Menjadi Simpanan CEO

Menjadi Simpanan CEO
Menunjukkan bukti


__ADS_3

"Jangan kejar aku lagi, aku mohon injak remnya dan putar arahmu, jika kamu memang tidak mau terluka lebih dari ini. Berulang kali, aku sudah bilang, aku tidak menyukaimu, aku sudah punya orang yang aku cintai, tapi kenapa kamu belum juga mengerti, Bryan?"


"Bahkan kamu tidak tahu, karena tindakanmu yang selalu berusaha mendekatiku, aku hampir saja terluka, dan itu semua karena orang yang menyukaimu. Tapi aku tidak akan menyalahkanmu, karena itu semua di luar kendalimu..."


"Kamu pasti tahu bagaimana rasanya jadi aku, ibaratnya begini, kamu jadi aku, dan Yoona jadi kamu, apa rasanya menyenangkan? Selalu di kejar-kejar oleh orang yang tidak kita sukai? Apa kamu tidak merasa risih?"


"Aku tahu, ucapkanku ini jahat. Tapi, aku lakukan ini semua hanya karena ingin kamu berhenti, Chilla tidak mau lagi dalam celaka Bryan, aku juga tidak mau membuat kamu semakin sakit hati..."


"Aku ikut senang, karena akhirnya kamu berubah menjadi baik, tapi jangan karena aku. Lakukan semuanya karena dirimu, karena dengan itu, kamu akan tetap jadi kamu apapun yang terjadi..."


"Aku tidak yakin mengatakan ini padamu, tapi pada kenyataannya, aku memang bukan gadis baik-baik seperti yang kamu pikirkan." Bryan langsung menatap ke samping, di lihatnya gadis itu mengelap pinggiran matanya, cairan yang sedari tadi menggenang, mengalir begitu saja. "Aku tidak lebih dari seorang selingkuhan dari lelaki yang ku cintai, dan kamu tahu? Siapa lelaki itu? Dia Kak Alva, tunangan Kak Yola. Aku benar-benar ada di tengah-tengah mereka sekarang, bukankah itu menyedihkan?"


Chilla menunduk dalam, terus memandangi sepatu kets yang ia kenakan sore itu. Jarinya senantiasa menilin-nilin ujung bajunya sambil menahan isak.


Hening.


"Kenapa kamu juga tidak menyerah saja? Kamu tahu itu menyedihkan, tetapi kenapa kamu perjuangkan?" Tanya Bryan, semakin menatap dalam gadis berponi tersebut.


Ia pun berpikir begitu, kenapa seseorang lebih suka memperjuangkan sesuatu yang belum tentu kita dapatkan. Namun, itulah manusia, memiliki jiwa pemburu, dan rasa penasaran yang begitu luar biasa, jika belum mendapatkan apa yang di inginkannya.


Gadis itu tersenyum, lalu bangkit. "Aku tidak bisa, aku dan dia sudah terlalu jauh, dan setelah ini, aku akan melihat akhirnya, aku akan bahagia, atau sebaliknya."


Di bawah sinar bulan yang menggantung dengan tenang, sepoi angin menggoyang-goyangkan dedaunan, seorang pemuda dengan alis tebal, tengah menarik dan menghembuskan benda bernikotin yang mengapit di kedua jarinya, ini sudah batang ke enam yang ia hisap.


Semua ucapan Chilla sore itu, benar-benar membekas dalam ingatan Bryan, kecurigaan terhadap Alva juga sudah di jawab sendiri oleh gadis itu. Chilla memiliki hubungan dengan Alva, gadis itu menjadi orang ketiga?


Kenapa dia memilih jalan itu? Terlintas satu pertanyaan dalam otaknya.


Namun, seolah terkalahkan, saat dengan jelas ia melihat, bagaimana Alva mengkhawatirkan keadaan Chilla saat gadis itu tak ada di sisinya. Dan tanpa segan Chilla mencium lelaki itu di depannya, pun dengan Alva yang langsung menyambut begitu antusias tanpa memperdulikan adanya dirinya diantara mereka.


Dadanya terasa sesak saat menyaksikan itu semua, ia yakin Chilla sengaja, ingin menunjukkannya, namun semua itu membuatnya jelas, sedikit demi sedikit, ia bisa membuka kedua matanya, sadar bahwa ia tidak akan pernah bisa masuk kedalam hati Chilla.


Sedikitpun, kamu tidak akan pernah ada.


Yeah, baiklah...


I will stop, my sweet girl...


*******

__ADS_1


Juna meletakkan amplop coklat di meja Alva, berisikan bukti-bukti pengkhianat Yola di belakang sang Tuan, yang akan di serahkan pada Jonathan.


Lelaki itu sendiri yang memintanya hari ini, secepatnya, ia akan menyingkirkan Yola dalam hidupnya, dengan tersenyum smirk Alva mulai membuka amplop tersebut.


"Semua yang anda minta sudah ada disana Tuan," ucap Juna.


Alva mengangguk, bahkan ia sudah menyiapkan rencana untuk menjebak Yola. Dan sore ini juga, ia akan merealisasikannya, sama halnya dengan Juna, ia pun sudah sangat muak dengan wanita medusa itu.


Siang itu, Alva meminta Juna untuk mengantarkannya ke rumah, tempat dimana ia di besarkan. Dan disinilah keduanya berada, di depan halaman yang terlihat luas dan memiliki rerumputan hijau.


"Tuan," panggil Juna.


"Tunggu saja disini, aku tidak akan lama," ucap Alva yakin, kaki itu kembali melangkah dengan lebar, ada rasa tak sabar untuk membongkar segalanya.


Apalagi senyum Chilla terus terngiang dalam otaknya, membuat rasa itu semakin menggelora, besar dan indah. Cih, jatuh cinta?


"Al, kamu pulang sayang?" Tanya Mona, melihat anak semata wayangnya tiba-tiba datang, bahkan tanpa di hubungi lebih dulu.


Ada apa gerangan?


Cup


Kecupan manis melandas untuk sang ibu. "Ya, Alva mau memberitahu sesuatu pada Papa," ucapnya dengan wajah cerah.


Melihat putranya datang, dengan satu tujuan yaitu dirinya, Jonathan langsung menghentikan aktivitasnya, lalu mengajak Alva untuk ke ruang belajar.


"Ada apa, Al?" Tanya Jonathan, keduanya sudah duduk santai di atas sofa yang berada didalam sana.


Sebelum menjawab, Alva mengambil laptop sang ayah yang tergeletak di atas meja, mengambil flashdisk dan memasangnya disana.


"Pa, Alva ingin menunjukkan Papa sesuatu, ini tentang Yola, aku harap Papa bisa mempertimbangkan lagi pertunangan kami berdua, setelah Papa melihat ini." Alva menyerahkan amplop coklat itu ke arah sang ayah.


Dengan alis yang bertaut Jonathan meraih benda itu, membukanya dan melihat dengan seksama. Seketika matanya membulat sempurna, dengan mulut sedikit menganga, ia semakin meneliti, sampai membuka kacamatanya untuk melihat lebih jelas. Tetapi sejauh ini, reaksinya masih terlihat santai dan biasa saja.


"Kamu yakin ini Yola? Kamu tidak sedang menjebaknya hanya karena tidak ingin melanjutkan pertunangan kalian kan?" Tanya Jonathan tiba-tiba. Pandangannya masih setia pada lembar-lembar foto yang ia pegang, foto yang di kirimkan Daniel saat dirinya dan Yola hanya berbalut selimut tebal.


Alva terhenyak, reaksi Jonathan sama sekali tidak ada di daftar pikiran Alva, "Apa? Menjebak? Pa itu jelas-jelas Yola, dia mengkhianatiku dengan laki-laki itu. Itu bukan foto rekayasa." Jelas Alva, tetapi Jonathan malah bergeming, Alva membuang nafasnya dengan kasar, lalu meraih laptop itu dan mulai memperlihatkan bukti selanjutnya, yaitu video Yola didalam mobil bersama sang asisten, Juna.


"Lihat ini!" Ucap Alva sedikit kesal dengan tanggapan ayahnya tersebut. Ia bahkan membuang muka, setelah mengatakan itu.

__ADS_1


Jonathan sibuk mengamati video yang Alva tunjukkan padanya, hingga selesai ia terus diam, tak berkomentar apalagi menunjukkan wajah kesal.


"Lalu, apa Juna dan Yola melakukan hubungan terlarang itu di belakangmu? Kau punya buktinya?"


Lagi, Alva merasa tak habis pikir dengan pertanyaan ayahnya, kenapa seperti ini? Bukankah seharusnya Jonathan marah, kesal, atau bila perlu memaki Yola, saat tahu kalau putra satu-satunya di khianati, dan calon menantunya yang terlihat baik itu ternyata tukang selingkuh dan jauh dari ekspektasinya.


"Apa maksud Papa bertanya seperti itu? Apa perlu ku panggil Juna untuk menjelaskannya?" Lontar Alva dengan kening yang berlipat-lipat.


Mendengar itu, Jonathan menarik satu sudut bibirnya keatas. "Al, jujur saja. Papa tidak percaya Yola melakukan ini semua. Papa merasa ini semua hanya akal-akalanmu saja untuk menjebak Yola, agar pertunangan kalian batal, benar begitu?"


"Pa!" Pekik Alva menggelegar, terdengar kecewa.


"Al, Papa tidak bisa melihat hanya pada satu sisi saja, Papa juga harus tahu bagaimana pendapat Yola mengenai ini semua. Papa yakin, dia tidak semena-mena melakukannya, pasti dia memiliki tujuan." Jelas Jonathan, adil, begitulah yang ia inginkan.


Urat di leher Alva terlihat menonjol, dengan tangan terkepal kuat ia bangkit. "Akan Alva tunjukkan sore ini juga, kalau apa yang aku beritahu itu, semua benar adanya." Setelah mengatakan itu, Alva melangkah meninggalkan Jonathan di ruang belajar. Tak lupa untuk membanting pintu dengan kasar, menguapkan kekesalan.


*********


Setelah menelpon Daniel, dan memastikan semuanya telah siap, Alva mengajak Mona dan juga Jonathan untuk pergi, dan ia sendiri yang mengemudikan mobil itu.


Sepanjang jalan, lelaki tua itu hanya diam dan tak berkomentar apapun. Berbeda dengan Mona yang selalu berisik, bertanya akan kemana mereka sekarang?


Raut wajah Mona di buat bingung, saat sang putra justru menuju apartemen Yolanda, apalagi sampai memarkirkan mobilnya disana.


Ada apa?


Jonathan hanya mengikuti semua yang diingkan Alva, saat di minta turun, ia akan turun, di minta untuk berdiri, ia akan berdiri, dan saat ia di minta untuk berjalan mengikuti Alva untuk sampai ke kamar Yola, tanpa banyak kata Jonathan dan Mona mengekor di belakang sang putra.


Senyum sinis tampak selalu menghiasi wajah Alva, sebentar lagi ia dan Yola akan selesai, ia yakin, kali ini Jonathan tidak akan bisa mengelak kalau itu semua bukanlah jebakan, melainkan kelakuan Yola yang sebenarnya, di belakang mereka.


Keluar dari lift, derap langkah Alva terlihat semakin tergesa. Hingga tak berapa lama kemudian, ketiganya telah sampai, didepan pintu apartemen, wanita yang akan Alva korek semua kebusukannya.


Dengan cekatan Alva memencet password yang sudah di hafalnya dari Daniel, dan saat bunyi 'klik. Alva kembali tersenyum smirk.


Bersambung...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...****************...

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Maaf yah telat up, dd othor habis vaksin, tangan kok rasanya pegel banget, ada yang sama?


__ADS_2