
Nana menarik lengan Juna, melangkah dengan riang masuk ke dalam pusat perbelanjaan yang berada di tengah-tengah kota, karena malam ini, mereka berencana untuk menonton film drama romantis berdua.
Dan jangan lupakan, tokoh utamanya adalah aktor tampan favorit Nana.
Senyum gadis itu terus mengembang, ia menggandeng lengan Juna dengan erat. Tetapi tidak dengan lelaki itu. Setelah tragedi malam kemarin, semangat hidupnya seolah sirna.
Apa Nana benar-benar tidak peduli dengan ucapannya? Apa Nana tidak serius dengan hubungan mereka? Bahkan gadis itu tidak merasa bersalah sama sekali, jangankan meminta maaf, bertanya saja tidak.
Ingin sekali Juna membahasnya, tetapi sepertinya sekarang bukanlah waktu yang tepat.
Cih, sepertinya aku terlalu banyak berharap.
Malam ini, Juna benar-benar mengunci mulutnya, ia hanya terus mengikuti langkah Nana, tanpa berniat untuk bicara.
Setelah memesan tiket, mereka duduk berdampingan, menunggu antrian masuk sekitar beberapa menit sebelum film itu dimulai.
"Kak, beli berondong sama cola dong." Ucap Nana, daripada melihat Juna yang terus bergeming, mending ngasih kegiatan untuk lelaki itu.
Juna mencebikkan bibir, tak menanggapi ucapan Nana. Lelaki yang biasanya bersikap dewasa, itu kini justru terlihat seperti anak-anak yang ingin dimanja orang tuanya.
"Kakak." Panggil Nana, memperhatikan raut wajah Juna yang muram, tanpa senyuman. Sudah seperti rumah tua yang tidak memiliki warna. Enek liatnya.
"Hem."
Hanya hem? Nana bertanya-tanya dalam hati, tapi ia tidak terlalu ambil pusing. Mungkin lelakinya itu sedang malas bicara, atau lebih parahnya sedang sakit gigi.
"Beliin berondong yang rasa caramel sama rasa jagung. Terus colanya yang dingin dua, yah. Nih uangnya." Ulang Nana manja sambil mengulurkan uang dua lembar ratusan ribu. "Kalo kurang tambahin ya." Sambungnya lalu cekikikan.
Juna mendorong tangan Nana hingga ke depan dada, menolak uang yang gadis itu berikan. Kemudian tanpa sepatah kata pun dia bangkit, dan berlalu ke stand berondong jagung dan cola berada.
Nana menatap punggung lebar itu dengan nanar, baru kali ini sikap Juna berbeda kepadanya. Dia punya salah apa? Perasaan kemarin mereka baik-baik aja?
Nana yang biasanya begitu antusias, bahkan sangat heboh ketika sang aktor muncul. Malam ini gadis itu justru terlihat murung, selama film diputar, Juna benar-benar tak menanggapi ocehannya.
__ADS_1
Hati kecilnya merasa sedih, ia melirik Juna yang terus menatap layar besar di depan mereka. Lelaki itu hanya sesekali berkedip, tanpa memberi respon apa-apa.
Mau itu adegan sedih, lucu, mendebarkan, semuanya tak mampu membuat bibir itu bergerak seperti biasa.
Cih, salah apa sih lo Na? Akhirnya Nana berpikir keras, mencari daftar kesalahannya pada Juna. Namun nihil, ia sama sekali tidak ingat apapun.
Hingga saat mereka keluar dari pintu bioskop, dan masuk ke dalam mobil, Juna masih betah mendiami Nana.
Mobil itu mulai melaju, dan dada Nana semakin terasa sesak melihat Juna yang seperti itu.
"Kak." Panggil Nana. Ia tidak sanggup, ia tidak suka diacuhkan, apalagi oleh orang yang ia sayang.
"Hem." Tanpa melirik gadisnya, mata teduh itu hanya fokus pada jalanan menuju rumah Nana.
"Kakak kenapa sih? Aku ada salah? Kalo ada, ayo dong ngomong, jangan diemin aku kaya gini, aku nggak suka. Atau Kakak lagi ngeprank aku? Hah, ini beneran nggak lucu tahu." Ungkap Nana dengan mata yang sudah berkaca-kaca, bahkan suaranya terdengar bergetar.
Entah kenapa, gadis muda itu selalu menjadi sosok yang berbeda bila ada di dekat Juna. Dia yang biasanya kuat, dia yang biasanya galak, dia yang biasanya ketus, tapi setelah ia merasakan cinta pada lelaki matang itu, semuanya seolah hilang.
Di depan Juna, ia hanya terlihat seperti gadis lemah dan cengeng, gadis yang butuh perlindungan dan mengharap kasih sayang.
Nana mengusap air matanya yang sudah mengalir deras, ia berusaha menahan, tetapi isak kecil itu akhirnya terdengar.
"Please, kalo ada apa-apa jangan kaya gini, kasih tahu Nana apa masalahnya, biar Nana tahu, biar Nana bisa instrospeksi diri." Ucapnya sesenggukan, seraya menunduk dalam.
Juna menghela nafas, sepertinya ia sudah benar-benar keterlaluan. Ia berbalik menghadap Nana, lalu secepat mungkin, membawa tubuh mungil itu masuk ke dalam dekapannya. "Maaf." Ucap Juna lalu mengecup dalam puncak kepala gadisnya.
Dan Nana justru semakin terisak kencang. "Huaaaa..."
"Sudah jangan menangis, aku yang salah." Juna mengusap-usap punggung Nana dengan lembut, berharap gadis itu segera tenang.
"Jahat, jahat, jahat tahu nggak!" Ia memukul-mukul dada Juna sebagai pelampiasan. Ia terus menumpahkan air matanya. Tidak peduli pada kemeja Juna yang terlihat basah. Akibat air mata bercampur ingus miliknya.
Hingga dalam waktu yang cukup lama, gadis itu akhirnya berangsur tenang. Juna membantu Nana mengelap-elap sisa air mata itu dengan tangannya, tanpa jijik ia menyusut ingus sang gadis dan memindahkannya ke dalam tisu.
__ADS_1
"Sekarang cerita sama aku, Kakak kenapa?" Nana menatap netra Juna dengan bola matanya yang terlihat merah.
Sebelum menjawab, sebuah kecupan manis melandas di pipi, kening dan bibir gadis itu.
"Kamu bener-bener nggak ngerasa bersalah setelah nolak ajakan aku kemarin?" Tanya Juna dengan mimik wajah serius.
Kening Nana berkerut. "Nolak? Ajakan? Aku nolak ajakan apa?"
Juna membuang nafasnya kasar. "Aku ngajak kamu nikah, tapi kamu nggak nanggepin gitu, sebenarnya kamu serius nggak sih sama aku?" Tanya Juna, kini lelaki itu dapat berbicara lebih santai dengan Nana.
"Ha? Nikah? Kapan Kakak ngajak aku nikah? Dimana? Aku nggak ngerasa." Balasnya dengan jujur, sumpah demi apapun ia tidak ingat kapan Juna mengatakan itu padanya.
Ck!
"Kamu nggak inget? Kemaren malem aku telpon kamu lho, aku ngungkapin apa yang pengen aku ungkapin, tapi responnya begitu." Cetus Juna, wajah tampan itu kembali terlihat kesal, karena Nana tidak mengingatnya.
Mendengar itu, Nana sontak langsung meraih ponsel dan mengecek histori panggilannya. Dan benar saja, ia bisa melihat panggilan Juna ia jawab pada pukul 11 malam, dan saat itu dia sudah tidur.
Ia melirik Juna, lalu tercipta cengir kuda. "Hehehe, maaf waktu Kakak ngomog gitu aku ngantuk, jadi ngelantur deh jawabnya."
"Terus kalo sekarang aku nanya gitu lagi, kamu mau nggak?" Spontan Juna, seperti ada dorongan dari arah belakang, mulut itu berbicara tanpa sadar.
Deg!
Jantung Nana langsung berdebar-debar, meski tidak seromantis di film-film, tetapi pernyataan Juna sukses membuat nafasnya berhembus tidak normal.
"Kak, jantung aku!"
"Kenapa jantung kamu?" Tanya Juna panik, reflek meletakkan tangannya di dada Nana.
"Please selamatin jantung aku!"
"Iya jantung kamu kenapa?"
__ADS_1
Nana menatap wajah tampan Juna yang terlihat sangat tegang.
"Jantung aku nggak aman denger pertanyaan Kakak!"