Menjadi Simpanan CEO

Menjadi Simpanan CEO
Kutukan


__ADS_3

"Mati saja kau, Juna!" Pekik Alva keras, setelah melempar pulpen ke arah asistennya tersebut.


Tepat, pulpen itu melandas di kepala Juna, dengan bibir mencebik Juna mengusap-usap kepalanya yang sedikit nyeri, sepertinya memang benar, dia kwalat karena sering mengatai lelaki di depannya itu gila.


Namun, bukan tanpa alasan dia mengatai Alva, kalian bahkan tahu sendiri, lelaki itu tanpa tahu malu menciumi istrinya, bahkan ingin bercinta di depan matanya.


Dan sekarang? Dia mendapat karma, karena ternyata rasa nikmat itu benar-benar candu untuknya. Sama halnya dengan Alva yang terus ingin mencumbu istrinya.


"Tuan, saya minta maaf, tapi saya mohon, cabut kutukanmu itu, supaya Nana mau memberikan jatah pada saya," ucap Juna dengan memohon, dia berpindah posisi, bergelayut di lengan kekar Alva.


Alva mengernyit bingung, dia menepis tangan Juna dengan kasar. "Hah, kau ini bicara apa sih?"


"Nana tidak mau memberi saya jatah, Tuan. Itu pasti karena anda kan yang menyumpahi saya kan?" Tuding Juna.


Dan hal itu sukses membuat mata Alva menungkik tajam, dengan tangan yang bertolak pinggang.


"Shitt! Kau menuduhku?" Cetus Alva.


"Tapi itu kenyataannya." Balas Juna takut-takut. Tetapi demi kesejahteraannya dengan sang istri, dia rela menahan rasa malunya menghadapi Alva.


"Hah, benar, aku memang menyumpahi, biar saja senjatamu yang kecil itu bulukan, kau ternyata diam-diam sering memakiku yah." Alva balas menuding.


Mendengar itu, Juna kembali meraih lengan Alva. "Tuan jangan seperti itu dong, nanti masa depan saya bagaimana?" Wajah Juna benar-benar sudah tak tertolong, dia terlihat sangat pias, dengan dahi yang berlipat-lipat.


"Terserah aku tidak peduli," balas Alva cepat, dan menyentak tangan Juna.


Tetapi seolah tak mau lepas, lelaki itu mengeluarkan seluruh tenaganya untuk menahan Alva, setidaknya sampai Alva menarik kembali sumpah serapahnya.


"Tuan, tolong cabut kutukanmu, please. Saya berjanji tidak akan mengataimu lagi,"


Alva geleng-geleng kepala, Juna benar-benar sudah gila.


Sebenarnya kutukan apa yang sedang dia bicarakan?

__ADS_1


"Baiklah, aku cabut kutukanku, tapi kalau sekali lagi ku dengar kau memakiku, aku tidak akan memberimu kesempatan, bahkan aku meminta pada Tuhan, agar senjatamu itu tidak bangun selamanya." Cetus Alva dengan mimik wajah sungguh-sungguh.


Membuat Juna langsung meneguk ludahnya kasar. "Tuan kenapa kau mengerikan sekali."


"Makanya jadi asisten yang baik, kau belum tahu saja bagaimana bercinta dengan berbagai gaya. Jangan sok, sekarang kau tahu kan bagaimana rasanya?"


Seperti anak kecil yang baru saja diberi sebuah mainan, Juna manggut-manggut.


"Mau tahu jurusnya tidak?" Tawar Alva dengan satu alis yang terangkat.


"Jurus apa, Tuan?" Balas Juna dengan sebuah pertanyaan pula. Jiwa penasarannya meronta-ronta.


Apalagi setelah Alva mengatakan. "Supaya jatah kembali lancar."


Juna meneguk ludahnya, wajah lelaki tampan itu kembali sumringah, dengan cepat dia menganggukkan kepala. "Mau, Tuan." Balasnya semangat.


Lantas Alva meminta Juna mendekat, hingga wajah mereka bertemu.


"Menjauhlah sedikit, kau mau menciumku?" Sentak Alva, dan Juna menurut, lelaki itu menarik diri, memberi jarak diantara keduanya.


Seolah mendapat jacpot besar, wajah Juna kembali cerah ceria. Bahkan pipinya merona, dia manggut-manggut dan membenarkan ucapan bosnya.


Benar juga, kenapa aku tidak kepikiran kesana?


"Bagaimana?" Tanya Alva setelah dia selesai memberitahu jurus terampuhnya pada Juna.


Juna langsung mengacungkan jempol, lalu tersenyum lebar dengan menunjukkan gigi-giginya yang tersusun rapih di dalam mulut.


"Saya akan mencobanya nanti malam, Tuan."


"Baguslah, good luck brother!"


Dan keduanya melakukan tos, lalu terkekeh berbarengan, ternyata mesum bersama rasanya menyenangkan.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sebelum keluar dari gedung Antarakna group, Alva mendapat telepon dari istrinya. Dia urung untuk melangkah, dan lebih dulu mengangkat panggilan itu.


"Hallo, ada apa Mommy? Apa kau sudah merindukan Daddy?" Sapa Alva, di ujung sana dia dapat mendengar Chilla terkekeh.


"Haha. Iya cepatlah kembali, Mommy dan baby Al sudah menunggu Daddy. Tapi sebelum itu, aku mau menitip sesuatu, Sayang." Balas Chilla lengkap dengan rengekan manja di ujung kalimatnya.


"Apa itu, Sayang?" Tanya Alva seraya menyerahkan tas kerjanya ke arah Juna, lelaki yang berdiri tepat di belakangnya.


"Kak, aku mau makan telur puyuh." Ucap Chilla menyuarakan keinginannya.


Sebenarnya sejak siang dia menginginkan telur puyuh itu, tetapi dia tidak memiliki keberanian untuk meminta bantuan pada orang rumah, takut merepotkan pikirnya.


"Hanya telur puyuh? Berapa kilogram? Atau kalau kau mau, aku bisa meminta Juna untuk membeli peternakan burung puyuh, supaya kau bisa memakannya setiap hari." Tawar Alva enteng, membuat Juna yang di belakang sana melongo.


"Hah tidak mau, burung Daddy saja sudah merepotkan apalagi satu peternakan burung puyuh." Kekeh Chilla.


"Hei, hei kau menggodaku, awas kau saat aku pulang nanti." Ancam Alva.


Mendengar itu, Chilla justru terkekeh semakin keras. Namun, tak ingin sang suami pulang lebih lama, Chilla buru-buru menyelesaikan kekehannya, dan meminta lelaki itu untuk membelikannya 2 kilogram saja.


"Jun, antar aku mencari telur puyuh dulu, anakku mau makan telur puyuh katanya." Ucap Alva pada sang asisten, seraya memasukkan ponselnya ke dalam saku jas.


"Kalau Mommynya?" Tanya Juna dengan satu alis terangkat.


Dan Alva langsung memicingkan mata. "Ya telurku lah." Cetusnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Ya ampun nih bedua mentang-mentang udah pada punya bini😏


Pengen gue culik nih rasanya si Daddy🥱

__ADS_1



__ADS_2