
Plak! Plak! Plak!
Baru saja sampai di meja makan. Alva sudah mendapatkan pukulan bertubi-tubi dari sang ibu, Mona.
Belum sempat menurunkan Chilla, lantas Alva menarik kursi terlebih dahulu menggunakan kakinya. Lalu mendudukkan sang istri disana.
Tak hanya Alva, Chilla pun ikut tidak mengerti, kenapa suaminya tiba-tiba dipukuli.
"Ada apa sih, Ma?" Protes Alva tak terima, baru saja datang, sekonyong-konyong Mona memukul kepalanya. Bisa-bisa otaknya ikut geser, kalau setiap main ke rumah, kepalanya selalu menjadi korban kekerasan ibunya.
Apa salahnya? Perasaan dia tidak membuat salah apa-apa.
"Ada apa? Kamu bilang ada apa? Kami semua itu nunggu kalian berdua, kamu malah ngajak Chilla enak-enak di kamar." Cetus Mona dengan tangannya yang bertolak pinggang, siap mencak-mencak.
Jonathan yang melihat itu, sontak mengelus punggung sang istri. "Sabar, Sayang. Nanti darah tingginya kumat lho." Godanya, biasanya Mona yang bicara seperti itu saat Jonathan marah-marah, sekarang gantian, dia juga ingin melihat reaksi istrinya.
"Kalo nggak diingetin nanti begitu terus, Pa!" Mona masih siap meledekkan amarahnya pada sang putra.
"Lagian apa maksudnya enak-enak?" Alva bertanya dengan kernyitan di dahi. Bahkan ia tak sempat duduk, karena meladeni amukan sang ibu.
"Nggak usah pura-pura, sehari nggak anu, bisa nggak?" Tanya Mona ketus, sorot matanya masih belum melunak.
Sama seperti saat mereka tahu, kalau Alva dan Chilla sedang anu. Sesuai informasi dari sang pembantu.
"Anu apa sih Ma? Aku tidak main anu-anu, tadi aku hanya memijat kaki Chilla, apa itu salah?"
"Ada buktinya Alva. Bibi yang bilang kok, kamu lagi anu sama Chilla."
Sreng!
Semua tatapan mata langsung tertuju pada wanita paruh baya yang tengah meletakkan irisan buah di atas meja. Wajahnya pias, mendadak tangannya tak bisa digerakan, apalagi melihat mata Alva yang menungkik tajam.
__ADS_1
Glek!
*****
Setelah makan siang, Alva kembali mengajak sang istri ke kamar untuk istirahat. Dengan setia ia mengelus punggung yang terasa semakin lebar itu. Menemani sang gadis hingga benar-benar terlelap.
Sebelum keluar, Alva lebih dulu meninggalkan kecupan di seluruh wajah cantik Chilla, menutup pintu dengan hati-hati takut menimbulkan suara.
Alva melangkah ke arah ruang keluarga, dimana Mona dan Sarah sudah lebih dulu duduk disana.
"Ada apa Al? Apa ada hal yang serius?" Tanya Sarah, saat Alva sudah sukses melandaskan pantatnya di atas sofa.
Tak biasanya Alva seperti ini, pasti ada sesuatu yang terjadi.
Saat mereka di dapur, Mona mengatakan kalau Alva akan berbicara sesuatu dengan mereka berdua. Tanpa sepengetahuan Chilla.
Maka dari itu, Sarah tak langsung kembali ke rumah.
"Alva sudah memecat pembantu yang bekerja di rumah." Sambung Alva apa adanya.
Mona dan Sarah saling pandang. Tidak, mereka belum paham, ingin Alva lebih dalam menjelaskan. Tidak setengah-setengah seperti ini, dan membuat mereka semakin penasaran.
"Kenapa Al? Apa dia bermasalah?" Lagi-lagi Sarah lebih antusias. Bukan apa, itu dikarenakan Rani adalah orang yang ia ambil dari yayasan langsung. Dia yang merekomendasikan wanita itu untuk membantu Chilla dan Alva mengurus rumah.
Kalau sampai wanita itu bermasalah, pastilah Mona akan ikut merasa bersalah, pada anak dan menantunya.
"Iya Sayang, apa dia melakukan sesuatu, semisal mencuri?" Timpal Mona menebak-nebak.
Mendengar itu, Alva sedikit menarik bibirnya ke atas, tersenyum sinis. "Iya dia berusaha mencuri."
"Apa kamu pernah memergokinya?" Tanya Mona, ia takut saja kalau Alva asal memecat tanpa adanya bukti.
__ADS_1
Dan Alva mengangguk. "Selama sebulan ini dia berusaha mencuri, mencuri hati Alva, tapi dia tidak berhasil." Lalu tersenyum remeh.
"Apa?" Kompak Mona dan Sarah. Bola mata mereka melebar saking terkejutnya.
"Jadi dia menggodamu?" Tanya Sarah tak habis pikir. Orang yang terlihat pendiam dan tulus, ternyata tak bisa menjamin perilakunya.
Sekali lagi, Alva mengangguk. Membuat Mona dan Sarah menghela nafas panjang.
"Aku langsung memecatnya semalam, saat dia mencoba menarik perhatianku. Aku rasa tidak ada toleransi lagi, karena dia sudah terlalu sering melakukannya. Dan itu yang terakhir." Jelas Alva, mengingat itu ia benar-benar merasa jengah.
Tiba-tiba Mona bangkit, lalu duduk di samping putranya. Ia memeluk Alva bangga, bisa bersikap tegas untuk keutuhan rumah tangganya. "Apa yang kamu lakukan sudah benar, Sayang. Sebagai seorang suami kamu memang harus menjaga kehormatanmu. Karena keutuhan rumah tangga terletak pada kepalanya. Jika seorang kepala tidak bisa mengatur apa yang dipimpinnya, maka semuanya akan hancur." Ucap Mona, seraya mengusak kepala Alva. Memberi sedikit wejangan untuk sang putra.
Dan Sarah membenarkan itu. "Benar, pelakor memang harus dibasmi, jika bukan kita, siapa lagi? Kita harus bisa mempertahankan sesuatu yang kita miliki. Makasih ya Al, sudah sayang dan selalu menjaga Chilla."
Mendengar itu Alva mengulum senyum, lalu meraih telapak tangan sang ibu dan telapak tangan Sarah untuk digenggamnya. "Ma, aku sudah berjanji di depan kalian untuk senantiasa menjaga dan mencintai Chilla. Apapun, pasti akan aku lakukan untuknya. Karena bagi Alva, Chilla adalah segalanya, wanita yang paling Alva cinta setelah Mama Mona." Terang Alva sesuai isi hatinya.
Tak terasa haru menyeruak ke dasar hati kedua wanita paruh baya itu. Ada lelehan kristal bening yang mengalir tiba-tiba dari sudut mata mereka.
"Mama tidak bisa berkata apa-apa Alva, Mama benar-benar terimakasih atas semuanya, atas tanggung jawabmu untuk putri Mama. Mama bersyukur punya menantu seperti kamu." Ucap Sarah sesenggukan, mengungkapkan semua yang ada di dada.
Terdengar isak tangis dari ruang keluarga tersebut saling bersahut-sahutan. Dengan setia Alva mengelus dua punggung itu secara bersamaan. Entah kenapa, dua wanita itu justru tidak mau berhenti menangis.
Hingga Jonathan dan Pram masuk. Mereka kompak mengernyit heran. "Lho, lho ini kok pada nangis, kenapa?" Tanya Jonathan.
Membuat ketiga orang yang ada disana, satu persatu mengangkat kepala. Uraian air mata jatuh tak tertahankan, dari pipi Mona dan Sarah.
"Ini, Pa. Alva sedang mendengarkan curhat mereka. Katanya jatah malam kurang lama."
Plak! Plak! Plak!
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
Maaf yah kalo kurang anu🤣🤣🤣