Menjadi Simpanan CEO

Menjadi Simpanan CEO
Maunya naik itu


__ADS_3

Siang itu.


Chilla duduk sambil meluruskan kakinya, punggung yang semakin melebar itu bersandar pada tangan sofa, sedangkan di atas perut buncitnya ada sepiring buah yang sudah dipotong dadu oleh Daniah.


Tv menyala, dia tengah menonton drama kesukaannya yang tayang seminggu sekali. Selain karena alur drama itu tidak membosankan, yang menjadi nilai plus adalah para aktornya yang juga tampan.


Namun, Chilla tidak pernah sekalipun bercerita pada Alva, bisa ia pastikan lelaki satu itu akan marah-marah, kalau sampai dia memuji lelaki lain di depannya.


"Nona, apa mau ditambah lagi buahnya?" tanya Daniah, menghampiri Chilla yang sedang fokus dengan layar besar di depan sana.


"Aku mau strawberry, Mbak." Chilla berkata antusias dengan sedikit melirik Daniah, dia tidak ingin ketinggalan satu adegan pun di dalam drama tersebut.


"Baik, Nona." Daniah kembali ke arah dapur, untuk mengambil buah yang Chilla minta.


Sedangkan dari arah luar, Sarah nampak bertandang ke rumah besar tersebut. Tepat dengan Mona yang keluar dari kamarnya, berjalan melewati Chilla.


Chilla yang sedang fokus, tidak melihat kedua wanita paruh baya itu. Ibu hamil itu mengalihkan pandangan matanya dari tv, begitu Mona pamit padanya.


"Sayang, Mama Mona sama Mama Sarah mau pergi dulu yah." Mona melakukan cipika-cipiki terlebih dahulu dengan besannya, Sarah.


"Mau kemana, Ma?" sahut Chilla seraya menurunkan kakinya ke lantai.


"Ke mall, banyak barang baru di sana. Biasa awal bulan, kan mereka suka keluarin produk-produk yang baru dirilis."


Mendengar kata mall, mata Chilla langsung berubah berbinar, dia sudah lama tidak kesana, dengan antusias dia beranjak dari tempat duduknya, dan meletakkan piring buah di atas meja.


Berjalan sedikit tertatih ke arah Mona dan Sarah, lalu bergelayut manja di lengan mertuanya itu.


"Aku ikut yah? Aku juga mau belanja buat anak aku, Ma." rengeknya dengan bola mata yang membulat lucu. Memandang Mona dan Sarah secara bergantian.


"Kamu beneran mau ikut? Kuat nggak jalannya, Sayang?" tanya Sarah, dia khawatir Chilla akan kelelahan, mengingat kehamilan gadis itu sudah semakin besar.


"Kuat kok, Ma," balas Chilla meyakinkan.


"Yaudah, tapi kamu hubungi Alva dulu yah, bisa dinyap-nyap Mama kalo bawa kamu nggak dapet izin dari dia." Mona mengusap-usap tangan Chilla yang masih bergelayut di lengannya.


Ibu hamil itu mengangguk sambil terkekeh. "Siap, Mama."


Chilla berlalu ke dalam kamar untuk bersiap-siap. Sedangkan Daniah baru saja kembali dengan sekotak strawberry di tangannya.


"Nyonya, kemana Nona Chilla?" tanyanya sambil celingukan, mencari keberadaan ibu hamil itu.


"Chilla lagi siap-siap. Mau pergi ke mall sama kita, kamu ikut yah," jelas Mona.


Patuh, wanita itu menganggukkan kepala. "Oh baik, Nyonya."


Akhirnya, keempat wanita berbeda generasi itu naik dalam satu mobil yang dikendarai oleh Daniah. Kebetulan, wanita muda itu sudah memiliki SIM, jadi mereka tidak perlu repot-repot membawa supir.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Chilla terlihat sangat antusias memilih baju-baju yang berukuran mini, persiapan untuk sang buah hati yang seminggu lagi akan bertemu dengannya. Dia terus keluar masuk, dari toko satu ke toko yang lain, tak kenal lelah.

__ADS_1


Ketiga wanita yang menemaninya hanya menggelengkan kepala dengan uluman senyum. Ikut merasakan kebahagiaan Chilla.


Hingga saat ibu hamil itu berada di toko sepatu, dia memegangi pinggangnya yang terasa kencang. Chilla mengeluh, sambil menyanggah tubuhnya.


"Sayang, ada apa? Kamu cape yah?" Dengan sigap Mona dan Sarah memegangi tubuh Chilla, sedangkan Daniah memegang paper bag, hasil berburu ibu hamil itu.


"Pinggang aku kerasa kenceng gitu, Ma." Chilla meringis, lalu dibimbing untuk duduk. Sarah buru-buru mengulurkan air minum ke arah putrinya.


"Apa kita pulang aja?" tawar Mona.


Chilla menghela nafas setelah meneguk air yang diulurkan oleh Sarah, dia sedikit merasa lega.


"Yah, Mama gimana? Katanya masih ada yang mau dibeli." ucap Chilla merasa tak enakan, karena dirinya semua orang jadi kerepotan.


Belum sempat dijawab, tiba-tiba ponsel Chilla bergetar, setiap setengah jam sekali, terus seperti itu, siapa lagi pelakunya kalau bukan calon ayah yang begitu siap siaga, Alva.


Chilla segera menggeser icon hijau di layar setelah izin untuk mengangkatnya sebentar.


"Halo, Sayang? Kau dimana sekarang? Sudah belum belanjanya, kenapa lama sekali, ingat kau tidak sendiri, di dalam tubuhmu ada Baby, aku tidak mau kau kelelahan. Dari tadi perasaanku tidak tenang, aku terus memikirkanmu," tanya Alva bertubi dengan suara yang begitu cemas, rasanya dia tidak bisa berhenti memikirkan Chilla yang tengah asyik berbelanja keperluan bayi mereka.


"Iya Sayang, sebentar lagi kita pulang. Aku sedang duduk, tadi pinggangku sedikit kencang_"


"APA?" Potong Alva cepat, dia sedikit membentak karena terlalu terkejut.


Perasaannya kembali diliputi rasa was-was. Dia langsung bergerak gelisah. Tidak, tidak boleh terjadi apapun pada Chilla.


" Sudah ku bilang jangan kelelahan, Honey. Diam disitu, dan jangan kemana-mana lagi, aku akan segera menjemputmu. Bilang pada Mama untuk menemanimu sampai aku datang."


"Apa katanya?" tanya Sarah.


Chilla menengadah, menatap semua orang dengan tatapan sendu.


"Chilla tidak boleh kemana-mana, Kak Alva mau jemput, Ma. Maaf yah jadi merepotkan kalian."


"Hei, kamu ini bicara apa, Sayang. Di dalam perutmu itu ada cucu kita, sudah seharusnya kita jagain kamu." Mona menghibur dengan mengelus perut Chilla.


Hingga membuat calon ibu muda itu kembali mengulum senyum, senyum yang membuat semua orang tersenyum pula.





Dan tak berapa lama kemudian, Alva sudah sampai di depan pusat perbelanjaan yang di dalamnya ada sang istri, dia menyuruh Juna untuk cepat turun dengan membawa kursi roda.


"Tuan, untuk apa kita membawa kursi roda?" tanya Juna, melangkah tergesa untuk mensejajarkan diri dengan langkah lebar bosnya.


"Sudahlah jangan banyak bertanya, nanti kau tahu sendiri!" cetus Alva tanpa melirik sedikitpun ke arah sang asisten.


Alva berjalan ke arah lift. Begitu terbuka dengan tidak sabaran, dia langsung menarik Juna untuk masuk, dan menekan tombol angka empat, tempat dimana istrinya berada.

__ADS_1


"Sial! Kenapa lama sekali," umpat Alva, padahal lift itu baru saja berjalan setengah menit yang lalu.


Semua orang memandang dengan tatapan aneh, tetapi tidak dengan Juna, dia sudah hafal betul kelakuan Alva.


Lelaki itu terlihat menggigit bibir bawahnya, lalu mengepalkan tangan kuat.


Bugh!


Alva memukul dinding lift, membuat semua orang merasa terkejut, dia tidak peduli pada tatapan mereka, yang ia khawatirkan hanya keadaan istrinya.


Hingga bunyi ting!


Alva langsung menyerobot keluar, dan lagi-lagi menarik lengan Juna yang kesulitan membawa kursi roda.


Huft... Juna hanya bisa menghela nafas panjang, mencari kelegaan.


Dengan langkah lebar, Alva menyusuri lantai tersebut. Sedangkan matanya dengan tajam melihat kesana-kemari, mencari sosok pujaan hatinya.


Hingga akhirnya dia tiba di sebuah toko, yang tak jauh darinya, sang istri tengah duduk dengan ditemani para ibu-ibu kelas sosialita, siapa lagi kalau bukan Mona dan Sarah.


"Ya Tuhan... Sayang."


Alva langsung menghambur memeluk Chilla, dia duduk bersimpuh di kaki gadis itu, peluh mengucur deras, tetapi tidak dia gubris, hatinya merasakan kelegaan yang luar biasa saat melihat Chilla baik-baik saja.


"Bagaimana, apa pinggangmu masih sakit?" Mengelus lembut pinggang Chilla, sedangkan wajahnya pias, dia benar-benar takut terjadi sesuatu pada istri dan juga anaknya.


Chilla menggeleng. "Nggak, Kak."


"Hah, lain kali jangan pergi-pergi lagi. Satu Minggu lagi kau akan melahirkan, Sayang. Lagi pula kenapa Mama mengajak Chilla selama ini sih!" Alva melirik kesal pada Mona.


"Sayang..." Chilla mengelus kepala Alva, hingga lelaki itu kembali menatapnya. Bibir Alva mengerucut lalu kembali memeluk Chilla dengan erat.


Sedangkan Mona hanya mendengus kesal ke arah putra semata wayangnya itu. Dan membuat gerakan ingin menjitak kepala Alva.


Membuat Daniah, Sarah dan Juna menahan senyum, tak habis pikir melihat tingkah ibu dan anak itu.


Melihat kondisi Chilla, akhirnya mereka semua memutuskan untuk pulang. Kini, Chilla sudah duduk anteng di kursi roda, sedangkan Alva yang mendorongnya.


Juna dan Daniah mengendarai mobil yang mereka bawa masing-masing, Chilla akan ikut dengan Alva. Tetapi sebelum itu, Chilla menahan lengan Alva yang sebentar lagi akan membuka pintu mobil untuknya.


"Ada apa, Sayang?" tanya Alva.


Chilla menggeleng dengan bibir yang mengerucut. "Maunya naik itu!" tunjuk Chilla ke arah jalan raya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Dede mau naik apasih?


Kalo othor maunya naikin Kakak pacar, boleh?


Mommy abis belanja💃

__ADS_1



__ADS_2