
Shaka keluar dari kamarnya, lalu turun ke bawah, dia melewati pintu dapur, dan melihat semua orang sedang sarapan bersama di meja makan. Mereka sengaja tak menunggu lelaki muda itu, karena mengerti dengan posisi Shaka yang masih merupakan pengantin baru.
Sedang semangat-semangatnya. Batin mereka kompak.
Padahal mencicipi apem kukus saja belum. Semangat dari mana?
Shaka lebih dulu menyapa semua orang, setelah itu dia berjalan ke depan, karena ada anak buahnya yang dia tugaskan untuk mengambil seragam dan semua keperluan sekolah Beby, dari rumah sang mertua.
Begitu dia masuk lagi ke dalam rumah dan ingin melangkah menuju kamarnya, Chilla menghentikan langkah lelaki tampan itu.
"Sayang, Mommy sudah menyiapkan sarapan untukmu dan Beby. Kalian sarapan saja di kamar," ucap Chilla sambil mengulurkan dua buah sandwich dalam satu piring, dan juga orange juice.
Shaka mengulum senyum, dan menerima uluran tangan sang ibu dengan senang hati. "Makasih, Mom. Mommy pengertian sekali." Jawabnya.
"Iyalah. Kalau tidak begitu, kalian mungkin tidak akan makan, terus saja di kamar," timpal Alva menggerutu membuat semua orang terkekeh. Termasuk Shaka sendiri, dia hanya mengikuti alur pikiran keluarganya yang menyangka dirinya dan Beby sudah melakukan hubungan suami istri.
Biarlah semua itu menjadi rahasia, dia akan memberi kejutan saat nanti tiba-tiba Beby sudah mengandung buah hatinya.
Chilla mengangguk, lalu mengusap salah satu bahu Shaka. "Layani istrimu dengan baik, Kak."
"Siap, Mom."
Lantas setelah mengatakan itu, Shaka melanjutkan langkahnya menuju kamar. Di dalam sana, Beby menunggu suaminya sampai bosan.
Shaka masuk tanpa mengetuk pintu. Dan Beby langsung melayangkan tatapannya pada Shaka yang kini tengah berjalan ke arahnya.
Lelaki itu meletakkan sandwich dan orange juice pemberian sang ibu di atas nakas, lalu menyerahkan satu paper bag besar pada Beby. "Ini semua keperluan sekolahmu." Ucapnya.
__ADS_1
Beby meraih paper bag tersebut tanpa ragu. Lalu tanpa mengucapkan terima kasih, dia langsung melipir ke arah kamar mandi, tetapi langkah Beby tercekal, oleh tangan besar Shaka yang menggenggam erat pergelangan tangannya.
"Mau kemana? Di sini saja, bila perlu Abang pakaikan," ucap Shaka memberi penawaran.
Mendengar ucapan Shaka, Beby langsung mendengus, lalu menghentak kasar cekalan tangan Shaka hingga terlepas. "Apaan sih, nggak mau." tolaknya mentah-mentah.
"Beby ini sudah jam berapa, hari ini hari Senin, kamu itu upacara. Dan kamu belum sarapan, aku tidak akan mengizinkanmu sekolah, dalam keadaan perut kosong seperti itu. Jadi menurutlah sedikit karena aku tidak akan macam-macam, pakai di sini dan aku akan menyuapimu," tegas Shaka, yang merupakan hanya sebuah akal-akalan agar gadis itu patuh pada ucapannya.
Beby menimang sejenak, dia melirik ke arah jam dinding, benar apa kata Shaka, waktunya tidak lagi banyak. Tetapi masa iya, dia harus kembali menampilkan tubuh polosnya di depan lelaki ini. Hih! Dia sudah tidak penasaran dengan jati diri Shaka, mau tulen atau tidak masa bodo.
Gara-gara itu semua dia jadi tahu bagaimana bentuk Tyrex sesungguhnya. Ah, untuk seumur hidupnya dia ingin tenggelam ke dasar bumi saja.
Tyrex sialan!
Namun, akhirnya Beby mengalah juga. Dia sedikit mendengus kesal lalu buru-buru membuka isi paper bag pemberian Shaka.
"Abang merem dulu dong," ucap Beby dengan bibir mencebik.
"Yaudah sini Beby gigit dulu itu sandwichnya, terus Abang ngadep belakang." Dan yang satu masih kekeuh dengan pendiriannya.
"Emangnya kenapa sih? Abang udah liat semuanya, bahkan semalam kamu sendiri yang menggoda Abang. Jadi kamu tidak perlu malu lagi."
Blush! Pipi Beby langsung merah padam. Merasakan malu yang luar biasa.
Ishhhh, Tua Bangka satu ini.
"Cepat Beby, waktu kita tidak banyak."
__ADS_1
Beby mengeratkan gigi gerahamnya, merasa sial karena entah kenapa dia tidak bisa membantah ucapan Shaka. Dengan mengesampingkan rasa malunya, akhirnya Beby mulai membuka handuk kimononya.
Dia membalikkan badan untuk memakai kaca mata yang hanya berukuran tak seberapa. Pun dengan benda segitiga merah miliknya. Dan itu semua tak lepas dari pandangan mata Shaka.
Merah? Wow menggoda. Batin Tyrex dengan sedikit menggeliat.
Setelah itu Shaka mengulurkan sandwich ke depan mulut Beby. Dengan telaten Shaka menyuapi istri kecilnya yang sedang memakai seragam sekolah. Lalu tanpa segan, dia memakan dari bekas gigitan Beby.
Melihat itu, Beby sedikit mengernyit. Tetapi mengingat tentang ciuman mereka. Rasanya dia sudah tidak bisa lagi berkomentar, suka-suka Shaka sajalah.
Hingga semuanya telah selesai. Beby yang sudah rapih, pun dengan Shaka yang sudah siap. Mereka harus secepatnya berangkat, karena jika tidak, Beby akan terlambat.
Shaka meraih tangan Beby, menarik sang pemilik tubuh agar mendekat ke arahnya. Dan sebelum benar-benar keluar dari kamar mereka, Shaka dengan cepat meraup bibir ranum milik gadis itu, dan setiap kali itu terjadi Beby hanya bisa terpaku.
Shaka melumaatnya sana-sini, hingga di rasa cukup dia baru menarik diri. "Abang cuma bersihin mulut kamu, tadi ada sisa mayonaise."
Hah? Beby hanya bisa melongo mendengar alasan Shaka. Alasan macam apa itu?
*
*
*
Udah bacanya? Yuk dilike, dikomen, dikasih hadiah Dede othornya, biar makin semangat, anu dan menganukan anu🤣🤣🤣
Mumpung Senin, sekali-kali kirim vote buat Abang Shaka dungggg😌
__ADS_1
Si Tukang ngambekkk