
Setelah menyelesaikan permainan di dalam mobil. Shaka keluar dengan menggunakan kemejanya yang sudah lusuh, karena jas miliknya dipakai oleh sang istri yang kini tengah dia gendong.
Beby benar-benar dibuat tak bisa berjalan, karena kakinya terasa keram. Pun dengan intinya yang semakin lecet, tetapi kalau Shaka merasukinya lagi, dia seolah tidak mau berhenti.
Beby mengalungkan tangannya di leher Shaka, dia digendong seperti bayi koala. Sementara apem kukus dan jambu kristalnya tak lagi berpenghalang.
Hanya jas Shaka dan rok abu-abu, yang kini melekat di tubuhnya. Menimbulkan gesekan yang terasa geli, saat dia meregangkan pelukannya.
"Kita mandi yah, By," ucap Shaka saat mereka sudah berada di depan pintu apartemen.
"Mandiin," balas Beby manja, Shaka sudah membuatnya seperti ini, maka dari itu dia harus bertanggung jawab, pikir Beby seperti itu.
Shaka mengulum senyum, lalu menggigit gemas dagu Beby, menyesap hingga menimbulkan bekas kemerahan. "Nggak cuma Abang mandiin nanti." Jawab Shaka ambigu.
"Ah, udah ah, Bang. Beby nyerah, udah capek, sarung kokomnya juga tinggal dikit, nanti beli lagi yah yah," ujar Beby sambil mengedip-ngedipkan matanya, sesuatu yang membuat Shaka ingin selalu memakannya.
"Iya, Sayang, iya," jawab Shaka sambil melangkah ke dalam.
"Ngomong-ngomong password apartemen Abang apa?" tanya Beby, Shaka mengode gadis itu agar membuka pintu kamar terlebih dahulu, patuh Beby langsung membukanya dan alangkah terkejutnya saat mereka masuk ke dalam sana.
__ADS_1
Bunga mawar sudah bertebaran di mana-mana. Aroma harum serta memanjakan pun menguar dengan begitu menyengat.
Kedua orang itu sampai memejamkan mata, menikmati suasana kamar ini. Kamar pengantin baru, yang sengaja Nana siapkan sebelum mereka datang.
Beby dan Shaka kompak membuka mata, dan kedua netra itu bertemu dalam satu garis lurus, menciptakan getaran yang berbeda dari diri masing-masing.
Jantung mereka menggila, pun dengan sorot yang kembali saling mendamba. Rasa yang menggila, membuat Shaka menurunkan Beby di ranjang dan kembali mengungkungnya.
Belum lagi suasana ruangan yang begitu temaram. Menyisakan romantisme yang membuat Shaka lagi-lagi kembali menegang, kedua tangannya bertumpu di antara kepala Beby, dan anggota tubuh di bawah sana setengah menindih.
Nafas Beby memburu, melihat Shaka yang kembali berkabut. Membuat dia bergeming, dan tak bisa melakukan apapun, seolah terhipnotis, dia hanya mampu diam saat Shaka kembali menjangkau bibirnya.
"Password apartemen ini tanggal pernikahan kita, By. Dan jangan pernah sebut ini apartemen Abang, sekarang apartemen ini milik kamu juga. Milik kita. Dan kelak akan ada buah cinta kita juga di sini. Satu yang paling penting, Abang mencintaimu, By."
Seperti terbius oleh kata-kata Shaka, Beby kembali memejamkan matanya saat benda kenyal itu kembali menyapa.
Rasa lelah, remuk dan redam seolah menguap entah ke mana, mendengar kalimat Shaka yang sungguh-sungguh mengungkapkan perasaannya membuat hati Beby menghangat.
Dan pelan-pelan dia membalas ciuman Shaka yang semakin terasa menuntut dan dalam.
__ADS_1
Siang menjelang sore itu, Shaka dan Beby kembali menyatu. Ada perasaan lega, karena ungkapan itu lepas pada pemiliknya.
Rasa yang selama ini Shaka pendam, akhirnya terungkapkan. Selama ini, dia menunggu Beby, menunggu Beby besar dan siap untuk dia pinang.
Hingga akhirnya semua itu terwujud, bahkan di saat gadis itu masih ingusan. Di dalam penyatuan ini, Shaka sama sekali tak memakai pengaman, pun dia yang membiarkan para anak kecebong yang Tyrex lepaskan.
Berenang menemui induk telur yang dihasilkan apem kukus milik Beby.
Hingga saat mereka meraih pelepasan, Beby berbisik. "Ajarin Beby, Bang. Ajarin Beby buat bisa jadi istri dan ibu yang baik buat Abang dan anak-anak kita. Ajarin Beby buat cinta sama Abang sepenuhnya."
Mendengar itu, Shaka merasa begitu bahagia. Seolah tidak ada kebahagiaan yang lain, yang ingin dia capai, selain sang wanita.
*
*
*
Ajarin othor juga dong Bang, maap ye malem-malem nongolnya 🙈🙈🙈
__ADS_1