Menjadi Simpanan CEO

Menjadi Simpanan CEO
Aku nggak bisa!


__ADS_3

Tepat seminggu setelah kelulusan Nana. Juna benar-benar menepati janjinya. Nanti malam ia beserta keluarga akan datang ke rumah sang pujaan untuk melamar.


Dari pagi, ia tidak berangkat ke kantor. Sudah izin pada Alva untuk menyiapkan segala keperluannya.


Awalnya, bos gila itu terus-menerus menggoda sang asisten, hingga Juna begitu merasa kesal. Dan setelah puas, dengan tawanya yang membahana, Alva baru memberi izin pada Juna.


Tapi dibalik itu semua, Juna tahu kalau Alva sebenarnya sayang padanya. Itu terbukti, dari hadiah yang lelaki itu siapkan untuknya, sebagai hadiah pernikahan.


Tak main-main, Juna disuruh memilih rumah mewah di kawasan terelit yang ada di ibu kota. Lelaki itu bilang, ini tanda terimakasih karena Juna sudah setia berada di sampingnya.


Ya setia meladeni tingkah gilanya, setia menahan kekesalannya, dan setia menjadi korban kebucinan sang Tuan pada istrinya.


"Terimakasih, Tuan. Saya benar-benar tersentuh dengan kebaikanmu." Ucap Juna, mimik wajahnya terlihat penuh haru, sedang tangan kekar itu berniat memeluk Alva.


Lelaki itu menepis tangan sang asisten dengan kasar. "Cih, biasa saja! Dan jangan peluk-peluk aku, aku hanya milik istriku." Itulah jawaban Alva siang itu, saat Juna mengungkapkan rasa terimakasihnya.


Tak kalah bahagia dengan Juna. Sang Mama yang tahu putra sulungnya akan segera menikah, benar-benar merasa sangat senang. Karena pada akhirnya, hal yang ia nantikan datang.


Juna telah menemukan tambatan hatinya.


Meski ia tidak pernah melihat seperti apa wanita yang dicintai putranya. Ia percaya, bahwa Juna pasti memilih yang terbaik, dari yang terbaik untuk menemani sisa hidupnya.


Saling menguatkan, dan selalu ada di saat suka maupun duka.


Sore mulai menyapa, detik demi detik terus Juna hitung, rasa sabar itu semakin menipis, ia terus melihat ke arah jarum jam. Kalau boleh, ingin rasanya ia putar ke angka delapan.


Dan pandangan mata itu teralihkan begitu ponselnya berdering, menampilkan sosok nama yang sangat ia rindukan.


Dengan perasaan membuncah, dan senyum mengembang Juna lebih dulu mencium ponselnya, lalu mengusap layar pintar itu untuk menjawab panggilan Nana.


"Halo, Sayang." Sapanya dengan girang. Ia bergerak salah tingkah menunggu suara kekasihnya.


Sedangkan di ujung sana, Nana bergerak gelisah. Ia ingin mengatakan sesuatu pada Juna. Harus, dia harus mengatakannya.


Atau dia akan kehilangan imagenya di depan lelaki itu.


"Halo, Kak." Balas Nana tak seceria sapaan Juna. Ia menunduk berkali-kali sambil memainkan ujung bajunya.

__ADS_1


"Ada apa? Kok kaya murung begitu, sebentar lagi kita ketemu lho." Juna merasakan perbedaan sikap Nana, dari suara gadis itu.


Dan Nana menggigit jarinya. "Kak bisa nggak?" Tanyanya.


"Bisa apa?" Juna mengangkat alisnya di seberang sana. Sebenarnya ada apa?


Lagi, Nana meneguk ludahnya kasar, takut Juna kecewa. "Bisa nggak lamarannya ditunda?" Tanyanya lirih. Ia benar-benar sedang frustasi.


Nyes!


Semangat Juna langsung hilang seketika, tubuhnya lemas seperti jelly mendengar permintaan kekasihnya untuk menunda lamaran mereka.


Padahal ia sudah berusaha menyiapkan segalanya dengan sebaik mungkin.


Ia menatap jam dinding itu dengan nanar. "Kenapa Na?" Tanya Juna berubah sendu.


"Aku nggak bisa, Kak."


"Iya tapi kenapa?"


"Ya pokoknya nggak bisa. Minggu depannya lagi aja yah?" Tawar Nana, sebisa mungkin ia tidak ingin Minggu ini acara lamaran itu diadakan.


"Aku nggak bisa kasih tahu."


"Sayang ayolah, aku harus tahu, masalah sebesar apa sampai kita menundanya?"


"Ihhhh Kakak pokoknya Nana tuh nggak bisa, ngerti nggak sih?" Gadis itu berubah semakin ketus. Di tambah ini adalah hari pertama pmsnya.


"Iya tapi kenapa? Kenapa Na?"


"Ya nggak bisa!"


"YA KENAPA?" Bentak Juna.


"AKU LAGI JERAWATAN, PUAS?" Nana tak kalah membentak.


************

__ADS_1


Pukul 7 malam, ibu hamil dengan wajah imutnya sudah berdandan secantik mungkin, untuk menghadiri lamaran sahabat dan asisten suaminya.


Ia memakai baju couple, layaknya pasangan suami istri yang lain. Chilla sengaja meminta Alva untuk mengantarnya membeli baju baru, ia ingin sekali terlihat senada dengan suaminya.


Kini, keduanya sudah masuk ke dalam mobil, tetapi Alva tak membawa kijang besi itu, langsung meluncur ke kediaman Juna, melainkan berbelok ke arah rumah orang tua mereka. Ya, mereka akan berangkat bersama.


Jonathan yang telah menganggap Juna seperti putranya sendiri, meminta Mona untuk membelikan beberapa buah tangan, untuk dibawa menuju rumah calon mertua lelaki muda tersebut.


"Kenapa berdandan secantik ini?" Tanya Alva, kini kedua mobil tersebut sudah melandas ke jalan raya.


Satu tangannya menyentuh hidung sang istri, menelusuri wajah Chilla dengan gerakan pelan, hingga gadis itu merasa kegelian.


"Chillakan berdandan biasa saja." Balasnya seraya bergeming, menikmati sentuhan jari Alva di wajahnya.


"Cih, kau terlihat lebih cantik sekarang. Dan aku tidak suka orang lain melihatnya." Protes Alva, melirik sekilas lalu kembali menatap ke jalan raya.


Gadis itu meraih jari telunjuk suaminya. "Lalu Chilla harus apa, Sayang?" Tanya Chilla dengan menggoda, ia mencondongkan wajah ke arah Alva.


Alva menuding kening sempit itu. "Tulis disini 'punya Alva' " Ucapnya mengeja namanya sendiri, dan Chilla langsung terkekeh geli.


Namun, seketika kekehan itu berhenti, saat lelaki itu merampas bibirnya, kebetulan mereka sedang di lampu merah.


Alva sama sekali tidak membuang kesempatan, ia menyesap bibir ranum itu, bibir yang memiliki rasa strawberry, ya tadi Chilla memakai lipstik rasa buah itu, buah kesukaan Alva.


"Aku tidak bercanda." Ucap Alva serius, setelah selesai dengan candunya. Ia kembali melajukan mobilnya karena lampu sudah berganti warna.


"Sayang yang benar saja."


"Ya pokoknya jangan lihat lelaki lain selain aku, kalau kau melakukannya, aku akan menciummu di depan semua orang!" Ancam Alva.


Dan Chilla hanya dapat mengangguk patuh pada ucapan suaminya. Kalau dibantah bisa-bisa Alva malah mengajaknya pulang ke rumah.


Dan kalian pasti tahu ujungnya akan seperti apa.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Hai Hai... Absen dong yang masih bertahan sampai bab ini☝️☝️☝️

__ADS_1


Kira-kira Kakak Juna sama Nana jadi enggak lamarannya, padahal Kakak pacar sama Dedek udah dandan loh😂😂😂


__ADS_2