
Drttt... Drttt... Drttt...
Suara ponsel Alva bergetar diatas nakas, tetapi pemiliknya tak mengindahkan sama sekali, dan lebih memilih terus bergulung dibawah selimut bersama sang kekasih, yang kini merasa semakin dicintai.
"Pasti masih tidur," gumam Mona yang ternyata adalah si penelepon.
Pagi ini, ibu dengan satu anak itu sudah berdandan rapih untuk pergi ke apartemen Alva. Menengok anak semata wayangnya yang kini sudah tumbuh dewasa.
Biasanya, Mona menyuruh ART nya untuk membersihkan apartemen lelaki tersebut jika sedang libur begini. Tapi sekarang, ia ingin ia sendiri yang turun tangan.
Ting tong!
Kali ini bukan suara ponsel lagi, melainkan bel apartemen lelaki itu berdendang dengan nyaring memekik telinga. Tetapi entah setan apa yang sedang merasuki keduanya.
Hingga tak terusik sama sekali dengan suara-suara aneh yang sedari tadi mengganggu diluar sana.
5 menit berlalu. Orang yang sedari tadi berdiri didepan pintu, sudah nampak gusar dan tidak sabar.
Sedangkan didalam sana, Chilla baru saja mengerjap-ngerjapkan kelopak matanya, begitu pantulan cahaya matahari, sudah semakin menyeruak ke dinding kaca milik sang pacar.
Dan detik selanjutnya, mata Chilla membola, saat mendengar suara bel apartemen kekasihnya. Ia buru-buru membangunkan Alva, yang masih nyenyak dalam posisi memeluk tubuhnya.
"Sayang bangunlah, didepan ada orang," Memekik dengan sesekali mengguncang.
"Hem," Alva hanya menggumam tak jelas.
Chilla mengguncang tubuh Alva lebih keras, ah ia benar-benar frustasi sekarang, Alva tak mau bangun, sedangkan suara bel tak kunjung berhenti, bagaimana kalau tamu itu tiba-tiba masuk.
Akhirnya dengan terpaksa Chilla menggigit bahu Alva yang terbuka. Tak peduli, kalau lelaki itu akan marah padanya.
"Aw shitt!"
"Sayang, ada orang diluar," ucap Chilla sebelum lelaki tampan itu kembali memaki dirinya.
"Apa?"
Ting tong!
Mulut keduanya menganga, dengan mata yang membulat besar, siapa gerangan yang datang?
Dengan cepat, Alva langsung meraih benda pipihnya, mengecek, siapa tahu ada pesan dari orang yang berada didepan apartemennya.
Ada 5 panggilan tak terjawab dari Mona.
"Mama?" Gumam Alva, dan gumaman itu terdengar ke telinga Chilla.
"Mama Mona?" Beo Chilla.
Gadis itu langsung mencuat dari balik selimut, belingsatan dengan tubuh telanjangnya, tak ingat kalau semalam ia habis melakukan sesuatu dengan kekasihnya itu.
"Kakak aku harus sembunyi dimana?" Tanyanya risau.
"Chilla, apa yang sedang kau lakukan? Apa kau sedang menggodaku?" Ucap Alva menghentikan Chilla yang dari tadi mencari tempat sembunyi. Namun di mata Alva, gadis itu terlihat sedang menari-nari.
Deg!
Chilla langsung berhenti, dan menelisik penampilannya sendiri, begitu menyadari, gadis itu buru-buru masuk kedalam kamar mandi.
Ah sial! Memalukan sekali. rutuk Chilla seraya memukul kepalanya sendiri.
Alva menyunggingkan senyum melihat tingkah Chilla, ada gugup ada lucunya juga.
Setelah gadis itu menghilang, Alva buru-buru memakai pakaiannya dengan asal. Dan berjalan sedikit berlari untuk melihat siapa yang datang.
Kalau benar itu Mona, dengan terpaksa ia harus mengusirnya.
Tap
Tap
Tap
Dan klik!
Alva mengangkat kepala.
__ADS_1
"Ah akhirnya, Tuan saya—"
"JUNA?" Pekik Alva dengan mata menajam, membuat si empunya nama terlonjak kaget, dan mundur ke belakang.
Juna hanya bisa melongo melihat reaksi bosnya, kenapa terlihat begitu kesal, padahalkan semalam ia sudah mengirimi pesan kalau pagi ini, ia akan kemari.
Alva ingin memaki, hatinya sudah berdebar dan begitu gelisah, takut kalau itu benar-benar Mona. Tapi ternyata, yang datang adalah asistennya.
Drttt... Drttt... Drttt...
Ponsel Alva kembali bergetar.
"Hallo Ma,"
"Sayang, Mama sedang menuju apartemenmu, tadi Mama mampir sebentar untuk membeli sayuran, kamu sudah bangun?"
Haish, ternyata masih di jalan.
"Ah, yah Alva sudah bangun, kalau begitu Alva tunggu,"
Alva buru-buru mematikan sambungan telepon ibunya, dan kembali menatap Juna.
"Karena kau sudah membuatku ingin mati berdiri, kau harus menolongku," cetus Alva dengan tatapannya yang masih sama. Tangan bertolak pinggang, persis seperti ayah yang tengah memarahi anak lelakinya.
"Tol, tol tolong apa Tuan?" Balas Juna tergagap.
"Mama sedang kesini, tugasmu bawa Chilla pergi,"
"Nona Chilla?" Mata Juna melebar, gadis itu berada di apartemen bosnya di waktu sepagi ini?
"Hem,"
Tanpa menunggu balasan Juna, Alva langsung berlari ke arah kamarnya, menggedor-gedor pintu kamar mandi, agar Chilla lekas keluar.
Gadis muda itu menyembulkan kepala, lalu muncul, dengan kimono kebesaran milik Alva. Menggemaskan, satu kata untuk Chilla, kalau saja tidak sedang kondisi gawat darurat, mungkin Alva akan menerkamnya sekarang juga.
"Sayang, Mama sedang kemari, cepat pergi dengan Juna," terang Alva serius, ia menepuk kedua bahu Chilla.
"Kak Juna?"
"Dengan pakaian seperti ini?"
"Chilla tidak ada waktu ganti,"
Tanpa ba bi bu lagi, Alva menarik tangan Chilla, agar gadis itu ikut dengan Juna, untuk keluar dari apartemennya. Ia harap Chilla dan Juna tidak akan bertemu ibunya.
"Oh God, please!"
Dengan perasaan was-was, Alva kembali mondar-mandir dengan menggigit kuku jarinya. Namun tiba-tiba.
Sringgg...
Disaat-saat seperti ini, ternyata ia masih ingat dengan penampilan gadisnya. Tidak boleh, Juna tidak boleh melihat apapun yang menjadi miliknya.
[Jun, jaga matamu, kalau sampai kau melihat satu saja anggota tubuh Chilla dibalik kimono itu, kau benar-benar akan mati di tanganku.]
Tulis Alva dalam pesan singkatnya, yang tak beberapa lama kemudian terbaca, karena Juna dan Chilla sudah berhasil sampai di baseman apartemen, tanpa bertemu dengan Mona.
Juna menelan salivanya dengan susah payah, dengan nafas terengah, setelah membaca pesan itu, melirik Chilla sekilas, lalu kembali pada posisinya.
Sepertinya aku datang di waktu yang salah.
Ia segera membawa kijang besi itu menjauh, entah kemana ia pun tidak tahu, sedangkan wanita disampingnya tidak memakai apa-apa selain kimono itu.
"Kak Juna kita mau kemana?" Tanya Chilla, menatap Juna yang sedari tadi bergeming dan tak mengajaknya bicara.
"Kak," panggil Chilla untuk kesekian kalinya. Mulut Chilla selalu gatal jika tidak di tanggapi begini, bukankah menjawab tidak ada salahnya.
"Nona, tolong, kalau anda masih ingin saya hidup, duduklah dengan tenang dan jangan banyak bicara," ucap Juna tanpa melirik sedikitpun pada Chilla. Tatapannya setia lurus kedepan.
Kini hidup dan matinya seolah ada di tangan gadis itu, walaupun Alva tak melihat, tetapi CCTV dalam mobil ini, yang akan bicara sendiri kepada Tuannya.
Kenapa kak Juna bawa-bawa hidup dan mati segala.
Sedangkan di apartemen...
__ADS_1
Mona baru saja sampai, dirinya di sambut oleh wajah tegang Alva yang di buat-buat seolah tenang.
"Kenapa Mama kesini?" Tanya Alva mengekor tubuh Mona yang berjalan ke arah dapur.
"Jelas Mama merindukanmu, kamu jarang pulang Al," jujur Mona, wanita paruh baya itu meletakkan sayur-sayuran yang tadi ia beli keatas meja.
Semenjak Alva memutuskan untuk tinggal sendiri, ia benar-benar merasa kesepian, ingin rasanya memiliki anak lagi, tetapi ketika ia ingat dengan usianya, ia jadi tidak percaya diri.
"Mama bisa menyuruh Alva pulang, tidak perlu Mama yang kesini," Alva menyenderkan kepalanya di bahu sang ibu, kelakuan manja jika sedang berdua.
Mona mengulum senyum akan tingkah putranya yang tidak pernah berubah. Dengan sayang, wanita paruh baya itu mengusap dan mengecup sekilas kepala Alva.
Putra yang akan selalu menjadi kebanggaannya.
"Iya, lain kali Mama akan memintamu pulang, sekarang Mama mau memasak, kamu mandi sana, bau," cibir Mona bercanda.
"Bau-bau begini, aku tetap tampan," balas Alva dengan pede. Ia mengecup pipi ibunya lalu beranjak kedalam kamar.
Menyisakan Mona yang terkekeh, sambil geleng-geleng kepala.
Setelah memasak dan makan bersama dengan sang putra, Mona berniat membersihkan ruangan itu, tentu saja dengan mengajak Alva. Hari ini, ia benar-benar ingin menghabiskan waktunya hanya berdua dengan putranya.
"Al, baju kotormu sudah dibawa ke belakang belum?" Tanya Mona yang tengah mencuci piring bekas makan mereka.
Mendengar itu, Alva langsung teringat dengan baju-baju Chilla yang masih berserakan didalam kamar. Ia belum sempat membereskannya, karena terlalu gelisah mendengar Mona akan datang.
"Belum Ma, biar Alva nanti yang bawa ke belakang, Mama teruskan saja cuci piringnya,"
Mona tersenyum dengan menganggukkan kepala. Wanita paruh baya itu menyelesaikan pekerjaannya, lalu berpindah merapikan sofa, sedangkan Alva entahlah sepertinya tengah sibuk, menyembunyikan kelakuannya dibelakang sang Mama.
Dengan penuh semangat Mona hendak mengambil vakum cleaner, tetapi langkahnya terhenti begitu ia melihat sebuah benda yang tidak asing di matanya, ia amati dengan lamat-lamat, dan saat itu juga ia semakin yakin, bahwa benda itu bukanlah milik sang anak.
Tangan Mona hendak meraih benda berenda itu, tetapi secepat kilat Alva menggapainya lebih dulu.
"Al," panggil Mona, tatapan seorang ibu itu menyelidik. Apalagi Alva terlihat gugup sekarang.
"Milik siapa itu?"
Mendengar itu, jantung Alva kembali berdebar kencang. Ia berdecak dalam hati, memaki dirinya sendiri.
Kenapa pakai jatuh segala.
"Tentu saja milik Alva," kilahnya dengan membuang muka. Menghindari tatapan Mona.
"Al, itu seperti—"
"Ma, jangan berpikir sembarangan. Ini milikku," tentang Alva, tahu kalau ibunya sudah melihat dengan jelas apa benda itu.
Sial!
"Kalau begitu, kemari, biar Mama lihat! Karena sepertinya Mama tidak pernah membelikan yang seperti itu untukmu," tangan Mona terulur, meminta Alva menyerahkan benda yang ada dibalik punggung itu.
"Mama ini apa-apaan sih? Melihat pakaian dalam pria dewasa itu memalukan,"
"Memalukan bagaimana? Bahkan Mama tahu ukuran milikmu, kan Mama yang membelikannya," jelas Mona, seketika wajah Alva terlihat merah padam, satu tangannya memegang kepala, kenapa terang-terangan sekali pikirnya.
Bukankah dia sudah dewasa, hal yang begitu, Mamahnya masih saja mencampurinya.
"Ma, Alva yang malu, sudahlah lain kali biar Alva sendiri yang beli," ucapnya dengan wajah yang tertekuk, membuat Mona menahan senyum karena gemas melihat wajah putranya.
"Kamu benar-benar malu?" ejek Mona dengan menjawil dagu Alva.
"Tentu saja," balas Alva cepat, melengoskan wajah.
"Untuk apa malu? Bahkan Mama sering memegangnya sejak kamu masih bayi, kecil dan rasanya seperti squishi," Mona membuat gerakan mencapit sesuatu sambil terkekeh.
"Maaaa," pekik Alva, tak tahan dengan godaan ibunya. Tetapi hal itu justru membuat Mona gencar untuk menggoda putranya.
"Kalo yang sekarang gede yah Al," ucap Mona dengan cekikikan.
"Mamaaaa,"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...****************...
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...