
Malam di kediaman pengantin baru, mereka terlihat baru saja menyelesaikan makan malam bersama. Setelah Nana membantu membersihkan meja makan, dia langsung menyusul sang suami yang lebih dulu masuk ke dalam kamar.
Saat pertama kali masuk, dia tidak mendapati Juna di atas ranjang. Namun, suara gemericik air terdengar dari arah kamar mandi, menandakan suaminya berada di sana.
Gadis itu menguncir rambut panjangnya tinggi-tinggi, lalu berjalan ke arah nakas, meraih flashdisk dan beberapa buku untuk dibawa ke meja belajar.
Sambil menunggu Juna, dia ingin mengerjakan makalah yang masih belum ia selesaikan, padahal makalah tersebut akan ia presentasikan besok pagi.
Klek!
Pintu kamar mandi terdengar dibuka oleh seseorang, Nana melirik ke arah sang suami yang baru saja keluar dari sana.
Juna keluar dengan piyama yang dua kancing teratasnya terbuka. Dia mengibaskan kepalanya dengan rambut setengah basah, lalu melangkah elegan ke arah meja rias, tanpa memperdulikan pandangan mata Nana.
Dada bidang nan putih itu terekspos bebas, sedangkan si empunya tubuh sedang menyemprotkan minyak wangi di beberapa titik tertentu.
Hingga semerbak aroma wangi itu menyeruak, ke dalam indera penciuman Nana. Gadis itu terlihat meneguk ludahnya susah payah.
Dia sedikit terpesona, dengan pipi yang merah merona.
Kak Juna kenapa sih? Kok aneh, mau tidur aja pake minyak wangi segala, nggak kaya biasanya.
Dan lebih anehnya lagi Juna melewatinya begitu saja, melangkah ke arah ranjang dan membaringkan tubuhnya di atas sana.
Beberapa saat keduanya tidak ada yang bersuara, hingga Juna memiringkan tubuhnya, dan mendapati Nana tengah menatap dirinya dengan tatapan yang entahlah.
Ditatap seperti itu Nana langsung gelagapan. Dia jadi bergerak salah tingkah seperti maling yang tertangkap basah.
"Kak, kamu tidur duluan aja. Soalnya ada makalah yang harus aku kerjain," ucap Nana terbata seraya memalingkan wajah, tetapi sesekali dia melirik-lirik ke arah Juna yang tengah menarik selimut hingga ke atas perut.
"Oke, tapi jangan malem-malem ya, Sayang. Aku takut nggak bisa tidur kalo nggak meluk kamu," balas Juna dengan suaranya yang terdengar mesra.
Nana berkedip pelan, dia kembali meneguk ludahnya yang terasa keluar semakin banyak.
"Iya, Kak." Nana mengangguk cepat, lalu kembali menatap layar menyala di depannya.
__ADS_1
Dia menghela nafas beberapa kali, dan mencoba menyibukkan diri dengan huruf-huruf yang harus dia ketik.
Sedangkan di belakang sana, Juna tersenyum lebar. Dia memejamkan matanya, seraya menunggu Nana. Lelaki itu pura-pura tertidur, padahal sepanjang waktu yang terus bergulir, dia selalu memperhatikan istri kecilnya.
Hingga tengah malam, Nana baru saja menyelesaikan tugas makalahnya. Dia menguap beberapa kali, tanda dia sudah benar-benar mengantuk, ingin segera merebahkan diri di samping tubuh suaminya.
Tanpa apapun lagi, gadis itu melangkah ke arah ranjang, dan langsung melompat memeluk Juna erat.
Sekali lagi, lelaki itu mengulum senyum, sepertinya rencana yang ia susun akan berjalan dengan lancar.
Nana terdengar sudah mendengkur halus, gadis itu sudah terlelap nyenyak, bahkan mungkin sudah berkelana di alam bawah sadarnya.
"Sayang, maaf yah. Sepertinya aku harus mencoba jurus ini, supaya aku bisa mendapatkan jatahku lagi." Juna menyingkap selimut, dan membuangnya ke lantai.
Dan tangan besar itu mulai lancar melucuti apa saja yang melekat di tubuh istrinya. Juna menyeringai, matanya langsung berkabut, menatap kelaparan.
Nana terdengar melenguh, saat dia merasakan benda lembut menyapu titik-titik sensitifnya. Menyapu dengan sentuhan basah.
Dan lenguhan itu terdengar sangat syahdu di telinga Juna. Seperti sudah lama dia tidak mendengarnya, dengan dipenuhi gairah yang menggelora, mulut itu terus mencecap irisan buah ranum yang terhimpit diantara pangkal paha istrinya.
Nana mendesaah kecil, sedangkan netranya senantiasa terpejam. Dengan bermain pelan, Juna terus memancing gairah istri kecilnya, hingga liang itu menderas basah. Denyutan itu semakin terasa.
"Kak Juna," gumam Nana mengerang.
Membuat lelaki itu mengangkat kepala dengan netra yang sudah terlihat sayu. Dia benar-benar sudah tidak sanggup menahannya lagi, dia memandangi wajah Nana, gadis itu terlihat mengerjapkan mata.
"Nggak di mimpi, nggak di dunia nyata Kak Juna suka banget sih ngelakuin itu?" Rancaunya tanpa sadar dengan mata yang setengah tertutup.
Juna mengulum senyum, merasa lucu dengan tingkah Nana. Dia ingin melihat, bagaimana jika dia meladeninya.
"Tapi kalo dimimpi boleh kan, Sayang?" Juna membelai wajah cantik Nana, dan gadis itu mengangguk sambil terkekeh.
"Hehe, kalo dimimpi nggak apa-apa deh, kan nggak kerasa sakit." Nana tersenyum lebar, menunjukkan gigi-giginya yang tersusun rapih.
Nana melingkarkan tangannya di leher Juna.
__ADS_1
Dan tanpa ba bi bu, senjata laras panjang itu langsung melandas ke medan perang. Nana sedikit tersentak, tetapi dia benar-benar belum sepenuhnya sadar.
Gadis itu malah menganggap semua ini hanyalah sebuah mimpi.
"Kaya nyata yah, Kak," ucap Nana merasakan sesak di bawah sana.
Namun, Juna tak menjawab apapun selain hanya tersenyum.
Hingga Nana yang lebih dulu menarik Juna untuk menyatukan bibir mereka. Memulai pagutan yang membuat kegiatan mereka semakin membara.
Lidah itu saling membelit, dan saliva itu terus tertukar. Membuat keduanya seolah kembali melayang jauh ke atas awan.
Jurus yang diajarkan tuan ampuh juga ternyata. Gumam Juna dengan uluman senyum yang mengembang.
Sedangkan di ujung sana, telinga Alva terasa berdengung. Lelaki itu mengusap-usapnya sekilas, lalu kembali memeluk erat tubuh istrinya.
Dengan bibir yang saling bertautan, Juna mulai bergerak, menunjukan aksinya. Sebisa mungkin, dia menghentak Nana dengan hentakan yang sangat lembut, membuat Nana melenguh tak habis-habis.
Pucuk yang tengah menegang hebat itu terombang-ambing, dan Juna tidak melewatkan kesempatan itu sedikitpun.
Dua organ tubuh di bawah sana tengah menyatu, sedangkan mulut itu berganti mencecap pucuk dada Nana, biji salak yang kini menjadi kesukaannya.
Dada Nana semakin membusung, sedangkan Juna mengerang tertahan saat gelombang itu nyaris datang. Dia sedikit mempercepat permainan, menyentak kuat hingga menyentuh titik denyut terdalam.
Senjatanya terasa dicengkeram kuat, dan hal itu benar-benar membuatnya menggila, rasa yang Nana tawarkan sungguh tidak bisa ia definisikan dengan kata-kata.
Dan detik selanjutnya, kepala Juna terasa tertarik, karena didekap kuat oleh Nana, keduanya menjerit bersama, dengan buncahan lahar yang menyatu di dalam sana.
Akhirnya, si Ruben dapet jatah juga. Kekeh Juna.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Penganten oh penganten 🤧
Bawa nupelll bestie nih, yang berkenan mampir yah
__ADS_1