Menjadi Simpanan CEO

Menjadi Simpanan CEO
Wejangan


__ADS_3

Wajah Alva begitu sumringah keluar dari kamar mandi, rambutnya basah setelah beberapa kali dibuat melayang dengan buaian tangan lentik istrinya, Chilla hanya bisa pasrah atas kemauan Alva, lelaki yang tak dapat dibantah.


"Sayang, terimakasih," ucap Alva sembari mengulum senyum, lalu mengecupi pipi Chilla bertubi-tubi.


Bisa saja, kalau sedang ada maunya. Chilla hanya bisa membatin, dia mengangguk dan membalas Alva dengan kecupan di bibir lelaki itu.


Hingga sebuah gedoran pintu mengalihkan pandangan mereka. Di luar sana, Mona membawa Baby Shaka yang menangis karena lapar. Bayi lelaki itu baru saja bangun.


Tok Tok Tok


"Chilla, Alva! Apa kalian di dalam? Cucu Oma nangis nih," panggil Mona setengah berteriak.


Sementara Chilla yang mendengar tangisan anaknya segera melangkah ke ambang pintu, tetapi sebelum itu, Alva lebih dulu menahannya. "Biar aku saja, Sayang. Duduklah di sana." Alva menunjuk ke arah ranjang. Biar dia yang mengambil anaknya.


Chilla mengangguk patuh, dan Alva yang membukakan pintu untuk ibunya. Shaka masih menangis kencang, wajah mungil itu terlihat memerah dengan mulut yang tak berhenti menganga. Mencari sesuatu untuk digapai.


"Shaka kenapa, Ma?" tanya Alva, dia keluar dengan bertelanjang dada dan hanya mengenakan handuk sebatas pinggang, membuat Mona menatapnya sedikit curiga.


"Shaka laper lah Alva, kalo emang cuma pipis atau pup bisa Mama gantiin." Mona menerobos masuk, dan melangkah ke arah ranjang di mana Chilla berada.

__ADS_1


Melihat ibu mertuanya masuk, Chilla buru-buru menengadahkan tangannya untuk meminta Shaka, dia yakin bayi tampannya itu pasti kelaparan.


Mona segera menyerahkan Shaka pada ibunya, Chilla langsung mendekap tubuh mungil putranya itu, tangis Shaka sedikit mereda tak sekencang tadi.


"Mama udah suruh Juna buat beli pompaan ASI, biar enak kalau Shaka mau mimi nggak perlu cariin kamu, Sayang," ujar Mona sambil duduk di samping Chilla.


Chilla mengulum senyum, dia membuka kancing baju teratasnya, untuk memberikan apa yang Shaka mau, hingga saat menemukan sumbernya gelak tangis Shaka langsung berhenti, berganti hisapan yang terasa sangat kuat.


"Iya, Ma. Tadi mbak Daniah sama aku lupa buat bilang suster, makanya kita nggak beli pas di rumah sakit," jelas Chilla.


"Nggak apa-apa, Sayang. Terus tadi pake apa? Pasti sakit banget yah?" tanya Mona dengan bola mata yang sedikit menyipit, penasaran.


Dan Mona langsung menatap kemana arah tatapan Chilla. Wanita paruh baya itu sudah bisa menebak. "Oh jadi Shaka besar yang bantu kamu yah." Ceplosnya sengaja mengeraskan suara.


Membuat pipi ibu muda itu langsung berubah merona. Bulu halus dalam tubuhnya meremang seketika, apalagi mengingat kejadian sebelumnya, saat dia terus mendesaah dalam pangkuan Alva, sementara tangannya tak berhenti bergerak untuk menyenangkan lelakinya itu.


"Pantes aja siang-siang rambutnya basah," sambung ibu beranak satu itu, menyindir putranya.


Chilla semakin dibuat malu, dia hanya bisa menunduk dan mengulum senyum sambil terus menatap bayi tampannya.

__ADS_1


Sementara Alva yang sadar akan sindiran ibunya, langsung melangkah dan memeluk Mona dengan manja. "Ish, kenapa Mama suka main sindiran-sindiran sih. Lagi pula tidak ada cara lain, Ma. Aku tidak bisa melihat Chilla kesakitan." Alva meletakan kepalanya di bahu Mona.


"Iya, tapi pasti ujungnya belalai kamu minta di enggak-enggak kan?" Cetus Mona.


Membuat Alva tertawa kecil, semakin mengeratkan pelukannya. "Hehe, sebentar kok, Ma. Kan lagi puasa." Merengek merasa tak rela.


"Iya, kamu harus mengerti Alva, jangan hanya mementingkan diri kamu aja. Kasihan istri kamu, apalagi sekarang kamu sudah jadi Daddy, kamu udah punya buntut. Baik-baik terus ya kalian, harus saling pengertian. Nggak boleh berantem, nanti Shakanya sedih." Mona mengusap kepala cucunya, sambil memberi wejangan panjang lebar pada kedua orang yang baru saja menyandang status menjadi orang tua, ibu dan ayah.


Mendengar itu, Alva dan Chilla mengangguk, Alva mengecup pipi kiri ibunya dan semakin melesakkan wajahnya. "Makasih, Ma. Makasih sudah mau melahirkan Alva ke dunia ini. Makasih udah jadi Mama yang hebat." ungkap Alva.


Mona mengelus kepala anaknya lembut dan membalas mencium buah cintanya itu. Dia merasa haru. "Sama-sama, Sayang. Kamu itu anugerah buat Mama dan Papa."


Siang itu, di kamar yang luas suasana berubah menghangat dengan dekapan kasih sayang yang sama-sama tercurahkan. Saling memberi dan menerima.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Nih hot daddy nya 😘😘😘


Kasih Mangat dong biar lanjay up😌🥱🥱🥱

__ADS_1



__ADS_2