
Pesta sudah selesai. Semua tamu undangan pergi dengan tawa mereka masing-masing. Tidak ada kesedihan hari ini. Sekalipun ada tangis, percayalah semua itu tangis bahagia.
Jonathan dan yang lain sudah pulang sejak setengah jam yang lalu, sedangkan keluarga Juna memutuskan untuk tetap tinggal. Menempati kamar tamu.
Para panitia terlihat masih bebenah, membersihkan serta merapikan barang-barang yang telah dipakai itu malam ini juga.
Sementara pengantin kita sudah berada di dalam kamar. Juna dan Nana tak berhenti untuk saling melempar senyum, mereka masih betah dengan posisi Juna memangku sang istri. Enggan untuk membersihkan diri.
"Kak, sampai kapan kita akan seperti ini?" Tanya Nana, pipinya tak berhenti untuk merona, karena sedari tadi, Juna terus memandang lekat dirinya.
Juna tak menggubris, ia justru melenggak-lenggokkan kepala, mengikis jarak, hingga kedua pucuk hidung mereka menempel.
"Aku menginginkannya."
Hembusan nafas lelaki itu menampar wajah Nana, bulu roma gadis itu meremang, sejenak memejamkan mata. Hingga Juna mempertemukan bibir mereka.
Pelan, kedua netra itu terbuka. Dapat Nana rasakan sebesar apa Juna menginginkan dirinya, itu terbukti dari pagutan lelaki itu, terasa langsung menuntut, meminta balasan darinya.
Juna menggigit-gigit kecil, ingin membuat mulut itu terbuka, agar ia mudah melesakan lidahnya. Dan benar saja, trik Juna berhasil, tanpa menunggu lama, Nana sudah memberikannya akses.
Lidah itu menelusup, nafas Juna langsung memburu, ia memegang kuat tengkuk Nana, memberikan ciuman terdalam untuk istrinya.
Decapan-decapan itu terdengar nyaring, darah dalam tubuh mereka mendidih, rasa panas itu semakin menjalar, menyulut gairah hingga membuncang hebat.
Dengan gerakan cepat, Juna melepaskan gaun yang Nana kenakan, turun hingga ke pinggang, pagutan itu sama sekali tak terlepas, terasa semakin menuntut, membuat Nana kewalahan.
Namun tak bisa dibohongi, denyutan dibawah sana semakin terasa kuat, hingga ia tak sadar, Juna sudah membawanya berbaring di atas ranjang.
"Kak, apa kita tidak perlu mandi dulu?" Tanya Nana malu-malu, tubuhnya sudah terasa lengket, dan mengeluarkan bau yang tidak sedap. Dia tidak percaya diri, takut Juna merasa tak nyaman.
Tetapi bukannya mengiyakan, Juna malah menggeleng. "Tidak Sayang, aku menginginkannya sekarang." Tatapan itu sudah menggebu-gebu, berkabut nafsuu.
__ADS_1
Kalau sudah begini, apa yang bisa Nana perbuat, meskipun banyak yang bilang malam pertama itu menyakitkan, namun tak ayal, ia justru penasaran.
Sesakit apa?
Gadis itu mengulum senyum, senyum yang langsung menular ke diri Juna. Mengerti keinginannya sudah disetujui oleh sang istri, Juna lekas melucuti semua yang melekat pada dirinya dan juga Nana. Hingga tubuh itu sukses tak terhalang oleh apapun.
Juna meneguk ludahnya, selama ini ia hanya bisa merasakan bulatan kecil itu tanpa melihatnya. Namun, kini bulatan indah itu terpampang nyata di depan wajah, Nana melengos, menggigit bibir bawahnya, terlalu malu dengan tatapan lapar Juna.
"Punyaku kecil yah." Ucap Nana tiba-tiba, membuat fokus Juna teralihkan, sebelum menjawab, lelaki itu lebih dulu memberikan kecupan singkat di dua buah dada itu.
Membuat si empunya mendesaah tertahan.
"Aku yang akan membuatnya besar." Sontak Nana menengadah, menatap Juna yang berada di atas tubuhnya. Dada bidang polos itu begitu menggairahkan. Ditambah kulit berkilau karena keringat membasahi tubuh tegap Juna.
Lantas, tanpa diduga, Nana menarik tengkuk lelaki itu, ingin Juna segera meneguk tubuhnya. Juna tersenyum di sela-sela ciuman mereka.
Hingga dapat Nana rasakan, sesuatu yang panjang nan keras mengenai pahanya beberapa kali, dia bukan gadis bodoh yang tidak tahu benda apa itu.
Dan kini, Juna sudah sangat menginginkannya, menginginkan pusaka itu menerobos masuk, ke dalam medan pertempuran, yakni liang senggama istrinya.
Pelan, lelaki itu mengangkat kaki Nana, dia beberapa kali melirik gadis itu, gadis yang tengah menggigit kuat bibirnya.
Dan... "Argh." Nana sontak berteriak saat Juna berusaha memasuki dirinya. Membuat Juna menghentikan niatannya.
"Tahan, ini sakitnya sebentar." Juna berusaha menenangkan, sedangkan dada Nana sudah naik turun, dengan nafas yang tak begitu teratur.
Juna mencobanya sekali lagi, dan... "Argh... Sakit, sakit! Sakit Kak Juna!" Pekik Nana tidak terima. Bahkan tangannya tak segan untuk memukul. Padahal belum setengah jalan Juna melakukannya.
Lelaki itu menunduk, lalu mengecup seluruh wajah istrinya. Membuang kerisauan gadis itu. "Sayang, tahan sebentar."
"Tapi sakit." Rengek Nana, belum apa-apa rasa itu sudah menghantuinya, bagaimana saat senjata sang suami benar-benar penuh merasuki tubuhnya?
__ADS_1
"Sakitnya nggak akan lama, Sayang." Juna kembali membujuk, mengulum pucuk itu dengan penuh kelembutan, hingga Nana melenguh, dan tangannya berusaha mendorong senjatanya untuk masuk ke dalam sana.
"AAAKHHHHHHHHH!!! KAK JUNA SAKIT!!!" Teriak Nana, dan langsung dibungkam oleh ciuman suaminya. Kedua nafas itu memburu, Juna berhenti sejenak, belum mau bergerak, dia menginginkan istrinya untuk tenang, agar keduanya mendapatkan kenikmatan.
Sedangkan yang diluar sana langsung heboh, ada yang memekik girang, ada juga yang tertawa keras sambil membayangkan apa yang sedang terjadi di dalam sana.
Goal nih kayaknya. Haha.
Wah, langsung jos ternyata.
Punya Juna mantap juga. Calon-calon gadang inimah.
Kembali dengan kedua pengantin baru kita. "Jangan tegang, abis ini pasti nggak akan sakit. Aku pelan-pelan." Ucap Juna setelah melepas pagutan. Terlihat Nana mengeluarkan sedikit air matanya.
Ia mencengkram kuat bahu Juna, seiring lelaki itu memompa tubuhnya. Awalnya gadis itu meringis, namun lama kelamaan, rasa itu menggelora, hingga akhirnya Nana mendesaah pasrah.
Gadis itu mengulum senyum, saat dapat ia rasakan kenikmatan demi kenikmatan yang Juna berikan.
"Kamu suka?" Tanya Juna tanpa berhenti bergerak. Sesekali lelaki itu juga ikut melenguh, himpitan dibawah sana, benar-benar membuatnya merasa dimanjakan.
Pantas saja, bos gila itu tak berhenti untuk melakukannya dengan sang Nona. Ternyata, memang sangat menggairahkan dan memabukan.
"Suka." Balas Nana mendesaah, membuat Juna mengulum senyum. Lelaki itu semakin bergerak cepat, seiring ledakan dahsyat itu terasa akan mencuat.
Pucuk itu semakin terombang-ambing, seiring gerakan Juna di atas tubuhnya. Bahkan Nana mulai ikut bergerak seirama dengan hentakkan suaminya.
Gadis itu memeluk leher Juna, merasakan pelepasan itu akan segera datang. "Kak." Desaah Nana, menggigit bahu Juna.
Dan hentakkan nikmat itu semakin terasa, menyentuh titik terdalam liang senggamanya. "Aaahhhhhh..."
"Sekarang, Sayang." Pekik Juna, dan hap!
__ADS_1
Udah ya...