Menjadi Simpanan CEO

Menjadi Simpanan CEO
Yolanda oh Yolanda


__ADS_3

Pagi itu, suara ponsel milik wanita cantik, bernama Yolanda, tidak berhenti untuk berdering, dengan sangat nyaring.


Rasa kantuk yang masih melanda, membuatnya malas untuk terbangun, terlebih semalam ia telah bergulat di atas ranjang, dengan salah satu teman lelakinya, yang ia temui di club.


Ingat prinsip Yola, mati satu, tumbuh seribu. Begitulah yang tertanam dalam diri wanita cantik itu.


Drttt... Drttt.. Drttt..


Dengan rasa kesal yang memuncak, karena tidurnya terganggu, akhirnya tangan Yolanda meraih kasar benda pipih yang tergeletak di atas nakas. Membaca si penelepon, yang ternyata adalah sang adik, Yoona.


"Halo, ada apa?" Tanya Yola dengan nada malas, terdengar berat, khas seseorang yang baru saja bangun tidur. Ia benar-benar lelah dan butuh istirahat.


"Kak, Kenapa Kakak masih bisa sesantai ini?" Pekik Yoona geram. Pasalnya ia sudah membaca berita yang baru saja tersebar di sosial media. Tentang skandal sang Kakak.


Ia tidak menyangka, secepat kilat, mantan tunangan Kakaknya itu membalas dendam, dan membalikkan keadaan. Ia salah menilai lelaki itu.


"Apa maksudmu, Yoon? Katakan yang jelas, aku baru saja bangun tidur." Balas Yola tak kalah geram. Nyawanya baru saja terkumpul, dengan seenak jidat, Yoona malah memarahinya.


"Lihat berita hari ini, sekarang juga!" Ketus Yoona tak berubah.


Yola masih tidak mengerti, apa maksud adiknya yang tiba-tiba berubah begitu jutek padanya. Padahal kemarin mereka baru saja bersenang-senang bersama.


"Buat apa sih Yoon?" Pekik Yola. Ia bangun, lalu mendudukkan diri, Yoona benar-benar membuat mood paginya anjlok. Yola mengumpat di dalam hati.


"Kak, please! Mama sama Papa udah marah-marah di rumah." Teriak Yoona di ujung sana. Suaranya terdengar bergetar, ia sudah ingin menangis, takut sesuatu juga akan menimpa pada dirinya.


Terlebih, kedua orangtuanya terlihat begitu murka, entah apa jadinya jika mereka tahu kalau dirinya juga ikut terlibat.


Seketika mata Yolanda melebar dengan tatapan nanar, rasa kantuknya hilang. Wanita itu buru-buru mematikan panggilannya dengan sang adik, dan memeriksa apa yang sebenarnya terjadi.


Yolanda menggerakan jarinya diatas layar ponsel. Detik selanjutnya, ia tertegun, waktu seolah berhenti cukup lama, netra jernih itu berubah memerah dengan mulut yang tak berhenti menganga. Membaca satu persatu judul berita yang isinya kehidupan kelam dirinya.


Jantung Yola mencelos, menatap tidak percaya.

__ADS_1


Tak berhenti sampai disana, ia mencoba membuka akun sosial medianya, hari ini banyak sekali notifikasi, hampir seluruh foto yang ia posting, diberi komentar berupa hujatan dan makian.


Dasar nggak tahu diri, ternyata elu yang tukang selingkuh.


Dih, nyalahin orang tapi nggak ngaca. Helow mirror sana!


Bund, kalo nyari kaca ke aku aja yah. Aku jualan nih. Ready stok.


Wow, 19 detik? Kurang panjang, Bund. Desahaanya juga kurang merdu.


"Ohhh shitttt! Sialan, badjingan, brengsekk." Umpatnya dengan keras. Nafasnya terengah, ia meremas benda yang ada di tangannya. Hingga telapak tangan itu memerah.


Lalu, brak!


Di lemparnya ponsel itu sembarangan, dan mengenai cermin meja rias di kamar wanita muda itu. Pecahannya berhamburan di atas lantai.


Remuk redam, sama seperti suasana hati Yolanda sekarang. Ia tak habis pikir, kenapa bisa, berita itu malah berbalik kepada dirinya.


Kenapa Alva tidak berkelahi dengan Satria? Kenapa dua sahabat itu tidak saling berselisih? Kenapa tujuannya gagal?


Ia mengamuk, marah dengan membabi-buta, membuang apa saja yang ada didekatnya. Kekesalannya sudah di puncak ubun-ubun, ia meraung sambil menangis keras di kamarnya.


Menjambak-jambak rambutnya sendiri dengan geram, ia frustasi. Sedangkan mulutnya tak berhenti untuk mengumpat, ia tidak terima di perlakukan seperti ini.


"Argggghhhhh! Awas kau Alva!!! Badjingan, setan, kau iblissss Alva!"


Yolanda memeluk kedua lututnya, ia terisak-isak, sedangkan kebencian di hatinya semakin terpupuk dengan subur.


Cukup lama Yolanda dalam posisi seperti itu, lalu ia mengelap sisa-sisa air matanya.


Dengan langkah gontai, ia berjalan ke arah jendela, lalu menyibak gorden, melihat ke jalanan, dimana para wartawan sudah berkumpul, siap menyerangnya dengan banyak pertanyaan.


Tangan Yolanda meninju udara, ia terus mendesaah kesal. Apa yang harus ia lakukan sekarang?

__ADS_1


Meminta bantuan pada ayahnya? Hah, bahkan lelaki tua itu pasti sudah tidak sudi menganggapnya sebagai anak.


**********


Flashback on


Kemarin, pagi-pagi sekali Jonathan sudah mendapatkan telepon dari kaki tangannya. Informasi mengenai berita yang tiba-tiba muncul ke permukaan halayak umum, menjatuhkan nama baik Alva dan pastinya berimbas pada Antarakna group.


Jonathan mengeratkan gigi gerahamnya, dengan tangan terkepal kuat, ia bisa menebak siapa dalang dibalik kekacauan hari itu.


Namun, tak ingin gegabah, dengan cepat Jonathan menyuruh Roni untuk melacak sumber berita tersebut. Jika tebakan Jonathan benar, maka ia takkan segan lagi. Kotoran, dibalas dengan kotoran.


Dan dalam kurun waktu kurang lebih 30 menit, Roni sudah memberikan hasilnya. Jaringan komputer itu memiliki titik di salah satu perusahaan portal berita online.


Tanpa banyak kata, Jonathan langsung menelpon pimpinan perusahaan tersebut. Tak peduli, meski waktu masih terlalu pagi. Tidak ada perdebatan, atas nama kekuasaan, pimpinan itu tunduk dibawah kaki lelaki tua itu.


"Buat dia jujur, atau perusahaanmu akan hancur dalam satu malam. Dan kau serta seluruh anak buahmu akan mendekam di penjara." Ancam Jonathan mengakhiri panggilan secara sepihak.


Lelaki dengan satu anak itu menarik salah satu sudut bibirnya keatas, sinis. Lalu menatap nyalang, ke luar jendela.


Ia sengaja tak menghubungi Alva. Ia ingin mengatasi masalah ini sendiri, sebagai bentuk permintaan maafnya kepada sang putra.


Tak berapa lama kemudian, ponsel milik Jonathan kembali bergetar. Tanpa pikir panjang lelaki paruh baya itu langsung mengangkatnya.


"Bagaimana?" Tanyanya pada inti. Sama seperti Alva, jika menurutnya genting, maka ia tidak suka basa-basi.


"Nona Yolanda dan adiknya yang menyuap salah satu karyawan kami, Tuan. Maafkan kami." Terang pimpinan itu. Ia merasa tak punya nama sekarang. Perusahaan kecil yang ia punya, harus berhadapan dengan perusahaan sekelas Antarakna. Ingin rasanya, ia tenggelam ke dasar bumi saja.


Heuh!


"Sudah ku duga. Cepat hapus berita itu. Besok tulis permintaan maaf kalian pada putra dan menantuku. Dan tuliskan berita seperti yang aku inginkan, maka kalian semua bebas. Dan ingat! Jangan lupa untuk meminta traktiran pada karyawanmu, karena dia pasti menerima banyak uang dari kedua wanita itu." Ucapnya remeh.


Tanpa menunggu jawaban, Jonathan kembali mematikan panggilan itu, lalu beralih menelpon anak buahnya.

__ADS_1


"Datang ke rumahku sekarang juga."


Flashback off


__ADS_2