
Lain dengan Alva yang sedang uring-uringan tak karuan, di tempatnya Chilla justru sedang tersenyum tanpa bosan.
Ia mengira Alva tidak membalas pesannya karena kembali sibuk akan pekerjaan, makanya ia tidak membuat spam chat untuk sang pacar.
Gelagat Chilla yang terlalu mencolok, dapat di tangkap oleh mata Satria, lelaki itu tahu, gadis didepannya tengah bahagia. Wajahnya nampak begitu sumringah.
"Hei peri kecil, kenapa kau sedari tadi tersenyum-senyum, apa kau sedang bahagia?" Tanya Satria di sela ia mengunyah mie miliknya.
Mendengar pertanyaan Satria, Chilla langsung menatap ke sumber suara, lalu mengangguk sembari mengulum senyum.
"Iya Bang, soalnya kakak pacar habis mengirimi Chilla pesan," balasnya tanpa beban. Bagai mendapat hadiah terindah, wajah bahagia itu begitu kentara.
"Kakak pacar? Kau sudah punya pacar?" Satria terperangah, tidak menyangka gadis kecil didepannya sudah memiliki pacar, sedangkan dia masih betah melajang.
Lebih tepatnya, sedang menunggu waktu yang pas untuk mengungkapkan.
"Sudah," balas Chilla singkat.
"Bagaimana dengan Alva? Apa dia tidak melarangmu?" Tanya Satria antusias, ia begitu tahu bagaimana keposesifan sahabatnya terhadap Chilla.
Ia rasa Alva tidak mungkin diam saja, mengetahui kabar kalau Chilla sudah memiliki kekasih pujaan.
Mendengar nama Alva, Chilla kembali mengulum senyum.
Lalu dengan cepat ia menggeleng, "Tidak, dia justru mendukungku,"
"Hah tumben sekali. Tapi baguslah, itu artinya dia sudah berubah,"
"Oh ya, kalau sampai pria yang kau sebut pacar itu berani menyakitimu, jangan sungkan untuk mengatakannya padaku. Akan ku hajar dia sampai habis," ucap Satria dengan menggebu.
"Benarkah?"
"Tentu saja, karena pada saat itu aku akan merebutmu darinya." Ucap Satria seraya menampilkan senyum terbaiknya.
"Merebutku? Maksud Bang Sat apa?" Tanya Chilla disertai dahi yang mengernyit heran.
"Heuh, tidak ada. Makanlah, biar kau cepat besar." Seloroh Satria lalu mengusak gemas kepala Chilla.
Tanpa menjawab apapun, Chilla menurut, ia mengangguk lalu kembali memakan makanannya dengan lahap. Sedangkan Satria terus memperhatikan gadis manis didepannya.
Diam-diam ia mengulum senyum.
*****
Di hari yang sama, Yola keluar dari apartemennya, berniat untuk menemui sang kekasih yang sudah beberapa hari ini tidak ia jumpai. Hari itu, Daniel beralasan kalau ia sedang pulang ke rumah, karena mengurus sang Mama yang katanya sedang sakit parah.
Mendengar itu, Yola tak mampu berbuat apa-apa, marahpun rasanya percuma.
Mobil yang di kemudi oleh Yola, mulai melesat di jalan raya, tetapi ia merasa ada yang aneh, beberapa hari ini seolah ada yang membuntutinya. Gerak-geriknya seperti diawasi oleh seseorang.
Dan keyakinan itu kembali diperkuat, saat ia membelokan mobilnya, ia tersenyum miring, sepertinya ada yang ingin main-main dengannya.
Dengan cepat, ia meraih ponsel diatas dasboard, lalu menghubungi Daniel.
"Sayang, sepertinya ada yang mengikutiku. Lebih baik kamu ke apartemenku dulu. Aku menyusul," titahnya pada sang kekasih.
"It's okey baby,"
__ADS_1
Yola mematikan panggilan itu, lalu dirinya sengaja berputar-putar di jalan raya untuk mengulur waktu, hingga di rasa Daniel sudah berada di apartemennya, barulah dia akan kembali.
"Aku bukan perempuan bodoh," desis Yola, yang hanya mampu didengar oleh telinganya sendiri.
Yola memarkirkan mobilnya disebuah restoran cepat saji, memesan minuman dan menyesapnya sedikit. Saat ia merasa sudah cukup lama, ia kembali melajukan mobilnya ke arah apartemen.
Dengan wajah sumringah ia menekan tombol password, dan saat dirinya masuk, Daniel sudah menyambut.
Lelaki itu sudah bertelanjang dada, dengan penuh kerinduan Yola langsung menghambur kedalam pelukan Daniel. Dan menghirup aroma tubuh kekasihnya itu.
"Ck, kenapa lama sekali kau kembali?" Rengeknya dengan manja.
"Oh baby, i am sorry. Tapi Mama benar-benar butuh aku," balas Daniel dengan wajah di buat sendu.
Mendengar itu, Yola hanya memasang wajah cemberut, hingga saat Daniel mulai memberikan apa yang dia mau, Yola kembali tersenyum lebar.
"Berapa yang kau inginkan?" Tanya Daniel setelah mengecup basah bibir Yola. Menggiring tubuh semampai itu berbaring diatas sofa.
"Sampai kau menyerah." Balas Yola seraya menggantungkan tangannya dileher sang kekasih. Menatap dengan gairah yang membuncah.
Mendengar itu, Daniel tersenyum mesum.
"Let's play baby, ku pastikan kau yang menyerah dengan permainanku," tantang Daniel menyeringai.
"Lakukan saja, aku tidak takut." Balas Yola seraya meremat gemas benda yang ada dibawah sana.
******
Jam 3 sore Alva dan Juna telah selesai menemui kliennya. Karena kebetulan mereka bertemu di sebuah restoran dekat pusat perbelanjaan. Terbesit dalam otak Alva untuk membelikan hadiah untuk sang kekasih.
Dia hanya mencintaiku. Satu kalimat itu kini tertanam dalam hatinya.
"Jun," panggil Alva.
Dengan tanggap Juna langsung mendekat, berdiri tepat di samping sang Tuan.
"Aku ingin membeli sesuatu, kau temani aku yah." Ucap Alva seraya kembali melangkah.
Padahal, ia lelaki yang anti dalam berbelanja, tetapi demi sang gadis, ia rela membuang waktunya, hanya untuk sekedar membeli hadiah.
Juna dan Alva baru saja masuk ke pusat perbelanjaan itu, tetapi langkahnya terhenti, begitu telepon genggam milik Alva berbunyi.
Dengan cepat, Alva meraih benda pipih itu dari saku jasnya.
Yola?
"Ada apa?" Tanyanya to the point begitu panggilan itu terhubung. Alva menaruh satu tangannya di saku celana.
"Sayang, kenapa selalu ketus begitu sih?" Balas Yola sedikit merengek. Ia seolah sedang mengais kasih sayang Alva, tapi kelakuannya justru berbanding terbalik.
Diujung sana, tubuhnya masih menyatu dengan Daniel.
"Aku tidak suka berbasa-basi, katakan apa yang kau inginkan?"
"Kamukan sedang di luar kota, pulang bawakan aku oleh-oleh yah," pintanya.
"Hemmm,"
__ADS_1
Lalu tep! Sambungan langsung terputus.
Alva kembali melangkah, dan Juna mengekor di belakang bosnya itu.
Sedangkan wanita diujung sana mengumpat, karena teleponnya dimatikan secara sepihak.
Untuk pertama kali, Alva berhenti di sebuah toko perhiasan. Dengan seksama, ia memindai benda yang berkelap-kelip indah itu, mencari kira-kira manakah yang paling cantik untuk sang kekasih.
"Mana yang paling bagus?" Tanya Alva pada sang asisten.
"Apa Tuan juga ingin—"
"Sudah pilih saja," tukasnya.
Akhirnya Juna mengambil satu yang menurutnya paling memanjakan mata. Kalau saja ia punya kekasih, mungkin ia juga akan memilihkannya satu.
Namun sayang, nampaknya belum ada wanita yang ia anggap cocok untuk mendampinginya.
Padahal sang Mama, sudah ngebet minta cucu darinya, maklum saja. Juna, adalah anak tertua. Ia memiliki dua adik kembar dan kedua-duanya adalah seorang wanita. Masih duduk di sekolah menengah pertama.
Setelah dari toko perhiasan, Alva merasa itu sudah cukup, tetapi begitu matanya menangkap sesuatu yang terlihat menarik, Alva berjalan sedikit mendekat.
Ia tersenyum-senyum, hingga membuat Juna yang berada disampingnya merasa keheranan.
Tadi marah-marah, sekarang senyum-senyum sendiri seperti orang gila.
"Jun," panggil Alva.
"Eh, iya Tuan," balas Juna gelagapan.
Alva meminta Juna mendekatkan telinganya, ia berniat untuk berbisik.
"Aku ingin yang warna merah," bisik Alva.
Juna mengerutkan keningnya, tanda belum mengerti apa yang diinginkan bosnya.
Merah? Merah apa?
Mengerti akan Juna yang belum paham, Alva melirik sang benda dengan ekor matanya. Ia mengulum senyum, sudah dipastikan dirinya akan termanjakan jika Juna berhasil mendapatkan benda tersebut.
Juna mengikuti arah mata Alva, begitu tahu apa yang Alva inginkan, Juna menelan ludahnya kasar.
Hei, yang benar saja. Kenapa disini selalu jomblo sih yang tersiksa.
"Jun, yang merah yah," Alva mengingatkan dengan wajah sumringah.
...****************...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...****************...
Merah-merah apasih lu bang🙄
Dede Chilla nih
__ADS_1