
Bruk!
Tubuhnya terguncang hebat, hingga sedikit terhuyung ke belakang, di susul pelukan erat seorang wanita, yang tak lain dan tak bukan adalah tunangannya, Yola.
"Aku tahu kamu pasti dateng, Sayang," ucapnya girang.
Alva terperanjat, ia mematung sejenak menormalkan kembali rasa keterkejutannya. Lalu, beralih menatap tajam, dan mencoba melepaskan pelukan Yolanda dengan kasar.
Tak berbeda dengan Alva, Jonathan dan Mona, ikut melebarkan mata mereka, apa yang sebenarnya Alva akan tunjukkan? Sebuah kemesraan?
Wanita itu berdiri di depan tiga orang tersebut, ia sedikit memalingkan wajah, malu, karena sekarang ia sedang memakai kemeja yang terlihat kebesaran. Tanpa memakai braa, dua kancing teratasnya di biarkan terbuka dan rambutnya yang panjang, tergerai asal.
"Eh, ada Om dan Tante juga." Sapa Yola, tangannya terulur, tetapi segera di tepis oleh lelaki itu.
"Jangan bermain drama didepanku, mana lelaki itu?" Ucap Alva tajam, harusnya mereka menggerebek Yola, harusnya mereka sedang menyaksikan kelakuan bejat wanita sundal ini.
"Lelaki siapa yang kamu maksud?" Kening itu mengernyit bingung, tatapan so polos yang kerap ia tunjukkan di depan publik, sedang ia mainkan dengan baik.
Jangan harap Daniel akan berpihak padamu, Alva.
Alva tak peduli pada jawaban Yola, dengan cepat kakinya melangkah masuk kedalam untuk mencari keberadaan Daniel. Lelaki itu sudah sepakat dengannya untuk membongkar kebusukan Yola. Tetapi kenapa malah dia tidak ada disini.
Alva masuk kedalam kamar, mengecek ke seluruh penjuru, tak terkecuali kamar mandi, dan juga lemari pakaian wanita itu, takut-takut Daniel bersembunyi disana.
Shitt! Dimana badjingan itu.
"Sayang, kamu cari siapa?" Yola, Mona dan juga Jonathan mengikuti langkah Alva.
Namun kedua orang paruh baya itu hanya menonton, sajian yang entah seperti apa ini judulnya.
Yola kembali memeluk erat tubuh Alva yang akan mengecek ke arah dapur, lagi, kali ini Alva sedikit mendorong tubuh Yola, hingga wanita itu tersungkur ke lantai.
"Al, apa yang kamu lakukan?" Suara itu adalah suara ibunya, walau bagaimanapun Yola tetaplah seorang wanita. Mona membantu Yola yang terlihat meringis untuk bangkit.
"Ma, aku yakin dia menyembunyikannya," ucap Alva menggebu.
"Apa kamu mencari orang suruhanmu Al?" Tanya Yola tiba-tiba, semua mata langsung menghunus ke arah Alva, pemeran utama dalam drama yang sedang mereka nikmati ini.
Yola tersenyum tipis ke arah Mona yang memegangi lengannya, ia mengangguk, meyakinkan bahwa ia baik-baik saja. "Aku sudah mengusirnya Al, aku tahu itu orang suruhanmu, yang sengaja kamu kirim untuk menjebakku, kamu mau lari dari tanggung jawabmu bukan?" Yola bertanya dengan mata yang terlihat memerah dan hampir menangis.
"Tanggung jawab apa yang kau maksud?" Cetus Alva seraya menunjuk Yola dengan jarinya.
"Ternyata memang benar, kamu hanya ingin menikmati tubuhku, kamu tidak mau mempertanggung jawabkannya karena kamu tidak mencintaiku, alasan yang kamu pakai selalu itu, itu dan itu." Yola mulai beralibi, sebisa mungkin ia akan menarik simpati orang tua Alva.
Akan ia pastikan, lelaki itu tidak akan menang melawan dirinya.
"Hentikan omong kosongmu Yola." Pekik Alva dengan bola mata yang nyaris loncat dari tempatnya. Nafasnya memburu, menahan geram-geram di hati mendengar ucapan bulshit tunangannya.
Sedangkan Mona dan Jonathan hanya bergeming, wanita paruh baya itu hanya sesekali memegangi dadanya yang terasa sesak, dalam hati ia tidak ingin membenarkan ucapan Yola, tetapi melihat kemeja yang di pakai wanita itu, ia jelas tahu, itu adalah milik putranya, ia sendiri yang memilihnya untuk Alva.
Tiba-tiba Yola berjalan ke arah meja nakas, mengambil sesuatu, namun kini dirinya menghadap ke kedua orang tua Alva, bukan lagi pada lelaki itu.
"Ini pengaman yang sering Alva gunakan saat bersama Yola, kalau Om dan Tante tidak percaya, kalian bisa cek sidik jarinya, ada sidik jari Alva disana." Jelas Yola dengan mata yang berkaca-kaca, ia melirik Alva tanpa takut, dalam hatinya ia menyeringai, tidak sia-sia sore itu ia menyelinap masuk ke apartemen Alva, ia justru menemukan sesuatu yang menarik, sesuatu yang bisa menjerat lelaki itu dalam permainannya.
__ADS_1
"Pa," sela Alva.
"Tante, Tante pasti juga tahukan kemeja siapa yang Yola pakai, ini baju kemeja Alva yang dia tinggalkan di apartemen Yola setelah kita bercinta, tapi sayangnya dia hanya ingin kenikmatan itu, ia tidak pernah mau mengatakan sejujurnya kalau—"
"Shuttt up kau brengsekk!" Tangan Alva terkepal kuat.
"Kau yang diam!" Tiba-tiba Jonathan buka suara. Ia sudah tidak tahan, melihat keduanya terus bertengkar.
"Pulang, dan jelaskan semuanya pada Papa,"
Cih!
************
Chilla membuka pintu apartemen Alva dengan cepat. Ingin segera menemui lelaki itu. Saat pintu kamar Alva terbuka, hal pertama yang Chilla lihat adalah kamar yang terlihat seperti kapal pecah, serpihan botol minuman ada dimana-mana, tak lupa puntung rokok yang entah jumlahnya sudah ada berapa, dan semua benda yang tidak ada di tempat asalnya.
Dan satu pusat perhatiannya adalah tubuh lelakinya yang terlihat berantakan di ujung sana.
Lelaki itu terduduk dengan kaki yang berlipat, dan kepala yang menunduk dalam.
Menyadari kehadiran gadis kecilnya, Alva terlihat mendongak, menatap gadis berponi itu dengan senyum yang menyakitkan.
Alva bangkit, lalu merengkuh pinggang ramping itu, tak lupa bibir ranum yang kerap menjadi candunya, ia kecup berulang kali lalu ia sesap secara perlahan.
Chilla menyadari, ada yang tidak beres dengan Alva, kenapa terlihat sangat kacau begini, bahkan terdengar sedikit isak dari bibir lelaki itu saat memagutnya, ia yakin, Alva ada sedang tidak baik-baik saja.
"Sayang, mulutmu bau, apa Kakak habis minum sesuatu?" Tanya Chilla dengan polos, baru kali pertama, ia merasakan bau aneh ini menyengat dari dalam mulut Alva.
Tak ingin mendebatkan itu, Chilla lebih memilih bertanya tentang masalah yang sedang menerpa lelakinya." Apa ada masalah?" Tanyanya mengelus sayang kepala Alva.
"Hemm."
Chilla ingin melerai, tetapi Alva enggan, sekali lagi ia mengeratkan pelukannya pada tubuh Chilla, menghirup dalam aroma tubuh yang tidak akan pernah ada duanya.
"Ayolah, ceritakan pada Chilla apa masalah Kakak." Pinta Chilla dengan lembut.
Entah seperti apa penyelesaiannya, mau tidak mau Alva memang harus menceritakan semuanya pada Chilla, karena ini semua menyangkut nasib mereka bertiga. Alva, Chilla dan juga Yolanda.
Setelah puas berpelukan, Alva menarik Chilla untuk duduk di ranjang, sedangkan ia bersimpuh didepan gadis itu. Membuat perasaan Chilla merasa tidak enak, sepertinya apa yang akan Alva bicarakan bukan sesuatu yang menyenangkan.
Alva menggenggam tangan gadis itu. "Chilla, kau masih maukan tinggal di sisiku?" Satu pertanyaan Alva berikan dengan ragu, dan bibir yang terlihat bergetar.
Pelan, Chilla mengangguk tanpa ragu, bukankah memang itu yang ia inginkan selama ini. Tinggal di sisi orang yang ia cintai.
Sebelum kembali bicara, Alva meneguk ludahnya berkali-kali, untuk meyakinkan diri.
"Aku sudah menyerahkan semua bukti itu pada Papa, tapi..." Terjeda, Alva menarik nafas dan membuangnya pelan. "Tapi Papa tidak percaya padaku Chilla, bahkan Daniel dan Yola sengaja menjebakku, hingga aku harus menikahi dia secepatnya."
Terisak, untuk pertama kalinya lelaki angkuh itu menangis didepan seorang wanita. Ia lemah, begitulah jika ia harus menyimpulkan semuanya. Dan inilah luka yang ia maksud, luka yang ternyata ia toreh tanpa sengaja untuk Chilla, gadis kecilnya.
Sama halnya dengan Alva, air mata Chilla justru sudah menderas tanpa henti, kenapa seperti ini? Apa ini adalah akhir dari usahanya untuk mendapatkan Alva?
Melihat Chilla yang menangis semakin membuat Alva tersiksa, ternyata tidak mudah meruntuhkan dinding keegoisan ayahnya, sampai saat ini, Jonathan tetaplah Jonathan, sang pembuat takdir bagi kehidupan Alva.
__ADS_1
Alva bangkit, duduk di samping sang gadis, tangannya terulur untuk mengusap bulir-bulir bening itu dengan sayang. Kedua pipi Chilla di tangkup, netra mereka saling menatap dan mengunci dalam, menyelami arti kehadiran masing-masing.
"Apa Kakak mengatakan hubungan kita pada Papa Jo?" Tanya Chilla menahan gemetar di dadanya, hatinya meringis sakit.
Alva mengangguk. "Aku mengatakannya, tetapi Papa lagi-lagi tidak percaya padaku, aku malah di sebut sebagai orang gila, karena membawa namamu dalam masalah ini. Aku harus apa Chilla, aku harus apa?"
Pecah, tangis Chilla menggelegar memenuhi ruangan sunyi itu, Alva langsung menarik tubuh mungil itu untuk didekapnya erat. Sakit, ini benar-benar sakit, ribuan tombak seakan sedang menghujam jantungnya. Jantung yang senantiasa berdetak kencang saat ia bersama Alva, dan hari ini, sepertinya ia harus menghentikan semua kegilaannya.
Inikah luka yang lelaki itu bicarakan, haruskah ia merasa bahwa ia baik-baik saja, karena ia pernah mengatakan, asal Alva mencobanya, terlukapun ia tidak akan masalah.
Dan sekarang, cobaannya bukan pada perasaan lelaki itu, tapi kepercayaan orang tua Alva, ia pun merasa tidak sanggup untuk melawannya.
"Kalau begitu, menikahlah dengannya," putus Chilla akhirnya.
"Tidak, aku akan mencari cara lain, aku akan memperjuangkanmu Chilla, apapun resikonya, aku akan memperjuangkanmu, kau bilang akan tetap berada di sisiku, maka buktikanlah sekarang," balas Alva cepat, sedari tadi ia tidak berpikir untuk memenuhi permintaan Jonathan, ia ingin bersama gadisnya, sekali ini, ia benar-benar akan menentang ayahnya, tidak ada kata setengah-setengah.
"Tapi bagaimana caranya Kak?" Tanya Chilla, tangis itu sedikit mereda hanya karena ucapan Alva yang akan memperjuangkan dirinya. Semua ungkapan itu, bagai alunan lagu cinta.
Ide gila, ya segila itu Alva sampai memikirkannya, demi bisa bersama dengan sang gadis, ia akan melakukannya.
"Kita kawin lari saja, bagaimana?" Ucap Alva yakin.
Seketika bola mata Chilla melebar, salivanya tercekat dan otaknya mulai mencerna ucapan Alva.
Kawin lari? Sesuatu yang tabu, yang belum pernah ia pikirkan sebelumnya. Dan itu semua terlontar dari mulut Alva.
"Apa itu artinya kita menikah sambil berlari-lari?" Tanyanya polos dengan mata yang memerah.
Mendengar pertanyaan Chilla, Alva terkekeh kecil, merasa lucu, mencairkan suasana haru diantara keduanya. Sebelum menjawab Alva mengelap sisa-sisa tangis Chilla. "Bukan sayang, kita pergi dari kota ini, lalu menikah." Balasnya.
"Lalu bagaimana dengan orang tua kita, dan siapa yang akan mengurus perusahaan Kakak?"
"Kita pergi bukan tidak untuk kembali, setelah kita punya anak, kita pulang. Untuk perusahaan aku sudah tidak peduli lagi, Papa tidak percaya padaku, jadi untuk apa aku mengurus perusahaannya."
"Tapi Kak."
"Ini jalan satu-satunya Chilla, jika kau tidak menginginkannya, aku tidak tahu lagi harus berbuat apa."
Melihat Alva yang seserius itu dengan ucapannya, membuat dinding itu runtuh, Chilla seperti terhipnotis, dengan sendirinya ia mengangguk di iringi senyum.
Senyum yang langsung menular ke diri Alva. Lelaki itu mengikis jarak, lalu mengecup kening itu cukup lama. "Besok aku akan menjemputmu, setelah ini kita akan bahagia."
...****************...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...****************...
Weh ngajaknya yang gak bener nih
__ADS_1