Menjadi Simpanan CEO

Menjadi Simpanan CEO
Dalang


__ADS_3

"Padahal dia teman dekatku. Tapi dia juga yang merebut wanitaku." Ungkap SA.


Sepenggal kalimat.


Alva menatap nanar, ludahnya terasa tercekat membaca salah satu artikel itu. Otaknya mulai menerka-nerka, bertanya pada dirinya sendiri.


Namun, rasanya ia tidak percaya, sudut hatinya mengatakan kalau itu semua bohong, lelaki itu tidak mungkin melakukan itu padanya, tapi kalau boleh ia berburuk sangka, ada kemungkinan juga, lelaki itu ingin membalas dendam kepadanya.


Apalagi terakhir kali mereka bertemu, Satria mengatakan sudah tidak sudi mengenal dirinya.


Ya Tuhan...


Satria? Benarkah?


Kepala Alva mulai terasa pening, berdenyut tak menentu. Jika itu benar, lantas apa yang akan ia lakukan?


Tidak mungkin!


Lelaki itu langsung menepis semua pemikiran bodoh itu, ia mencoba menjernihkan otaknya. Ia terus menggeleng, karena sebelum adanya bukti, ia tidak mau berpikir yang tidak-tidak. Karena ada kemungkinan, orang yang menyebarkan berita tersebut, hanya ingin ia mengadu keduanya, agar berselisih paham.


Jangan gegabah Alva. Lelaki yang sudah berubah status menjadi suami itu terus mengingatkan dirinya.


Alva kembali menatap Juna, dan memerintah lelaki itu untuk meminta bantuan.


Namun, sebelum Alva meminta itu, Juna sudah menghubungi seseorang itu lebih dulu. Walaupun begitu, Alva tetap mengajak sang asisten kembali mengotak-atik laptop tersebut, ikut mencari dalang di balik halaman website artikel-artikel itu tersebar.


Juna yang mengambil alih kendali, sedangkan Alva yang mengarahkan. Keduanya terlihat fokus dan kompak, jari jemari Juna begitu lihai berselancar diatas keyboard.


Namun saat meng-klik!

__ADS_1


Sistem error. Semua langsung berubah abu-abu.


Shitt! Damn it!


"Ada apa ini, Jun?" Tanya Alva menunjuk ke arah layar yang masih menyala itu. Dahinya mengkerut, kembali bingut dengan situasi ini.


Juna mengernyit heran. Ia menggerakkan jarinya, membolak-balik halaman, namun hasilnya sama. "Sepertinya berita itu sudah terhapus, Tuan." Terangnya sedikit lega.


"Jun, jangan bercanda. Kenapa bisa terhapus begitu saja?" Pekik Alva tak percaya. Matanya bergerak kesana-kemari, mencoba memecahkan teka-teki ini.


"Mungkin orang kita berhasil meretasnya." Ungkap Juna menebak.


Mulut Alva menganga dengan mata membulat sempurna. "Secepat itu?"


Tak mau menduga-duga, Juna kembali menghubungi orang suruhannya. Tepat, di panggilan pertama, seorang pria sudah mengangkatnya.


Juna tercengang, pun dengan Alva, karena lelaki itu mengaktifkan loud speaker, agar bisa mendengarkan bersama.


"Kenapa bisa seperti itu?" Tanya Juna, melihat Alva yang diam tak bersuara.


"Entahlah, Tuan. Tapi itu yang terjadi."


Mendengar itu, Alva menjambak rambutnya frustasi, lalu menggebrak meja dengan keras. "Persetan, apa maksud semua ini?"


**********


Yolanda tertawa puas, hari ini ia berhasil membuat berita itu tersebar luas. Dan pastinya hal itu cukup membuat Alva dan gadis itu, tidak memiliki muka didepan umum.


Wanita itu merasa bersyukur, dapat bertemu Satria di club waktu itu, walaupun tidak dapat diajak bekerja sama, setidaknya Satria membuatnya memiliki ide yang brilian, dengan menjadikan lelaki itu sebagai kambing hitam atas kemurkaan Alva. Ya, sebut saja judulnya adu domba. Tapi nggak usah pake nyanyi yah.

__ADS_1


Ia yakin, Alva pasti langsung bisa menebak siapa dalang dibalik itu semua, dengan inisial yang ia sebutkan. Ia merasa benar-benar pintar sekarang.


"Sebentar lagi mereka pasti berkelahi." Tebak Yolanda, lalu kembali bersulang dengan adiknya, Yoona.


Kedua wanita itu tak berhenti untuk tertawa, karena akhirnya bisa membalas dendam pada orang yang sama. Gadis manis bernama Archilla.


Ya, merekalah dalang di balik drama hari ini, keduanya telah membayar seseorang yang berada di lembaga berita portal online, bayaran yang cukup besar. Tanpa sepengetahuan siapapun, Yola meminta berita itu di sebarkan sebanyak-banyaknya, ia berjanji tidak akan membongkar identitas seseorang tersebut. Dan menjamin semuanya.


Hingga membuat seseorang itu tergiur, dan akhirnya mau bekerja sama dengan Yolanda. Pagi tadi, ia langsung melaksanakan tugasnya, tanpa ada rekan dan seseorang yang membantunya, ia meng-up berita tentang Alva dan Chilla. Berita yang sudah ia tulis beberapa hari sebelumnya.


Yola sudah sangat muak, ia ingin Alva juga hancur seperti dirinya.


"Haha, aku yakin semua orang pasti akan membencinya, menatap jijik bagai sampah, terlebih teman sekolahku, pasti saat kelulusan nanti, dia tidak akan berani datang." Ucap Yoona girang sambil tepuk tangan, rasanya hari ini ia telah kembali hidup, setelah menyimpan banyak kebencian, akhirnya ia bisa menguapkannya.


Pikiran picik telah menutup pintu hatinya, hingga kedengkian selalu menyelimuti, memikirkan Bryan semakin terasa jauh untuknya, membuat ia semakin membenci Chilla.


"Iya Dek, pasti sekarang jalangg sialan itu lagi nangis-nangis dikamar." Cerca Yolanda lalu terbahak-bahak. Di susul tawa Yoona yang memecah. Membenarkan perkataan Kakaknya.


Setelah membaca semua berita itu, keduanya kompak mengadakan pesta kecil-kecilan untuk merayakan, Yola membeli beberapa minuman dan makanan, dan mengajak adiknya untuk datang ke apartemen miliknya.


Mereka hanya berdua, karena hubungan Yola dengan Daniel telah kandas, setelah konferensi pers itu terjadi, lelaki itu bagai di telan bumi. Menghilang tanpa meninggalkan jejak sedikitpun. Yola yakin, Daniel telah kembali ke luar negeri, tetapi ia tidak ambil pusing, karena masih banyak lelaki yang mengantri.


Siapa yang akan menolak pesona seorang Yola? Dan hanya lelaki bodoh seperti Alva, jawabannya.


Ruangan itu kembali diisi gelak tawa Yola dan Yoona.


Kakak beradik yang kompak, satu musuh, dan memiliki tabiat yang sama. Membuat mereka melakukan ini semua tanpa pikir panjang. Mereka tidak tahu, esok ada balasan yang akan segera mereka dapatkan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


__ADS_2