Menjadi Simpanan CEO

Menjadi Simpanan CEO
Kekhawatiran Nana


__ADS_3

Alva tak berhenti menggendong baby Shaka meski bayi mungil itu sudah kembali terlelap. Dia selalu merasa takjub dengan kehadiran buah hatinya itu, tubuh rapuh dengan geliat kecil yang Shaka lakukan, membuat Alva tak berhenti berbinar penuh kebahagiaan.


Bahkan lelaki itu senang sekali menghujani Shaka dengan ciuman. Lalu terkekeh sendiri, karena merasa lucu.


Hingga akhirnya Sam dan yang lain memutuskan untuk pulang, karena sudah terlalu lama mereka tinggal. Sementara di luar sana, Juna dan Nana baru saja sampai.


Keduanya naik ke ruangan di mana Chilla dan bayinya berada. Juna terus menggandeng Nana, hingga mereka benar-benar masuk ke dalam sana.


Melihat pintu ruangan terbuka, seketika semua orang yang ada di sana menatap ke arah dua orang tersebut.


"Hei, Jun. Kau baru datang?" tanya Sam seraya merengkuh Mira yang menggendong baby Hansel.


Juna mengangguk sambil mengulum senyum. "Iya, Tuan. Saya jemput Nana dulu, baru kesini. Apa kalian sudah selesai?"


"Iya, Jun. Kami sudah cukup lama di sini. Aku dan Diana mau cepat-cepat pulang, mau produksi biar cepat jadi," cengir Satria menimpali, dengan bermanja di bahu Diana.


Semua orang yang ada di sana terkekeh, tetapi tidak dengan Alva, dia hanya mendengus dan sibuk menimang-nimang baby Shaka yang mengusak-ngusak wajahnya di dada Alva.


"Baiklah kalau begitu, apa perlu saya antar sampai ke depan?" tanya Juna. Dan mereka semua menggeleng kompak.


"Tidak perlu, Jun. Lebih baik kau jaga ayah muda itu, takut dia memerlukan bantuanmu," ucap Sam seraya melangkah ke arah pintu, mereka semua sudah pamit dan kini mereka akan pulang ke rumah masing-masing.


"Al, kami pulang yah. Belajar yang benar supaya menjadi super daddy untuk Shaka, dan ingat kau harus puasa," ledek Satria dengan melangkah cepat dan menarik Diana, takut-takut Alva akan kembali menoyor kepalanya.


Alva hampir saja terpancing, tetapi mengingat ada Shaka dalam gendongannya, dia hanya bisa mengumpat. "Sialan! Ku doakan malam ini senjatamu tidak bisa diajak berperang."


Mendengar itu, Satria hanya menjulurkan lidahnya.


"Awas kau! Satria piningit."

__ADS_1


Mereka semua hanya geleng-geleng kepala menyaksikan tingkah Alva dan Satria, hingga pintu ruangan benar-benar tertutup menyisakan lima orang saja di dalam sana, lengkap dengan baby Shaka.


Setelah kepergian semua orang, Nana mendekat ke arah ranjang Chilla. Gadis itu memeluk sahabatnya dan memberikan buah tangan berupa perlengkapan bayi, serta beberapa baju yang sudah dia siapkan dari jauh-jauh hari.


"Selamat ya, Chil," ucap Nana dengan mengulum senyum, ikut merasakan kebahagiaan Chilla.


Chilla mengangguk dan tersenyum pula. "Semoga cepat nular yah, Na. Nanti anak kita main bareng." Balasnya dengan riang.


"Sayang, sini biar Nana liat baby kita." Chilla melambai meminta Alva untuk mendekat, dia ingin menggendong Shaka, agar Nana bisa melihat wajah putranya dengan leluasa.


Alva menurut, dia memberikan Shaka pada Chilla, sebelum melangkah menjauh untuk menemani Juna, Alva mengecup puncak kepala Chilla serta bibir ranum ibu muda itu.


"Aku bicara sebentar dengan, Juna," ucap Alva kemudian melangkah ke arah sofa yang berada di dekat box bayi baby Shaka.


Dalam gendongan Chilla tiba-tiba Shaka menangis, mulut mungilnya mencari-cari sesuatu yang dapat dia gapai. Sepertinya baby Shaka lapar.


"Sayang, kenapa Shaka menangis?" tanya Alva.


Benar saja, begitu Chilla memberikan pucuk ***********, Shaka langsung melahapnya, bahkan menghisap tidak sabaran sumber makanannya itu.


Melihat itu, Chilla mengulum senyum. Rasanya dia masih tak percaya, akan kehadiran Shaka yang merubah hidupnya, menjadikan dia sosok ibu yang siap siaga, dengan gemas Chilla menciumi kepala Shaka.


"Shaka mirip Daddy kalo lagi begini," Chilla terkekeh, mengingat Alva yang kerap menyesap *********** dengan penuh gairah.


"Maksud lo?" tanya Nana yang tidak mengerti ucapan sahabatnya. Dia ikut mengusap-usap kepala Shaka.


"Hehe, Nana pasti ngerti lah, kan udah sering main sama Kak Juna." Chilla semakin terkekeh, karena bayangannya berganti pada Nana dan Juna, benarkah Nana yang galak bisa luluh pada saat Juna meminta haknya?


Memikirkannya saja Chilla tak bisa menahan tawanya.

__ADS_1


"Lo ngetawain apa sih, Chil?" tanya Nana pura-pura tidak mengerti, sementara pipinya sudah merah merona.


"Ngetawain kamu sama kak Juna. Pasti seru deh mainnya. Udah pake gaya apa aja?"


Mendengar itu, Nana langsung melotot, dia menutup mulut Chilla, agar suara gadis itu tidak terdengar oleh yang lain.


"Gue nggak pake gaya aneh-aneh ya, Chil," sanggah Nana, walaupun dia gadis yang terkenal bar-bar, kalau membahas hal satu ini dia masih mempunyai rasa malu.


"Ya siapa tahu, Chilla kan nggak tahu, Na." Chilla masih saja terkekeh, sementara baby Shaka masih sibuk dengan urusan perutnya.


Namun, seketika wajah Nana berubah sendu. Mengingat pernikahannya dengan Juna sudah cukup lama, tetapi sampai saat ini, mereka berdua belum juga dikaruniai keturunan.


Melihat itu, Chilla berhenti tertawa, dia menatap heran pada sahabatnya. "Nana kenapa, kok tiba-tiba sedih begitu?"


Nana membalas tatapan mata Chilla, wajahnya tak lagi ceria. "Kapan ya, Chil. Gue bisa kayak lo, apa gue mandul yah? Kok gue nggak hamil-hamil?" Nana mencurahkan kegundahannya.


Sudah setengah tahun menikah dengan Juna, mereka sama sekali belum menemukan tanda-tanda kehadiran buah cinta mereka, padahal Nana tidak menundanya.


"Sabar, Na. Nana nggak boleh ngomong begitu, ada saatnya nanti Tuhan kasih kepercayaan sama kalian. Yang penting kalian selalu berusaha," Chilla menenangkan dengan mengusap bahu Nana.


Pelan, Nana mengangguk. Dia mencoba untuk sabar, meski dalam hati dia merasa khawatir, takut jika dia tidak bisa memberikan seorang anak pada Juna.


Epilog.


"Sayang, yang benar saja? Kamu tidak bercanda kan?" Satria merengek pada Diana yang sudah mau memejamkan mata.


"Benar, Sayang. Mana mungkin aku bohong, aku baru saja dapat tamu bulanan," balas Diana apa adanya, dia kembali menarik selimut hingga sebatas dada.


Dan Satria hanya bisa mendesah pasrah. "Ck, kurang ajar! Ucapan omong kosong Alva ternyata jadi kenyataan."

__ADS_1


"Aarggghhh!!! Alva sialan!"


__ADS_2