
Satria meninju udara, mengutarakan kekesalannya, memandang dua orang yang telah pergi meninggalkan acara.
Terlebih, itu adalah gadis yang telah di cintainya.
"Hah, sebenarnya ada apa sih dengan Alva?" Tanya Satria dengan bertolak pinggang.
Ia benar-benar kesal dengan sikap sahabatnya itu. Selalu saja semena-mena dan sesuai kehendaknya.
Sam menepuk bahu Satria beberapa kali, berusaha untuk menenangkan.
"Kau harusnya sudah mengerti Sat," ucap Sam mengingatkan, yang justru membuat Satria berdecih, dan semakin tak terima, karena Sam seolah membela Alva.
"Sampai kapan Sam? Bahkan saat Chilla sudah menikah nanti, apa dia akan terus seperti itu?" Ujar Satria dengan menggebu.
Sam tak bisa menjawab apapun, ia hanya menghela nafas panjang. Sedangkan Mira setia mengusap lengan lelakinya.
Keduanya cukup bernafas dengan lega, karena perdebatan itu berlangsung di penghujung acara.
Sedangkan Juna yang baru saja selesai dari kamar mandi, menatap heran pada semua orang. Apalagi saat menyadari bahwa sang Tuan dan gadis kecilnya tidak ada, ada apa sebenarnya?
"Tuan," panggil Juna pada Sam.
Seolah tahu bahwa ada banyak pertanyaan di pikiran Juna, Sam menjelaskan intinya saja. Kalau Alva dan Chilla sudah kembali pulang.
"Sebaiknya kau antarkan Yolanda," ucap Sam.
Juna mengangguk patuh, pastilah Tuannya itu pulang menggunakan taksi, secara kunci mobil ada padanya.
"Mari Nona," ajak Juna pada Yolanda, dengan sedikit mengulas senyum wanita itu pamit pada teman-teman Alva, dan mengikuti langkah Juna.
Kini keduanya sudah didalam mobil, menjelajahi jalan raya menuju apartemen wanita tunangan Tuannya.
Yolanda memilih duduk disamping Juna, entah kenapa, ia merasa Juna tahu sesuatu tentang Alva dan Chilla.
"Jun," panggil Yola seraya menghadap ke arah asisten tersebut.
"Ada apa Nona?" Balas Juna datar bahkan tak memindahkan pandangannya. Ia terus menatap ke depan, meskipun ia tahu Yola tengah menatapnya dengan tatapan penuh selidik.
Yola tersenyum tipis, lalu memegang lengan Juna yang tengah mencengkram kemudi. Menyadari sentuhan itu, Juna langsung memutar kepalanya ke samping, menatap sekilas lalu kembali menghadap ke depan.
"Katakan Jun, ada hubungan apa sebenarnya Chilla dengan Alva?" Tanya Yola dengan penasaran. Kali ini, ia akan menghadapi Juna dengan kelembutan.
Juna menarik satu sudut bibirnya keatas.
"Kenapa Nona tidak tanyakan saja pada Tuan?"
__ADS_1
"Karena dia tidak mungkin menjawab pertanyaanku," balas Yola dengan nada merengek. Ia terus menyentuh tangan Juna, karena lelaki itu sama sekali tidak menepisnya.
Dan itu semua, membuat Yola memiliki rencana dalam otaknya, malam ini ia akan buat Juna membuka mulutnya tentang rahasia Alva.
"Lalu apa yang anda harapkan dari saya?"
Kini mobil itu sukses berhenti, di tepian jalan yang terlihat cukup sepi.
Juna menghadap ke arah Yola, dengan tatapan yang sulit di artikan oleh wanita itu.
Hingga membuat hati Yola bersorak, ia berpikir bahwa Juna ternyata mudah di taklukkan olehnya. Tangan Yola tak lagi bertengger di lengan, tetapi sukses melingkar dileher lelaki itu.
Dengan manja Yola menggerak-gerakkan bibirnya sensual, hingga membuat Juna berdecih didalam hati.
"Apa yang anda inginkan dari saya?" Tanya Juna sekali lagi.
Dengan mudahnya Yola mencium pipi Juna, lalu menatap lelaki itu dengan bergairah.
"Katakan semua rahasia Alva padaku," ucap Yola menyuarakan keinginannya. Jika ia tahu ada sesuatu yang lelaki itu sembunyikan, sudah pasti akan mudah ia menggenggamnya.
"Apa bayarannya?" Kini tangan Juna bergerak, menyelipkan rambut Yola ke belakang telinga. Hingga membuat wanita itu tersenyum malu-malu dan hatinya berteriak kegirangan.
"Aku akan memuaskanmu malam ini Jun," balas Yola sungguh-sungguh. Kembali melancarkan serangan dengan mengelus lembut tengkuk Juna, agar gairah lelaki itu terpancing dan segera memangsanya.
**********
Alva dan Chilla baru saja sampai di apartemen lelaki tersebut, dengan cepat Alva membawa gadisnya kedalam. Di ruang tengah, keduanya berhenti, karena tiba-tiba saja Chilla melepaskan pegangan tangannya.
Alva mengernyit bingung.
"Ada apa?" Tanya Alva, melirik sekilas sang gadis yang diam di tempatnya.
"Kenapa Kakak lakukan itu?" Tak menjawab pertanyaan Alva, Chilla justru dengan berani menyuarakan kegundahannya.
Mendengar itu, Alva berbalik, melangkah mendekati Chilla. Ia juga tidak mengerti kenapa ia sampai melakukan itu didepan semua orang. Tetapi adakalanya semua itu membuat ia semakin yakin, bahwa perasaan ini bukan hanya sekedar ia menganggap Chilla sebagai adik kecilnya. Ada sesuatu yang lain, dan ia masih tidak tahu itu apa.
"Bukankah aku sering melakukannya? Dari dulu, kau memang selalu menjadi hal yang kami perebutkan, sekarang kenapa kamu bertanya tentang itu?" Balas Alva dengan alis yang terangkat.
Perlahan Chilla mengangkat kepala, ia bukan menyalahkan Alva, tetapi dengan lelaki itu bersikap berlebihan pada dirinya, pasti semua orang akan curiga.
"Tapi Kakak terlalu berlebihan, bagaimana kalau mereka curiga?" Tanya Chilla dengan alis yang saling menaut.
Dan hal itu sukses membuat Alva menelan salivanya dengan berat, lalu memandang ke arah Chilla dengan tatapan tak percaya, ia dibilang berlebihan?
"Kau menganggapku berlebihan? Dia menyentuhmu, dia menginginkanmu dan berusaha merebutmu dariku, dan kau bilang aku berlebihan?" Cetus Alva, ia berjalan semakin mendekat, mengikis jarak antara dirinya dengan sang gadis.
__ADS_1
Kilat amarah kembali menguasai, hingga membuat Chilla menggigit bibir bawahnya. Alva benar-benar terlihat menakutkan jika sedang begini, tatapannya sungguh mengintimidasi.
"Katakan! KATAKAN LETAK BERLEBIHANKU DIMANA?" Teriak Alva dengan suara bass-nya, seketika ruang sunyi itu memecah dengan gelegar suara lelaki yang tengah diselimuti amarah.
Chilla membatu mendengar bentakan Alva, ia tak mampu mengatakan apapun, mendadak bibirnya kelu, keberaniannya raib seketika, ia rasa ia telah salah bicara, buktinya kini Alva malah semakin marah padanya.
Hening mengambil alih. Dan Chilla masih setia menatap lantai dengan nanar.
Hingga akhirnya Alva mendesah kesal, ia menarik rambutnya frustasi melihat Chilla hanya diam mematung. Tiba-tiba ia menganggukkan kepala, berspekulasi kalau gadis ini, ternyata memang tidak suka dengan sikapnya yang dianggap berlebihan pada Satria.
"Baik, kalau kau anggap aku berlebihan, aku akan berhenti bersikap seperti ini padamu. Terserah kau mau dekat dengan lelaki manapun, terserah kau mau melakukan apapun dengannya, aku tidak akan peduli, dengar baik-baik, aku tidak akan peduli lagi," ucap Alva dengan menekan setiap kalimatnya. Setelah mengucapkan itu, Alva memutar badan dan hendak melangkah ke arah kamarnya.
Namun, dengan langkah cepat, tangan mungil itu sukses melingkar di perutnya. Di susul isak tangis yang memecah. Dadanya ikut bergemuruh, sakit seolah ada tangan besar tengah merematnya dengan sengaja.
"Maaf," lirih Chilla dengan bibir yang terus bergetar. Dadanya naik turun dengan nafas yang tak begitu teratur.
Bodoh saja, kenapa ia mesti bertanya seperti itu pada Alva, bukankah harusnya dia senang? Karena dengan Alva bersikap seperti itu, artinya Alva telah cemburu?
"Chilla yang salah, Chilla yang nggak ngertiin Kakak, Chilla minta maaf. Chilla mohon jangan pernah berubah atau apapun itu, Chilla mau terus sama Kakak..." Gadis itu semakin terisak dan tersedu-sedu.
Alva masih bergeming, walaupun hatinya ikut merasakan sakit, saat mendengar tangisan pilu dari bibir Chilla.
Ia hanya senantiasa menatap tangan mungil yang tengah melingkar, tanpa mau membalasnya.
"Chilla memang gadis yang murahan, tapi percayalah Kak, Chilla hanya mau melakukannya dengan Kakak, hiks..."
Mendengar itu, runtuh sudah dinding ego yang telah di bangun dalam diri Alva, ia menarik nafas dan menghembuskannya secara perlahan, mencoba tenang.
Lalu kembali mengingat tentang kebersamaan mereka selama ini, dan saat itu juga ia mulai menyadari bahwa gadis kecil ini, telah berhasil menciptakan banyak warna dalam hidupnya, entah bagaimana jika hari-harinya tidak ada gadis bernama Chilla.
Pelan, Alva berbalik. Meraih dagu itu untuk di tatapnya, saat melihat seluruh wajah itu basah oleh air mata, entah kenapa hatinya ikut terenyuh, sakit luar biasa.
"Aku yang salah," lirih Alva, menatap dengan penuh rasa bersalah.
Dan itu semua dijawab oleh isak tangis Chilla yang kembali memecah, ia merengkuh pinggang Alva erat seolah tak ingin ada kata pisah.
Alva membalas pelukan itu tak kalah erat, membenamkan wajah Chilla kedalam dada bidangnya. Hingga beberapa waktu kedepan, hanya ada suara deru nafas dan isak tangis kecil mengisi kekosongan ruangan tersebut.
...****************...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...****************...
__ADS_1