lalu mendekat ke arah mang Uus. Dia menyambar kopi hitam itu, lalu menyesapnya sedikit. Mang Uus hanya melongo melihat kelakuan anak majikannya.


Sedangkan yang diajak bicara membulatkan kedua matanya, dengan mulut yang menganga. "Kok bisa, Non? Terus Non Beby sekarang mau pergi kemana?"


Mengingat perjodohannya dengan Shaka Beby mendengus, kembali merasa kesal. "Ini semua gara-gara si Tua Bangka itu, Mang. Ngajakin Beby nikah tiba-tiba, kan nggak jelas."


"Tua Bangka siapa, Non? Apa Tuan punya utang banyak sama rentenir yang perutnya buncit, makanya Non Beby jadi buat tebusan?" tanya mang Uus menebak.

__ADS_1


Dan hal itu justru membuat Beby terbahak-bahak. "Bukan gitu mang Uus, Beby dijodohin sama Om Shaka, tahu kan? Dan Beby nggak mau." tolaknya dengan bibir yang mengerucut.


"Shaka? Maksudnya Tuan muda Shaka?"


Beby manggut-manggut, membenarkan pertanyaan mang Uus.


"Lho kenapa nggak mau, Non? Tuan muda Shaka kan ganteng, kaya, baik. Cocok lho jadi suami idaman," tutur Mang Uus, seandainya dia yang menjadi Beby, mungkin perjodohan itu langsung dia terima tanpa menunggu waktu lama.


"Idih, nggak mau Mang, pisangnya alot," bisik Beby cekikikan.


"Hust, semua pisang kalo udah tegang ya alot, Non. Mending Non Beby terima aja deh perjodohannya, biar nggak perlu pergi dari rumah," Mang Uus kembali memberi saran.


Tapi si Kepala Batu tetap kukuh menolak si Tua Bangka.


"Nggak mau, Mang. Masalahnya Beby tuh sukanya sama Daddy Alva, masa nanti Beby selingkuh sama ayah mertua? Kan nggak etis, iya nggak?"


Mang Uus garuk-garuk kepala, bingung mau menjawab apa. Dikasih anaknya yang masih muda, kok maunya bapaknya. Otak Non Beby agar geser kayaknya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


Udah bacanya? Yuk dilike, dikomen, dikasih hadiah Dede othornya, biar makin semangat, anu dan menganukan anu🤣🤣🤣


Mumpung hari Senin, votenya sumbangin. Biar othor lanjayyyyyyy upnya. Kalian senang aku pun senang.


__ADS_2