Menjadi Simpanan CEO

Menjadi Simpanan CEO
Melawan nenek sihir


__ADS_3

Tubuh Chilla merasa baik-baik saja, namun pagi ini entah kenapa ia sedikit mual, dan akhirnya gadis berponi itu memuntahkan kembali sarapannya.


Ia sudah bersiap untuk pergi dengan Nana, namun terhambat karena mualnya yang tak kunjung mereda.


"Masuk angin kali yah?" Gumam Chilla, menyender di dinding dekat wastafel sambil memegangi perutnya.


Merasa sudah lebih baik, ia menyambar tas selempang miliknya, dan memutuskan untuk keluar, melanjutkan kembali niatannya, untuk merayakan kelulusan dengan sang sahabat.


Sebelum Pram dan juga Sarah masuk kedalam kamar untuk kembali beristirahat, Chilla sudah berpamitan pada kedua orang tuanya, karena keduanya memutuskan untuk tidak bekerja.


Di depan, Satria baru saja sampai, turun dari motor sportnya untuk menemui Chilla.


Seperti de javu, gadis manis yang akan ia temui, terlihat keluar dari dalam rumah, dengan pakaian rapih.


Senyum Satria langsung mengembang, tetapi tidak dengan Chilla. Ia justru terlihat kikuk saat bertemu sahabat kekasihnya tersebut.


"Lho, Bang Sat kenapa ada disini?" Tanya Chilla basa-basi. Padahal ia jelas tahu, apa tujuan Satria datang kemari.


"Aku mau jemput kamu, kita jalan yuk?" Ajak Satria to the point, tak memikirkan gadis itu menolak atau mengiyakan ajakannya.


"Eeu... Tapi Chilla udah ada janji Bang," tolaknya secara halus.


"Sama siapa?"


"Sama Na—" Ucapannya terpotong. Kalau Chilla mengatakan dengan jujur, pasti Satria akan merengek untuk ikut. Dan itu tidak boleh terjadi, mau jadi apa dia, kalau sampai Alva tahu ia bersama Satria.


"Sama pacar aku, hehe," sambung Chilla cengengesan.


"Nama pacar kamu Na?" Satria dibuat penasaran, seperti apa sebenarnya sosok yang menjadi pujaan hati gadis yang ia cintai ini.


"Ah, Na—va," kilah Chilla dibubuhi senyum kikuknya seraya menggaruk tengkuknya yang gatal sama sekali.


"Seperti nama wanita," cetus Satria.


"Itu hanya nama panggilan. Ya sudah Chilla pamit yah Bang Sat, pasti Nava udah nungguin aku,"


"Aku anter yah," lelaki itu terlihat belum menyerah. Bahkan ia sedikit melangkah mendekati Chilla.


"Ya janganlah Bang, nanti kalau pacar Chilla mikir yang nggak-nggak gimana?"


"Bilang saja kalau aku ini Kakakmu,"


"Tapi dia itu posesif, suka marah-marah nggak jelas, kalau Chilla sama cowok lain,"


"Kalau dengan Alva?"


Deg!


Mendengar itu, Chilla menelan salivanya dengan berat, dan bergeming sesaat. Lalu entah ide darimana, ia mengambil ponsel yang ada didalam tasnya seolah ia mendapatkan pesan dari seseorang di seberang sana.


"Bang, Nava udah nungguin Chilla, Chilla duluan yah,"


Tanpa menunggu jawaban Satria, Chilla langsung meninggalkan lelaki tersebut, melangkah dengan sedikit tergesa, dan mencegat taksi yang kebetulan lewat didepannya.


Sedangkan Satria menghela nafas panjang, ada saja alasan tidak bisa mendekati Chilla, pikirnya.


Tapi bagaimana Alva bisa setuju Chilla berpacaran dengan lelaki bernama Nava. Sedangkan ia sendiri sebagai sahabat, malah di tentang habis-habisan.


Suara motor sport yang lain memecah lamunan Satria, dilihatnya seorang pemuda tampan yang ia kenal sebagai rivalnya, turun dari sana.


"Ada apa kau kesini?" Cetus Satria, lagi-lagi pemuda ini menyambangi rumah gadis pujaan hatinya.


"Tentu saja bertemu Chilla," balas Bryan acuh, melengang ke arah gerbang, tanpa memperdulikan Satria.


"Chilla sudah pergi,"


Bryan langsung menghentikan langkahnya, memutar badan, dan menghadap lelaki yang tengah berdiri di belakangnya.

__ADS_1


"Dia pergi dengan pacarnya," jelas Satria lagi.


"Dia benar-benar sudah punya pacar?" Cicit Bryan, tetapi masih terdengar di telinga Satria.


"Heuh, Chilla juga memberitahumu? Itu artinya dia ingin kau mundur," tegas Satria, yakin kalau pemuda itu pasti sudah mengutarakan isi hatinya pada sang gadis.


"Bagaimana denganmu?" Balas Bryan menantang, tak takut sedikitpun bersaing dengan lelaki seperti Satria itu. Baginya, Chilla bukanlah gadis yang suka dengan harta dan tahta, dia hanya sosok gadis manis yang sederhana. Dan Bryan yakin, dengan sedikit usaha, Chilla bisa merasakan ketulusannya.


"Kau tidak salah bertanya? Dengan pria dewasa yang sudah mapan sepertiku saja Chilla menolak, apalagi dengan bocah ingusan sepertimu?" Cibir Satria dengan mata menajam.


"Haha, harusnya aku yang bilang seperti itu, dengan pria muda sepertiku saja Chilla tidak mau, apalagi dengan pria tua sepertimu?" Balas Bryan tak kalah sengit.


Sial!


Harga diri Satria seperti di injak-injak. Namun, ingat dengan umur, Satria hanya bisa mengumpat. "Dasar bocah jaman sekarang, hidup seperti tidak memiliki aturan."


Bryan tak menggubris, ia naik kembali ke atas motornya dan mulai menyalakan mesin, sebelum benar-benar pergi, ia mengacungkan jari tengahnya ke arah Satria. Fuckk.


"Bocah kurang ajar!"


*********


Di sebuah pusat perbelanjaan Nana dan Chilla bertemu, mereka sepakat akan menonton terlebih dahulu, film terbaru yang di bintangi aktor tampan kesayangan mereka.


Keduanya cekikikan, bahkan heboh ketika sang idola dengan manisnya mengungkapkan kata-kata cinta.


Dan dialah, satu-satunya lelaki yang mampu membuat seorang Nana, spesies wanita paling galak di sekolah, bisa menjadi sosok yang sebenarnya.


"Duh, suami gue ganteng banget si, pengen bawa pulang," rengek Nana, seraya memandangi layar besar didepan mereka.


Chilla hanya terkekeh, sejauh ini, ia tahu Nana hanya menyukai lelaki, ya aktor ini, selain ayah dan adik bungsunya.


Selesai menonton, dua gadis cantik ini berburu junk food, di restoran cepat saji yang kerap mereka kunjungi.


"Chill lo yakin mesen burger sebanyak ini?" Tanya Nana dengan wajah terperangah, tahu gadis ini doyan makan, tapi ini tidak tanggung-tanggung, Chilla memesan 5 burger sekaligus, ditambah ice cream dengan cup besar.


Mendengar pertanyaan sahabatnya, Chilla mengangguk, dia memang sangat lapar, karena pagi tadi, ia kehabisan energi karena rasa mualnya.


Di tengah asyiknya menyantap makan siang, tiba-tiba sesosok nenek sihir dan antek-anteknya, menghampiri mereka berdua.


Dengan sengaja, Yoona mengambil saus dan menumpahkannya di minuman milik Chilla sambil terkekeh puas.


Mata dua gadis itu langsung terbelalak, lalu menatap sengit orang yang dengan sengaja, mengganggu ketenangan mereka.


"Ada yah, cewek nggak tahu malu kaya lo, tampangnya aja kalem, tapi doyan juga nebar selangkangaan." Ucap Yoona dengan nada sinis, ia melipat tangannya didepan dada setelah menaruh kembali saus itu di tempatnya.


Benci, begitulah yang ia rasakan ketika melihat Chilla, gara-gara gadis ini, lelaki yang ia cinta berubah. Gara-gara gadis ini pula, Kakaknya tidak bisa mendekati Alva.


Cih, lihat tampang so polosnya.


Nana langsung berdiri, tidak terima mendengar ucapan Yoona, yang ia tahu itu di tujukan untuk sahabatnya. "Maksud lo apa?" Tanyanya dengan membusungkan dada.


"Gue nggak ada maksud apa-apa, cuma menyayangkan aja, Bryan udah dia rebut, dan Kak Alva juga dia deketin, gue sih yakin, dia udah di tidurin secara bergilir,"


PLAK!


Tamparan keras itu berhasil mendarat, membuat pengunjung yang ada disana, berbondong-bondong melihat ke arah mereka. Tapi tamparan itu bukan berasal dari tangan Nana. Melainkan, gadis manis yang tengah disudutkan itu sendiri yang melayangkan tangannya, untuk menampar Yoona.


Tak hanya Yoona yang terkejut, pun dengan Nana yang tak habis pikir, Chilla bisa melakukannya, biasanya gadis itu hanya diam. Namun, kali ini, ia sendiri yang menghajar lawannya.


Chilla sudah seperti kehabisan kesabaran menghadapi Yoona, kali ini, ia mencoba untuk berani.


"Kurang ajar!" Tangan Yoona terangkat keatas, ingin membalas, tetapi hanya menggantung di udara.


Karena lagi-lagi, Chilla tak tinggal diam, harga dirinya sudah di cabik-cabik di muka umum.


"Jangan kamu pikir, aku tidak berani," ucap Chilla seraya mengeratkan kembali cengkramannya, hingga membuat Yola sedikit meringis. Dengan pipi memerah, ia menatap tajam, seolah memberi peringatan.

__ADS_1


"Selama ini aku diam, bukan berarti aku takut Yoona. Aku hanya ingin kamu berpikir, bahwa tuduhan yang kamu tujukan padaku, itu semuanya salah..."


Yoona menarik tangannya kasar, hingga cekalan itu berhasil terlepas. Gadis itu mendengus.


"Salah? Yakin lo, gue yang salah? lo bener-bener nggak punya hubungan apa-apa sama Kak Alva? Bukannya lo itu selingkuhannya yah?" Tuding Yoona.


Chilla menarik sudut bibirnya keatas, "Lalu bagaimana dengan Kakakmu, apa dia juga seseorang yang setia? Kamu yakin, kalau dia tidak memiliki hubungan dengan lelaki lain, selain dengan Kak Alva?" Sindir Chilla.


"Maksud lo apa?" Mata Yoona melotot tak terima.


"Maksudku? Kamu pasti tahu maksudku, bukankah kamu yang paling tahu tentang kehidupan Kakakmu?"


Yoona memandang Chilla dengan mata yang memerah, sejauh apa gadis didepannya ini tahu perihal kehidupan Kakaknya, sampai berani mengatakan itu.


Yoona ingin membalas ucapan Chilla, tetapi satu temannya berbisik, membuat ia urung, "Yoon, udah. Mending kita cabut," seraya menarik pelan lengan gadis itu.


Mengingat, sudah banyak pasang mata yang melihat aksi adu mulut mereka. Dengan nafas memburu, Yoona mengangguk, ia berjalan dengan angkuh, dan menabrak bahu Chilla hingga gadis itu ikut terhuyung.


"Cih, dasar cewek gila," cibir Nana, beralih menatap sahabatnya yang bergeming, "Chil lo nggak apa-apa?"


Chilla mengangguk, tetapi tiba-tiba nafsuu makannya hilang, ia menghembuskan nafasnya kasar, sebelum mengajak Nana untuk pergi dari restoran itu, mencari tempat yang sekiranya bisa menghirup udara segar.


Namun, sebelum benar-benar pergi, Chilla kembali merasakan perutnya seperti di aduk-aduk, hingga akhirnya ia pamit pada Nana untuk ke toilet sebentar.


"Mau gue anter?"


"Nggak perlu, Nana tunggu aja disini yah,"


Tanpa ba bi bu lagi, Chilla melangkah ke arah toilet, begitu sampai, ia langsung memuntahkan kembali makanan yang telah di telannya. Rasa ini sedikit menyiksa.


"Ah, sebenarnya aku kenapa? Apa karena belum minum obat masuk angin, anginnya jadi tidak mau keluar?" Keluh Chilla seraya memandangi bibirnya yang memucat, tak ingin begitu kentara, ia mengoleskan lip tint ke bibir tipisnya.


Merasa cukup lega, Chilla kembali ke tempat semula, tempat dimana sahabatnya itu menunggu.


Namun, anehnya Nana tidak ada disana, mata Chilla dengan jeli mengitari seluruh penjuru, sambil mencoba menghubungi sahabatnya itu.


Berdering...


"Nana dimana sih? Kok nggak angkat telepon Chilla?" Lirihnya dengan menggigit jari, ia mondar-mandir seraya terus memberikan panggilan pada Nana.


Sedangkan di lain tempat, dengan peluh yang mengucur deras, seorang gadis tengah berlari sekuat tenaga, karena tiba-tiba ada dua orang bertubuh kekar mencoba untuk menangkapnya. Padahal ia merasa tidak membuat masalah.


Ya, dialah Nana, tubuh mungil gadis itu menyelinap di balik rerumputan yang cukup tinggi untuk bersembunyi, tak ingin sahabatnya khawatir, dengan tangan gemetar, Nana merogoh ponselnya untuk mengirimi Chilla pesan.


[Chil, gue lagi di kejar-kejar sama orang, tolongin gue.]


Ting!


Mendapati pesan dari sahabatnya, sontak Chilla langsung membuat panggilan, dan apa yang dilakukannya, justru membuat sang sahabat terancam.


Nana memejamkan matanya takut.


Sedangkan dua orang bertubuh besar itu menyeringai, menyadari, kalau mangsanya sedang bersembunyi, itu terbukti dari suara ponsel yang terdengar nyaring, tak jauh dari tempat mereka berdiri.


Tap


Tap


Tap


Bersambung....


...****************...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...****************...

__ADS_1


Nana sama Chilla



__ADS_2