
Satu Minggu berlalu, proyek yang di jalankan antara Antarakna group dan L group telah berjalan, tetapi entah kenapa, hari ini Alva meminta proyek itu di hentikan secara tiba-tiba.
Hingga membuat lelaki yang menjabat sebagai wakil Presdir di L group itu, terpaksa menemui pimpinan Antarakna group.
Dan disinilah Daniel sekarang, duduk berhadapan dengan Alva, di ruangan lelaki tersebut.
Tak ada basa-basi, Daniel langsung meminta alasan mengapa Alva tiba-tiba menghentikan proyek itu. Alva tidak sedang main-main bukan? Ini proyek cukup besar.
"Kau ingin tahu alasannya?" Tanya Alva dengan wajah datar, ia melipat tangannya di atas meja yang menjadi pembatas antara dirinya dengan Daniel. Didepannya ada laptop yang sedari tadi layarnya tak berhenti untuk hidup.
"Tentu saja, kau tiba-tiba melakukan ini semua, atas dasar apa?" Balas Daniel dengan sengit. Ia sudah mau terjun ke dunia perusahaan itu sudah sangat bagus, namun apa jadinya jika proyek yang ia pegang malah di batalkan begitu saja.
Mendengar itu, Alva justru terkekeh, "Kau ingin aku melanjutkannya? Pasti kau takut di marahi Ayah dan Kakakmu yah?" Ledeknya.
Daniel bangkit, merasa di lecehkan, ia meraih kerah kemeja Alva dengan kuat, "Jangan main-main denganku," ancamnya dengan sorot mata tak ramah. Wajahnya memerah, menahan marah.
Bugh!
Alva mendorong tubuh lelaki itu mundur, hingga terjengkang dan hampir mengenai Juna, tatapan Alva menyalak tajam, membalas apa yang di lakukan Daniel kepadanya, seolah jijik, ia mengibaskan kemeja yang telah di sentuh lelaki itu. "Bukankah kau yang bermain-main di belakang ku?" Ucap Alva penuh penekanan.
"Apa maksudmu?" Pekiknya dengan lantang.
Alva bertolak pinggang, mendekati Daniel yang terlihat sudah sangat murka. "Tunanganku, kau bermain-main dengannya bukan?"
Mendengar itu, Daniel terhenyak, ia menelan salivanya dengan susah payah, bagaimana Alva tahu hubungannya dengan Yola? Apa orang yang mengikuti Yola itu sebenarnya orang suruhan Alva? Dan lelaki itu sengaja, meminta dirinya untuk menjalankan proyek ini, agar bisa menjebak dirinya.
"Kenapa kau diam?" Tanya Alva saat melihat Daniel hanya bergeming di tempatnya. Ia tahu lelaki dengan paras kebulean itu tengah bingung.
"Aku tidak mengerti maksudmu, lagi pula itu masalah pribadi, kenapa kau membawanya ke pekerjaan?" Elak Daniel, setidaknya ia masih bisa mengelak, karena ia tidak melihat Alva memiliki bukti yang kuat, dan ia yakin, lelaki itu ingin memanfaatkan dirinya.
Sebagai seseorang yang hanya berandalkan nafsuu, Daniel tidak mau terjerat dengan hubungan penuh drama, dan ikut campur dalam masalah apapun.
Alva mendengus, ia berjalan ke arah meja kebesarannya, memutar laptop, "Lihat ini, aku yakin, kau akan berubah pikiran setelah melihatnya," ucapnya.
Mata perak Daniel langsung tertuju pada benda yang sedang menyala itu, menampilkan video dirinya yang sedang berusaha menggoda Silvia kala itu. Namun, tak berhasil, mengingat Silvia adalah wanita baik-baik yang tidak mudah tergoda oleh lelaki buaya darat, macam Daniel.
Shitt!
"Bagaimana, bukankah itu juga masalah pribadi? Kau dengan berani menggoda sekertarisku, bahkan di ruang kerjaku. Jangan kau pikir CCTV di ruangan ini hanya satu." Alva melirik CCTV yang lain dengan ekor matanya, yang kala itu menyorot dengan jelas kelakuan Daniel. "Kau sengaja membelakanginya, tetapi kau tetap tertangkap basah," remeh Alva dengan tersenyum smirk.
Daniel mengambil nafas, dan membuangnya secara kasar, ia kalah telak, "Apa yang kau inginkan?" Tanyanya dengan sorot mata yang sama.
Alva menyunggingkan senyum, tidak sia-sia usahanya membawa Daniel ke perusahaan ini, lelaki itu menepuk bahu Daniel dengan keras. "Ikuti semua kemauanku, maka semuanya akan berjalan dengan lancar."
*********
Pukul 4 sore, saatnya matahari semakin condong ke arah barat, Alva baru saja keluar dari perusahaannya. Langkahnya terhenti, dan diikuti oleh Juna yang setia di belakangnya.
Ponselnya berdering, tanda panggilan masuk, ia merogoh benda pipih tersebut, dari saku jasnya. Sebelum menekan icon hijau di layar, ia bergeming sejenak, membaca nama si penelepon.
Tante Sarah?
Tak membuang waktu, Alva langsung mengangkat panggilan dari calon ibu mertuanya tersebut.
"Halo Tante, ada apa?" Tanyanya saat panggilan terhubung.
"Halo Al, Al apa Chilla ada bersamamu, Nak?" Tanya Sarah dengan suara cemas.
__ADS_1
"Tidak, hari ini dia tidak datang, apalagi menghubungiku, memangnya, ada apa dengan Chilla?"
"Dari pagi dia keluar tanpa memberitahu orang rumah Al, bahkan dia tidak menjawab panggilan Tante, Tante khawatir Al," jelas Sarah.
"Apa Tante sudah menghubungi sahabatnya?"
Sarah mengangguk, seolah orang yang di seberang sana tahu apa yang di lakukannya, "Sudah Al, tapi Nana bilang Chilla tidak kesana,"
Shitt!
Gurat di wajah Alva berubah pias saat memikirkan gadisnya, "Tante tenang saja, Alva akan cari Chilla sampai ketemu, hubungi Alva kalau ternyata dia sudah berada di rumah," ucap Alva cepat.
Setelah Sarah memutuskan panggilannya, Alva langsung menyuruh asistennya itu, untuk melacak ponsel gadisnya. Tak lupa juga, untuk mengerahkan seluruh bawahannya, ikut mencari keberadaan Chilla.
"Bagaimana Jun?" Tanya Alva, kini mereka sudah berada di jalan raya, jalan yang padat, dan terkadang juga macet, karena terlalu padatnya penduduk.
"Nona menonaktifkan ponselnya, Tuan," balas Juna dengan jujur.
Bugh!
Alva meninju kursi kemudi yang diisi oleh Juna, perasaannya tidak karuan, mengingat kalau ada seorang gadis yang bisa saja melukai Chilla. Apa ini semua ada sangkut pautnya dengan Yoona?
"Dimana letak terakhir ponselnya aktif?" Tanya Alva cepat.
"Grand mall, Tuan,"
"Tunggu apalagi? Cepat kesana!" Pekik Alva tak sabaran, sikap emosional itu kembali muncul saat sesuatu mengenai gadisnya.
"Bagaimana dia bisa seceroboh ini? Kenapa tidak menghubungiku, apa dia gila? Bangsatt, Apa dia tidak ingat ada orang yang menginginkan nyawanya?" Makinya sebagai pelampiasan rasa kesal, mulutnya seolah tak ada lelah untuk mengumpat.
Membuat telinga Juna panas, dan tak bisa berkonsentrasi dengan baik.
Sringg... Tatapan tajam serta mengintimidasi langsung Alva layangkan pada sang asisten, membuat suasana di sekitar serasa menusuk, dan tidak memiliki lingkar udara.
"Kau menyuruhku tenang? Sedangkan gadisku entah dimana? Bagaimana denganmu? Kau bahkan langsung pergi meninggalkan perusahaan saat tahu gadis itu dalam keadaan terancam, otakmu dimana Juna!!!" Memekik kesal, kembali menendang kursi didepannya.
Glek!
Yang waras ngalah Juna. Itu saja, sudah cukup. Kamu bahkan sudah tahu, bagaimana bos gila ini marah, jika itu menyangkut gadis bernama Chilla.
"Maafkan saya, Tuan," Juna mengambil nafas, dan menghelanya dengan ringan. Minta maaf, dan jangan banyak bicara. Sepertinya itu adalah kuncinya.
Alva memijit pelipisnya, sangat kesal di sertai rasa cemas yang luar biasa. Bagaimana kalau terjadi sesuatu dengan Chilla? Bagaimana kalau dia terlambat datang, dan penyesalan yang akan ia terima? Sampai ke pemikiran yang tergila, ya sejauh itu Alva memikirkan gadisnya, yang entah ada dimana.
Semua orang suruhan Alva sibuk, menyusuri tiap jalan di sekitar grand mall, serta menggeledah pusat perbelanjaan itu. Tetapi salah satu dari mereka belum ada juga yang menemukan gadis berponi tersebut.
Tak terkecuali juga dengan Alva, ia mendesaah kesal, kepalanya terasa ingin pecah, tetapi tiba-tiba saja, matanya menangkap sosok gadis yang tengah duduk sendirian, membelakangi jalan.
"Jun," Juna langsung berhenti, begitu sang Tuan memanggil namanya, di susul tepukan di bahu yang terasa begitu kuat.
Semoga ia tidak salah, semoga itu adalah Chilla.
Sedangkan di kursi taman dekat dengan sekolah, Chilla duduk termangu sendirian, memikirkan permintaan ayah dan ibunya, yang tiba-tiba menginginkan ia melanjutkan studi ke luar negeri. Ya, pagi sebelum berangkat bekerja, Pram dan juga Sarah membicarakan keinginan mereka pada Chilla.
Namun, dengan mentah-mentah gadis itu menolaknya. Bahkan ia marah, saat sang ayah dengan keras memaksanya.
Seharian ini, Chilla seperti orang yang tak tentu arah, berjalan kesana kemari, tanpa tujuan yang jelas hanya karena ingin membebaskan pikirannya. Ia sengaja mematikan ponsel, tidak ingin di ganggu oleh siapapun.
__ADS_1
Namun, lamunan itu buyar, ketika satu pundaknya di sentuh oleh seseorang, ia berbalik, dan menatap orang yang ada di belakang punggungnya.
"Bryan?"
Alva kembali kecewa, karena yang gadis yang duduk disana bukanlah Chilla, ia menarik rambutnya frustrasi, kenapa anak buah sebanyak ini tak ada satupun yang bisa menemukan gadisnya.
Matahari semakin condong ke arah barat, menyisakan gurat merah, tanda malam akan menjelang, namun Alva masih belum menyerah, rasa lelahnya bekerja tak di hiraukan sebelum Chilla di temukan. Sampai pagi sekalipun.
Tanpa meminta pendapat Alva, dengan kecepatan cukup tinggi, dan berkejaran dengan waktu, Juna memutar arah menuju sekolah, entah kenapa ia ingin memastikan kesana.
Kecepatan mobil itu melamban, menyusuri lorong jalan yang ada disana, pandangan mata Juna tak lepas dari tempat-tempat yang biasanya digunakan orang untuk menyendiri.
Ia tahu bagaimana rasa cemas yang sedang melanda Tuannya, karena ia pun pernah merasakan itu. Dan ia sangat yakin, tanpa berkata pun, ini sudah menjadi bukti, bahwa Alva sudah benar-benar menjadikan Chilla sebagai tambatan hati.
"Tuan," panggil Juna, kedua netranya menangkap dua sosok anak manusia, yang kini berada di taman dekat sekolah.
Alva yang semula hanya bersandar di punggung kursi, langsung bergerak antusias, "Apa kau melihatnya?" Tanyanya cepat.
Juna melirik gadis yang tengah berdiri, sepertinya gadis itu memutuskan untuk pergi.
Alva mengikuti arah pandangan mata Juna, seketika dadanya bergemuruh, ada sengatan yang mendebarkan sekaligus membahagiakan, bibir Alva tertarik keatas, saat sosok bertubuh mungil yang ia cari berada tak jauh darinya.
Tanpa ba bi bu, Alva keluar dari dalam mobil, menyeret kakinya dengan kasar untuk menemui sang gadis yang sudah mengobrak-abrik isi hatinya itu.
Di tariknya lengan mungil itu, hingga tubuh Chilla langsung masuk dalam dekapan Alva. Lelaki itu bernafas dengan lega, tidak terjadi sesuatu apapun terhadap Chilla.
"Kau hampir saja membuatku gila, kenapa kau begitu bodoh, pergi dari rumah tanpa memberitahu siapapun? Aku mencarimu kemana-mana, tapi ternyata kau disini," Rancaunya dengan suara yang parau. Alva mengeratkan pelukannya, kepalanya ia letakan di ceruk leher Chilla, tak peduli pada Bryan yang menonton tindak-tanduk mereka.
"Kau mau membunuhku? Kenapa? Kau mau membalasku karena selalu marah-marah padamu? Hem?"
Karena terkejut, sesaat Chilla hanya mematung, sambil mendengarkan ocehan dari mulut lelakinya, dan detik berikutnya ia justru tersenyum dan mulai membalas pelukan Alva.
Tak menyangka, kalau lelaki ini begitu khawatir padanya, dan itu semua sukses membuat angan dalam hatinya, kembali melambung tinggi ke angkasa dan menembus cakrawala.
Rasa cinta itu semakin membuncah.
Alva melerai, di tangkupnya dua sisi pipi Chilla yang terasa semakin chubby, "Kenapa kau tersenyum? Kau senang melihatku seperti ini?" Baju acak-acakan, wajah lesu tidak karuan, jangan lupakan tubuhnya yang bau asam.
Chilla mengangguk sambil terus melengkungkan bibir, "Itu artinya Kakak mengkhawatirkanku, benar begitu?"
"Tentu saja, kau gadis bodoh, gadis yang tidak tahu aturan, gadis gila yang pernah aku kenal, gadis nakal..."
Cup
Bibir itu mengatup. Namun, tidak akan hanya menjadi sebuah kecupan jika itu menyangkut gadisnya, Alva menelusupkan tangannya untuk menahan tengkuk Chilla, sedangkan lidahnya menerobos masuk untuk menikmati decap manis, hingga perasaan cemas itu benar-benar menguar entah kemana.
"Dan jangan lupakan, aku gadis yang mencintaimu." Mendongak dengan binar mata yang terlihat menggenang di sertai kekehan.
Tak menjawab, Alva memejamkan mata, lalu kembali merengkuh tubuh mungil Chilla, lidahnya selalu kelu, jika itu menyangkut perasaannya, biar saja, biar Chilla merasakan itu dengan segala tindakannya, bukan hanya sekedar kata-kata.
...****************...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...****************...
Gambarannya🌞
__ADS_1