
Dari hari ke hari hubungan Shaka dan Beby semakin membaik. Shaka selalu dibuat panas dingin oleh istri kecilnya setiap malam, bagaimana tidak? Baby akan selalu memegangi Tyrexnya sebelum tidur.
Rutinitas yang hampir saja tidak pernah dilupakan oleh gadis cantik itu. Kalau pun sudah tertidur duluan, tengah malam tangan Beby sudah masuk ke dalam celana rumahan suaminya.
Entah magnet apa yang membuat Beby tak bisa lepas dari benda tak bertulang tetapi bisa berdiri tegak itu. Hingga saat sudah mengenalnya akrab, tak sekali pun Beby melupakannya.
Dan mulai hari itu juga, Beby dan Shaka tidak lagi memakai Kokom. Saat sudah bisa membedakan rasa Tyrex tidak memakai Kokom, dia jadi ingin Shaka terus melakukannya tanpa benda itu.
Shaka juga senantiasa menyemburkan bisanya di dalam, karena sang istri yang memintanya. Dia hanya menurut saja.
Pagi ini, Beby membawa Jordy ke sekolahnya. Sejak seminggu yang lalu, dia sudah tidak diantar maupun dijemput oleh Shaka. Dan Shaka hanya bisa mengiyakan permintaan Beby, karena dia tidak mau mengekang gadis itu.
Dia mau membuat Beby nyaman, senyaman-nyamannya.
"By, hati-hati yah. Jangan ngebut bawanya," ucap Shaka sambil memasangkan helm di kepala gadis itu. Tak lupa ciuman hangat tanda perpisahan mereka lakukan di basemen apartemen.
Lumaatan-lumaatan yang semula kecil, kini terasa lebih kasar. Bahkan Shaka membuat gadis itu kehabisan nafas, dan hampir saja pingsan, karena Shaka menciumnya sangat kuat.
"Tsk."
Pagutan itu terlepas, nafas keduanya memburu. Namun, Beby yang terlihat lebih mendominasi, karena Shaka seperti ingin membuatnya mati.
"Gimana? Ciuman Abang mematikan kan?" tanya Shaka sambil terkekeh. Semalam gadis itu meremehkannya, dan sekarang adalah waktunya pembalasan.
__ADS_1
"Hih, Abang mau bunuh Beby yah? Beby sampe kehabisan nafas. Kalo metong gimana? Abang mau jadi duda?" Cetus gadis itu dengan bibir yang mencebik.
"Ya enggaklah, Sayang. Mana mungkin Abang mau ditinggal sama istri secantik kamu. Sudah sana berangkat, atau mau cium lagi?"
Gadis itu mengangguk. "Mau berangkat dan mau cium lagi." Rengeknya manja.
Shaka terkekeh, dan kembali merampas bibir mungil itu. Memberikan kecupan-kecupan singkat, hingga akhirnya Beby benar-benar berangkat.
"Dah, Abang. Jaga Tyrex baik-baik yah. Muah," teriak Beby sambil menjalankan Jordy, dan mulai keluar dari pintu basemen. Meninggalkan Shaka yang terus menatap kepergiannya.
*
*
*
"Wuidih penganten baru, romannya seger bener pagi ini. Abis dapet suntikan lu yah dari Abang gue?" Sapa Gattan dengan menggoda gadis cantik di sampingnya.
Mendengar itu, Beby mengibaskan rambutnya. "Yaiya dong, setiap hari gue disuntik terus. Gimana kagak makin lope-lope gue?"
"Halah, kemaren bilangnya suka sama bokap gue, giliran udah ngerasain apa tuh namanya?"
"Nama apa?"
__ADS_1
"Nama tititt Abang gue, apa namanya?"
Beby mendelik, Gattan ini bila bicara selalu tidak pakai saringan. "Tyrex, namanya Tyrex!" Cetus gadis itu.
Gattan tergelak. "Iya itu, giliran udah ngerasain Tyrexnya aja lu langsung pindah haluan. Segede apa sih? Ayo tanding sama punya gue, si Tom pasti bisa menang lawan tuh Tyrex. Bisa nyembur berapa kali? Satu, dua, tiga? Gue jabanin."
Beby menoyor kepala Gattan dengan keras hingga pemuda itu mengaduh.
"Lu gila yah, Tan. Lulus aja belum udah mikirin kayak begitu, mau dikasih makan apa bini sama para kecebong lu?"
Gattan terkekeh, dia selalu bersikap santai disetiap situasi. "Yaelah, bokap gue kan kaya, tinggal minta sama Daddy. Apa susahnya? Hidup tuh jangan dibikin mumet, enjoy aja sambil nikmatin semangka."
Beby menghela nafas, dan hanya bisa geleng-geleng kepala. Dia memang bobrok, tapi rasanya pemuda yang ada di sampingnya jauh lebih bobrok darinya.
"Oh iya, Beb. Malem ada balap di tempat biasa, perdana nih dari sekian lama mati suri. Lu mau dateng nggak?" tanya Gattan mengingat pembicaraannya kemarin sore dengan ketua Genk motor yang lain.
Beby nampak berpikir, untuk pertama kalinya semenjak dia menikah, acara balapan liar yang dulu sering dia ikuti, kini aktif kembali.
"Ikut nggak yah?"
*
*
__ADS_1
*
Jangan bikin huru hara ya Beb 🥱🥱🥱