Menjadi Simpanan CEO

Menjadi Simpanan CEO
Jadilah pacarku


__ADS_3

Dua pasangan itu berpisah, karena mereka membawa mobil masing-masing. Juna dengan Nana, dan Alva jelas dengan gadisnya.


Awalnya Alva menawari Juna untuk pulang bersama, mengingat kondisi sang asisten yang terlihat cukup memprihatinkan, namun entah karena ingin tampil tetap cool di depan Nana, Juna menolak. Ia sendiri yang akan mengantarkan dan memastikan gadis itu selamat sampai rumah.


Alva sudah membawa mobilnya lebih dulu, sedangkan Juna tertinggal di belakang. Sepanjang perjalanan Juna dan Nana sama-sama bungkam, berkecamuk dalam kemelut pikiran masing-masing.


Namun, ketika mengingat perlakuan dan kata-kata Juna yang terlontar beberapa saat lalu, pipi gadis muda itu merona. Tak sengaja, ia menggigit bibir bawahnya hingga memerah.


Dan itu semua tidak luput dari pengawasan netra pekat milik Juna. Lelaki itu berdehem, menyadarkan Nana dari pikiran-pikiran konyolnya.


"Maaf aku memelukmu sembarangan, aku reflek melakukannya," ucap Juna tanpa melirik ke arah Nana. Ia yakin, gadis itu pasti berpikir tentang dirinya dengan pikiran yang tidak-tidak.


Karena selama ini pun begitu, setiap pertemuannya dengan Nana, gadis itu selalu menuduhnya sebagai seorang player yang kerap memainkan seorang wanita.


Nana mengangguk, dalam hatinya merutuki Juna, karena pastilah lelaki itu melakukannya dengan terpaksa. Ya pasti, karena dia adalah sahabat Chilla, kekasih dari bosnya.


"Aku tahu, Kakak menyelematkanku juga bukan karena peduli, tapi karena aku adalah sahabat Chilla, Kakak nggak mau kan Chilla kenapa-kenapa," entah pikiran darimana, tetapi itulah yang terlintas dalam benak Nana. Jangan lupakan, kini gadis itu sudah mengganti panggilannya pada Juna, yang tadinya hanya kau, kau, sekarang menjadi Kakak.


Juna berdecih dalam hati, bahkan tadi ia hampir mati, namun semua yang ia lakukan seolah tidak berarti.


Apa-apaan dia ini?


"Aku melakukannya untukmu," ucap Juna meyakinkan. Ia tahu rasa ini terlalu cepat, tapi tak di pungkiri, gadis di sebelahnya ini mampu membuatnya takut kehilangan, bahkan Nana mampu memberikan rasa yang mendebarkan.


Nana langsung menoleh, dengan mata yang melirik sinis, "Pasti modus,"


Shittt!


Juna langsung menepikan mobilnya mendengar jawaban Nana, entah kenapa hatinya panas, seolah cinta itu tak berbalas.


"Apa maksudmu?"


"Hah, kenapa bertanya, bukankah Kakak seseorang yang suka mempermainkan wanita, kalau Kakak suka, pasti di perjuangkan dan saat bosan pasti di tinggalkan, kan memang begitu tingkah buaya..."


"Dan sekarang Kakak sedang mencoba mendekatiku, bukan begโ€”"


Cup


Bibir Juna mendarat sempurna di bibir Nana, kedua netra mereka bertemu dan saling mengunci satu sama lain, membuat tubuh gadis itu membeku seketika, ia mematung dengan mata yang membola.


Sama halnya dengan Nana, Juna pun dibuatnya bingung sendiri, entah kenapa, tiba-tiba bibir yang suka mendumel itu menjadi objek yang menarik di matanya.


Awalnya hanya ingin mengecup agar bibir itu diam, tetapi seakan ada dorongan, tiba-tiba bibir Juna bergerak pelan, dan melumaat dengan penuh kelembutan.


Mata Juna terpejam, menikmati pagutannya, walaupun ia belum merasakan Nana membalasnya, tetapi rasa ini lebih menggairahkan dibanding ciumannya dengan Yolanda.


Nana ingin mendorong dada itu, ia ingin berteriak jangan, dan memaki Juna saat itu juga. Namun berbeda dengan nalurinya, ia justru membiarkan, bahkan menikmati bibir Juna yang terus bermain disana, sampai ia tidak merasakan, bahwa tangan lelaki itu kini tengah menahan tengkuknya.


"Tsk,"

__ADS_1


Pagutan itu terlepas, kedua nafas mereka memburu, "Maaf, aku tidak sengaja, kau terlalu berisik," ucap Juna seraya menetralkan kembali degub jantungnya yang berdisko ria.


Mendengar perkataan Juna, Nana merasa tidak suka, lelaki itu merampas ciuman pertamanya dan dia bilang tidak sengaja.


"Cih, benar-benar buaya, memangnya seperti itu yah setiap Kakak mencium seorang wanita. Tidak sengaja? Ck, kenapa tidak bilang kalau Kakak menginginkannya?" Cetus Nana membuang muka, ia terlanjur kesal pada Juna.


Ia mengelap sisa-sisa ciuman mereka dengan kasar, agar lelaki itu tahu, dia tidak suka di perlakukan seperti itu.


Melihat tingkah Nana, Juna mengulum senyum, yakin Nana pun merasakan hal yang sama, tidak terima jika jawabannya tidak sesuai dengan hati kita.


Tiba-tiba Juna meraih tangan Nana dan menggenggamnya, membuat gadis itu berjengit kaget dan kembali menatap ke arah lelaki tersebut.


"Jadilah pacarku,"


Deg!


Jantung Nana seperti ingin loncat dari sarangnya mendengar kalimat Juna. Untuk pertama kalinya, ada seorang lelaki yang berbicara seperti itu padanya. Dan lelaki itu adalah Juna.


"Aku akan menjelaskan siapa aku, supaya kau tidak berpikir yang aneh-aneh lagi tentang diriku, percaya padaku, aku tidak pernah melakukannya, dan sekarang, jadilah pacarku," ulang Juna, yakin bahwa Nana sedang bingung dengan perasaannya.


Mengingat bahwa Juna adalah lelaki yang belum lama di kenalnya, bahkan pertemuan pertama mereka tidak memiliki kesan baik sama sekali. Tetapi sekarang? Lelaki itu justru sedang menembaknya.


OMG aku harus jawab apa?


"Kalau kau hanya diam, aku akan mengartikannya iya,"


Dan sejurus dengan itu, Juna kembali mengikis jarak, untuk memagut bibir Nana, ia sedikit meringis kala sudut bibirnya yang terluka kembali mengeluarkan darah.


*********


Sedang di tempat lain, Chilla terus tersenyum-senyum sambil membayangkan adegan Nana dengan Juna barusan, menurutnya, itu sangat manis.


Hingga menimbulkan rencana untuk menyatukan sahabatnya itu dengan asisten sang pacar.


"Mereka benar-benar cocok," gumam Chilla sambil cekikikan.


Melihat gadisnya sibuk dengan pikirannya sendiri, membuat Alva kesal, sedari tadi gadis itu tersenyum tanpa henti tanpa mengajak dirinya bicara.


"Kau ini sedang memikirkan apa sih?" Ketus Alva sambil mencengkram kemudi, alisnya bertaut, tanda tak suka di acuhkan seperti ini oleh gadisnya.


"Sayang, Kak Juna so sweet yah," balasnya tanpa sadar, apa yang dia ucapkan justru membuat lelaki yang kerap mengeluarkan urat itu melotot ke arahnya.


"Apa kau bilang?"


"Kak Juna so sweet," balas Chilla dengan santai, bahkan bibirnya terus melengkung saat mengatakan itu.


"Katakan sekali lagi," menambah satu oktaf suaranya.


Deg!

__ADS_1


Menyadari itu, Chilla langsung mengatupkan mulutnya, habislah, dia telah salah bicara. Sama halnya dengan Juna, kini Alva menepikan mobilnya di pinggir jalan, menatap wajah kekasihnya dengan tatapan yang sukar di baca.


"Sayang maaf, aku tidak sengaja," ucap Chilla cepat, dibubuhi binar mata penuh rasa bersalah. Takut, kalau Alva marah padanya.


"Beraninya kau memuji lelaki lain didepanku," masih dalam mode yang sama, sepertinya maaf yang Chilla ucapkan, tidak cukup untuk memadamkan bara api, yang terlanjur berkobar.


Dengan berani, Chilla naik keatas tubuh Alva, menangkup dua sisi pipi lelaki itu, "Sayang, aku benar-benar minta maaf," rengeknya dengan manja, setelah mengatakan itu ia bersandar di dada Alva, dan melingkarkan tangannya di leher lelaki tersebut.


Secepat kilat Alva menarik tubuh gadis itu, ia masih marah, namun Chilla tidak pasrah, ia tetap memeluk erat tubuh Alva.


"Jangan marah, maafkan aku, janji tidak melakukannya lagi," mengusak-ngusak seperti kucing yang ingin di manja majikannya.


Alva menarik nafas, dan membuangnya secara bergantian, "Aku yang menolongmu, tetapi kenapa orang lain yang mendapat pujian," cetusnya lagi masih tidak terima.


Chilla mendongak, menatap wajah Alva dengan bibir yang mengerucut, merayu, "Maaf, pokoknya sayang yang terhebat, dan paling so sweet pastinya,"


"Aku masih marah,"


Menarik baju Alva, "Bagaimana kalau kita melakukannya?" Yakin kalau penawaran satu ini tidak mungkin di tolak lelaki itu. Ini jurus Chilla yang paling ampuh.


"Melakukan apa maksudmu?" Pura-pura tidak mengerti, Alva memasang wajah datar. Dan sebisa mungkin menghindari tatapan mata Chilla.


"Tentu saja melakukan yang sering kita lakukan, yah, yah, tapi jangan marah," Chilla sudah mulai membuka satu persatu kancing kemeja Alva. Tetapi lelaki itu masih bergeming, ingin melihat seberani apa gadis ini menggodanya.


Tanpa Alva duga, Chilla menggigit lehernya, gigitan manja yang membuatnya tiba-tiba mengerang, tanpa sadar Alva meremas dua gundukan di bawah sana, selagi Chilla masih memainkan lidahnya, dari leher turun ke dada.


"Sayang diam saja, biar aku yang melakukannya," ucap Chilla dengan wajah menggemaskan, bagaimana tidak, ia mengatakannya seserius itu, bahkan seperti orang yang sudah profesional.


"Kau yang memintanya sendiri, jadi jangan harap aku akan berhenti." Alva menurunkan sandaran kursi. Tak menggubris perkataan Alva, Chilla justru meraih bibir lelaki itu. Mencecapnya dengan sedikit kasar.


Tak membuang kesempatan, Alva membalasnya, pagutan yang tak kalah buas hingga terciptalah ruang yang panas. Dapat ia rasakan, kini gadisnya mulai bisa memacu permainan, Alva di buatnya mabuk kepayang, saat daun telinganya di kulum dengan gemas, bersamaan dengan pusaka kesayangannya yang di remat secara menyeluruh.


Chilla berhasil membakar tubuhnya, ia terbawa arus hasrat yang di bawa gadis itu. Dengan bibir yang kembali menyatu, Alva mengangkat tubuh Chilla, lalu mendudukkannya kembali, bersamaan dengan benda tumpul dibawah sana, yang tiba-tiba melesak masuk begitu saja.


"You are the driver, Honey," bisik Alva menjeda kegiatan mereka.


Chilla tak menjawab, ia justru mulai memompa tubuhnya diatas tubuh Alva, semakin buas pertarungan lidah mereka. Semakin cepat pula Chilla mengayuh dirinya. Ini luar biasa, Alva dibuatnya kewalahan, karena gadisnya sama sekali, tak memberinya kesempatan untuk mengambil alih kendali.


Desaah di bibir Alva baru saja lolos tak tertahan, begitu Chilla melepas pagutan. Senyum gadis itu mengembang, melihat Alva tak berdaya karena permainannya.


"Sayang benar-benar tampan," ujarnya lalu menekan pinggul, ledakan yang amat dahsyat itu akan segera ia dapatkan, hingga saat pusaka kesayangan Alva menyentuh titik denyutnya yang terdalam. Chilla melenguh, dan detik selanjutnya, ia ambruk diatas tubuh Alva yang berpeluh.


...****************...


...****************...


Mendung gini, enaknya cari yang anget-anget๐Ÿ’†๐Ÿ’†๐Ÿ’†


Bibirnya minta di capit pake bibir

__ADS_1



__ADS_2