
"Apa???"
Tubuh Nana langsung membeku mendengar pernyataan kekasihnya. Ia menggigit bibir bawah dengan mata yang membulat sempurna.
Ia sesekali melirik Silvia yang tengah memegangi kepalanya, kepala yang masih berdenyut-denyut akibat perbuatan kasar Nana. Bahkan rambut panjang itu sampai rontok, dan berjatuhan di atas lantai dengan percuma.
"Dia tadi abis ngasih aku berkas kerja sama, terus nggak sengaja kepeleset, aku reflek tangkep. Eh kamu dateng." Sambung Juna menjelaskan, agar tidak lagi salah paham.
Sedangkan Nana kembali meneguk ludahnya dengan kasar, wajahnya merah padam menahan malu bukan kepalang. Ia sudah salah sasaran, gara-gara rasa cemburu yang tiba-tiba datang.
Dengan gerakan pelan, Nana membenturkan kepala, dan menyembunyikan wajah itu di dada bidang Juna. "Ya maaf." Sesalnya lirih seraya menilin-nilin jarinya.
Juna mengulum senyum seraya geleng-geleng kepala. Tak menghindar atau menyambut Nana yang sudah merapat ke tubuhnya.
Sedangkan Silvia menghela nafas panjang. Kesal, ingin marahpun rasanya tidak bisa. Tak enakan dengan Juna.
Kalau saja bukan kekasih Tuan Juna. Sudah ku babat habis dia tadi. Seenak udel ngatain aku pelakor.
"Silvia, saya minta maaf ya atas nama pacar saya. Sebenarnya dia baik kok, hanya saja emosinya kadang nggak stabil kalo lagi kesel, apalagi melihat pacar tampannya bersama wanita lain." Ucap Juna tak berhenti dengan senyum lebar. Merasa gemas dengan tingkah Nana.
Mendengar itu, Nana memberikan pukulan keras pada Juna, tidak terima.
Pelan, Silvia mengangguk datar. "Saya sudah memaafkannya, Tuan. Tapi lain kali, tolong beritahu pacar anda supaya tidak lagi gegabah, ini benar-benar menyakitkan." Balasnya dengan menekan kata menyakitkan agar gadis itu mendengar.
Nana mendengus, tangannya kembali mengepal. Hampir saja gadis itu menarik diri, tetapi secepat kilat Juna menahan dengan sekuat tenaga. Ia memeluk erat tubuh gadisnya. Agar tidak ada lagi pertumpahan darah.
Lelaki itu mengangguk ke arah Silvia dan membiarkan wanita muda itu pergi dari ruangan tersebut.
Menyisakan kedua sejoli yang masih saling memeluk. Setelah kepergian Silvia, Juna melepas pelukannya pada tubuh mungil Nana.
Gadis itu menunduk, tak berani menatap wajah Juna, ia malu, sangat malu. Kenapa dia bisa seceroboh ini hanya gara-gara Juna.
Ah sial!
__ADS_1
"Nana Sayang." Panggil Juna menggoda, bahkan lelaki itu membungkukkan badan, demi melihat wajah kekasihnya.
Namun, gadis itu masih bergeming di tempatnya. Menggigit bibir semakin kuat dengan wajah yang gelisah.
"Hei!"
"Ahhhh Kakak. Nana malu." Pekiknya tiba-tiba dengan kaki yang menghentak-hentak lantai.
"Malu kenapa?" Tanya Juna pura-pura.
"Ishhh... Aku kasar banget ya tadi? Ahh aku udah kaya kucing garong nggak makan sebulan. Liat mangsa bawaannya pengen langsung nerkam." Ungkapnya lalu menutup wajah dengan kedua tangan, frustasi sendiri dengan kelakuan bar-barnya.
Mendengar itu Juna terkekeh-kekeh, merasa lucu.
Bukan kucing garong lagi, Na. Siluman harimau kamu mah. Lelaki itu membatin.
"Cemburumu ternyata menyeramkan. Aku jadi takut kalo selingkuh beneran. Kira-kira nanti apa yang kamu lakukan?" Goda Juna ingin terus melihat reaksi Nana. Semuanya bagai ungkapan sebuah rasa, karena katanya cemburu itu tanda cinta, marah tandanya sayang, kalau curiga, itu karena dia takut kehilanganmu. Jangan nyanyi bacanya.
Nana langsung melayangkan tatapan tajam, melupakan rasa malunya, setelah mendengar pertanyaan Juna. "Cih, awas aja. Aku nggak bakal nglepasin kamu sama selingkuhan kamu! Aku bakar hidup-hidup kalian berdua."
Seketika wajah marah itu berganti merah merona. Dengan manja Nana memukul dada Juna. "Ih Kakak." Rengeknya lengkap dengan senyum malu-malu. Kelakuan Juna ternyata mampu meluluhkan perasaannya.
"Oh iya katanya kamu bawa makan, mana?" Tanya Juna mengingat tujuan awal gadis itu.
Nana melebarkan matanya, makanan itu di dalam tote bagnya, tadi ia sempat melemparkannya begitu saja. "Yah Kakak, makanan kamu."
Gadis itu berlari ke arah sofa, di bawah sana tote bagnya tergeletak. Ia langsung mengecek, dan tepat seperti harapannya, ayam kecap buatan sang Mama masih aman, karena ia memakai tupperware yang memiliki tutup yang kuat dan rapat. Ini bukan iklan!
Hah, batin Nana berteriak lega, ia bangkit dan mengajak Juna untuk duduk di sofa.
Kini, keduanya duduk dan saling menyuapi. Juna seperti lelaki bodoh sekarang, senyum-senyum sendiri disela-sela kunyahannya. Mengingat, ia selalu merasa kesal jika sang Tuan sedang berdua dengan istrinya.
Ia selalu membatin, ternyata seperti ini rasanya. Indah, menggelitik bercampur geli bukan main.
__ADS_1
"Na, ada kecap di bibirmu." Ucap Juna sambil memperhatikan gumpalan kecap di sudut bibir kekasihnya.
Nana menarik tangannya, lalu menyentuh mulut. "Mana?" Tanyanya. "Nggak ada." Memperlihatkan tangannya yang bersih.
"Sini." Pinta Juna membuat gadis itu mendekat, tanpa diduga, tanpa aba-aba, ia merasakan benda lembut nan basah menyapu sudut bibirnya. Berlarian hingga bulu romanya meremang seketika.
Bahkan secara tidak sadar, bibir Juna kini sudah bergerak lincah di atas bibirnya. Membuat tubuh Nana membeku, padahal ini bukanlah yang pertama.
Pelan, bola mata itu mengerjap, menatap Juna yang tengah melakukan hal yang sama. Tangan lelaki itu mengambil alih kotak makan milik Nana, dan menaruhnya di atas meja. Namun, Juna sama sekali tak melepaskan ciumannya.
Sudah candu, lelaki itu semakin menuntut lebih, membuat Nana membuka mulutnya. Sedikit demi sedikit gadis itu mulai bisa membalas meski tak sebuas ciuman lelakinya.
Ruangan mulai memanas, meski AC menyala tanpa kendala. Seperti memiliki kesempatan, karena tidak ada yang mengganggu, lelaki itu menelusupkan tangan besarnya, mengelus perut rata kekasihnya.
Tersentak, Nana berusaha mengeluarkan tangan itu dari balik kemeja kebesarannya. Ia masih cukup sadar sebelum makin jauh Juna meneguk dirinya.
Kalah, kekuatan Juna yang lebih besar tak membuatnya menang. Hasrat dewasa mulai mencuat, tubuh atletis itu menggiring Nana jatuh ke atas sofa.
Pagutan mereka terlepas, saat nafas Nana mulai tersengal-sengal. Debaran di dadanya semakin kencang, begitu Juna menatapnya penuh kabut, ia takut.
"Kak." Panggilnya dengan suara yang mendayu. Juna yang masih mengungkung tubuh mungil itu menarik satu sudut bibirnya ke atas, paham dengan pikiran Nana.
Satu tangan itu mengelus lembut pipi Nana, lalu kembali pada posisinya. "Aku tidak akan melakukannya sebelum kita menikah, tapi..." Juna tersenyum menjeda dan kembali mencondongkan wajahnya. "Aku minta DPnya."
Lagi, bibir itu melumaat dengan begitu buas, serangan dadakan tak terelakkan. Hingga lambat laun, gadis manis itu menikmati pagutan yang mereka ciptakan. Decapan-decapan merdu mengisi kosongnya ruang sunyi.
Dapat Nana rasakan sentuhan lembut kembali merayap ke perutnya, berputar-putar dan semakin naik ke atas dan ke atas. Dan ah....
Klek!
"Tuan."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
Udah bacanya? Yuk dilike, dikomen, dikasih hadiah Dede othornya, biar makin semangat, anu dan menganukan anu🤣🤣🤣
Senin nyengir, vote yah❤️❤️❤️❤️