
Sesuai rencana mereka semalam. Alva dan Chilla akan membawa Shaka untuk pergi ke sebuah pusat perbelanjaan. Dan entah ada angin apa hari ini Chilla berdandan sedikit mencolok, membuat Alva yang baru saja keluar dari ruang ganti baju langsung memicing tajam ke arah ibu muda itu.
Langkah lebarnya membawa dia dengan cepat untuk berdiri di hadapan Chilla. Alva menelisik tubuh ramping wanita itu, dari atas hingga ke bawah, dress merah melekat pas, dengan polesan wajah yang terlihat begitu sempurna.
"Honey, kau mau pergi dengan penampilan seperti ini? Kau terlalu cantik," ujar Alva dengan intonasinya yang sedikit meninggi, melihat Chilla yang seperti itu entah kenapa dia mendadak gusar.
Membayangkan tubuh dan wajah istrinya dinikmati oleh banyak orang. Cih, dia tidak sudi untuk berbagi.
Chilla yang baru saja mengoleskan lipstik merah merona di bibir tipisnya, sontak saja menoleh saat Alva bertanya padanya.
Dia bergerak untuk bangkit, satu tangannya terulur dan mengelus sayang pipi Alva. "Apa salahnya, Sayang? Aku kan mau pergi denganmu dan Shaka."
Namun, karena keberatan Alva justru menggelengkan kepalanya cepat. "Tidak! Aku tidak mau kau berdandan secantik ini saat keluar rumah. Cukup bersamaku!" Tegas Alva, sorot matanya belum melunak, menandakan dia benar-benar tidak suka.
Mendengar itu, Chilla mendesah kecil, lalu mencebik, masalah penampilan saja bisa serumit ini jika menyangkut lelaki satu ini. "Kalau begitu tidak usah pergi saja." Ketus Chilla, dia menurunkan tangannya dari pipi Alva dan berganti melipat di depan dada. Pura-pura marah.
Alva memejamkan matanya sejenak, dia langsung merengkuh pinggang ramping Chilla. "Honey, aku hanya tidak suka kalau kau menjadi pusat perhatian. Bisa-bisa tanganku tak tinggal diam, untuk menghajar siapa saja yang melirikmu." jelas Alva tak main-main.
__ADS_1
Tak ada yang boleh menyukai miliknya. Apalagi wanita satu ini.
"Iya sudah tidak usah pergi, kita akan di rumah seharian!" Chilla masih kukuh dengan keputusannya. Dia mencoba melepaskan rengkuhan Alva.
Dan lelaki satu ini tidak diam begitu saja. Akhir-akhir ini Alva memang tidak bisa berkutik, jika Chilla sudah marah padanya.
Hingga akhirnya lelaki tampan itu menghela nafas dan mengangguk pasrah. "It's okay. Tapi hapus dulu lipstikmu, dan tetaplah berdiri di sampingku, karena aku tidak mau satu detik pun kau menghilang dari pandanganku."
Mendengar itu, senyum di bibir Chilla langsung mengembang, dengan gerakan cepat dia melumaat bibir Alva menghilangkan lipstik di bibirnya dengan mencium lelaki itu.
Hingga cukup lama mereka berpagut, Chilla melepaskannya lebih dulu, sebelum Alva bertindak semakin jauh.
"Of course, kau memang harus menurut! Mommy Shaka tidak mungkin jadi pembangkang kan?" Alva mengelap jejak basah di bibir Chilla menggunakan ibu jarinya.
Chilla menganggukkan kepalanya, Alva melepaskan rengkuhan itu, dan berganti menggenggam tangan Chilla untuk keluar. Mereka yakin, Shaka dan Daniah sudah menunggu, di kamar bayi tampan itu.
Namun, sebelum benar-benar keluar dari kamar, di ambang pintu Alva menghentikan langkahnya, membuat Chilla ikut berhenti pula.
"Daddy, kamu kenapa Sayang?" Tanya Chilla, melihat Alva memegangi kepalanya, dan menggeleng-geleng kecil. Mengusir pening yang tiba-tiba datang.
__ADS_1
"Kepalaku hanya sedikit pusing, Sayang." Alva menatap Chilla, dia tersenyum untuk meyakinkan wanita itu bahwa dirinya baik-baik saja.
"Ya Tuhan... Apa perlu minum obat dulu?" Chilla cemas, dia menangkup satu sisi wajah Alva, kulit lelaki itu memang terlihat sedikit memucat.
Namun, Alva yang tak ingin merusak rencana mereka, dia hanya menggelengkan kepala. "Aku tidak apa-apa, Sayang. Percayalah."
"Baiklah, tapi kalau memang pusingnya belum juga hilang, bilang padaku yah," ucap Chilla dan langsung dijawab iya oleh Alva.
Dan akhirnya, keluarga kecil itu pun keluar dari rumah besar itu. Di teras, Mona melepas cucu kesayangannya dengan ciuman gemas di pipi kanan dan kiri Shaka.
"Mama mau keluar juga?" tanya Alva, melihat Mona dengan pakaian rapih, dia yakin ibunya juga hendak pergi.
"Iya, Al. Papa ngajak Mama ke acara mantan rekan kerjanya dulu," balas Mona, sementara tangannya menggelitiki perut Shaka. Bayi tampan itu tertawa renyah karena merasa kegelian.
Alva manggut-manggut. "Yasudah, Mama dan Papa hati-hati. Kita pergi dulu." Alva pamit, dia mengecup pipi Mona singkat, lalu mengelus kepala putranya yang ada dalam gendongan Chilla.
"Let's go my handsome boy."
__ADS_1