Menjadi Simpanan CEO

Menjadi Simpanan CEO
MIC (Kepala Batu)


__ADS_3

Setelah makan malam selesai, Alva mengajak Shaka untuk masuk ke dalam ruang belajarnya, dengan senantiasa menggandeng tangan Chilla, yang mengekor di belakang suaminya itu.


Sampai di ruangan tersebut, mereka duduk di sofa, dengan posisi berhadapan, dengan meja sebagai pembatas, kini Shaka seperti akan diinterogasi oleh kedua orang tuanya. Entah masalah apa.


Lelaki itu mengangkat kepala begitu sang ayah memanggil namanya.


"Shaka," Alva menatap putra sulungnya itu, menelisik dari atas hingga ke bawah. Shaka memang tumbuh dengan sangat baik, bayi hiunya kini sudah menjadi sosok dewasa yang begitu gagah. Alva sedikit menarik sudut bibirnya, mengingat masa kecil Shaka.


Baby hiuku, Benih tangguhku. Gumamnya dalam hati.


"Ada apa, Dad? Kenapa sepertinya pembicaraan kali ini serius sekali?" tanya Shaka dengan mengangkat satu alisnya, dia menatap Alva dan Chilla bergantian.


Alva menarik nafas dalam-dalam, lalu membuangnya secara perlahan, dia masih sangat ingat saat dirinya dipaksa untuk menikah dengan jalur dijodohkan, hal itu sangat tidak menyenangkan. Sebenarnya dia tidak mau hal ini terjadi juga pada Shaka, tetapi situasi sepertinya mendukung agar dia melakukannya.


"Shaka, Mommy dan Daddy sebelumnya sudah membicarakan hal ini. Dan pertanyaan Mommy saat di meja makan itu bukan pertanyaan konyol, kami memang ingin tahu apa kau sudah memiliki seorang kekasih dan siap untuk menikah?" tanya Alva dengan sungguh-sungguh. Ingin tahu kebenarannya, kalau memang sudah bukankah itu hal yang bagus?


Dia tidak perlu repot-repot menjodohkan Shaka.


Mendengar itu, kening Shaka makin mengerut. "Shaka belum memilikinya. Dan Shaka juga belum berpikir untuk menikah." jawab Shaka apa adanya, dia membuang muka mengalihkan pandangan.


Entah apa yang membuatnya betah sendiri. Hanya dia yang tahu. Alva memandang ke arah Chilla, meminta pendapat dengan sorot matanya, dan wanita itu hanya mengangguk.

__ADS_1


"Shaka, usiamu itu sudah pantas untuk menikah. Dan sampai sekarang kau belum juga memiliki kekasih, mau sampai kapan?"


"Dad, bisakah kita ganti saja topik pembicaraannya?" cetus Shaka tak suka, dia merasa bosan jika yang dibahas adalah masalah wanita.


"Shaka ini demi masa depanmu. Kalau kau memang tidak bisa mencarinya sendiri, Daddy dan Mommy berniat menjodohkanmu. Daddy pastikan dia adalah perempuan baik-baik, dan dari keluarga yang baik pula," tegas Daddy Alva, ingin sekali saja menyinggung soal pernikahan pada putranya.


Karena selama ini, yang dia tahu Shaka hanya sibuk bekerja, bekerja dan bekerja. "Kau itu sudah mapan, tampan, tapi sayang senjatamu belum bisa digunakan!" cibir Alva.


Cih, bisa-bisanya Daddy bicara seperti itu di saat seperti ini. Batin Shaka merutuk.


"Sayang, ayolah. Setidaknya kamu coba dulu." Wanita beranak lima itu mencoba untuk memberi saran.


Shaka mendesah kecil. "Memangnya wanita mana yang mommy dan daddy jodohkan dengan Shaka?"


"Shaka tidak mau!" tolaknya mentah-mentah dengan tangan yang melipat di depan dada.


"Lho? Kenapa? Raisa itu cantik dan baik, Sayang. Mommy bilang coba dulu, kita tidak akan memaksamu jika nantinya kamu memang tidak mau." jelas Chilla, dan langsung mendapat anggukan dari Alva.


"Tidak ada salahnya untuk mencoba, Shaka. Siapa tahu dia memang jodohmu, memangnya kau mau jadi perjaka tua?" ucapan Alva mampu membuat Shaka mendelik. Sementara perutnya langsung mendapat cubitan dari sang istri.


"Aw! Sakit, Sayang. Kenapa kau mencubitku?" keluh Alva.

__ADS_1


"Jaga bicaramu, Kak. Kata-kata itu adalah doa," cerocos Chilla menggebu, dan Alva langsung menarik kembali ucapannya. Sebelum wanita disampingnya marah-marah.


Kemudian mereka kembali fokus membicarakan tentang masa depan Shaka, tetapi selama itu, Shaka belum setuju tentang perjodohannya dengan Raisa, bahkan dia terus menolak saat sang ibu terus membujuknya untuk memperkenalkan diri terlebih dahulu.


Seperti kata pepatah, tak kenal maka tak sayang. Tapi Shaka memang seperti Alva, si kepala batu. Dengan keras dia tetap menolak.


"Kalau memang Daddy dan Mommy mau menjodohkan Shaka, Shaka terima. Asalkan dengan satu syarat," ucap Shaka serius, menatap ayah dan ibunya bergantian dengan tatapan tak main-main.


"Syarat apa, Sayang? Kamu mau apa?" tanya Chilla yang sangat berantusias, dia mau menuruti syarat itu asalkan Shaka mau dijodohkan.


"Shaka mau dijodohkan, asalkan dengan Beby Amara," tegasnya.


Alva dan Chilla saling memandang.


"Hah, Beby Amara?" kompak keduanya mengulang nama yang disebutkan Shaka.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Udah bacanya? Yuk dilike, dikomen, dikasih hadiah Dede othornya, biar makin semangat, anu dan menganukan anu🤣🤣🤣


Sudah mulai update yah 😍😍😍 yuk dukung author juga di sana.

__ADS_1



__ADS_2