Menjadi Simpanan CEO

Menjadi Simpanan CEO
Sabar (Nahan anu)


__ADS_3

Masuk tengah malam. Gadis dengan perut buncit itu terbangun. Karena merasakan perutnya yang kelaparan, padahal saat di pesta pernikahan sahabatnya, dia sudah makan banyak.


Tapi entah kenapa, sekarang lambung itu terasa kosong, hingga berteriak bersahut-sahutan, meminta diisi oleh sang Tuan.


Apa karena dia kehabisan tenaga meladeni suaminya?


Ya, seperti biasa. Sebelum tidur, dia harus menidurkan terlebih dahulu belalai Alva. Benda pusaka yang suka sekali membuat Chilla tak berdaya.


Chilla mendudukkan dirinya, menatap ke samping, dimana sang suami berada. Lelaki itu terlihat lelap sekali, mungkin sama seperti dirinya, Alva lelah setelah menguras energi, melepas benih-benih cintanya beberapa kali.


"Kak. Kakak bangun." Panggil Chilla seraya menggoyangkan bahu Alva. Bahu yang polos, sama seperti dirinya.


Tanpa berpakaian, keduanya langsung tertidur setelah mendapat pelepasan.


Alva bergeming, masih setia dalam posisinya. Enggan sekali untuk bangun di malam yang dingin serta sunyi itu.


"Kakak, Chilla laper. Ayo bangun." Rengek sang istri, kini berganti memberikan pukulan bertubi-tubi pada badan Alva.


Lelaki itu terlihat menggeram, menggeliat pelan tanpa berniat membuka mata. Lalu kembali mencari posisi ternyamannya, membelakangi Chilla dan memeluk guling.


Membuat bumil satu ini terlihat begitu kesal. Pasalnya, kini mereka masih di rumah besar Jonathan. Terlebih sudah larut malam, pasti lampu dapur sudah dimatikan.


"Ish nyebelin." Pekik Chilla seraya mencubit-cubit badan Alva. Sungguh ia sudah sangat kesal. Perutnya benar-benar terasa lapar, tetapi dia tidak berani untuk keluar.


Baru kali ini dia merasa sangat tersiksa seperti ini. Hingga akhirnya bumil satu ini hanya bisa menangis.


Dia sesenggukan di tempatnya. Menarik seluruh selimut, hingga badan Alva polos tanpa terhalang apapun.


"Biarin, biar beku kena AC." Maki Chilla dengan bibir yang bergetar, sedangkan air matanya tak berhenti mengalir.


Sejujurnya dia tidak pernah sesensitif ini, mungkin terbawa oleh hormon kehamilan, membuat Chilla menjadi sangat cengeng.


Dia sudah seperti anak kecil yang tidak dituruti keinginannya, merancau dan mengutuki sang suami sesuka hati.


"Ishhh sebel, awas aja kalo minta itu-itu, nggak bakal aku turutin, biar Kakak main sendiri, bodo amat, aku nggak akan peduli." Mengelus perutnya sambil terus menyusut hidung yang tak berhenti ikut mengeluarkan air.


Hingga akhirnya, suara-suara itu memenuhi gendang telinga Alva. Ditambah, kini tubuhnya merasakan kedinginan yang amat sangat.


Kemana guling hidupnya?


Alva berbalik, meraba-raba kesamping, hingga tangannya menyentuh paha sang istri, dengan cepat Chilla menepis tangan Alva.


Membuat lelaki itu langsung mengerjap, dan membuka kelopak matanya.


Pelan, lelaki itu bangkit dengan kantuk yang masih melanda. Menatap ke arah samping dimana Chilla berada.

__ADS_1


Alva mengernyitkan dahi, ada apa ini, kenapa Chilla menangis tengah malam seorang diri. Gerakannya menjadi cemas, dia langsung menggapai tangan sang istri yang tengah menutup wajahnya itu.


"Sayang, ada apa?" Tanya Alva tanpa memperdulikan tubuhnya yang kedinginan, yang terpenting sekarang adalah mencari jawaban kenapa istri kecilnya ini menangis, padahal sebelum tidur mereka masih baik-baik saja, bahkan sempat melenguh bersama.


"Lepasin." Tepis Chilla, membuat Alva semakin membelalakkan matanya, salah apa dia sampai diperlakukan seperti ini oleh Chilla.


"Sayang, aku ada salah apa, kenapa kau marah-marah seperti ini?" Tanya Alva dengan raut wajah frustasi, kembali meraih tangan langsing itu, dan lagi-lagi ditepis oleh Chilla.


Gadis itu semakin sesenggukan di tempatnya. "Kakak jahat, nggak mau peduli sama kita." Rancaunya dengan suara yang bergetar.


Melihat Chilla menangis seperti ini membuat dada Alva sesak, apalagi sang istri menyebutkan kalau dia tidak peduli? Tidak peduli yang bagaimana maksudnya.


Alva masih mencerna semuanya. Ia merengkuh tubuh mungil itu untuk masuk dalam dekapannya, meski Chilla terus meronta-ronta dan meraung keras.


"Nggak mau, Kakak jahat! Kakak udah nggak Sayang sama aku." Pukulan tak seberapa itu terus Chilla layangkan, tetapi Alva terus memberi pelukan hangat itu.


Hingga dengan sendirinya. Chilla berhenti menggerak-gerakkan tangannya, kini ia hanya menangis dipelukan Alva. Hingga dada bidang itu basah, banjir oleh air mata.


"Aku salah, aku minta maaf." Ucap Alva mengalah, meskipun ia tidak tahu letak kesalahannya dimana.


Namun, baginya meminta maaf adalah jalan yang paling penting untuk sebuah hubungan, terlepas siapapun diantara mereka yang bersalah.


"Hiks, tau begini aku nggak mau hamil anak Kakak." Cetus Chilla dengan kekesalan yang memuncak, sudah sedari tadi dia menangis sendiri menahan lapar, Alva malah asyik tidur tanpa berniat bangun sedikitpun.


"Hei, hei kenapa bicara seperti itu?"


"Tidak peduli bagaimana Sayang? Tiba-tiba aku bangun kau sudah menangis, lalu marah-marah. Letak tidak peduliku dimana?"


"Hiks, kenapa malah marahin Chilla, inikan salah Kakak."


Astaga, sabar Alva.


"Iya, iya aku minta maaf. Sekarang katakan yang sebenarnya, kau ini kenapa?"


"Aku laper." Lirih Chilla, dengan dada yang masih naik turun.


Dan jawaban itu langsung membuat Alva menelan salivanya. Jadi hanya karena lapar, aku dianggap tidak peduli padanya? Ya, Tuhan...


"Kalau begitu aku akan membuatkan makanan untukmu, diam disini yah." Ucap Alva lembut, tepat di telinga Chilla, sedangkan tangannya masih setia memeluk tubuh ramping itu.


Dengan gerakan cepat Chilla menggeleng. Lalu menengadah menatap wajah Alva dengan buraian air mata. "Aku maunya makan pizza."


Apalagi ini?


Alva terlihat bingung ingin menjawab, ia melirik jam yang ada di dinding, pukul 2 dini hari. Ia mendesah kecil, dan hal itu membuat Chilla kembali meraung dengan keras.

__ADS_1


"Jadi nggak mau beliin aku pizza? Kakak tuh bener-bener yah." Memukul dada Alva, dan mencoba lepas dari rengkuhan suaminya. Dia kecewa.


"Sayang, Sayang bukan seperti itu. Ini masalahnya sudah jam segini, mau cari kemana aku?"


Ah, rasanya kepala Alva berdenyut hebat.


"Kan bisa cari ke restoran yang buka 24 jam, Kakak. Kakak usaha dong. Buat aku hamil tapi nggak mau tanggung jawab gitu sih?"


Kurang tanggung jawab apa aku? Ingin sekali Alva berteriak seperti itu. Tetapi kalimat itu hanya tercekat di tenggorokan.


Sekarang, yang mampu Alva lakukan hanya menyebut nama Tuhan, dan memohon ampun untuk segala dosa-dosanya.


"Memangnya makanan yang lain tidak mau? Aku buatkan mie instan, sama telur mata sapi saja yah, bagaimana?" Tawar Alva dengan raut wajahnya yang terlihat memelas. Berharap Chilla berkata ya, atau setidaknya menganggukkan kepala.


Kini Chilla terlihat bergeming, nampaknya ia tengah memikirkan tawaran Alva.


Dan detik selanjutnya, dengan bibir yang mengerucut, Chilla mengangguk, membuat Alva bernafas dengan lega.


Lelaki itu langsung mengecupi seluruh wajah istrinya, dan bergegas memakai celana, siap untuk bertempur di dapur demi Chilla dan calon bayi mereka.


"Kakak." Panggil Chilla, saat Alva sudah sampai di ambang pintu. Hendak melangkah keluar.


"Ada apa lagi Sayang?" Lelaki itu berujar dengan suara lembut. Sebisa mungkin dia tidak mau terpancing emosi, yang berujung menghasilkan ledakan-ledakan amarah.


"Mau ikut." Chilla merentangkan kedua tangannya manja, minta digendong.


Alva mengulum senyum. Tak langsung mendekati sang istri, Alva justru meraih baju terusan milik Chilla terlebih dahulu.


Setelah selesai, barulah Alva menggendong istri kecilnya menuju dapur dengan bertelanjang dada.


Alva mendudukkan Chilla di kursi meja makan, sedangkan dia siap untuk berkutat membuat mie instan spesial.


Made in Daddy Alva. Gumamnya dalam hati.


"Sayang, beri aku semangat dulu." Ucap Alva seraya mencondongkan wajahnya, dan hal itu langsung disambut riang oleh Chilla.


Sudah paham dengan keinginan suaminya, gadis itu langsung menangkup kedua rahang Alva, lalu memberikan lumataan penyemangat, untuk sang suami yang tengah berusaha menyenangkan dirinya.


Tangan Alva bertopang pada meja, decapan-decapan itu terdengar nyaring, saling mencecap dan melumaat satu sama lain.


Hingga membuat orang yang ada di ambang pintu dapur, kembali melipir ke kamar dengan mengusap dada, setelah melihat adegan tanpa sensor anak majikannya.


Nasib, nasib, jauh dari suami, harus nahan anu setiap hari.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


Bentar lagi Dede Chilla lahiran, enaknya dibuat tamat apa ada terusan kisah anak-anaknya?


Komen yang banyak dong, beri aku semangat huhu😭😭😭 biar anu gitu, salam anu👑


__ADS_2