
Suasana di luar gedung mulai menggelap, tanda malam mulai menjelang. Namun, dua lelaki tampan itu masih sibuk di perusahaan. Karena terdesak pekerjaan yang tiba-tiba saja datang.
Alva menghela nafas, bergerak kesana-kemari, melemaskan otot-otot dalam tubuhnya. Lembur kali ini benar-benar terasa menyiksa, karena rasa tidak sabar untuk pulang ke rumah, dan bermanja-manja dengan istrinya.
Namun, ada seutas senyum yang tersemat di bibir Alva, ia memandangi layar ponselnya yang menyala, mendapati 2 pesan dari sang istri, pertama Chilla memintanya untuk makan di rumah, dan yang kedua gadis itu mengirim sebuah foto lingerie berwarna merah. Pakaian terindah yang teramat ia suka.
Bochill pertama❤️
[Menunggumu, Daddy]
Tertulis sebuah caption di bawah gambar tersebut, dibubuhi tanda love beberapa biji.
Alva tak berhenti tersenyum-senyum, membayangkan sang istri yang tengah mengenakan pakaian kesukaannya itu. Rasa sabar itu semakin menipis, Alva kembali menatap layar komputer, ingin cepat-cepat menyelesaikan pekerjaannya. Dan memakan sang istri secepatnya.
Sedangkan Juna yang merasakan lapar, melangkah ke arah sang Tuan. "Tuan, apa anda tidak berniat untuk makan malam dulu?" Tanyanya basa-basi, padahal perutnya sendiri yang sudah minta diisi.
"Tidak Jun. Aku ingin menyelesaikan pekerjaanku secepatnya. Makanan di rumah terdengar lebih menggoda." Balas Alva tanpa mengalihkan pandangan matanya. Sedangkan ke sepuluh jari itu sibuk menekan-nekan keyboard.
Juna menelan salivanya. Gagal sudah ia memanjakan perut yang sudah kepalang meronta-ronta.
"Baiklah Tuan." Juna kembali menyeret kakinya dengan lemah. Tubuh tegap itu gontai, membutuhkan asupan.
"Eh, kalau kau makan, makan saja Jun." Ucap Alva tiba-tiba, membuat sang pemilik nama langsung tersenyum sumringah. Lelaki itu berbalik, menghadap kembali ke arah Alva.
"Benarkah, Tuan tidak apa-apa?"
"Tapi nanti setelah aku selesai, hehe." Ucap Alva cengengesan.
Sialan! Dasar bos kurang ajar.
************
Saat lelaki itu sampai di depan gerbang rumah mewah, tempat dimana ia dan sang istri mengarungi bahtera rumah tangga.
Tanpa menunggu lama, Alva langsung mengayunkan langkah, langkah yang terlihat lebih lebar dari biasanya. Meninggalkan Juna yang hanya bisa menatap iri, ingin cepat-cepat merasakan pulang bekerja disambut oleh sang istri.
Haish, apa aku ajak Nana menikah saja yah?
Alva membuka pintu besar itu tidak sabaran. Mengedarkan pandangan matanya ke seluruh sudut ruangan, mencari sosok bertubuh mungil yang sangat ia rindukan.
"Sayang." Panggilnya, melangkah semakin ke dalam. Dan saat ia hendak pergi ke kamar, ia melihat sekelebat bayangan sang istri, disusul bunyi alat-alat masak yang tengah digunakan.
Kaki Alva berpindah haluan, dengan uluman senyum, ia masuk ke dapur. Dan benar saja, dengan pakaian penambah gairah, Chilla terlihat sedang menuangkan sayur sup ke dalam mangkuk.
__ADS_1
Alva memperhatikan gadisnya seraya melangkah tanpa suara, dan dengan lembut tangan kekar itu melingkar sempurna di perut Chilla.
Note. Gambarannya lagi meluk, pake baju dinas warna merah.
"Apa yang sedang kau lakukan, hem?" Tanya Alva, sedangkan kepalanya sudah melesak diantara ceruk leher istrinya. Menghirup aroma tubuh itu, aroma yang begitu candu.
"Aku habis masak, Sayang."
"Apa sekarang aku sudah miskin?" Mengecup-ngecup tengkuk Chilla, sedangkan tangannya sudah merayap kemana-mana.
Mendengar itu, Chilla terkekeh. Mengingat percakapannya dulu saat Alva bertanya apa ia bisa memasak? Dan jawabannya tidak, karena ia akan menjadi istri orang kaya.
Tetapi sekarang, gadis itu malah belajar memasak agar suaminya senang.
"Sayang, hentikan! Sayang harus makan nasi dulu, baru memakanku." Pekik Chilla, saat ia merasakan jari sang suami, sudah mulai menusuk-nusuk liang senggamanya.
"Tapi aku sudah tidak sabar ingin memakanmu, Honey." Tak mengindahkan perkataan Chilla, Alva justru mengangkat tubuh mungil itu, dan mendudukkannya di atas meja.
Lelaki itu sudah ingin meraih bibir sang istri, tetapi secepat kilat Chilla menahan dadanya. Chilla melirik ke samping, dan mereka berdua mendapati Rani masuk tanpa mengeluarkan suara.
Ck! Alva berdecak keras, karena kegiatannya tertunda.
"Maaf, Tuan. Saya tadi tidak sengaja, saya kira Tuan belum pulang, saya kesini berniat membantu Nona untuk menyiapkan makan malam." Ucapnya menunduk, sadar kalau Alva merasa kesal dengan kehadirannya.
"Sayang... Tidak perlu marah-marah, kita bisa melanjutkannya nanti." Chilla meraih tangan kekar itu, lalu mengecupnya bergantian. "Sekarang, ayo kita makan. Masakan pertama istrimu."
Alva menghela nafas, mencoba untuk tenang demi sang istri yang sudah susah payah menyenangkan hatinya. Lelaki itu mengusak puncak kepala Chilla, dan meninggalkan kecupan singkat disana.
Chilla menyendokkan nasi ke piring sang suami, lengkap dengan satu mangkuk sup, tempe goreng dan telur dadar.
"Selamat makan, suamiku." Ucapnya dengan senyum mengembang, berharap masakannya dapat memanjakan lidah sang suami tercinta.
Dengan senang hati, Alva menyendok dan memasukan nasi itu ke dalam mulut. Ia mulai mengunyah, sedangkan keningnya sedikit mengernyit, menikmati setiap rasa masakan istri kecilnya.
Jangan buat dia kecewa, jangan buat dia kecewa. Kau pasti bisa menelannya. Gumam Alva dalam hati, dan terus berulang hingga kunyahan itu habis ditelan, masuk ke kerongkongan.
"Bagaimana sayang, apa rasanya enak?" Tanya Chilla antusias, meminta pendapat. Raut wajah itu terlihat bahagia sekali, dan Alva tidak bisa merusaknya.
Pelan, Alva mengangguk, lalu mengangkat jari jempolnya. "Ini sangat enak, Sayang." Ucapnya, lalu mengecup pipi chubby Chilla yang merona.
"Benarkah? Wah, berarti usaha Chilla nggak sia-sia." Ujar gadis berlesung pipi itu dengan bertepuk tangan. Lalu muah muah, ia menciumi seluruh wajah Alva tanpa ada celah.
Sedangkan Rani mengernyit heran, kenapa Tuannya bilang enak, padahal masakan itu sangat asin dan tidak layak untuk dimakan.
__ADS_1
"Tapi ngomong-ngomong, berapa banyak garam yang kau masukan ke dalam sup ini?" Tanya Alva menyendok lagi.
"Eum. Tiga sendok." Balas Chilla dengan mengangkat jarinya, menunjukkan angka tiga.
Alva menahan senyum. Lalu mengusak puncak kepala Chilla dengan sayang. "Apa kau sudah mencobanya?"
Pelan, Chilla menggeleng. "Tidak, Mbak Rani yang aku suruh coba. Kata dia enak, dan Kakak pasti suka. Dan tebakan dia benar."
"Tentu saja, inikan masakan istriku. Dan masakan ini adalah masakan tereenak yang pernah aku makan."
Senyum Chilla semakin lebar. "Aku jadi penasaran rasanya, Kakak aku mau coba."
Dan Alva langsung menggerakan jarinya. "Tidak boleh, ini punyaku." Lelaki itu kembali menyantap makanannya dengan begitu lahap, agar sup itu cepat habis dan Chilla tidak perlu mencicipi masakannya.
"Sayang, tapi aku ingin coba." Merengek, menarik-narik baju kemeja Alva.
"Tidak boleh sayang, kau membuatkan ini untukku, jadi kau tidak boleh memintanya."
"Apa supnya seenak itu?"
"Ini benar-benar enak."
"Kalau begitu Chilla akan masak setiap hari."
Uhuk!
Alva langsung tersedak, Chilla buru-buru meraih gelas berisi air putih, dan menyerahkannya pada lelaki itu.
"Sayang pelan-pelan." Tegur Chilla seraya mengusap-usap punggung lebar suaminya.
"Kau tidak perlu memasakkan makanan untukku setiap hari."
"Kenapa?" Kening Chilla langsung berkerut lengkap dengan bibir yang mengerucut, kecewa.
Dalam hati Rani mulai cekikikan, tahu kalau sang Tuan pasti sedang berbohong.
"Sayang, aku tidak mau kau kelelahan. Kau cukup kelelahan meladeniku di atas ranjang, tidak perlu lelah untuk memasak makanan."
Mendengar itu, Chilla tersenyum malu-malu, lalu memukul dada Alva dengan keras. "Kakak ihh, ada Mbak Rani, aku malu."
"Kalau begitu..." Alva bangkit dari duduknya, lalu tanpa aba-aba ia mengangkat tubuh Chilla, hingga tangan gadis itu suskes melingkar di leher kekarnya. "Kita ke kamar saja, supaya kau tidak perlu malu-malu. Malam ini aku ingin melihat keahlianmu." Bisik Alva menggoda. Melangkah tanpa memperdulikan Rani yang terus menatapnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Udah bacanya? Yuk dilike, dikomen, dikasih hadiah Dede othornya, biar makin semangat, anu dan menganukan anu🤣🤣🤣
__ADS_1
Selamat malam Minggu anu🙈🙈🙈